Tanya Ahli

Kirimkan pertanyaan Anda seputar gizi ibu dan anak, yang akan dijawab oleh Tanya Ahli SGM.

Di Rumah Bertengkar, di Luar Kompak

Oleh hp melati 28 May 2015

Meet Malika dan Safir

Hanya terpaut usia 18 bulan. Sedikit banyak bisa dikatakan mereka tumbuh bersama. Sepasang. “Wah sudah lengkap, ya.” Begitu kata banyak orang yang mengomentari kami saat berjalan bersama. Ya, lengkap. Suka dukanya juga lengkap. Mengurusi dua anak itu membuat saya berpikir bahwa sejatinya punya satu anak itu jauh lebih mudah. Lincah? Banget. Kalikan dua jika dibanding satu anak. Heboh? Apalagi. Dan kebetulan saya dikaruniai anak-anak yang 11-12 pecicilannya.

Awalnya, saya kasihan melihat Malika terpaksa punya adik di usia dini. Kasihan dia harus belajar hal baik lebih banyak ketimbang anak-anak seusianya secara intensif alias 24 jam setiap hari. Belajar berbagi dan bertoleransi adalah hal yang sulit.

Belum lagi lulus, mereka sudah harus belajar bekerja sama dan saling sabar satu sama lain. Amynya pun diuji.

Mereka kini punya rutinitas baru. Bertengkar. Beda pendapat dan salah komunikasi antara dua balita inilah penyebabnya. Dan saat itulah Amy harus turun tangan berulangkali menjadi wasit. Lebih tepatnya seperti wasit pertandingan tinju.

Lucunya, jika main ke taman tanpa salah satunya, entah Malika atau Safir akan saling mencari. Walau setiba di rumah bertengkar lagi seperti suami istri. Sedangkan di luar rumah mereka tiba-tiba kompak dan saling menjaga. Berdua jadi lebih hebat.

Ketika mereka berdua tertawa, menari bersama, atau ketika mereka kompak untuk hal yang menyenangkan. Tidak cukup dikalikan dua. Bahagianya berjuta rasanya. Berdua memang jadi lebih hebat.