Tanya Ahli

Kirimkan pertanyaan Anda seputar gizi ibu dan anak, yang akan dijawab oleh Tanya Ahli SGM.

Catatan Perjalanan Menuju Sehat

Oleh Ajipadma DK 15 Mar 2012

Bunda ingin bercerita Nak, cerita tentang kau dan Bunda…tentang perjalanan kita menuju sehat. Bunda ingin cerita ini bermanfaat untukmu kelak jika sudah besar. Ambil pelajarannya anakku sayang, kau seorang perempuan dan kelak kau akan menjadi bunda untuk anakmu. 

Nak, awal mengetahui keberadaanmu di rahim Bunda adalah melalui testpack ini :
 

Sumber : Koleksi Pribadi

Sejak itu Bunda menyadari bahwa tubuh ini bukan milik Bunda sendiri, Bunda tidak bisa memonopoli tubuh ini untuk kesenangan Bunda seorang.  Ada satu bakal penerus generasi di dalam tubuh Bunda yang harus berbagi nutrisi dan kehidupan, yaitu kau Nak. 
 
Nak, bertanggungjawab atas hidupmu di dalam rahim Bunda membuat Bunda terpacu untuk hidup sehat.. untuk menjadikanmu sehat. Yaa.. Bunda memang bukan perokok, tidak mengkonsumsi minuman keras apalagi narkoba, tapi pola makan dan minum Bunda memang tidak bagus untuk seorang ibu hamil menurut Bunda. 
 
Sejak sadar kau ada di rahim Bunda, Bunda menjadi pembelajar. Bunda bukan ahli gizi, tapi Bunda bisa belajar tentang gizi yang baik untuk ibu dan janin tho? Bunda bukan dokter kandungan, Tapi Bunda bisa belajar dan bertanya agar kau selalu sehat di kandungan Bunda tho? Ya.. Bunda belajar disela-sela rutinitas kerja, disela-sela waktu istirahat di rumah, di setiap aktivitas Bunda belajar untuk menyehatkan Bunda… menyehatkanmu. 
 
Trimester pertama Bunda mual seperti kebanyakan Ibu hamil, itu lumrah nak akibat dari peningkatan hormone estrogen, progesterone dan HCG pada Ibu hamil. Bunda berjuang untuk tetap ada asupan makanan meski sedikit, Bunda tidak ingin hyper emesis. Bunda tidak suka susu saat mengandungmu, Bunda perbanyak makan buah dan sayuran yang kaya kalsium, asam folat dan vitamin. Ada beberapa makanan yang tidak Bunda suka selama hamil, tapi masih ada makanan yang bunda tidak muntah memakannya, itu yang Bunda makan.
 
Mual…Muntah…Makan… Mual…Muntah…Makan
Hal itu terjadi hingga usia kandungan Bunda 12 minggu. Mual dan muntah dapat Bunda lewati dengan semangat tetap memberimu asupan bergizi. 
 
Trimester kedua pun berjalan dengan lancar tanpa keluhan.
 
Memasuki trimester  tiga, Bunda dikejutkan oleh tes toleransi glukosa yang Bunda jalani. Glukosa PP 2 jam bunda 162mg/dl, sedangkan normalnya untuk ibu hamil 70-140 mg/dl.
Bunda shock! Bunda tidak punya diabetes, tidak juga obesitas, kenapa ini bisa terjadi? Padahal Bunda menjaga kesehatan Bunda selama ini.
“Mungkin ada keluraga yang terkena diabetes bu? Karena ini berpengaruh juga Ibu terkena diabetes gestasional” terang DSoG saat itu.s
“Bapak saya dan beberapa keluarga dari Bapak saya Dok punya diabetes”
 
Ternyata Bunda terkena Diabetes Gestasional, Nak.  Diabetes yang terjadi saat kehamilan karena perubahan hormon-hormon saat hamil sehingga insulin tidak bekerja dengan baik, biasanya akan pulih setelah melahirkan. Namun jika tidak diatasi dengan baik bisa membahayakan Ibu dan Janinnya.  Anak bisa lahir premature, gula darahnya drop saat dilahirkan, lahir besar atau bahkan terparahnya kematian. Walaupun gula darah Bunda tidak terlalu tinggi, namun ini tetap warning untuk Bunda. Kurang lebih itu yang bunda tangkap dari penjelasan DSog, Nak. 
 
Bunda merasa gagal atas usaha Bunda menjagamu di rahim Nak. Tapi ini bisa diperbaiki,  Bunda yakin akan ada jalan untuk memperbaiki semua ini sehingga kau bisa lahir sehat anakku sayang. Terlebih karena dukungan dari Ayahmu yang membuat bunda bangkit. Bunda cari literature di Internet, Bunda ikuti saran dokter untuk konsultasi dengan Spesialis Gizi, semua Bunda lakukan agar Bunda sehat dan kamu pun sehat. 
 
Yup! Bunda tahu kesalahan Bunda akhirnya setelah screening pola makan bersama Spesialis Gizi tersebut, Bunda terlalu banyak mengkonsumsi karbohidrat tanpa bunda sadari. Oke…Bundapun nurut mengikuti diet yang dianjurkan Spesialis Gizi tersebut. Bunda turuti apa yang boleh dan apa yang tidak boleh Bunda konsumsi. Bunda rajin senam hamil dan olah raga. Bahkan bunda cuti cepat supaya Bunda bisa memperhatikan makanan Bunda dan bisa teratur berolahraga.
 
Kita berhasil Nak, Glukosa PP 2 Jam Bunda menjadi 85 mg/dl.
Kau berhasil bunda lahirkan normal, sayang. Beratmu 2.9kg, Tinggimu 50cm. Meski kau lahir 16 hari lewat dari HPL, tapi Bunda bisa melahirkanmu normal karena kondisi ketuban, kondisimu dan kondisi Bunda baik.  Meski pembukaan dari pembukaan 1 ke pembukaan penuh berlangsung 2 hari, tapi Bunda tidak kehabisan energi, bahkan setelah proses melahirkan (setelah pembukaan penuh) tak kalah lama, beres” , bisa SMSan dengan sahabat bunda, dan bisa bercanda dengan dokter dan bidan yang membantu persalinan Bunda.
 
Itulah Nak, kenapa Bunda harus sehat…supaya Bunda bisa memberimu sehat.
Ini kau Nak beberapa jam setelah dilahirkan:
 
Sumber : Koleksi Pribadi
 
 
Kini kau sudah 11 bulan sayang… Berarti 11 bulan sudah Bunda menyusuimu.  Menyusuimu pun butuh perjuangan nak. Butuh kemuan untuk belajar, bertanya, mendengar dan menerapkan.
 
Awal-awal kelahiranmu ASI bunda belum keluar. Tapi bunda tetap menyusuimu supaya kau mendapatkan colostrums untuk kekebalan tubuhmu. Kala itu masa-masa sulit, kau masih adaptasi dengan dunia ini, Bunda sedang pemulihan dan adaptasi peran baru serta mempraktekan teori yang selama ini Bunda baca, bagi Ayah dan Eyangmu pun ini pengalaman pertama. Tapi tak apa, kita belajar bersama. 
 
Menyusui, bukan hanya bunda yang berjuang tetapi juga kau, ayahmu bahkan eyangmu yang ikut belajar. Satu yang terpatri dalam diri Bunda, Bunda harus sehat supaya bisa menyusuimu dengan baik.  
 
Hampir setiap hari dalam seminggu Bunda menangis karena menyesal kau harus minum sufor di awal kelahiranmu. Gula darahmu drop sesaat setelah dilahirkan, ASI bunda belum keluar dan tidak ada yang bisa mendonorkan ASI dalam waktu cepat hingga akhirnya Bunda dan Ayah menandatangani persetujuan kau diberi sufor (daripada harus diinfus , opsi lain selain sufor). Bunda kesal, andai saja waktu hamil bunda tidak terkena diabetes gestasional… ahhh kau pasti tidak harus mengalami drop gula darah.
 
Sudahlah, semua sudah terjadi. Yang harus bunda pikirkan adalah bagaimana supaya ASI bunda banyak dan kau sehat. Bunda turuti semua nasehat orang untuk melancarkan ASI. Bunda belajar pelekatan yang baik, mungkin hampir semua  makanan booster ASI sudah Bunda makan. Sayur katuk hampir setiap hari Bunda makan di sebulan pertama kelahiranmu, sampai-sampai  bibi yang bantu di rumah Eyang bertanya
 “mbak gak bosen? Saya aja yang masakin bosen mbak”
“Demi  Anak, apapun saya lakukan Bi”
 
Kacang tanah, papaya mengkel, kacang hijau, sayur-sayuran, tape, pare … semua Bunda coba. Setiap  kamu tidur Bunda memompa ASI karena makin banyak ASI yang dikeluarkan akan makin menambah produksi ASI yang sifatnya supply and demand.  Kau tau rasa perihnya anakku saat bunda harus menyusui kamu dan memompa ASI dalam keadaan puting lecet? Semua itu tidak Bunda rasakan meski tak tahan air mata bunda keluar menahan perih.
 
Selama seminggu hampir setiap hari Bunda menangis setiap melihatmu, entahlah kenapa bisa begitu. Antara capek, belajar dan beradaptasi dengan peran baru, selain itu badan Bunda juga sedang pemulihan paca melahirkan. Kau pun juga mengalami saat-saat sulit anakku, karena kau juga sedang beradaptasi dengan alam dunia dan sedang growth spurt
 
Disaat inilah perlu seorang Bunda yang sehat, seorang Bunda yang sabar, seorang Bunda yang ikhlas. Apakah bayi bisa memahami jika Bundanya sakit? Tidak sayang… Bayi lahir belum bisa melakukan apa-apa, Bundanya yang akan membantunya. Bayi tak peduli Bundanya tidak sehat, padahal dia minta digendong. Tak peduli Bundanya lelah, padahal dia minta minum ASI. Ya… Sehat, Sabar dan Ikhlas yang harus dimiliki seorang Bunda.
 
Nak, di 11 bulan usiamu kau tumbuh sangat sehat. Kurva berat badanmu naik stabil di range normal (tidak kurang, tidak lebih). Bulan pertama kenaikan berat badanmu hanya 200 gram, namun bulan-bulan selanjutnya kenaikanmu antara 500-1000 gram. Motorik kasar dan motorik halusmu berkembang dengan baik. Sakit pertamamu pun batuk pilek di usia 9 bulan bisa teratasi dengan baik tanpa mengkonsumsi obat-obatan.
 
Bunda bersyukur perjuangan kita ada hasilnya. Bunda sehat, kau sehat…
Bunda bersyukur kita dikelilingi orang-orang yang support terhadap kesehatan kita.. Dokter-dokter yang pro akan ibu dan bayi, Suami dan Ibu yang mau belajar bersama Bunda dan Kau.. yang selalu memfasilitasi dan menyemangati kita untuk sehat.
 
Nak, semoga Bunda bisa menularkan semangat sehat ini padamu. Semoga kau bisa mengambil hikmah dari perjalanan bunda mengandung dan membesarkanmu. Tulisan ini hanya garis besar saja, teruslah kau cari ilmu untuk menyehatkan dirimu dan masyarakat, Nak. Kelak kau akan jadi Bunda, Kelak kau akan menyehatkan generasi… sampaikan pada anakmu, sampaikan pada lingkunganmu untuk sehatkan Bunda, karena bila Bunda sehat…. Semua sehat.
 
Semangat sehat anakku sayang … 
 
Tulisan ini dibuat dalam untuk : 

http://nutrisiuntukbangsa.org/blog-writing-competition/