Berita & Kegiatan

Search :

Aktivitas & Kegiatan

Bidan Peraih Srikandi Award 2011


 Acara pemilihan Bidan Inspirasional dalam ajang Srikandi Award 2011 baru saja digelar tadi malam (20 Des 2011), di Balai Kartini Jakarta. Sembilan bidan dengan ide dan perjuangan inspirasional di tengah masyarakat tempatnya bertugas hadir malam itu dalam penganugerahan Srikandi Award 2011. Acara tahunan  Sari Husada dan Ikatan Bidan Indonesia (IBI) untuk tahun ini terbagi dalam tiga kategori, yaitu tantangan budaya, promosi kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi.Penjurian sudah dilakukan sehari sebelumnya (19 Desember 2011) bertempat di gedung yang sama.


Lewat proses seleksi oleh dewan juri, terpilihlah pemenang di masing-masing kategori. Dewan juri terdiri dari dr Kartono Mohamad (Mantan Ketua IDI, Ketua Dewan Juri Srikandi Award), Dr H Abidinsyah Siregar DHSM Mkes (Direktur Pelayanan Kesehatan Tradisional, Alternatif, dan Komplementer Kementerian Kesehatan RI), Ninuk Pambudi (Editor Senior Harian Kompas), Dr Harni Koesno MKM (Ketua Umum Ikatan Bidan Indonesia), Diah Saminarsih (Asisten Utusan Khusus Presiden untuk MDG's), dan Dr Pinky Saptandari (Staf Ahli Menteri Pemberdayaan Perempuan Republik Indonesia).

"Bidan yang dipilih adalah bidan inspirasional, bukan sekadar menolong persalinan, juga inovatif membentuk kelompok yang memberi manfaat bagi ibu dan bayi," kata Prof Dr Nila Moeloek selaku Utusan Khusus Presiden RI untuk MDG's saat membuka malam penganugerahan Srikandi Award 2011, di Balai Kartini, Jakarta, Selasa (20/12/2011).

Pemenang Srikandi Award 2011 

Kategori Pemberdayaan Ekonomi, :

1.  Bidan Sri Kesih (Jawa Barat),

2. Bidan Sri Partiyah (Jawa Timur),

3. Bidan Sri Puayah (Sumatera Selatan).

Bidan Sri Kasih menginisiasi Koperasi Bunda dengan mengajak perempuan membuat keripik opak yang kemudian hasil penjualannya dipasarkan melalui koperasi sehingga menambah pemasukan keluarga, Bidan Sri Partiyah dengan program bank sampah mengajak warga menjual sampah plastik yang kemudian hasilnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat, dan Bidan Sri Puayah dengan program Koperasi Barokah yang memproduksi abon dan berbagai hasil olahan lain untuk meningkatkan asupan gizi anak-anak dan taraf hidup masyarakat.

Kategori Promosi Kesehatan,

1. Bidan Dewi Susila (Sumatera Utara),

2. Bidan Ni Nyoman Rai Sudani (Bali), dan

3. Bidan Ponirah (Banten).

Bidan Dewi Susila menggalakkan kampanye pencegahan HIV/AIDS bertajuk "Kesan Pertama" dengan membentuk agen penyebar informasi dari kalangan pemuda, Bidan Ni Nyoman Rai Sudani mempromosikan KB vasektomi sebagai solusi masalah pemakaian KB wanita. Sedangkan Bidan Ponirah mengurangi angka kematian ibu dan bayi di wilayahnya dengan kegiatan senam ibu hamil, pemeriksaan kandungan, serta melakukan kunjungan nifas selama 40 hari untuk mengawasi kesehatan ibu dan anak.

Kategori Tantangan Budaya

1.  Bidan Meriyastuti (Jambi),

2. Bidan Sri Ariyati (Sulawesi Barat),

3. Bidan Rosalinda Delin (Nusa Tenggara Timur).

Bidan Meiriyastuti mengubah adat Nyebur Ayek di mana bayi baru lahir dimandikan air kembang di Sungai Batanghari yang dingin sedangkan selama 40 hari pascamelahirkan ibu mengonsumsi nasi putih dan kecap asin agar jauh dari penyakit, Bidan Sri Ariati melebur tradisi angkat air dari sumur ke rumah yang harus dilakukan ibu segera usai melahirkan, sedangkan Bidan Rosalinda Delin menghapuskan adat panggang api yang biasa dilakukan ibu dan bayi usai melahirkan.

"Angka kematian ibu melahirkan memang tidak selalu karena persoalan medis, juga fisik ibu akibat kekurangan gizi. Kita pikirkan nutrisi bagi perempuan melahirkan yang berisiko. Kita pikirkan sampai ke hilirnya, menjadikan masyarakat sehat sebelum mereka merencanakan keluarga," tutup Prof Nila.