Bekal untuk Dika dan Lea

Oleh mamadika 19 Oct 2013

banner lomba utk artikel lomba

Pemimpin kecil… Hhmm… saya coba pejamkan mata saya dan membayangkan Dika dan Lea menjadi seorang “pemimpin”. Satu menit… dua menit… tiga menit… bayangan Dika dan Lea bermain… berinteraksi dengan lingkungan… memimpin kelas… lamaa… dan teruss membayangkan sampai akhirnya samar-samar hilang… dan teruusss… yang muncul malah bayangan saya dan suami… LOH KOK BISA??? Hahaha..

“Orang tua adalah cermin dari perilaku anak-anak di masa yang akan datang.” Demikian kesimpulan yang saya dapatkan hasil dari pembelajaran selama hampir lima tahun ke belakang. Jadi, ketika membayangkan anak-anak menjadi pemimpin… ya sama dengan membayangkan perilaku saya dan suami. Sebuah konklusi subjektif, bahwa kata “Pemimpin” bagi saya pribadi memiliki makna yang sangat dalam… DNA dan Karakter… Kepemimpinan adalah : perilaku yang benar dan menjadi sebuah karakter ... Dan ini yang menjadi harapan besar saya untuk Dika dan Lea…menjadi manusia yang BERKARAKTER berlandaskan nilai-nilai kebenaran dan iman.

Bagaimana caranya?

Saya mengkonsepkan cara mendidik anak-anak dengan cara menjadikan ORANG TUA sebagai role model/idola bagi anak-anak. Saya jadi ingat ketika kecil, saya mengidolakan ayah saya dalam hal profesional dan integritas pekerjaan.Dan saya mengidolakan ibu saya karena kesabaran dan ketulusannya. Dan saat mulai memasuki dunia pekerjaan hingga saat ini, alhamdulillah nilai-nilai yang saya pelajari dari ayah mendorong saya menjadi seorang pekerja yang cukup kuat melawan “arus”. Dan ketika menjadi seorang ibu, saya mulai menerapkan apa yang saya lihat dan contoh dari ibu saya. Begitu besar peran orang tua dalam “membangun” anak-anak menjadi seorang manusia yang baik dan ideal (walaupun nggak ada yang ideal loh). Kemudian, saya berpikir…. saya tidak bisa lagi berbuat…berperilaku… dan berpikir sesukanya seperti sebelum saya memiliki anak. Saya HARUS berubah lebih baik lagi karena saya adalah role model bagi anak-anak. Tentu saja caranya dengan banyak belajar.. mencoba mengesampingkan keegoisan dan meningkatkan kemauan dan kemampuan mencerna sesuatu fakta dan semakin mendekatkan diri dengan Sang Pencipta. Karena menurut saya (pada akhirnya setelah melalui banyak pembelajaran) semua itu kembali lagi kepada Sang Pencipta. Semua telah diajarkan dan dipaparkan dengan lengkap lewat ajaran-ajaran agama. Masalahnya tinggal, apakah kitamau menjalankannya tanpa banyak alasan pembenaran.. Hehe

Dan pada akhir konklusi, saya menemukan sebuah jawaban dari pernyataan bahwa Berkeluarga adalah Ibadah. Bagaimana tidak? Dengan menikah dan berkeluarga kita belajar untuk menjadi lebih baik.. merubah sifat buruk menjadi sifat baik demi anak-anak… demi menciptakan seorang manusia yang lebih baik. Jadi, menurut saya, kita bukan hanya mendidik anak-anak melainkan lebih kepada mendidik diri kita sendiri. Saya dan suami selalu berpesan dan mengingatkan kepada anak-anak bahwa mereka harus menjadi karakter yang lebih baik dari kami dengan cara mencontoh hal-hal yang baik dan mengingatkan kami ketika kami “lupa”. Misalnya ketika menyupir… mengantar anak-anak sekolah kemudian mengumpat orang lain karena kondisi jalanan yang super crowded… Lea selalu mengingatkan, “Looo katanya jangan gampang marah-marah ma…sabar dong…” Hahahaha… kalau sudah begini jadi malu hati deh….

Merubah karakter memang sangat sulit, tapi jika kita benar-benar ingin anak-anak kita menjadi pribadi yang lebih baik semestinya sih kemauan itu bisa mengalahkan karakter buruk yang kita miliki walaupun tidak 100%.

Saya mendidik anak-anak (= mendidik diri sendiri) dengan mengkategorikan kebutuhan pada tiga pilar utama :

1. KEBUTUHAN FISIK

Dasar kehidupan adalah fisik. Jika fisiknya tidak kuat, lemah… maka bisa mempengaruhi ruang gerak kita. Nabi Muhammad juga adalah sesorang yang selalu menjadi kesehatan dan kebersihan fisiknya. Oleh karenanya, saya juga berusaha untuk hidup sehat dengan cara memenuhi kebutuhan nutrisi anak-anak sesuai dengan arahan para pakar kesehatan dan buku-buku nutrisi. Tidak ada lagi mie instant untuk saya dan suami karena kalau kami tetap memakannya berarti kami menzolimi anak-anak dong… mengingkari ┬átekad untuk menjadi contoh yang baik. Mulai belajar minum susu dan sarapan pagi (karena saya nggak suka susu dan sarapan haha), bangun pagi hari, rutin berolahraga setiap Sabtu pagi, dan banyak lagi hal-hal yang sebelumnya tidak saya lakukan. Maklum, saya ini adalah anak kost sejak SMP hingga kuliah… jadi terbiasa hidup dengan pola makan dan pola hidup yang seenaknya.

2. KEBUTUHAN AKAN ILMU (POLA PIKIR)

Pendidikan dan pembentukan pola pikir adalah kunci kedua yang akan membawa Dika dan Lea ke dalam pusaran lingkungan yang mungkin akan semakin rancu di masa yang akan datang. Dunia kompetisi yang semakin kuat, pengaruh lingkungan buruk dengan berbagai jenis karakter manusia yang akan ditemui dan banyak lagi. Mereka harus siap… siap menghadapi berbagai hal dan fakta yang akan terjadi… bersiap menghadapi berbagai jenis karakter manusia. Oleh karenanya, sekolah yang saya pilih adalah sekolah yang menerapkan kebiasaan-kebiasaan baik seperti doa di pagi hari, pemberian sanksi jika terlambat (disiplin), dan melihat kualitas karakter guru-guru di sekolah. Mengapa? Karena dua pertiga waktu anak-anak akan berada di tangan sekolah. Hanya sepertiga waktu saya untuk bersaing dengan sekolah. Itu yang saya manfaatkan semaksimal mungkin. Saya dan suami tidak ragu untuk memindahkan sekolah anak-anak jika memang sekolah itu hanya mementingkan komersil dan menomorduakan anak-anak dengan catatan anak-anak pun mau dan setuju untuk berganti sekolah. Jika tidak, terpaksa saya kadang menjadi “ibu cerewet” bagi pihak sekolah hehehe.

Saya dan suami hanya bertekad, di waktu yang tinggal sepertiga hari itu, kami bisa lebih efektif dan lebih didengarkan ketimbang para guru dan teman-teman di sekolah.

Ilmu bagi kami bukan hanya dari sekolah… bukan hanya didapat dari berbagai kursus yang diikuti… Ilmu yang kami ajarkan seringkali disampaikan ketika mengobrol maupun bermain.

3. KEBUTUHAN UNTUK QOLBU (ROHANI)

Dua hal di atas tidak akan ada artinya jika anak-anak tidak memiliki qolbu. Agama adalah segala-galanya dalam kehidupan manusia. Agama adalah pegangan hidup… Segala ilmu di dunia tidak ada artinya dibandingkan ilmu yang terkandung dalam ajaran agama, semua lengkap ada dalam kitab suci. Lewat qolbu, kami berdoa anak-anak akan semakin kuat secara spiritual dalam memahami fakta-fakta yang terjadi di dunia… apa yang akan mereka temui… kebaikan… kejahatan… kegagalan…. semua bisa disikapi dengan benar sesuai ajaran agama. Dari semua pilar di atas, pilar qolbu yang paling saya senangi untuk dipelajari… Saya sangat bersyukur dan berterima kasih karena diberi kesempatan, diberi anugerah terbesar yaitu anak-anak. Karena melalui mereka, saya bisa semakin mengenal Sang Pencipta. Mudah-mudahan, kami sekeluarga tidak dihadapkan pada hambatan-hambatan yang terlalu sulit dalam menjalani hidup di dunia ini ya… Dan kami berdoa semoga Dika dan Lea pada saatnya nanti bisa menjalani hidup dengan sebaik-baiknya, penuh berkah dan bahagia setelah kami para orang tuanya tidak lagi ada. Dan kami berdoa juga semoga Dika dan Lea hanyalah dua diantara anak-anak di muka bumi ini menjadi generasi yang baik dan benar.

Aamiin.