Perjuangan seorang bunda

Oleh Dian Komala 14 Mar 2012

Dalam 2 kali melahirkan anak-anak saya lewat meja operasi, saya dihantui pikiran ini, saya belum merasakan menjadi ibu yang sebenarnya karena tidak merasakan perjuangan melahirkan anak, begitu yang banyak orang bilang ke saya. Ouppss, apa yang mereka tahu tentang perjuangan itu? Memangnya berada di atas ranjang operasi yang super kecil dan tipis, dimana badan saya yang sudah super besar harus berusaha muat di ranjang itu. ruang operasi yang dingin, peralatan operasi yang menyeramkan. Saya yang sudah 30 tahunan hidup di dunia, baru 2 kali masuk inap rumah sakit, yah selama melahirkan ini saja. Bayangkan saya merasa sangat tidak nyaman dengan suasana rumah sakit, walaupun ada bayi mungil yang menemani tidur saya selama di rumah sakit.

Apa yang membuat saya harus menjalani operasi caesar? padahal saya merasa sangat sehat. Ternyata tekanan darah saya meningkat di bulan ke 8-9 kehamilan saya. Stres? Makan fast food? mungkin, saya tidak yakin. Karena setiap suster/dokter yang memeriksa saya selalu bertanya ibu pusing gak? ada keluhan apa? Dan selalu saya jawab, tidak pusing, tidak ada keluhan. Entah kenapa bisa meningkat tekanan darahnya.

Saya dianjurkan mengurangi makanan bergaram. Saya lakukan itu selama cuti melahirkan, hasilnya cepat sekali berat badan berkurang, ditambah karena saya mengurus sendiri bayi saya tanpa bantuan pengasuh bayi. dan karena saya memberikan asi, maka menu tiap hari pasti banyak sayuran. suka atau tidak suka sayuran, saya tetap melahap demi banyaknya asi yang keluar, karena memang sugesti makan sayur banyak, asi pun banyak.

Belum lagi ritual harus mandi air hangat campur jahe selama sebulan, kata orang tua biar hangat badan kita, hangat sih hangat tapi badan jadi bau jahe semua. Dan banyak pantangan, aturan lainnya dari orang tua setelah melahirkan.

Lihat bunda, perjuangan banget kan untuk melahirkan anak. dari mulai hamil sampai sekarang pun mendidik anak, tetap perjuangan seorang bunda. resepnya supaya tidak stres, harus menikmati waktu yang tersedia selama bersama anak. Menikmati pertumbuhan dan perkembangan anak, merupakan momen terindah bagi saya. Bersyukur atas pemberian Yang Maha Kuasa atas anak-anak ini. Juga menjaga kesehatan saya dengan makan bergizi yang teratur, saya tidak mau sakit dan kehilangan momen bersama kedua anak saya.