Mencegah Kemiskinan dengan cara Mencukupi Nutrisi Bunda

Oleh Helmawati 12 Mar 2012

Obat hipertensi | Satu tahun sudah aku ada disini bertugas sebagai pelayan masyarakat. Di ruangan ini setiap hari aku bertemu banyak orang dengan sifat dan tingkah yang beragam.  Satu persatu mereka masuk sesuai nomor antri baik itu orang tua lanjut usia, para bunda, bapak-bapak, remaja maupun anak-anak balita yang dibawa orang tuanya  menceritakan keluhannya, penyakitnya dan berharap menerima obat untuk kesembuhannya.

Pagi itu saat aku bertugas, seorang bunda menggendong anak usia 1 tahun hanya dengan berat badan 5 kg masuk ke ruangan ini dengan kondisi yang sangat menyedihkan. Timbul perasaan miris  ketika melihat anak yang kurang gizi dengan tumbuh kembang yang terhambat. 

Salah gizi atau  malnutrisi yang dialami anak ini mempunyai implikasi antar generasi. Gizi kurang akan mempermudah terjadinya ‘siklus kemiskinan dengan malnutrisi’. Bahwa malnutrisi seringkali mengakibatkan kecerdasan yang menurun, menurunkan kapasitas fisik yang kemudian akan menurunkan  produktivitas, memperlambat pertumbuhan ekonomi dan pada akhirnya meningkatkan kemiskinan.

Bukti-bukti menunjukkan bahwa kerusakan utama yang disebabkan oleh malnutrisi terjadi sejak dalam kandungan. Dimulai dari wanita usia subur yang kurang nutrisi maka pada saat hamil kenaikan berat badan rendah sehingga gizi janin tidak baik yang beresiko berat bayi lahir rendah (BBLR) dan pertumbuhan otak janin selama dalan kandungan kurang optimal. Hal ini mengakibatkan tumbuh kembang terhambat baik fisik, mental dan otak sehingga menyebabkan remaja dan usia sekolah dengan gangguan pertumbuhan, kognitif dan rendahnya prestasi di sekolah akibatnya mutu tenaga kerja rendah sehingga kesejahteraan sosial ekonomi rendah secara otomatis meingkatkan kemiskinan.

Untuk memutuskan siklus ini maka harus difokuskan dalam mengatasi  gizi para bunda dan anak dalam dua tahun pertama kehidupannya atau apa yang disebut ahli gizi dengan ‘the window of opportunity’ (kesempatan untuk memperbaiki status gizi tidak lebar, yaitu mulai pada masa kehamilan sampai bayi usia 2 tahun).  

Kebutuhan makanan bunda hamil sebagai sumber energy meningkat. Kebutuhan kalori tambahan bagi bunda hamil sekitar 300-350 kalori per hari, demikian pula kebutuhan protein meningkat 10 gram sehari dari kebutuhan bunda yang tidak hamil. Peningkatan metabolisme berbagai zat gizi pada bunda hamil juga memerlukan peningkatan suplai vitamin, terutama thiamin, reboflavin, vitamin A dan D. Kebutuhan berbagai mineral khususnya Fe dan Calsium juga meningkat.

Pada ibu menyusui untuk menjamin kecukupam ASI bagi bayi, makanan ibu yang sedang menyusui harus diperhatikan. Sekresi ASI rata-rata 800-850 ml perhari mengandung kalori 60-65 kalori , 1-1,2 gr protein dan lemak 2,5-3,5 gr setiap 100ml. Zat-zat ini diambil dari tubuh ibu  dan harus digantikan dengan suplai makanan ibu sehari-hari. Untuk itu ibu yang  sedang menyusui memerlukan tambahan 800 kalori sehari dan tmbahan protein 25 gr sehari diatas kebutuhan ibu bila tidak menyusui.

Dengan rutin mengontrol kehamilan di petugas kesehatan baik di rumah sakit, puskesmas, bidan ataupun posyandu adalah salah satu cara bagi para bunda hamil untuk mengetahui kecukupan gizi, mengetahui makanan apa saja yang mengandung vitamin yang dibutuhkan. Para bunda lebih jeli memilih makanan sehat untuk dikonsumsi dan mengolah bahan pangan.

Nah, para bunda yang akan hamil, sedang hamil dan sedang menyusui mari ambil peranan dalam menurunkan kemiskinan dengan memutuskan siklus kemiskinan dan malnutrisi.  Mencukupi kebutuhan nutrisi para bunda untuk menciptakan generasi cerdas dan punya daya saing tinggi untuk peningkatan kesejahteraan sosial ekonomi.