Tanya Ahli

Kirimkan pertanyaan Anda seputar gizi ibu dan anak, yang akan dijawab oleh Tanya Ahli SGM.

Cinta dan Kasih Ibu adalah Sumber Kekuatanku

Oleh Dwi Ary Nugraheni 21 Oct 2013

Untuk Ibundaku tercinta…
Terima kasih atas apa yang telah engkau berikan padaku 
Sehingga aku bisa sampai pada posisi sekarang ini 
Apa yang telah engkau berikan padaku sejak dalam kandungan hingga kini
Mungkin tak akan pernah bisa kubalaskan sepenuhnya padamu
Namun.. aku akan terus memberikan yang terbaik dan yang terbaik untukmu
Doaku untukmu tak akan pernah kuputuskan dan akan selalu kupanjatkan
Terima kasih Ibunda

Sebagai seorang wanita yang kini sudah beranjak dewasa.  Aku mulai sadar akan peranku menjadi seorang ibu bagi anak-anakku kelak, seperti yang telah ibuku lakukan selama ini. Aku menyadari bahwa selama ini aku lebih dekat dengan ibu ketimbang ayah. Ibu adalah orang pertama yang ku kenal. Ibu yang mengandungku selama sembilan bulan, menyusui, menimang, mengganti pakaian saat aku masih kecil, mendidikku dan selalu berada di sisiku.

Ilustrasi: Cerita dari masa dalam kandungan hingga tumbuh menjadi seorang gadis kecil

Kewajiban ibuku dalam menjalankan perannya ternyata tidak dimulai saat setelah aku lahir dan berhenti sampai aku beranjak dewasa saja. Namun sudah sejak dalam kandungan, ibu merawatku dengan cara memenuhi segala kebutuhan nutrisiku dan memelihara kesehatan jiwa dan raga dari berbagai faktor luar yang punya pengaruh buruk bagi diriku saat masih dalam kandungan.

Ilustrasi: Ibu menggendongku dengan penuh kasih sayang

Setelah aku lahir, ibu menyusui dan menimangku, hal ini sungguh merupakan hal yang sangat penting bagiku. Tetapi tak hanya kasih perhatian seperti itu saja yang ku butuhkan. Ibu harus memenuhi berbagai kebutuhanku mulai dari segi kasih sayang, pendidikan, sopan santun dan lain-lain. Dan ibu ternyata mampu memusatkan berbagai segi demi terbentuknya sosok aku yang memiliki kepribadian baik dan utuh.

Ilustrasi: Ibu yang mengajarkanku mengaji

Tak hanya kebutuhan jasmani, aku juga membutuhkan kebutuhan rohani dan ibu memenuhi kebutuhanku itu semua. Mulai dari mengajariku untuk beribadah dan menaati kewajiban sesuai agama yang kami anut untuk mendapatkan pahala dan menjauhi larangan agar tidak mendapatkan dosa. Ibu juga memberi tahu untuk tidak jajan sembarangan dan mengajakku untuk jogging tiap minggu bersama ayah dan kakak agar aku sehat jasmani.

Ilustrasi: Kedekatan antara aku dan ibu

Tumbuhnya kedekatan diantara kami adalah hal yang paling istimewa bagiku. Hal ini karena  ibu memiliki cinta yang naluriah dan murni. Ibu juga mampu menanamkan hal positif dalam diriku melalui  kedekatan diantara kami ini, seperti mengajarkanku akan pentingnya bersikap jujur baik itu dalam keluarga atau saat aku bermain di luar bersama teman, bijaksana dalam mengambil keputusan seperti saat aku berhasil mengumpulkan uang tabukan yang justru dihadapkan dengan pilihan antara nitendo dan membantu teman, tak ketinggalan ibu mengajarkanku untuk memperlakukan orang lain secara adil seperti ibu adil terhadap aku dan kakakku. Hubungan baik kami pun bak air sungai yang selalu mengalir, terjadi secara kontinyu sehingga menumbuhkan perasaan kasih sayang ibu dan aku.  Dari sinilah aku mulai mempelajari dan meniru sifat ibu.
 

Ilustrasi: Lingkungan yang baik, punya banyak teman dan berbagai kegiatan positif

Beruntung ibu tidak salah pilih dalam memilih lingkungan tempat tinggal. Aku yang masih kecil dan masih dalam tahap tumbuh dan berkembang memerlukan sebuah lingkungan yang memungkinkan seorang anak untuk mengembangkan potensiku, baik potensi mental intelegensia, potensi sosial, potensi ekonomi maupun potensi fisik-biologis. Ibu sebagai orang terdekatku dituntut untuk memberikan rangsangan dan bimbingan agar potensi-potensi tersebut berkembang secara normal ke arah yang baik. Ibu pun melakukannya, seperti ketika menyusuiku, memandikan atau mengenakan pakaianku dan memberiku makan atau mengajarkanku berbicara. Dan inilah sumber yang aku gunakan untuk mengembangkan potensi sosial dan emosional yang ku miliki. Karena sesungguhnya perkembangan seorang anak adalah global dan kontinyu dan interaksi antara ibu dan anak merupakan hubungan afeksional secara timbal balik

Adalah hal yang salah bila kita menganggap pekerjaaan seorang ibu dirumah adalah hal sepele. Tugas mendidik anak adalah sebuah tanggung jawab suci ibu. Hal ini dibuktikan dari pernyataan seorang presiden Amerika, Andrew Jackson. Ketika ia terpilih menjadi presiden Amerika ada banyak sekali orang yang datang ke Gedung Putih hanya untuk  menyampaikan “selamat” kepadanya. Pada masanya itu, ia selalu memberi kredit penghargaan kepada ibunya dengan ucapan: “Semua itu saya pelajari dari ibuku tercinta”

Walaupun dalam perkawinan suami dan istri memiliki tanggung jawab yang sama, tetapi pada kenyataannya tugas mendidik anak lebih dipikul oleh seorang ibu. Ibu lah yang selalu memberi perhatian, mendidik anak, mengajari anak sopan santun. Ibu juga yang mengajarkan keseimbangan antara menerima dan memberi. Serta ibu pula lah yang mendidik anak untuk mampu menempatkan diri secara wajar dalam hubungan antar keluarga.

Tidak sedikit orang di dunia ini yang tidak menyadari akan cinta, kasih sayang dan pengorbanan seorang ibu. Demikian pula dengan ibu, banyak ibu yang tidak menjalankan tugas dan kewajiban sebagaimana mestinya terhadap anak mereka. Orang tua yang tidak mampu memberikan pehatian terhadap anaknya akan menyebabkan anak menjadi gelisah dan kurang puas.

Cinta kasih ibu bukanlah sebuah khayalan romantis semata. Tak bisa dibayangkan bagaimana nasib anak-anak yang dibesarkan tanpa asuhan, kasih sayang dan belaian seorang ibu. Disini lah fungsi ibu nampak, ibu yang mampu memberi bekal bagi anak-anak untuk menghadapi dunia serta kehidupan yang lebih luas. Anak-anak yang kelak menjadi pemimpin negeri ini.

Cinta ibu merupakan sumber kekuatan untuk menunjang peranannya sebagai seorang ibu. Inilah yang membuat ibu dapat mengerahkan seluruh tenaga yang ia miliki sepenuhnya hanya untuk sang buah hati.