Tanya Ahli

Kirimkan pertanyaan Anda seputar gizi ibu dan anak, yang akan dijawab oleh Tanya Ahli SGM.

Dengan Operasionalisasi Konsep & Menciptakan Atmosfer Inspiratif

Oleh Retnadi Nur'aini 21 Oct 2013

Istilah ini saya kenal pada akhir masa kuliah, saat teman-teman saya menyusun skripsi. Usai merumuskan definisi konseptual, mesti diturunkan operasionalisasi konsepnya. 

Istilah yang menurut saya juga pas untuk memetakan visi misi mendidik anak. Seperti banyak orangtua lain, kami tentu ingin Hana & Fatih menjadi anak-anak yang soleh solehah, cerdas hati dan pikir, mandiri, kritis, dan sebagainya. 

Oke, mau anak jadi soleh solehah. Sesoleh apa? Bagaimana cara mencapainya? Apa yang perlu kami persiapkan?

Ini PR besar buat kami

Atmosfir Inspiratif dan Upgrade Diri 

“Education is an atmosphere—that is, the child breathes the atmosphere emanating from his parents, that of the ideas which rule their own lives.” (Charlotte Mason vol 2, hlm 247)

Untuk parenting Islami, saya mengagumi AyahBundaAzzam yang bisa mengoperasionalisasi konsep pendidikan Islami secara detil. Namun untuk menjiplak konsep itu, kami tahu diri: kami belum jadi role model seperti itu bagi anak-anak kami. Kami belum hapal juz 30, belum disiplin tilawah setiap hari—dengan tajwid pas-pasan pula, bolong-bolong di ibadah sunnah, dan lain-lain.

Berkaca dari segala kekurangan itu, pantaskah kami menuntut anak-anak kami mengerjakan hal-hal yang belum sempurna kami lakukan? Rasanya tidak—atau belum. Tentu kami harus meng-upgrade diri dulu. 

Karenanya, beberapa upaya kami memperbaiki diri dan menciptakan atmosfer inspiratif:

  • Tidak menunda-nunda waktu shalat wajib. Usai adzan, saya dan Mas Catur berusaha untuk langsung wudhu dan shalat. 
  • Membiasakan diri untuk tilawah usai shalat, pun hanya 1-2 ayat. Alhamdulillah, ternyata malah saya sering bisa tilawah sampai 2 lembar usai shalat. 
  • Melatih disiplin tanpa bentakan, ancaman, teriakan, maupun time out bagi Hana & Fatih. Sebagai gantinya, kami berdiskusi dengan Hana & Fatih tentang konsekuensi tindakan. 
  • Agar kami bisa meniadakan bentakan, ancaman, teriakan, maupun time out, tentu kami perlu belajar mengelola marah. Salah satu ujian kesabaran saya adalah saat menemani Hana BAB. Hana sempat trauma BAB gara-gara saya meneriakinya di kamar mandi saat dia masih berusia 1,5 tahun. Ada masanya dia nahan BAB, marah-marah seharian, nggak mau ke kamar mandi. Di kamar mandi saya temani, dia marah-marah. Mau saya pangku di kloset, saya ditendangi. Mau saya peluk, saya dipukuli. Tapi saya terima. Ini ‘harga’ yg harus saya bayar dari kesalahan saya di masa lalu. Selama 30 mnt-1 jam di kamar mandi, saya jongkok dekat Hana, terus mengulang-ulang kalimat dengan lembut “Mama di sini, Mama sayang Hana. Mama mau bantu Hana, supaya perutnya nggak sakit. Mama sayang Hana, Mama sayang Hana.” Saya sendiri juga belajar olah napas, agar nggak ikutan tantrum. Pelan-pelan, saat dia mulai rileks, saya buat BAB jadi fun. Kami main game tebak kata bahasa Inggris anggota tubuh. Misalnya saya bilang “eyebrow”, Hana nunjuk alis saya. Saat pup-nya keluar, saya juga ceria berujar “Wah udah keluar! panjang kayak apa ya hana? Uler?”—pokoknya dibuat sesantai dan sefunmungkin. Lambat laun, pukulan, tendangan dan teriakan Hana ke saya berkurang. Habis pup, saya juga selalu puji Hana di depan Mas Catur—dan memastikan Hana dengar “Hana tadi pinter lho, Pa, pup-nya nggak nangis!”. Di saat kami ngobrol santai sesekali saya selipkan “Mama kan nggak ngapa-ngapain Hana di kamar mandi kalo Hana pup. jadi nggak usah takut sama Mama.” Dan mengulang usaha itu selama berbulan-bulan, bahkan tahunan. Kini, di usia Hana 4 tahun. alhamdulillah, trauma hana sudah hilang. Dia bahkan sudah bisa pup sendiri, lalu nyikat kloset sendiri. Sering dia nggak mau ditemani dan bilang “mama di yua(r) aja, Hana bisa ee sendiri!”
  • Rutin membaca keras-keras juz’amma beserta artinya, serta sejumlah livingbooks selama 5 menit. Saat ini yang tengah saya bacakan adalah: 365 Hari bersama Nabi Muhammad Saw, All the Places to Love, atau serial Babar. Kadang, anak-anak tertarik dan mendekat. Namun tak jarang, anak-anak sibuk bermain sementara saya terus membacakan keras-keras. Alhamdulillah, berkat permainan intonasi saat bercerita, anak-anak tertarik mendengarkan. 
  • Membiasakan Hana & Fatih untuk mendengarkan murottal dalam keseharian. Biasanya kami stel saat jam main bebas atau jelang tidur. 
  • Membiasakan Hana melakukan pekerjaan rumah tangga. Saat ini Hana sudah bisa: mencuci piring (yang non pecah belah) & sendok, serta mencuci sandalnya sendiri. Sesekali Hana juga membantu menyapu atau memasang sprei.
  • Membiasakan diri untuk mengakui kesalahan dengan minta maaf pada anak. Saya pernah kesal ketika Fatih tantrum dan diprotes Hana. Lalu saya minta maaf pada Hana dan mengajaknya berdiskusi. Kebiasaan minta maaf, mengakui kesalahan dan upaya bertanggung jawab juga sedikit banyak terserap pada Hana. Saat dia menumpahkan bedak di kursi saya, misalnya. Atau saat dia mematahkan bando saya. 
  • Menanamkan mindset bahwa belajar bisa di mana saja, kapan saja, dan berguru pada siapa saja. Saat mudik Lebaran kemarin misalnya. Hana & Fatih belajar bersabar saat 4 jam menunggu bis di terminal. 

Targetting Life Skills

Dari Mbak Irma Nugraha, saya juga mendapat targeting life skills, yang lagi-lagi perlu dioperasionalisasikan konsepnya bersama Mas Catur.

Targeting Life Skills

Beberapa yang kami bahas dan kami sesuaikan dengan usia dan perkembangan anak-anak kami saat ini. Tentu saja, masih sangat sederhana ya :)

  1. Critical Thinking: Dilatih dengan membebaskan anak untuk banyak bertanya dan tidak selalu langsung memberi jawaban. Misalnya, saat Hana bertanya pada saya “Mama, emang hiu bisa makang hayimau?”. Ketimbang langsung menjawab ‘ngga’, saya memilih bertanya balik pada Hana “Hmm, menurut Hana bagaimana?” yang kemudian dijawab Hana “Nggak bisa dong, Mama! Kang hayimau bukang di yaut.”
  2. Problem Solving: Dilatih dengan selalu  bertanya dulu “Boleh Mama/ Papa bantu?” saat Hana mengalami kesulitan (seperti: nggak bisa ngangkat kardus, nggak bisa buka mainan, nggak bisa bawa gelas penuh air, nggak bisa buka pintu, makan es krim tapi nggak ada sendok, dll). Kalau Hana bilang mau dibantu, baru kami bantu. Namun kalau dia menjawab “Nggak usah! Hana bisa!” ya kami balas berkomentar “Oke, kalau nanti kalau perlu bantuan, panggil Mama atau Papa ya.”
  3. Concern for Others, Sharing & Empathy: Dilatih dalam keseharian, dengan kami bersikap begitu pada pasangan dan anak-anak kami.
  4. Self-discipline: Dilatih dengan berusaha menepati rutinitas dan tenggat. Jadi misalnya, Hana sedang nonton Youtube, saya akan bilang “Satu video lagi, trus udah ya, Hana. Mama mau kerja.” Seringnya memang dia menolak dan ngomel. Tapi sengomel-ngomelnya, Hana hampir selalu menepati tenggatnya dengan turun dari kursi saya dan berujar riang “Udah Mama! Nontonnya udah!”. Atau kalaupun dia masih ingin menonton lagi, dia akan menatap saya dan bertanya “Satu yagi boyeh gak?”
  5. Self-responsibility: Dilatih dengan membereskan mainan usai bermain, atau menyapu dan mengepel bekas tumpahannya sendiri. Usai beres-beres, kami akan memuji Hana “Terima kasih ya Hana, Hana anak yang bertanggung jawab.”

Hal-hal lain yang juga kami latih:

  1. Keterampilan merumuskan kata kunci dan menggunakan mesin pencari. Saya sendiri baru sungguh-sungguh belajar keterampilan merumuskan kata kunci ini saat menerjemahkan buku. Misalnya, saat hendak mencari idiom X. Dulu saya mengetik di google dengan ‘X, idiom.’ Belakangan saya belajar dari seorang penerjemah dan editor senior, beliau menggunakan kata kunci ‘X, meaning.’ Saya ingin Hana & Fatih belajar bahwa orangtuanya bukanlah kamus atau ensiklopedi berjalan. Bahwa tanpa kehadiran kami pun, insya Allah, mereka bisa belajar sendiri. Jadi saat Hana bertanya dan saya tidak tahu jawabannya, saya akan menjawab “Maaf, Mama nggak tahu. Yuk kita googling sama-sama.” Sambil googling, saya mengucapkan kata kunci di mesin pencari. Misalnya saat Hana mau nonton video cara membuat kue. Saya akan mengetik dan mengucapkan ‘How to make cake, toddler.’
  2. Kalaupun google tidak menyediakan jawaban, saya membiasakan diri untuk bertanya pada ahlinya. Tempo hari misalnya, saat Hana bertanya tentang kantong semar yang masih kuncup
  3. Menumbuhkan kepercayaan diri dengan menerima telepon. Saat ini saya sedang membiasakan Hana untuk berani menerima telepon. Dan saat ini Hana sudah berani mengangkat telepon dan menyapa “Hayo, assayamuayaikum!” lalu menyerahkan telepon pada saya “Mama, ada te(l)pon!”
  4. Membiasakan untuk mematikan televisi pada jam main bebas. kami tidak anti TV. Namun, saat ini kami memang berusaha meminimalisir TV. Apalagi saat libur 3 minggu kala mudik lalu, anak-anak juga sangat jarang nonton TV. Kalaupun nonton TV, sekarang saya berusaha pilihkan channel seperti: National Geograhic, Animal Planet, NG Wild—ketimbang Disney, misalnya. 
  5. Membiasakan Hana & Fatih untuk makan makanan yang sehat, bergizi seimbang dan halal. 

***

Semua upaya ini tentu masih sangat sederhana dan jauh dari sempurna. Semoga Allah memampukan, insya Allah :). Mengutip salah satu puisi favorit saya karya Rudyard Kipling: If.

If

by Rudyard Kipling

IF you can keep your head when all about you 
Are losing theirs and blaming it on you,
If you can trust yourself when all men doubt you,
But make allowance for their doubting too;
If you can wait and not be tired by waiting,
Or being lied about, don’t deal in lies,
Or being hated, don’t give way to hating,
And yet don’t look too good, nor talk too wise:

If you can dream - and not make dreams your master;
If you can think - and not make thoughts your aim;
If you can meet with Triumph and Disaster
And treat those two impostors just the same;
If you can bear to hear the truth you’ve spoken
Twisted by knaves to make a trap for fools,
Or watch the things you gave your life to, broken,
And stoop and build ‘em up with worn-out tools: 

If you can make one heap of all your winnings 
And risk it on one turn of pitch-and-toss,
And lose, and start again at your beginnings
And never breathe a word about your loss;
If you can force your heart and nerve and sinew
To serve your turn long after they are gone,
And so hold on when there is nothing in you
Except the Will which says to them: ‘Hold on!’

If you can talk with crowds and keep your virtue,
Or walk with Kings - nor lose the common touch,
If neither foes nor loving friends can hurt you,
If all men count with you, but none too much;
If you can fill the unforgiving minute
With sixty seconds’ worth of distance run,
Yours is the Earth and everything that’s in it,
And - which is more - you’ll be a Man, my son!

banner lomba