Tanya Ahli

Kirimkan pertanyaan Anda seputar gizi ibu dan anak, yang akan dijawab oleh Tanya Ahli SGM.

" SEMANGAT UNTUK KESEHATAN IBU ADALAH TANGGUNG JAWAB KITA "

Oleh besilfa 07 Mar 2012

Assalamualaikum wr wb.

Pertama- tama kita panjatkan puja dan piji syukur atas apa yang di berikan-NYA yaitu kesehatan sampai saat ini. Dalam hal ini saya mengikuti lomba blog bertema: “Ayo Dukung Bunda: Kesehatan Bunda Kesehatan Kita” yang berada di link http://nutrisiuntukbangsa.org/blog-writing-competition/ 

Kesempatan ini adalah kesempatan langkah buat saya yang pemula penulis blog tentang wawasan seperti ini, dan tak akan ku sia-siakan untuk menambah ilmu saya tentang tema ini. Kesempatan yang mungkin tak pernah saya jumpai sebelumnya, kompetisi ini juga untuk menambah wawasan kita betapa pentingnya kesehatan untuk seorang bunda yang telah pernah melahirkan kita.

menurut penelitain saya dari berbagai sumber yang saya dapatkan. Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Pemeliharaan kesehatan adalah upaya penaggulangan dan pencegahan gangguan kesehatan yang memerlukan pemeriksaan, pengobatan dan/atau perawatan termasuk kehamilan dan persalinan. Pendidikan kesehatan adalah proses membantu sesorang, dengan bertindak secara sendiri-sendiri ataupun secara kolektif, untuk membuat keputusan berdasarkan pengetahuan mengenai hal-hal yang memengaruhi kesehatan pribadinya dan orang lain. Bicara tentang ibu sosok luar biasa yang rela memberikan apa saja, termasuk cinta tanpa syarat tiada terhingga, untuk keluarga, termasuk anak-anaknya. Bayangkan ibu mengandung 38-40 minggu, melahirkan hingga membesarkan anak-anak sembari merawat keluarga, tak jarang juga membantu meningkatkan pendapatan keluarga dengan bekerja. Semua dilakukan tanpa mengeluh. Sayangnya kondisi kesehatan dan gizi ibu hamil masih menjadi tantangan utama dalam mencapai  target pembangunan milenium (Millennium Development Goals/MDGs) yang diharapkan tercapai pada 2015.

Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007 menyebutkan angka kematian ibu (AKI) per 100.000 kelahiran hidup masih berada di angka 228, dari target 102 pada 2015. Sedangkan angka kematian bayi (AKB) per 1000 kelahiran hidup 34, dari target 23 pada 2015. Untuk angka kematian balita per 1000 kelahiran hidup sebesar 44, dari target 32 pada 2015. Menteri Kesehatan RI Endang Rahayu Sedyaningsih mengakui indikator MDGs yang sulit dicapai adalah menurunkan angka kematian ibu. Bukan hanya di Indonesia tapi semua negara di dunia. Empat faktor yang menyebabkan terjadinya kematian ibu, yakni terlalu tua saat hamil, terlalu muda untuk hamil, terlalu sering hamil dan terlalu dekat jarak kehamilan. “Jika keempat ini bisa diperbaiki maka angka kematian ibu bisa diturunkan”. Selain faktor yang disebutkan di atas,kurangnya pengetahuan mengenai gizi menjadi faktor penting masih tingginya angka kematian ibu (AKI) di Indonesia saat ini. “Angka ini masih sangat tinggi dan merupakan salah satu yang terburuk di antara negara-negara di Asia bahkan ASEAN”.

Pemahaman ibu mengenai pemenuhan nutrisi selama masa kehamilan amatlah penting. “Kalau ibu sendiri kekurangan gizi, tidak hanya akan mempertinggi risiko kematian saat melahirkan tetapi juga akan membahayakan bayi bahkan hingga jangka panjang”. Untuk mempercepat pencapaian target tersebut, dibutuhkan sinergi yang kuat dari berbagai elemen masyarakat, pemerintah juga swasta.  Untuk itulah, kesehatan ibu (hamil dan menyusui) akan menjadi salah satu fokus perhatian Kantor Utusan Khusus Presiden RI untuk MDGs dalam empat tahun ke depan, bersama dengan  masalah kemiskinan, gizi, serta akses terhadap air bersih. “Meningkatkan derajat perempuan merupakan langkah penting dalam mengatasi kemiskinan. Keterkaitan antara status kesehatan, pendidikan dan status gizi serta meningkatnya kemiskinan diabaikan dan upaya mengatasi masalah-masalah ini akan memberi dampak  tidak hanya kepada sektor lain namun juga berdampak terhadap status keadaan perempuan secara umum”. Kehamilan sehat tak pelak menjadi hal yang harus menjadi perhatian utama, baik untuk ibu maupun bayi yang dikandungnya. Ini tak lain karena kondisi tubuh ibu berkorelasi erat dengan kondisi tubuh bayi.  Kesehatan ibu hamil dan janin dipengaruhi oleh nutrisi yang dikonsumsi. Ibu hamil sebaiknya mengonsumsi gizi seimbang untuk menunjang tumbuh kembang janin, juga untuk mempersiapkan proses persalinan dan menyusui. Sayangnya, tidak semua ibu hamil di Indonesia mampu memenuhi nutrisi secara lengkap. Salah satu penyebabnya ialah kemiskinan atau keterbatasan pendapatan. Masalah ini tak hanya terjadi di wilayah pelosok, namun juga di perkotaan. Akibatnya, laju pembangunan menjadi terhambat karena generasi penerus tidak punya kemampuan mengelola bangsa. “Itulah mengapa  menciptakan generasi penerus harus dipersiapkan sejak masa kehamilan. Bahkan, sebelum kehamilan, calon ibu dan suami sudah mempersiapkan diri”. Bertambahnya pasangan suami istri juga mesti mengetahui makanan apa saja yang harus dikonsumsi dan tindakan-tindakan yang harus dilakukan bagi tumbuh kembang bayi. Suami harus berperan memperhatikan asupan makanan istri selama kehamilan. “Pandangan bahwa kehamilan hanya tanggung jawab istri semata, harus diubah. Suami juga bertanggung jawab dalam memenuhi nutrisi istri yang tengah hamil”.

Selain tanggung jawab individu, kesehatan ibu hamil dan bayi menjadi tanggung jawab pemerintah. Salah satu tugas yang diemban pemerintah berkaitan dengan peningkatan kesehatan ibu hamil dan bayi ialah menyebarkan tenaga medis ke perdesaan, yang bertugas untuk sosialisasi dan memberi pemahaman tentang kehamilan yang sehat. “Dengan meningkatnya pengetahuan masyarakat perdesaan mengenai kehamilan, nutrisi, dan kesehatan, kualitas hidup ibu hamil diharapkan dapat meningkat”.

“Untuk menurunkan angka kematian ibu, bidan berperan penting dalam menyampaikan informasi kesehatan kepada masyarakat mengenai pentingnya kesehatan ibu dan anak, antara lain dengan suluh bidan, kelas ibu hamil, memberikan pemahaman bagaimana kehamilan dan melakukan persalinan sehat sesuai dengan pedoman yang tertuang dalam kesehatan ibu dan anak”. Pentingnya peran suami untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi. “Suami harus memahami apa langkah-langkah yang harus dilakukan jika istrinya hendak melahirkan, terutama jika lokasinya jauh dari pusat layanan kesehatan masyarakat. Jangan sampai terlambat mengambil keputusan, yang akhirnya bisa berakibat fatal pada ibu dan bayi”. Penambahan kematian ibu adalah dampak dari banyak faktor yang mempengaruhi, misalnya kesulitan mengakses layanan kesehatan akibat terbatasnya pendapatan. “Program jaminan pelayanan persalinan (Jampersal) yang digulirkan pemerintah untuk pasien kelas tiga diharapkan mampu berkontribusi dalam menurunkan angka kematian ibu.” Selain adanya Jampersal yang meliputi paket layanan mulai dari konsultasi kehamilan dan persalinan, revitalisasi keluarga berencana juga sebagai salah satu upaya menekan agka kematian ibu. “Bila Jampersal dapat menutup biaya persalinan, diharapkan kematian ibu saat melahirkan akan tertanggulangi. Dengan demikian, angkanya bakal menurun drastis”. “Semakin banyak anak, risiko kematian ibu semakin tinggi. ”Hasil Sensus Indonesia 2010 menunjukkan laju pertumbuhan penduduk Indonesia sebesar 1,49 persen per tahun. Kondisi ini mempersulit upaya menekan AKI di Indonesia. Untuk itu, upaya besar dalam menekan laju pertambahan penduduk sangat diperlukan dengan harapan target MDGs untuk menurunkan AKI pada tahun 2015 menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup menjadi kenyataan. Seperti diketahui, penyebab langsung kematian ibu di Indonesia kebanyakan disebabkan perdarahan, hipertensi saat kehamilan dan infeksi. Sedang penyebab tidak langsung kematian ibu di Indonesia karena usia yang terlalu muda, usia terlalu tua saat melahirkan, terlalu sering melahirkan serta terlalu banyak anak yang dilahirkan. “Hal itu sering disebut dengan istilah empat terlalu. Tiga penyebab lain yang menjadi penyebab kematian ibu adalah terlambat mengambil keputusan, terlambat membawa ke tempat pelayanan dan terlambat memberikan pertolongan di tempat pelayanan”. Terkait upaya untuk mengurangi angka kematian ibu, upaya yang kini tengah dilakukan Kemenkes adalah mengkampanyekan pendidikan kesehatan reproduksi di kalangan siswa SD hingga SMA, seperti menanamkan norma dan budaya bahwa menikah itu idealnya ditunda hingga usia 24-25 tahun. Sekarang  ini 20-30 persen perempuan Indonesia menikah di bawah usia 20 tahun, atau dengan kata lain menikah muda. Selain itu, akses pelayanan kesehatan juga menjadi kendala utama dalam menurunkan angka kematian ibu di daerah-daerah terpencil. Kendati begitu meski sudah tersedia fasilitas pelayanan kesehatan tidak serta merta menjadikan para ibu menggunakannya. “Bisa jadi tidak punya akses pelayanan kesehatan, mungkin karena tidak ada. Atau mungkin juga ada, tapi terlalu jauh. Mungkin dekat, tapi tidak biasa pergi ke bidan tapi malah ke dukun,” kata Menkes seraya menegaskan untuk menurunkan angka kematian ibu, saat persalinan harus dibantu oleh tenaga kesehatan terlatih.

Demikian blog saya buat dari sumber-sumber yang ada. Semoga bermanfaat dan menambah wawasan anda  bagi yang baca blog saya. ^_^