Berita & Kegiatan

Search :

Berita Pers

Kecukupan Nutrisi Sejak Periode Kehidupan Dini Pengaruhi Kualitas Bangsa


Keterangan gambar: dr. Judi Januadi Endjun, SpOG, dokter ahli kandungan dan fetomaternalmenjelaskan mengenai pentingnya nutrisi pada awal dan saat kehamilan serta terus menjaga asupan nutrisi anak setelah melahirkan, agar tumbuh kembangnya sempurna

Jakarta, 21 Juli 2011 – PT Sari Husada kembali adakan Nutritalk - sebuah program yang mempertemukan media dengan para pakar kesehatan dalam bentuk diskusi informal. Program ini diselenggarakan secara periodik untuk mengangkat berbagai isu seputar kesehatan dan nutrisi, serta mencari solusi terbaik dalam meningkatkan pengetahuan gizi masyarakat Indonesia. Nutritalk kali ini mengangkat tema “Early Life Nutrition: Bentuk Awal Cinta Ibu untuk Si Buah Hati” dengan narasumber dr. Judi Januadi Endjun, SpOG, seorang dokter ahli kandungan dan fetomaternal.

Yeni Fatmawati selaku Corporate Affairs and Legal Director PT Sari Husada menyatakan dalam sambutannya, “Nutritalk merupakan salah satu wujud edukasi nutrisi secara kontinyu kepada masyarakat melalui media massa yang menjadi salah satu sumber informasi bagi masyarakat. Ini merupakan bagian dari inisiatif perusahaan untuk menyebarluaskan berbagai pengetahuan mengenai pentingnya nutrisi yang tepat dalam setiap tahap kehidupan.”

Topik yang diangkat hari ini sangatlah penting karena memberikan perhatian khusus pada pentingnya nutrisi pada awal pertama kehidupan, yaitu sejak pra kehamilan dan dalam kandungan.

Tingginya angka kematian ibu, bayi dan balita tertinggi di Indonesia disebabkan salah satunya karena masalah nutrisi sejak tahap kehidupan paling dini.

Menurut dr Judi,dua contoh kelainan kelahiran yang paling sering dijumpai adalah Intra Uterium Growth Restriction (IUGR) yaitu bayi yang terlahir terlalu kecil (kurang dari 2.500 gram), dan Macrosomia yaitu bayi yang terlahir terlalu besar dibandingkan bayi pada umumnya (lebih dari 4.000 gram). Kedua kelainan ini berkaitan erat dengan asupan nutrisi sang ibu selama kehamilan, kondisi kesehatan ibu sebelum dan saat hamil dan juga gaya hidup ibu dan kebiasaan ibu sebelum dan selama hamil. Contohnya, ibu yang menderita diabetes dan tidak bisa menjaga pola makan dengan baik akan memiliki risiko besar untuk melahirkan bayi yang terlalu besar.

“Menurut Hipotesis Barker, penyakit yang diderita seseorang di usia dewasa ternyata telah terprogram sejak saat ia berada dalam kandungan. Oleh karena itu, kualitas pemenuhan gizi sejak di dalam kandungan dan semasa kanak-kanak harus sangat diperhatikan, karena hal tersebut memiliki efek jangka pendek dan panjang,” jelas dr. Judi.

“Selain perhatian penuh akan nutrisi, penting sekali untuk secara rutin melakukan pemeriksaan prenatal maupun antenatal untuk menjamin bahwa setiap kehamilan mendapat kesempatan maksimal untuk mencapai puncaknya dan melahirkan bayi yang sehat tanpa mengganggu kesehatan ibunya,” tambah dr Judi.

Seorang wanita yang sedang merencanakan kehamilan, secara ideal harus mempersiapkan diri empat bulan sebelum kehamilan. Hal ini termasuk memastikan kesiapan fisik, status gizi, juga kondisi emosional dan mental. Selain itu, jika sang ibu memiliki keluhan penyakit tertentu, harus segera ditangani agar nantinya kondisi janin tidak terganggu; dan ibu sebisa mungkin menghindari lingkungan yang berisiko bagi kesehatannya, dan tentunya yang terpenting adalah menjalankan gaya hidup sehat.

Masalah kekurangan nutrisi baik mikronutrisi (vitamin dan mineral) maupun makronutrisi (karbohidrat, protein, lemak) serta kurangnya pemeriksaan secara berkala dapat menyebabkan bayi lebih rentan terkena penyakit dan juga meningkatkan risiko kematian bayi sebesar 4 – 8 kali lipat dari biasanya.

Berkaitan dengan teknik pemeriksaan kesehatan janin, salah satu cara untuk melihat kondisi kesehatannya adalah melalui evaluasi hasil Ultra Sonography (USG), dimana salah satunya akan bisa terlihat tiga macam pola pertumbuhan janin berdasarkan kondisi nutrisi Ibu dan janin. 

“Saat ini, tolok ukur utama yang berlaku secara mendunia untuk memantau perkembangan janin adalah ukuran kepala. Misalnya, untuk janin yang normal, ukuran kepala dan perutnya memiliki ukuran seimbang. Janin yang terlihat memiliki kepala dan perut kecil, menandakan kebutuhan nutrisi sang ibu belum tercukupi sehingga mempengaruhi sang janin. Sementara janin yang memiliki ukuran kepala normal sedangkan perutnya kecil menandakan bahwa nutrisi ibu tercukupi, namun terdapat ketidaksempurnaan absorbsi nutrisi oleh janin. Masalah ini dikenal sebagai pola pertumbuhan asimetris pada janin. Kondisi kesehatan ibu dan asupan gizinya akan mempengaruhi aliran darah ke plasenta. Setelah itu, kondisi dan performa plasenta akan mempengaruhi kemampuan absorbsi nutrisi oleh janin, dalam hubungannya terhadap perkembangan sel dan pembuluh darah. Sejak tahap awal kehidupan, sel manusia terus bertambah dan berkembang hingga mencapai pertumbuhan yang sempurna di usia 17 minggu kehamilan. Di saat itulah sang ibu harus semakin memperhatikan perkembangan janinnya dengan rutin memeriksakan kehamilan,” jelas dr Judi. 

Dalam Nutritalk kali ini dibahas pula berbagai kasus seputar kesehatan dan kebutuhan nutrisi ibu hamil. “Pengetahuan mengenai nutrisi dan pemenuhan kesehatan terutama bagi ibu hamil, akan membantu meningkatkan kondisi kesehatan dan intelektualitas masyarakat Indonesia. Melalui bantuan rekan-rekan media, kami harap seluruh isu-isu kesehatan dan nutrisi yang dikupas di setiap edisi Nutritalk mampu meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat untuk memperhatikan isu nutrisi yang ada di Indonesia serta asupan nutrisi yang paling tepat. Sampai jumpa di edisi Nutritalk mendatang!” pungkas Yeni.