Tanya Ahli

Kirimkan pertanyaan Anda seputar gizi ibu dan anak, yang akan dijawab oleh Tanya Ahli SGM.

ANAK YANG SEHAT DAN TANGGUH, ANAKKU UNTUK BANGSAKU DI MASA DEPAN

Oleh Mutia Erlisa Karamoy 18 Oct 2013

“Masa depan bukanlah sesuatu yang kita jalani…Masa depan adalah sesuatu yang kita bangun. (James Lee Valentine)”.

Menjadi apa seorang anak kelak merupakan hasil pembelajaran tingkah laku yang sebagian besar dipelajari mereka dari orangtua. Pilihan yang anak buat berkaitan dengan apa yang mereka lihat dan pelajari HARI INI akan membentuk hidup mereka ESOK. Keputusan yang diambil anak di masa depan, sebagai hasil dari apa yang mereka pelajari dari kita, orang dewasa yang menjadi orangtuanya, dan kemudian berkaitan langsung dengan kesuksesan perjalanan hidup mereka sendiri di masa depan.

Merupakan hal yang sangat penting untuk membuat semua anak tahu bahwa mereka adalah manusia yang unik, spesial, serta luar biasa, hingga mereka dapat memiliki tujuan hidup yang berarti. Semua anak berhak untuk dicintai dan dihargai, dan mereka berhak mendapatkan orangtua yang mendengarkan mereka di saat senang, dan menerima tangis mereka pada saat sulit. Kita, sebagai orang dewasa yang bertanggung jawab dan orangtua yang penuh kasih, sudah seharusnya selalu mendorong bakat dan kemauan semua anak. Sudah seharusnya kita sebagai orangtua mengajari anak-anak kita cara berpikir yang mampu menghasilkan pengalaman positif dan menciptakan lingkungan yang berisi cinta, kejujuran, kepercayaan, dan keinginan untuk selalu berbagi. 

Benih yang kita tabur di musim ini adalah hasil yang kita panen di musim berikutnya. Anak-anak kita hari ini adalah orangtua, pengusaha, dan pemimpin di masa depan, karena itu sudah seharusnyalah kita menaburkan benih prestasi, harapan, dan keajaiban dalam diri anak-anak kita sekarang sehingga esok kita dapat hidup di dunia di mana ada rasa hormat, cinta, dan perhatian di antara sesama. Dan melalui anak-anak kita pula, kita ciptakan dunia di mana kebahagiaan, kegembiraan, dan tawa merupakan bagian alami dari hidup setiap orang. Setiap orangtua masing-masing memiliki keunikan tersendiri dalam membesarkan buah hatinya, karena setiap anak juga memiliki keunikan karakter masing-masing, namun menjadi suatu hal yang penting bahwa kita harus mempersiapkan sedini mungkin anak-anak yang akan menjadi tunas-tunas bangsa yang akan melanjutkan kehidupan di masa depan. Dan dari rumahlah semua itu bermula…dengan orangtua terutama ibu sebagai leadernya.

ANAKKU, ANAK YANG SEHAT

Memiliki anak yang sehat…tentu saja menjadi dambaan dan harapan setiap orangtua, termasuk saya sebagai seorang ibu, tentu saya sangat menginginkan anak-anak tumbuh sehat. Namun ciri-ciri anak sehat tidak hanya dilihat dari segi fisik semata, tapi harus dilihat juga dari segi psikis dan bagaimana anak bersosialisasi dengan lingkungannya. Berdasarkan indikator yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan RI, ciri-ciri anak sehat ada sembilan, yaitu :

  1. Tumbuh dengan baik, dilihat dari naiknya berat badan dan tinggi badan yang teratur dan proporsional.
  2. Tingkat perkembangannya secara umum sesuai dengan tingkat umurnya.
  3. Tampak aktif, gesit, dan gembira.
  4. Mata bersih dan bersinar.
  5. Nafsu makan baik.
  6. Bibir dan lidah tampak segar.
  7. Pernafasan tidak berbau.
  8. Kulit dan rambut tampak bersih dan tidak kering.
  9. Mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan.

Idealnya sembilan indikator anak sehat tersebut memang harus dimiliki setiap anak Indonesia, termasuk anak saya namun realita memang tidak selalu berjalan seideal apa yang menjadi tolak ukurnya, tapi memenuhi setengah dari kriteria tersebut bagi saya merupakan usaha yang sampai saat masih terus dilakukan, disamping itu tentunya pemenuhan asupan gizi yang seimbang untuk pertumbuhan anak-anak juga merupakan hal yang penting.

Anak yang sehat tentunya tidak hanya dilihat dari segi fisik semata, ada faktor-faktor lain yang tidak kalah pentingnya, yaitu psikis dan kemampuan anak untuk bersosialisasi. Untuk menghasilkan anak yang sehat secara ideal, tentu orangtua harus memiliki pengetahuan yang luas serta sikap moral yang patut diteladani. Ada tiga sikap moral atau peran sebagai orangtua yang menurut saya patut di pahami dan diterapkan dalam konteks keinginan untuk menjadi orangtua yang baik, yaitu :

  1. Penguasa, yang merupakan kekuatan orangtua untuk menuntun anak-anaknya dengan rasa hormat dan bermartabat, membangun karakter luhur dari setiap anak. Hal ini berkaitan dengan kuatnya rasa tanggung jawab.
  2. Guru, yang merupakan kekuatan orangtua dalam memberi anak-anak pengetahuan dan pemahaman, agar anak mampu untuk bertindak berdasarkan penilaian yang benar. 
  3. Pelindung, yang merupakan kekuatan orangtua untuk merangkul anak-anak dengan memberi perlindungan, menjadi tameng dari bahaya, dan memastikan anak tumbuh dalam lingkungan yang aman. 

Ketiga sikap moral ini merupakan syarat mutlak bagi orangtua agar mampu menuntun dan membesarkan anak-anak dengan sukses. Menjadi orangtua bukan berarti kita telah mampu menyelesaikan setiap persoalan dalam kehidupan, karena menjadi orangtua juga merupakan bagian dari proses belajar untuk menjadi manusia seutuhnya. Membesarkan dan mendidik anak memang bukanlah hal yang mudah, ada banyak teori namun pada kenyataannya tidak semua teori tersebut bisa diterapkan…mengapa? karena setiap anak itu unik bahkan anak yang dilahirkan dalam satu keluarga pun berbeda antara yang satu dengan yang lain. Karena itu penting bagi orangtua untuk memahami sifat dan watak masing-masing anaknya agar kelak tidak ada anak yang merasa terpinggirkan.

Jika saya ingin anak-anak saya tumbuh sehat baik secara fisik, psikis, dan sosial, tentu harus ada konsep nyata yang harus saya lakukan setiap hari. Meskipun konsep tersebut berlaku fleksibel dan tidak kaku, jadi disesuaikan dengan keadaan dan kondisi pada saat itu namun tetap berpegang pada prinsip tanggung jawab sebagai orangtua atas integritas anak, penuntun anak dalam membuat keputusan yang bijaksana, serta melindungi anak-anak dari pengaruh buruk dan merusak. Ada banyak konsep dan teori positif tentang cara mendidik anak, meskipun tidak semuanya bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari paling tidak hal tersebut menginspirasi untuk memilah dan memilih cara mendidik anak yang terbaik sejauh ini dengan barometer apa yang saya lakukan merupakan contoh untuk anak-anak saya.

  • Saya akan menghitung sampai sepuluh sebelum membentak anak-anak. Terkadang sulit untuk dilakukan, terutama dalam situasi yang sangat emosional. Namun percayalah bahwa kita marah karena memang kita memilih untuk marah, dan kesadaran bahwa anak-anak memiliki sedikit kontrol atas perasaan emosional mereka sedangkan orang dewasa tentu sudah memiliki kontrol sepenuhnya.
  • Saya harus menanamkan spiritualitas yang berkualitas sebagai bekal akhlak yang baik untuk anak-anak saya kelak. Karena akhlak dan keimanan yang baik akan memagari anak terhadap emosi dan pengaruh negatif di lingkungannya kelak.
  • Saya selalu berusaha untuk bersyukur dengan apa yang telah saya miliki dan berusaha untuk selalu bahagia. Pada gilirannya, anak-anak pun akan belajar untuk bersyukur dan bahagia dengan apa yang telah kita berikan kepada mereka.
  • Saya akan membangun nilai diri anak-anak saya karena nilai diri akan membawa pengaruh yang besar terhadap pertumbuhan anak-anak di masa depan. Nilai diri yang positif akan membawa anak-anak pada kehidupan yang sehat.
  • Pendidikan anak saya di mulai dari rumah, karena itu buatlah suasana rumah yang membawa nilai-nilai positif bagi perkembangan anak-anak, sebuah rumah sehat dalam arti yang sebenarnya.
  • Anak-anak harus hidup dengan emosi-emosi positif, karena emosi positif akan menuntun pembangunan karakter moral bagi anak-anak kita, dan emosi positif harus dimulai dari diri saya.
  • Pelukan…saya akan memberikan pelukan yang berarti untuk anak-anak saya. Pelukan memang hanya membutuhkan waktu beberapa detik, tapi pelukan kasih sayang akan meninggalkan kesan abadi pada anak-anak. Pelukan, asuhan, dan penanaman rasa percaya diri secara bertahap merupakan prasyarat dasar bagi anak yang bahagia dan dapat menyesuaikan diri dengan baik.

Agar anak memiliki jiwa kompentensi sosial, anak harus memiliki kecerdasan sosial, mampu beradaptasi dengan lingkungan dan kelompok, mampu menjalin hubungan yang dilandasi keintiman emosional, selain tentunya memiliki nutrisi yang cukup dengan gizi yang seimbang. Disinilah peran orangtua terutama seorang ibu menjadi begitu pentingnya, karena itu menjadi ibu yang selalu up to date alias tidak ketinggalan info-info terbaru tentu menjadi pekerjaan rumah yang serius untuk mulai dikerjakan saat ini juga.

ANAKKU, ANAK YANG TANGGUH

Anak yang tangguh selalu melihat kegagalan sebagai sebuah tantangan. Kondisi lingkungan serta kehidupan yang penuh persaingan, menjadi tantangan bagi orangtua dalam mendidik anaknya untuk belajar keras agar menjadi pribadi yang tangguh, mandiri, dan tidak mudah putus asa. Anak yang tangguh bukan harus anak yang memiliki kecerdasan atau intelegensi dalam golongan superior, melainkan anak yang memiliki kepribadian pantang menyerah dalam menghadapi tantangan dan tekanan, salain itu ia juga mampu melihat tekanan dengan ringan hati sehingga selain terus mencoba ia juga tidak berkecil hati saat apa yang ingin ia raih belum tercapai saat itu. Ada enam ciri anak tangguh, yaitu :

  1. Mampu mengarahkan dirinya sendiri untuk tujuannya.
  2. Mampu menangkal kesulitan, berani dalam arti yakin akan kemampuan dirinya sendiri.
  3. Mempunyai motivasi untuk maju.
  4. Mampu fokus pada masalah yang sedang dihadapinya dan mengenal kelebihan serta kekurangan dirinya sendiri.
  5. Tidak segan meminta bantuan orang lain dan gigih dalam meraih tujuan yang ingin dicapai.
  6. Fungsi intelektualnya baik dan easy going serta mampu membina hubungan yang baik dari berbagai perasaan dengan orang lain atau memiliki kontrol emosi yang baik.

Point pertama yang harus dilakukan dalam membentuk sikap tangguh adalah menentukan dan menyepakati pola asuh yang akan diterapkan dalam keluarga, pola asuh tersebut harus adil di mana anak mendapatkan kesempatan untuk melakukan eksplorasi pada lingkungan dan orangtua membimbing tanpa memberi tekanan, sedangkan anak mengetahui konsekuensi yang ada bila ia melakukan suatu pelanggaran pada aturan yang berlaku, tetapi konsekuensi itu sendiri tidak semata hanya orangtua yang menentukan dan tentunya bukanlah kekerasan yang bersifat verbal maupun non verbal melainkan kedua pihak (anak dan orangtua) telah sama-sama mengetahui dan menyepakati sebelum hal itu diberlakukan.

Untuk membentuk sifat tangguh pada anak, orangtua harus menjadi role model bagi anak. Karena itu penting bagi saya untuk mulai mempersenjatai diri dengan banyak ilmu parenting yang meskipun tidak semuanya bisa diterapkan di kehidupan keluarga kami. Namun yang paling penting adalah mulai membangun kesadaran bahwa untuk menjadi tangguh ada beberapa hal yang perlu disiapkan dalam diri anak-anak. Orangtua harus membuat anak mempunyai harga diri yang tinggi, karena anak akan merasa dirinya berguna sehingga memudahkan anak menghadapi rintangan di kehidupannya kelak.  Selain itu, orangtua juga harus mengajarkan pada anak spiritualitas yang menanamkan keyakinan dalam diri anak bahwa ada kekuatan yang lebih tinggi dan berkuasa di atas diri manusia.

  • Karena itu saya akan memberi anak-anak saya akar dan sayap, sehingga mereka akan berusaha keras membangun hidup yang berarti dan berharga. Akar, seperti dalam keluarga yang penuh cinta, membangun perasaan nyaman dan bahagia, dan membuat anak-anak merasa aman di rumah. Sayap, dengan sayap mereka terbang dan melatih apa yang telah diajarkan. Jika anak-anak telah siap maka doronglah anak-anak untuk terbang tinggi dan jauh agar mereka dapat mengepakkan sayapnya mengarungi kehidupan yang masih terbentang luas, serta mempraktekkan apa saja yang telah kita bekalkan kepada mereka.
  • Saya percaya anak-anak saya adalah elang-elang yang kuat. Dengan konsep elang yang sarat dengan makna tentang kekuatan, maka bangunlah diri anak-anak yang mempunyai kekuatan berupa penglihatan yang tajam dan visi yang jauh ke depan serta punya kekuatan untuk fokus.
  • Saya akan bertindak antusias terhadap apa yang menjadi hobi dan kecintaan anak, karena mungkin saja didalamnya terdapat Passion anak yang kemudian akan berkembang menjadi pilihan karirnya di masa depan.
  • Saya akan mengajarkan pada anak-anak saya bahwa apa yang saya fokuskan adalah apa yang saya dapatkan, karena dengan begitu rencana kehidupan di masa yang akan datang akan lebih terarah dan secara emosional anak akan lebih matang dalam menghadapi berbagai persoalan hidupnya kelak.

ANAKKU, SEMOGA MENJADI ANAK YANG SEHAT DAN TANGGUH

Berbagai teori dan referensi yang jumlahnya tidak terhingga itu akan menjadi percuma jika kita tidak memulainya. Memang tidak ada kehidupan yang ideal dan sempurna, karena setiap waktu kita akan selalu berhadapan dengan permasalahan dan kendala yang kadang-kadang menguras emosi. Dan harapan yang ingin dicapai tidak semuanya akan terwujud, jika pun terwujud tentu harus melewati kerja keras. Demikian juga dalam mendidik anak-anak, saya memiliki konsep dan rencana yang bagi saya sudah ideal, serta sesuai dengan visi dan misi yang kami bangun dalam keluarga, tidak semuanya terlaksana dengan baik atau mungkin belum menunjukkan hasil yang baik, namun sebagaimana anak yang selalu berjuang dan belajar, kita pun juga harus selalu belajar dan berjuang untuk menjadi orangtua yang mampu memberdayakan anak-anak kita. Karena anak-anak kita adalah anak-anak bangsa yang akan menentukan arah bangsa di masa depan, dan anugerah luar biasa yang diamanahkan oleh Tuhan kepada kita untuk dijaga, dididik, dan dipelihara agar anak-anak  mampu menjadi manusia yang sukses baik di dunia maupun di akherat.

Anak-anakku untuk bangsaku

Anak-anakku untuk bangsaku dan inspirasiku untuk selalu belajar

Tulisan ini disertakan dalam lomba penulisan blog “Peran ibu untuk si pemimpin kecil” sebagai Nutrisi Untuk Bangsa bersama Sari Husada.

Sumber referensi tulisan :

  1. http://www.kancilku.com/
  2. http://anakcerdassehat.wordpress.com/
  3. Pemberdayaan bagi orangtua dan anak, James Lee Valentine.