Bunda kamuk,enggak...

Oleh tri yustisia 21 Oct 2013

“Bunda…bunda… ” panggil putri kecilku dengan nada merajuk. Aku yang masih kesal,akhirnya tak menghiraukannya. Hanya menatapnya tajam kemudian memalingkan muka. Persoalannya sepele, dia tidak mau menggosok gigi ketika akan tidur. 

“Bunda kamuk..”. celetuknya sambil berlari ke arah sang ayah. ‘Kamuk’ alias ‘ngamuk’ atau marah, tidak jarang kulakukan jika ada tingkah pola putriku yang kurang pas dihati. Meski sebenarnya marah kepada balita 26 bulan tidak bisa dibenarkan, namun menahan emosi atas perbuatan-perbuatan yang kita anggap salah, rasanya sulit sekali. 

*** 

Ternyata,menjadi ibu tidak semudah dibayangkan. Dalam perjalananya, baru saya sadari, banyak ilmu yang belum dimiliki. Salah satunya adalah ilmu sabar. Sabar dalam menghapi tangisannya, sabar akan ompolnya, sabar dengan gerakan tutup mulut (GTM )nya, sabar dengan ketidaksabarannya, sabar dengan rumah yan tak pernah rapi, dan masih banyak ilmu sabar yang harus saya pelajari. 

Masih teringat akan pesan Saidina Ali bin abi tholib mengenai masa mendidik anak. Tujuh tahun pertama anak diberi limpahan kasih sayang, tujuh tahun kedua penegakkan kedisplinann, dan tujuh tahun ketiga menempatkan posisi kita sebagai sahabat. Anak-anak pada masa golden age terletak pada masa tujuh tahun pertama. Jika meneladani Ali, maka limpahan kasih sayanglah yang kita berikan kepada anak. Meski arti dari limpahan kasih sayang itu bukan berarti memanjakan. Sikap sabar orangtua dikedepankan disini, maka sudah sewajarnya jika kita para orangtua rajin-rajinlah berlatih sabar. Mengedepankan positive thinking, juga belajar untuk memandang sesuatu dari sudut pandang anak. Dengan begitu, kita bisa lebih menyelami kemauan anak kita. Siap sedia untuk menjadi teman bermain mereka, ikut asyik memainkan mainan mereka. Dengan begitu, kita bisa menjadi lebih dekat dengan anak. Anakpun bisa lebih terbuka dengan kita, bisa lebih mudah diberitahu. 

Anak adalah investasi emas untuk masa depan. Bukan hanya untuk keluarga, namun juga untuk kehidupan bermasyarakat, juga bernegara. Merekalah yang nantinya menjadi nahkoda membawa bangsanya ke arah kehidupan yang lebi baik. Tentunya mereka tidak tumbuh sendiri, pembentukan karakter seorang insan mulia dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya. Dan pembentukan karakter seorang anak dmulai dari kelurga. Pengajaran bagaimana taqwa, sabar, empati, jujur, disiplin, adalah nilai-nilai yang wajib ditanamkan pada golden age mereka daripada menjejali otak mereka dengan pelajaran calistung (membaca, menulis, berhitung). Orangtua seringkali alpha untuk menanamkan nilai-nilai tersebut dengan teladan, tapi menyerahkannya pada sekolah. Jangan salahkan jika anak kita suka memukul temannya, bisa jadi kita juga sering memukulnya. Seringkali kita mengelus dada ketika anak tidak menurut dengan apa yang kita katakan, bisa jadi kita salah dalam penyampaiannya. Bentakan, pukulan, cubitan, bukanlah cara yang efektif untuk membuat anak mendengarkan kata-kata kita. Ketika kita tidak suka anak berbohong, mungkin kitalah yang menanamkan ketidakjujuran. Menjanjikan sesuatu agar anak mau makan, tapi setelah dia melakuannya, kita tak menepat janji kita. Sepele, tapi jika dilakukan berulang kali, maka anak akan menganggap perbuatan yang kita lakukan itu sah. 

*** 
Disya, putri kecilku yang cantik sudah terbiasa main sendiri ketika ayah dan bundanya sibuk mengurus laundry, usaha kami. Ketika saya sibuk setrika, dia juga asyik memainan keranjang cucian kosong. Ikut menyemprot baju dengan pewangi. Namun ketika sudah bosan, mulailah dia meminta perhatian bunda atau ayahnya. Minta diambilkan ini itu, minta gendong, juga mulai ‘mengganggu’ pekerjaan kami. Sang ayah mulai tak saba dengan sedikit berkata keras padanya. Disya pun berlari kearahku, menatapku, memastikan apakah saya bersikap sama dengan sang ayah. 

“Bunda kamuk…. ” cetusnya ketika saya berpura-pura tetap sibuk setrika dan tak membalas tatapnya. Saya pun langsung meraihnya, menggendong, dan berucap, “Bunda nggak kamuk, sayang… .” Disya langsung membalas pelukanku, tertawa memperlihatkan deretan giginya. “Susu sapi… .” ucapnya minta dibuatkan susu sapi. Saya mengangguk dan memintanya turun dari gendongan, dia pun menurut. Sambil mengitariku yang menyiapkan susu sapinya, disya berulang berucap, “Bunda kamuk, engga… bunda kamuk, engga… . 

Apa salahnya menahan emosi untuk anak, sebuah introspeksi untuk saya pribadi dan mengingatkan bagi orangtua yang lain. Disya hanyalah satu dari puluhan juta anak di Indonesia yang merupakan embrio pemimpin masa depan. Mereka membutuhkan keceriaan dalam masa kanak-kanaknya. Bermain dan.bermain. Jangan pernah rusak masa- masa indah itu dengan emosi kita. Jangan biarkan sel-sel otak mereka mati karena bentakan kita. Jangan biarkan konsep diri mereka lemah karena omelan-omelan kita para orangtua. Saya berani berbenah, Anda?