Tanya Ahli

Kirimkan pertanyaan Anda seputar gizi ibu dan anak, yang akan dijawab oleh Tanya Ahli SGM.

Nasi Liwet Sunda Kota Banjar

Oleh Dede Firmansyah Albanjary 18 Oct 2012

Sejak kecil, sejak mengenal yang artinya segerombolan teman-teman. Sejak itu pula aku tahu berbagai kegiatan yang seru. Daerahku yang berada di ujung tenggara Jawa Barat yaitu Kota Banjar. Di sinilah aku dilahirkan dan dibesarkan. Di sini pula pengalaman dirajut tiap detiknya.

Pengalaman yang tak terlupakan adalah disaat masih sekolah dasar. Hampir dua minggu sekali atau bahkan seminggu sekali, aku dan gerombolan teman-temanku baik yang sekelas atau adik kelas bahkan kakak kelas sering merencanakan pergi ke hama (ladang kosong di puncak gunung dengan adanya saung untuk tempat istirahat dan melihat pemandangan alam). Tidak hanya sekedar main-main di sana tetapi sekaligus mempersiapkan untuk makan siang bersama-sama. Apa yang kita persiapkan? Tiada lain adalah nasi liwet favorit kami. Meskipun masih SD tapi kami sudah terampil membuat nasi liwet. Sungguh kesan yang tak terlupakan disaat kadang kala nasi liwetnya gosong atau tidak matang. Tapi itu tak pernah akan menjadi hambatan kami untuk mengulangi kegiatan ini.

Sistem pengaturan tugasnya kami namakan “patungan” bukan berarti siapa yang jadi patung. Tetapi patungan disini adalah setiap orang harus berkontribusi membawa bahan-bahan makanan yang akan dimasak. Misalkan setiap orang bawa beras 1 gelas kecil, lalu ada yang bawa minyak, ada yang bawa lauknya, ada yang bawa bawang, ada yang bawa cengek (cabai hijau), ada yang bawa tomat dan bumbu lainnya. Yang pasti itu harus terbagi dengan adil.

Biasanya sebelum berangkat kami sudah sedikit melakukan tahap awal pada beras yang telah terkumpul, yaitu membersihkan dan langsung menyimpannya di kastrol(tempat memasak nasi liwet, bentuknya seperti panci). Termasuk mengiris bawang, menyiapkan cabai, membersihkan lauknya, biasanya lauk yang kami siapkan adalah ikan peda atau ikan cuek. Bukan sekedar ikan biasa, tetapi karena biasanya nasi liwet dihidang dengan lauk ikan asin dan rasanya mantap abis..

Setelah siap bahan-bahannya, lalu kami berangkat naik gunung lumayan capai diawal. Tetapi justru peluh capainya yang menghantarkan kepada kenikmatan dari santapan nasi liwet ini. Waktu yang paling cocok adalah menjelang siang sekitar jam 10an atau jam 11an. Pada saat itu lah, perut mulai berontak dan meminta makanan.

Eits, tapi harus sabar dulu.. karena setelah sampai puncak kami harus memasak dulu berasnya. Bahan-bahan yang disediakan antara lain:

Alat:

Kastrol/panci

Pengaduk

Bahan:

Beras 2 kg

Minyak 1 sendok the

Daun salam 3 lembar

Cabai secukupnya

Bawang merah secukupnya

Garam secukupnya

Penyedap rasa secukupnya

Tomat sayur 2 buah

Terasi 1 buah

Gula merah 1 potong

Ikan peda/ikan cuek atau ikan asin lainnya

Cara Pembuatannya:

  1. Bersihkan beras, hingga kotoran yang menempel hilang atau bahkan kadangkala kalau teman-teman yang bertugas malas, tanpa dicuci pun tidak masalah.
  2. Masukkan garam, minyak, penyedap rasa dan salam lalu aduk. Fungsi minyak ini untuk mengurangi kerak liwetnya dan membuat nasinya tidak terlalu lengket.
  3. Tuang air ke kastrol, lebihkan air sehingga ada sekitar satu buku jari telunjuk antara beras dan air. (ini nih yang bikin matang, kalo sembarangan gak bakal tuh nasi liwetnya enak…)
  4. Lalu masak. Karena digunung berarti buat perapian dulu sebelumnya.. kayak bikin tungku lah..
  5. Setelah airnya surut. Api dikecilin. Lalu masukkan tomat, cabai, bawang merah untuk mematangkan. Ikan pedanya juga dimasukkan supaya matang.
  6. Panggang/bakar terasinya sebentar untuk memberikan aroma khas sebagai bumbu sambalnya..
  7. Setelah kira-kira 30 menit. Nasi liwet matang termasuk ikan pedanya dan bumbu lainnya.
  8. Keluarkan bahan-bahan yang dimasukkan terakhir, dan buat sambal terasi. Bahan-bahannya adalah terasi, tomat, cabai, bawang merah, gula merah, garam secukupnya lalu diulek di cowet(tempat ulekan).
  9. Setelah sambal siap. Maka nasi liwet pun siap dihidangkan beserta ikan pedanya.

Biasanya disajikan cukup untuk 6 sampai 8 orang.

Cara penyajiannya dan cara makannya, biasanya kami lakukan berjamaah dengan sebilah atau dua bilah daun pisang. Nasi liwetnya di simpan dan digerai di daun pisang memanjang. Lalu santap deh bersama-sama. Sehingga kami duduk berimpitan berdesak-desakan dan berhadap-hadapan. Dalam kondisi lapar, semuanya akan terasa mantap dan maknyos..

nih, jangan lupa ikan peda dan sambalnya,,,

Sambal terasi

lalap

ikan asin peda merah

Dengan semilir angin gunung dan pemandangan yang begitu luas, nikmatnya hidangan nasi liwet sangat terasa dan membuat ketagihan.

Tak pernah dulu terpikirkan gizi apa yang tekandung dalam nasi liwet yang kami bikin, atau dari lauknya. Namanya juga masih SD,,

Nih ada sedikit penjelasan kandungan nutrisi dari nasi liwet apabila menggunakan beras organik:

  • memiliki kandungan nutrisi dan mineral tinggi
  • kandungan glukosa, karbohidrat dan proteinnya mudah terurai
  • aman dan sangat baik dikonsumsi oleh penderita diabetes
  • baik untuk program diet
  • mencegah kanker, jantung, asam urat, darah tinggi dan vertigo

lalu, kalau mengenai darimana datangnya dan asalnya nasi liwet, tentunya ini adalah resep turun temurun. Dan kini bukan hanya di daerah jawa barat saja, daerah jawa lainnya juga banyak yang mengaku nasi liwet ala daerahnya. Sampai saat ini, sudah tidak bisa kehitung sudah brapa puluh kali saya memasak nasi liwet, maklum dari SD sampai SMA..

aku adalah bagian dari mereka yang diberikan amanah untuk menyimpan resep turun temurun,,

Lestarikan Resep makanan tradisional agar tetap terjaga di generasi muda!