Berita & Kegiatan

Search :

Berita Pers

Pemenuhan Kebutuhan Gizi Mikro, Tantangan Terbesar Gizi Anak Masa Kini


Prof. Ir. Ahmad Sulaeman, MS, Ph.D, seorang pakar ekologi manusia dan pemerhati gizi yang juga merupakan Wakil Dekan Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor sedang menjelaskan pentingnya zat gizi mikro kepada rekan-rekan media.

Jakarta, 13 Oktober 2011 – Jika beberapa dekade lalu, persoalan pemenuhan gizi makro masih mendominasi persoalan gizi anak, saat ini persoalan lebih bergeser ke upaya pemenuhan kebutuhan gizi mikro. Hal tersebut disampaikan oleh Prof. Ir. Ahmad Sulaeman, MS, Ph.D, seorang pakar ekologi manusia dan pemerhati gizi yang saat ini menjabat sebagai Wakil Dekan Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor, pada program Nutritalk yang diselenggarakan ketigakalinya oleh PT Sari Husada.

Nutritalk merupakan forum bincang gizi yang secara periodik dilaksanakan oleh Sari Husada untuk wartawan dengan menghadirkan pakar kesehatan dan gizi. Nutritalk kali ini mengangkat tema “Gizi Lintas Generasi - Tantangan Gizi Anak Dulu, Kini dan Nanti”.

Berkaitan dengan tema hari ini, Yeni Fatmawati selaku Corporate Affairs and Legal Director PT Sari Husada menyatakan dalam sambutannya, “Kami sadar bahwa salah satu komponen penting untuk mendorong kemajuan bangsa dalam mencapai perbaikan kualitas kesehatan anak diperlukan perbaikan gizi serta peningkatan pengetahuan tentang gizi. Problema gizi di Indonesia masih menjadi tantangan bagi bangsa Indonesia dan membutuhkan perhatian bersama. Untuk itu, sebagai perusahaan produk bergizi untuk ibu dan anak yang telah berdiri sejak 1954, PT Sari Husada berupaya untuk menyediakan produk bergizi yang berkualitas dan terjangkau serta turut berkiprah dalam program edukasi gizi masyarakat.”

Melongok ke masa lalu, ternyata isu gizi bangsa berawal pada masa penjajahan Jepang, dimana sontak terjadi kekurangan pangan yang parah sehingga muncul busung lapar dimana-mana. Kemudian pada masa orde lama (1950-an) mulai timbul masalah pertanian yang saat itu menjadi ‘hidup mati bangsa’ karena pola konsumsi masyarakat sangat tergantung pada sektor pertanian, untuk itu segera didirikan “Lembaga Makanan Rakyat atau Institut Voor Volksvoeding” (IVV) yang tugas utamanya adalah melakukan penelitian tentang pola konsumsi dan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan makanan. Beranjak ke masa orde baru, masyarakat Indonesia masih terbelenggu dalam empat masalah gizi utama, yaitu Kekurangan Kalori dan Protein (KKP), Kurangan Vitamin A (KVA), Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY), dan Anemia Gizi Besi (AGB). Pada masa ini kemudian dibentuk “Usaha Perbaikan Menu Makanan Rakyat” berupa upaya untuk lebih menganekaragamkan jenis konsumsi dan meningkatkan gizi makanan rakyat, baik kualitas maupun kuantitas. Sekarang di masa reformasi isu gizi yang marak timbul adalah masalah kekurangan gizi mikro (hidden hunger), menyangkut defisiensi besi, yodium, asam folat, vitamin A dan beberapa jenis vitamin B. 

Prof. Ahmad menyatakan, “Rendahnya asupan zat gizi mikro tersebut menyebabkan tingginya kasus penyakit akibat kurang zat gizi mikro (KGM). Dampaknya sangat jelas, di banyak negara terlihat bahwa KGM dapat meningkatkan angka kematian ibu dan anak, penyakit akibat infeksi, menurunkan kecerdasan anak serta produktivitas kerja. Di negara berkembang, umumnya prevalensi KGM sebesar 50-60%, dengan 9% angka kematian anak dan 13% kematian ibu disebabkan karena kekurangan vitamin A (KVA), sementara data tahun 2004 menunjukkan 10 juta anak balita di Indonesia kurang vitamin A. Sekitar 18% kematian ibu melahirkan dan 24% kematian perinatal disebabkan anemia dan defisiensi zat besi. Lalu kekurangan zat yodium merupakan penyebab umum retardasi mental dan kerusakan fungsi otak di berbagai negara di dunia.” 

“Perlu dipahami bahwa, dari masa ke masa, asupan gizi pada intinya sangat terkait dengan ketahanan pangan di tingkat rumah tangga, yang dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pertama adalah pola asuh, yaitu budaya, preferensi, dan nilai yang dipegang oleh keluarga. Hal ini meliputi pemberian ASI/MPASI, pola asuh psikososial, penyediaan makanan sapihan, praktik higinitas, sanitasi makanan dan kesehatan lingkungan. Faktor yang ke dua adalah kondisi tubuh atau kerentanan terhadap penyakit infeksi. Sementara faktor yang terakhir adalah tingkat ekonomi. Tahun 2005, kemiskinan di Indonesia masih mencapai 18,1% dari total populasi penduduk, yang pada akhirnya sangat berpengaruh terhadap faktor-faktor tadi,” lanjut Prof. Ahmad. 

Sebenarnya masalah yang berhubungan dengan gizi tidak hanya terjadi di negara berkembang seperti Indonesia, negara maju pun memiliki masalah yang berhubungan dengan gizi. Oleh sebab itu, pada beberapa tahun terakhir PBB mengembangkan MDGs (Millenium Development Goals) tahun 2015 dengan sasaran mengatasi beberapa masalah yang erat kaitannya dengan gizi.

Target Millenium Development Goals khususnya dalam hal prevalensi gizi kurang, yaitu sebesar 18,5% sebenarnya telah kita capai pada 2007. Berdasarkan Riskesdas tahun tersebut, prevalensi gizi kurang nasional pada Balita mencapai persentase 18,4% dengan prevalensi gizi buruk sebesar 5,4%. Sedangkan pada tahun 2010, angka prevalensi gizi kurang menurun menjadi 18%, dengan prevalensi gizi kurang yang juga menurun menjadi 4,9%. Selain itu, Riskesdas tahun 2007 juga menunjukkan bahwa prevalensi nasional balita pendek dan balita sangat pendek (stunting) adalah 36,8%, sementara prevalensi nasional balita kurus (wasting) adalah 7,4%. Sedangkan tahun 2010, angka untuk stunting adalah sebesar 35,6% dan prevalensi nasional wasting adalah 13,3%. Walaupun terlihat bahwa dalam beberapa indikator terdapat peningkatan, namun penanganan masalah gizi jelas masih harus mendapat perhatian utama.

Salah satu solusi untuk menangani masalah gizi adalah dengan menerapkan Gizi Seimbang (GS). “Sejak pertemuan World Food Council tahun 1992, setiap negara diwajibkan untuk mengembangkan GS sebagai panduan pendidikan gizi. GS adalah anjuran makan dan minum untuk memenuhi kebutuhan gizi  secara umum dengan prinsip: beragam, hidup bersih, aktivitas dan pengendalian berat badan. Di Indonesia, GS dirumuskan oleh Departemen Kesehatan tahun 1995, ditandai dengan diluncurkannya 13 pesan dasar GS dan logo Tumpeng Gizi Seimbang sebagai suatu bentuk edukasi gizi nasional yang dilakukan secara serempak. Namun menurut saya pada dasarnya hal ini merupakan tanggungjawab semua pihak, bukan hanya pemerintah. Dengan lebih banyak pihak yang mau membantu menyebarkan edukasi gizi sesuai dengan kapasitasnya, tentu hasilnya pun akan lebih baik,” Prof. Ahmad berpendapat.

Beliau melanjutkan, “Selain itu, dewasa ini muncul salah satu solusi lain yang lebih moderen, tepat dan murah, yaitu dengan fortifikasi, suatu upaya meningkatkan mutu gizi bahan pangan dengan sengaja menambahkan satu atau lebih zat gizi mikro, seperti vitamin dan mineral pada bahan pangan atau produk pangan. Fortifikasi bertujuan untuk melengkapi atau menambah komponen gizi yang tidak ada dalam rangka perbaikan gizi masyarakat. Misalnya, saat ini kalangan industri pangan mulai mengembangkan program fortifikasi melalui makanan pendamping ASI (MPASI) balita dengan menggunakan produk  taburan. Bubuk campuran berbagai vitamin dan mineral yang dikemas dalam sachet ini cara penggunaannya cukup ditaburkan di produk pangan balita (MPASI) siap saji. Dengan penambahan bubuk taburan ini, produk pangan sudah difortifikasi. Dalam satu hari, hanya membutuhkan satu sachet taburan yang dijual dengan harga yang sangat ekonomis. Diharapkan program ini mampu mencukupi kebutuhan zat gizi mikro bagi balita keluarga miskin.”

“Saya harap pengetahuan mengenai tantangan dan solusi pemenuhan gizi anak bangsa yang kita simak hari ini dapat membuka mata kita bahwa masalah gizi ternyata bukanlah masalah kesehatan semata, namun merupakan bagian penting dari investasi pembangunan bangsa. Melalui bantuan rekan-rekan media, kami harap seluruh isu-isu kesehatan dan gizi yang dikupas di setiap edisi Nutritalk mampu meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat untuk memperhatikan isu gizi yang ada di Indonesia serta asupan nutrisi yang paling tepat. Sampai jumpa di edisi Nutritalk mendatang!” pungkas Yeni.