
Nama : Bidan Meiriyastuti
Usia : 32 tahun
Bidan : Sejak tahun 1998
Lokasi : Desa Teriti, Kecamatan Sumay, Kabupaten Tebo,
Propinsi Jambi
Penghargaan : tenaga kesehatan teladan puskesmas tingkat nasional
2011 (dari menkes)
Bidan Meriyastuti adalah seorang bidan muda yang mendedikasikan dirinya untuk perbaikan status kesehatan ibu dan anak di Desa teriti, tepian Sungai Batang Hari. Desa Teriti merupakan desa terpencil berpenduduk sekitar 932 Jiwa yang sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani. Desa ini dapat ditempuh selama enam jam perjalanan darat dari kota Jambi melalui Sungai Batanghari. Diawal pengabdiannya, Bidan Meiriyastuti merasakan kesulitan untuk dapat diterima oleh adat masyarakat. Terkait masalah kesehatan misalnya, banyak orang tidak mau menuruti anjurannya karena mereka lebih percaya kepada dukun. Begitupula untuk urusan persalinan, hampir semua masyakarat di Desa Teriti masih mempercayakan penanganan kelahiran kepada nyai dukun dengan penanganan partus yang salah dan ritual adat pasca kelahiran yang merugikan kesehatan ibu dan bayi.
Salah satunya adalah pantangan makan makanan bergizi bagi ibu nifas. Menurut adat, selama 40 hari pasca melahirkan ibu hanya diperbolehkan mengkonsumsi nasi putih dan kecap asin dengan alasan dilarang oleh dukun karena akan mendatangkan sakit pada bayi yang mereka susui apabila mereka makan sayuran dan ikan. Kebiasaan ini berakibat kurang baik bagi kesehatan ibu dan bayi karena dapat menimbulkan kekurangan nutrisi.
Selain itu, terdapat pula ritual Nyebur ke Ayek, dimana 7 hari setelah dilahirkan, bayi akan dimandikan dengan air kembang di sungai Batang Hari yang dingin. Menurut adat, hal ini perlu dilakukan untuk memperkenalkan anak ke dunia luar tempatnya hidup nanti. Padahal hal ini bisa membahayakan keselamatan bayi. Pernah suatu ketika seorang bayi prematur meninggal karena hipotermia karena dimandikan di sungai yang dingin.
Agar dapat diterima oleh masyarakat, Bidan Meiriyastuti berusaha melakukan pendekatan dengan mencari keluarga angkat, mendekati perangkat desa, membentuk kader-kader terpercaya serta merangkul dukun-dukun setempat. Ia bahkan menikahi seorang pemuda dari desa setempat. Butuh waktu 11 tahun bagi bidan untuk mendapatkan kepercayaan dari nyai dukun yang kini telah bermitra dengannya. Berkat pendekatan dari bidan yang tak kenal lelah, ritual Nyebur Ke Ayek kini telah dimodifikasi dengan cara yang lebih aman bagi bayi. Tanpa mengurangi penghormatan kepada adat istiadat, Nyebur ke Ayek kini tetap dilakukan dengan menggunakan airhangat dan bayi dimandikan di dalam air kembang di dalam baskom di halaman rumah. Seluruh proses kelahiran di desa Teritik ini dilakukan bersama-sama oleh bidan dan nyai dukun.
Memadam Api di Batas Negeri

Nama : Bidan Rosalinda Delin
Usia :
Bidan : Sejak 1991
Lokasi : Desa Jenilu, Kec. Kakuluk Atapupu, Kabupaten Belu,
Nusa Tenggara Timur
Penghargaan : tenaga kesehatan terbaik NTT 2000
Tantangan Budaya : Panggang Api
Bidan Rosalinda Delin bertugas di Desa Jenilu, Kecamatan Kakuluk, Atapupu adalah sebuah perkampungan nelayan di Kabupaten Belu, NTT. Desa ini hanya berjarak 12 kilometer dari perbatasan Timor Leste dan terdapat banyak eks pengungsi yang masih tinggal di daerah tersebut dengan kondisi yang cukup memprihatinkan.
Di desa ini terdapat budaya Panggang Api pasca-persalinan yang telah diwariskan secara turun-temurun sejak jaman nenek moyang. Seusai melahirkan, ibu dan bayinya dibaringkan sambil dipanasi bara api yang menyala dari kolong tempat tidur selama 40 hari. Menurut orangtua, kebiasaan ini ditujukan untuk menghangatkan badan ibu dan bayi.
Meskipun bertujuan baik, budaya Panggang Api mempunyai beberapa efek negative bagi kesehatan ibu maupun bayi. Ibu melahirkan yang melakukan panggang api akan terlihat pucat karena anemia dan mengeluarkan banyak keringat. Sementara bayi yang baru dilahirkannya sangat rentan terkena gangguan pernapasan atau pneumonia.
Melihat permasalahan ini, Rosalinda Delin, bidan desa yang bertugas di Puskesmas Atapupu- Belu merasa terpanggil untuk menghilangkan kebiasaan Panggang Api di wilayahnya. Ia melakukan kunjungan kesetiap rumah ibu yang baru melahirkan dengan memberikan informasi dan penjelasan mengenai bahaya kebiasaan panggang api ini.
Tidak hanya mendatangi rumah, Ibu Rosalinda Delin juga memberikan pengarahan kepada segenap anggota keluarga ibu melahirkan. Mereka dikumpulkan di suatu tempat untuk memanggang ikan bersama-sama. Dengana cara bakar ikan seperti ini, bidan berusaha menganalogikan tubuh manusia yang dipanggang api dengan seekor ikan yang dibakar. Apabila dipanaskan terus ikan akan kering dan kehabisan darah, begitu pula tubuh manusia. Berkat usaha Ibu Rosinda Delin, saat ini sudah tidak adalagi ibu melahirkan di Desa Jenilu yang melakukan budaya Panggang Api.
Melebur Adat di Bumi Mandar

Nama : Bidan Sri Ariati
Usia :
Bidan : sejak tahun1973
Lokasi : Kab Majene
Bidan Sri Ariati mengabdi di kelurahan Banggae, kabupaten Majene; Sulawesi Barat sejak tahun 1980. Bidan berdarah Jawa ini telah banyak melakukan perubahan demi kebaikan masyarakat Majene, bahkan hingga di masa pensiunnya saat ini.
Kabupaten Majene terletak sekitar enam jam perjalanan darat dari kota Makassar. Pada tahun 2010 tercatat jumlah penduduk Kabupaten Majene adalah sebanyak 150.939 jiwa, dengan jumlah penduduk terbanyak berada di Kecamatan Banggae dan Kecamatan Banggae Timur.
Awal masa tugasnya di Majene, bidan Sri Ariati menemui kendala perbedaan bahasa. Masyarakat Majene umumnya menggunakan bahasa Mandar sebagai bahasa ibu. Permasalahan bertambah lagi dengan banyaknya dukun bersalin atau yang biasa disebut ”sando”. Jumlah sando di Kabupaten Majene sebanyak 172 orang, sedang jumlah bidan hanya 95 orang. Di wilayah kerjanya sendiri terdapat 18 orang sando.
Selain menolong persalinan, para sando juga menganjurkan setiap ibu yang baru melahirkan untuk mengangkat air dari sumur ke rumah. Kebiasaan ini sudah menjadi tradisi turun-menurun di Kabupaten Majene. Hal ini cukup membahayakan, bahkan pernah ada kasus seorang ibu yang pingsan sehabis melakukan tradisi angkat air karena kelelahan karena ia juga harus menyusui bayi kembarnya.
Untuk dapat melakukan perubahan di masyarakat, langkah yang pertama dilakukan oleh bidan Sri Ariati adalah berusaha mendekati para sando untuk diajak bermitra karena setiap ibu di sana memiliki sando kepercayaannya sendiri-sendiri. Namun hal ini bukanlah hal yang mudah, karena para sando umumnya hanya bisa berkomunikasi menggunakan bahasa mandar. Untuk itu bidan Sri Ariati mulai mempelajari bahasa Mandar secara perlahan-lahan.
Saat bidan Sri Ariati mulai bisa sedikit bahasa Mandar, ia lebih mudah berkomunikasi dengan sando dan masyarakat secara umum. Ia terus mengunjungi satu persatu rumah sando untuk menjalin kerjasama dengan mereka. Terkadang ia memberikan penyuluhan kepada ibu-ibu di rumah sando dengan menggunakan bahasa mandar yang masih terbata-bata.
Melalui pendekatan yang intensif selama empat tahun, akhirnya bidan Sri Ariati sukses merangkul 18 orang sando di wilayah kerjanya untuk melakukan kemitraan. Budaya mengangkat air juga sudah tidak dilakukan lagi. Saat ini bidan Sri Ariati bukan hanya seorang bidan, tetapi juga tokoh yang dihormati. Masyarakat di desanya memberinya julukan ”Daeng Sombere” yang berarti si peramah.2. KATEGORI PROMOSI KESEHATAN

Nama : BidanDewiSusila
Usia : 32tahun
Bidan : sejaktahun1998
Lokasi : Desa Tanjung Morawa – A, Kecamatan Tanjung Morawa,
Kabupaten Deli Serdang
Penghargaan : Bidan desa terbaik 1 kab. Deliserdang 2009, desa siaga terbaik 1 sumut
Bidan Dewi Susila adalah seorang aktivis pencegahan HIV/AIDS usia dini di Kecamatan Tanjung Morawa, Deli Serdang, Sumatera Utara. Kecamatan Tanjung Morawa terletak di kawasan Industri yang berjarak kurang lebih 60 kilometer dari kota Medan. Mayoritas penduduk di daerah ini bermata pencaharian sebagai buruh pabrik. Daerah ini merupakan wilayah kecamatan dengan angka penyebaran HIV paling tinggi di kabupaten Deli Serdang. Saat ini tercatat ada 138 kasus HIV/AIDS yang umumnya ditularkan melalui penyalahgunaan narkoba suntik. Penyalahgunaan narkoba cukup marak di kalangan pemuda Tanjung Morawa akibat anggapan bahwa mengonsumsi narkoba adalah tren yang patut diikuti. Kondisi ini diperparah dengan kekurangpahaman mereka akan bahaya dan cara penularan HIV/AIDS. Hal inilah yang kemudian menjadi penyebab tingginya angka infeksi HIV/AIDS di wilayah ini. Melihat permasalahan tersebut, bidan Dewi Susila merasa terpanggil untuk melakukan pencegahan penularan HIV/AIDS sejak dini. Bidan meyakini, usia remaja merupakan usia yang tepat untuk mendapatkan melalui program “Kesan Pertama”. Secara umum, program ini merupakan kegiatan penyuluhan kesehatan bagi remaja yang dikemas secara menarik dan menyenangkan. Remaja merupakan cikal bakal terbentuknya keluarga sekaligus usia paling rentan terpengaruh narkoba. Untuk itu bidan Dewi Susila memfokuskan programnya untuk menyasar kelompok usia ini. Dalam pelaksanaan program KesanPertama, bidan mendatangi secara langsung kegiatan rutin kelompok remaja desa dan sekolah untuk memberikan pendidikan kesehatan dan Tanya jawab. Materi yang disampaikan antara lain penyuluhan kesehatan reproduksi, motivasi, kepemimpinan, pendewasaan usia perkawinan, diskusi tentang perilaku hidup bersih dan sehat, penyalahgunaan narkoba, dan pencegahan HIV/AIDS. Kesan Pertama dilaksanakan secara bertahap dan berkesinambungan. Program ini diselenggarakan melalui pertemuan rutin yang diadakan setiap bulan dan ditutup dengan acara puncak yang diadakan setiap tahun. Acara puncak dari program ini adalah kegiatan kemah dan outbond bersama yang melibatkan pembicara kesehatan, remaja, ibu-ibu dan lansia. Sejauh ini program Kesan pertama telah melibatkan 180 orang yang mayoritas adalah remaja. Mereka yang terlibat dalam program ini nantinya disiapkan untuk menjadi agen penyebar informasi mengenai bahaya dan cara penularan HIV/AIDS. Melalui program ini pula terungkap para penderita HIV/AIDS baru yang akhirnya mau memeriksakan diri untuk mencegah penularan penyakit ini ke orang lain.

Nama : Bidan Ni Nyoman Rai Sudani
Usia : 51 tahun
Bidan : sejak tahun 1982
Lokasi : Kecamatan Abiansemal, Kab. Badung, Bali
Penghargaan : juara 1 lomba KB pria, kab. Badung, juara 1 kader teladan propinsi Bali,
(training: in house training dasar hukum kesehatan,manajemen ormas dan
LSM)
Bidan Dekat Bersalin Selamat

Nama : Bidan Ponirah
Usia : 43 tahun
Bidan : sejak tahun 1990
Lokasi : Desa Harjatani, Kabupaten Serang, Banten
3. KATEGORI PEMBERDAYAAN EKONOMI
Modal Koperasi Bekal Mandiri

Nama : Bidan Sri Puayah
Usia:Bidan : sejak tahun 1996
Lokasi : Kelurahan O. Mangunharjo Kec Purwodadi Kabupaten Musi Rawas –
Sumatera Selatan
Penghargaan : bidan terbaik 1 kab. Musi rawas (2001), bidan terbaik 2 prop. Sumsel
(2002), Bidan delima sumatera selatan (2008)

Bidan Sri Puayah lahir di Musi Rawas, 05 Agustus 1977. Terhitung Juli 2011 beliau bertugas di Desa O. Mangunharjo kecamatan Purwodadi, kabupaten Musi Rawas. Sebelumnya beliau bertugas di Desa P1 Mardiharjo dan mempelopori berdirinya Koperasi Simpan Pinjam Barokah. Meskipun pindah tugas, beliau masih aktif di koperasi ini.
Desa p1 Mardiharjo berlokasi…. Dengan mayoritas penduduk bermatapencaharian sebagai.. (kondisi geografi dan ekonomi warga)
Selama mengabdi di desa ini Sri menyadari bahwa perannya sebagai bidan sangat besar, mengingat profesi bidan berhubungan langsung dengan kehidupan bermasyarakat bukan di bidang kesehatan saja. Keinginannya untuk berbuat lebih banyak demi Desa membuka pikirannya untuk mendirikan koperasi yang nantinya dapat bermanfaat bagi masyarakat khususnya di bidang kesehatan.
Melalui musyawarah dan mufakat bersama akhirnya bersama masyarakat dibentuklah koperasi JPKM Barokah pada Agustus tahun 2002 beranggotakan 34 orang. Hasil usaha dari system koperasi ini dialokasikan untuk berbagai program perbaikan kesehatan ibu dan anak di desa P1 Mardiharjo.
Awalnya bidan Sri Partiyah mendirikan koperasi barokah untuk membantu ibu-ibu melaksanakan proses persalinan maupun pemeriksaan kehamilan. Namun, pada2007 pemerintah mengeluarkan program jaminan persalinan (Jampersal) untuk warga kurang mampu. Dengan demikian bidan mengalihkan fungsi koperasi social Barokah menjadi koperasi yang nantinya bisa membantu ibu-ibu dalam mendirikan usaha rumahtangga maupun usaha lain yang nantinya bisa menambah pendapatan bagi keluarga mereka.
Selain bantuan modal untuk meningkatkan pendapatan, Koperasi Barokah juga perperan dalam perbaikan gizi ibu hamil, pemberian makanan tambahan bagi balita, dan perbaikan gizi bagi lansia.
Beberapa hasil positif yang didapatkan dengan adanya koperasi ini antara lain :
• Gizi ibu hamil terpenuhi selama kehamilan sampai akhirnya ibu bayi sehat dan selamat.
• Terpenuhinya pemberian ASI eksklusif bagi bayi
• Kasus BGM dan BGT di desa teratasi yang terkoreksi dari berat badan balita naik, dan berada pada garis normal
• Kunjungan Posyandu Lansia bertambah
• Dari danayang diberikan, keluarga memiliki usaha industri rumah tangga sebagai tambahan penghasilan bagi keluarga. Usaha yang ada berupa produksi makanan ringan.Merubah Sampah Menjadi Berkah

Nama : Bidan Sri Partiyah
Usia : xx
Bidan : sejak tahun1995
Lokasi : DesaDuwet, Kec. Bendo. Kab. Magetan
Bidan Sri Partiyah menjalankan program bank sampah untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan warganya. Akibat kemiskinan, banyak balita di Desa Bendo mengalami gizi buruk. Selama ini penderita gizi buruk di Desa ini ditangani dengan mengandalkan bantuan dari pemerintah. Di samping masalah gizi buruk, desa Bendo juga bermasalah dengan sampah. Banyak sekali sampah berserakan seperti plastik dan kaleng yang sewaktu-waktu dapat berubah menjadi sarang nyamuk.
Tujuan program ‘Bank Sampah’ adalah untuk memberikan nilai ekonomi pada sampah untuk mengumpulkan dana kesehatan sekaligus menjaga lingkungan agar tetap bersih. Mekanisme operasional bank sampah adalah sebagai berikut:
1. keluarga memilah sampah rumah tangga
2. minggu pertama dan kedua keluarga menyetor ke bank sampah (ditimbang dan dibeli)
3. hasil penjualan ditabung di bank sampah
4. bank sampah menjual sampah ke pengepul
5. tabungan di bank sampah dimanfaatkan untuk berbagai macam keperluan seperti pemenuhan nutrisi balita, biaya bersalin, kebutuhan rumah tangga, dan keperluan-keperluan lainnya
Nama : Bidan Kesih Am, Keb.
Usia : 35 tahun
Bidan : sejak tahun 1995
Lokasi : Desa Mekarjaya, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung
Penghargaan : bidan berprestasi kab. Bandung terbaik 1 kab. Musi rawas (2009),
bidan desa teladan gubernur jawa barat (2009)
Bidan Kesih lahir di Sumedang pada 3 Oktober 1976. Sejak 2006 beliau bertugas di Desa Mekarjaya, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung. Di tempatnya bertugas, beliau aktif menjalankan Koperasi Bunda untuk memfasilitasi kegiatan program kesehatan ibu dan anak, membentuk posyandu mandiri, dan menambah lapangan kerja bagi masyarakat.
Desa Mekarjaya merupakan daerah terpencil di kaki Gunung Malabar Kabupaten Bandung. Desa ini dihuni sekitar 5600 jiwa yang mayoritas berprofesi sebagai buruh tani. Dari 1685 KK yang menghuni desa ini, 1545 diantaranya adalah keluarga miskin.
Masalah terbesar di desa mekarjaya adalah kemiskinan yang mencapai 90% dari total penduduk. Masalah kemiskinan ini berimbas pada kurangnya asupan nutrisi yang cukup bagi masyarakat, terutama ibu dan anak. Selain itu, ketiadaan dukungan dana yang memadai dalam keluarga, menyebabkan banyak keluarga tidak bisa membiayai biaya persalinan dan pasca persalinan.
Oleh karena itu, melihat kultur masyarakat yang agraris, bidan menggerakkan masyarakat untuk membangun Koperasi Bunda pada 2006. Kegiatan koperasi Bunda antara lain memberdayakan masyarakat dengan menciptakan usaha produktif–agraris seperti pemanfaatan limbah untuk pupuk organik, industri olahan hasil kebun dan budidaya shorgum. Selain itu koperasi Bunda juga mempunyai warung yang menyediakan barang kebutuhan ibu dan bayi serta sembako. Pengurus koperasi ini kebanyakan merupakan kader Posyandu yang digaji setiap bulan menggunakan SHU.
Selain memberdayakan kader dan masyarakat secara umum, koperasi bunda juga memfasilitasi pengumpulan beras perelek untuk memfasilitasi dana sosial bersalin. Beras perelek ini dikumpulkan oleh kader dan karangtaruna, untuk kemudian dikelola oleh koperasi dan diuangkan. Dana ini nantinya dapat digunakan untuk memfasilitasi persalinan dan akomodasi warga yang sakit.
Dengan adanya koperasi Bunda warga masyarakat bisa mendapatkan fasilitas kesehatan dan persalinan yang memadai disamping tambahan penghasilan.