Pemenuhan Gizi Merupakan Jawaban Atas Permasalahan Kesehatan dan Pertumbuhan Anak Bangsa

Oleh Nutrisi Bangsa 22 Mar 2015

15.resized

Sahabat nutrisi,

Pemenuhan gizi di awal kehidupan merupakan modal untuk menciptakan hidup sehat, cerdas dan produktif bagi generasi mendatang di setiap negara, termasuk Indonesia. Tentunya hal ini harus menjadi perhatian semua pihak.

Berbagi pengalaman mengenai gizi dan kesehatan dengan negara lain, baik negara maju maupun negara berkembang,  diharapkan dapat memberikan masukan bagi Indonesia untuk mengatasi masalah-masalah terkait gizi.

Topik inilah yang menjadi pokok diskusi pada acara Nutritalk yang bertema “Sinergi Pengetahuan Lokal dan Keahlian Global bagi Perbaikan Gizi Anak Bangsa”. Acara yang berlangsung pada hari Jumat, 20 Maret 2015, di hotel JW Marriott, Kawasan Mega Kuningan Jakarta menghadirkan pembicara Dr. Martine Alles,  Direktur Development Physiology &  Nutrition Danone Nutricia Early Life Nutrition, Belanda dan Prof.  Dr Ir. Hardinsyah, Guru Besar Tetap Ilmu Gizi Fakultas Ekologi Manusia (FEMA)  Institut Pertanian Bogor (IPB).

Pengalaman Bangsa Belanda

Pada kesempatan ini, Dr. Martine Alles memaparkan pengalaman di negaranya, Belanda. Di mana Belanda telah mencatat perubahan pertumbuhan generasi yang positif sejak tahun 1858. Hal ini ditandai dengan peningkatan rata-rata tinggi badan, dari sekitar 163 cm pada awal abad sembilan belas sampai dengan sekitar 184 cm pada akhir abad dua puluh.

Khusus periode tahun 1955 sampai 1997, Belanda mencatat peningkatan rata-rata tinggi badan hampir 10 cm pada anak, remaja dan dewasa muda. Selain tinggi badan, bangsa Belanda juga mengalami peningkatan berat badan lahir. Jika pada periode 1989 - 1991 rata-rata berat badan lahir adalah 3370 gram, pada periode 2004 - 2006 rata-rata berat badan lahir meningkat menjadi 3430 gram.

Peningkatan gizi dan kesehatan anak merupakan kontributor utama bagi perubahan generasi yang positif di Belanda, selain kebersihan dan keluarga berencana, jelas Dr. Martine.

Pada kesempatan yang sama, Dr. Martine menegaskan “Seribu hari pertama kehidupan adalah periode penting bagi pertumbuhan anak-anak. Karena pada periode ini terjadi pertumbuhan fisik dan penambahan massa otak, serta pengembangan kemampuan kognitif secara signifikan”.

Kualitas pertumbuhan yang dialami pada periode ini akan mempengaruhi kesehatan mereka di masa depan, lanjut Dr. Martine. Bangsa Belanda telah membuktikan pengaruh kuat gizi terhadap kualitas pertumbuhan di awal kehidupan.


Masih Memprihatinkan

Sementara itu, Prof. Hardinsyah M.S, dari IPB menambahkan bahwa masalah gizi di Indonesia masih memprihatinkan. Hal ini terlihat dari jumlah balita bertubuh pendek atau stunting, yang disebabkan oleh kekurangan gizi. Data pada tahun 2013 menunjukkan balita yang menderita stunting mencapai 37,2 persen atau 8,8 juta balita di Indonesia.

Oleh karena itu, “Pemenuhan gizi seimbang terutama bagi calon ibu hamil, ibu hamil, ibu menyusui dan balita terus diperlukan. Terutama difokuskan pada pemenuhan zat gizi yang masih kurang atau defisiensi seperti protein, asam lemak esensial, zat besi, kalsium, yodium, zink, vitamin A dan D, serta asam folat,” ujar Guru Besar Fakultas Ekologi Manusia IPB ini.


Komitmen Sarihusada

Arif Mujahidin, Head of Corporate Affairs Sarihusada menyatakan komitmen Sarihusada, yang didirikan 60 tahun lalu, untuk terus mendukung upaya perbaikan gizi anak bangsa yang dilakukan pemerintah melalui peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi bagi ibu dan anak. Salah satunya adalah dengan mengadakan diskusi Nutritalk ini.

“Kami berharap apa yang disampaikan pada Nutritalk ini dapat digunakan sebagai masukan dan referensi bagi pengembangan solusi perbaikan gizi untuk membangun generasi bangsa Indonesia yang semakin berkualitas,” pungkas Arif Mujahidin.