Tanya Ahli

Kirimkan pertanyaan Anda seputar gizi ibu dan anak, yang akan dijawab oleh Tanya Ahli SGM.

GIZI YANG PERLU IBU TAU SELAMA PERSALINAN

Oleh goresan zaahirah 15 Mar 2012

 
 
 
 
 
 
 
 
Kehamilan merupakan suatu anugerah yang tidak terkira bagi seorang Ibu.  Bahagia, menjadi rasa yang mewarnai hati seorang Ibu tat kala dirinya diketahui mendapat amanah janin di dalam rahimnya. Menikmati tendangan-tendangan mungil si buah hati, yang mengukir senyum, syukur dan tasbih pada Ibu.  Persiapan yang tidak kalah penting sebagai upaya yang dapat kita lakukan untuk menyambut kehadiran buah hati yang sehat, dan Ibu yang sehat adalah bekal tentang gizi saat kehamilan, persalinan dan menyusui.
 

Sepanjang kehamilan Ibu dianjurkan untuk menjaga pola makan yang bergizi. Karena melahirkan merupakan proses yang berat yang membutuhkan energi dan stamina (Beggs, et al, 2002). Pemenuhan nutrisi dan hidrasi (cairan) merupakan faktor penting selama proses persalinan untuk menjamin kecukupan energi dan mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit normal pada Ibu dan buah hati (Elias, 2009). Namun, tidak banyak Ibu yang mengetahui kebutuhan gizinya selama menjalankan proses persalinan.Tim investigasi Walter Reed Army Medical Center, mengamati bahwa kebutuhan metabolisme saat persalinan sama dengan olah raga aerobik yang terus menerus. American College of Nurse Midewife menerima analogi ini, dan menganjurkan pada Ibu bersalin untuk minum cairan karbohidrat relevan dengan American College of Sport Medicine yang menganjurkan minum cairan karbohidrat selama olah raga untuk mengatasi kelelahan, hal yang sama berlaku untuk Ibu bersalin (Nancy, 2010).Menurut Saifuddin (2006) Faktor Ibu  berpengaruh terhadap proses persalinan meliputi keadaan hidrasi, perubahan sikap/perilaku dan tingkat tenaga yang dimiliki untuk mengejan. Ibu yang mengalami persalinan harus bebas untuk makan dan minum sebagai tuntutan tubuh mereka. Kebanyakan Ibu masih akan merasa nyaman untuk makan cemilan pada awal persalinan, tapi setelah kontraksi yang sering kecenderungan makan berkurang (Enkin et al (2000) dalam Thorpe et al, (2009)).

Penelitian sejenis dalam mengetahui pengaruh asupan oral selama persalinan terhadap dampaknya pada persalinan atau hasil persalinan banyak dilakukan. Seperti O’Sulifan et al (2009) bahwa konsumsi makanan ringan selama persalinan tidak mempengaruhi proses persalinan atau hasil neonatal/bayi, juga tidak menyebabkan kejadian muntah. Tidak ada pembenaran pembatasan intake cairan dan makanan bagi Ibu melahirkan pada resiko komplikasi rendah. Tidak ada penelitian khusus yang mengamati meningkatnya resiko komplikasi pada Ibu melahirkan, maka tidak ada bukti untuk membatasi intake cairan dan makanan pada Ibu melahirkan (Singata et al, 2010).

Penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat, Australia dan Europa menunjukkan bahwa intake oral memiliki manfaat dan tidak ada hubungan terhadap kejadian buruk yang sering dikaitkan dengannya seperti mual, lamanya persalinan dan begitu pula dengan keadaan maternal lain dan bayinya (William L, and Wilkins, 2010). Sekitar 30 % dari Ibu yang makan selama persalinan, 25 % diantaranya melaporkan bahwa mendapat kepuasan secara keseluruhan dari pengalaman melahirkan dan penelitian tersebut menunjukkan tidak ada perbedaan hasil persalinan pada kelompok Ibu yang makan dan kelompok Ibu yang tidak makan (Armstrong dan Johnston, 2000).

World Health Organization  (WHO) merekomendasikan bahwa dikarenakan kebutuhan energi yang begitu besar pada Ibu melahirkan dan untuk memastikan kesejahteraan ibu dan anak, tenaga kesehatan tidak boleh menghalangi keinganan Ibu yang melahirkan untuk makan atau minum selama persalinan (WHO, 1997 dalam William L, and Wilkins, 2010). Persatuan dokter kandungan dan ginekologi Kanada merekomendasikan kepada tenaga kesehatan untuk menawarkan Ibu bersalin diet makanan ringan dan cairan selama persalinan (Persatuan dokter kandungan dan ginekologi Kanada, 1998 dalam William L, and Wilkins, 2010).

1. Makanan Yang Dianjurkan Selama Persalinan
Makanan yang disarankan dikonsumsi pada kelompok Ibu yang makan saat persalinan adalah roti, biskuit, sayuran dan buah-buahan, yogurt rendah lemak, sup, minuman isotonik dan jus buah-buahan (O’Sullivan et al, 2009). Menurut Elias (2009) Nutrisi dan hidrasi sangat penting selama proses persalinan untuk memastikan kecukupan energi dan mempertahankan kesimbangan normal cairan dan elektrolit bagi Ibu dan bayi. Cairan isotonik dan makanan ringan yang mempermudah pengosongan lambung cocok untuk awal persalinan. Jenis makanan dan cairan yang dianjurkan dikonsumsi pada Ibu bersalin adalah sebagai berikut (Champion dalam Elias,2009):

Makanan:

  1. Roti atau roti panggan (rendah serat) yang rendah lemak baik diberi selai ataupun madu.
  2. Sarapan sereal rendah serat dengan rendah susu.
  3. Nasi tim.
  4. Biskuit.
  5. Yogurt rendah lemak.
  6. Buah segar atau buah kaleng.

Minuman:

  1. Minuman yogurt rendah lemak.
  2. Es blok.
  3. Jus buah-buahan.
  4. Kaldu jernih.
  5. Diluted squash drinks.
  6. Air mineral.
  7. Cairan olahraga atau cairan isotonik.

Ibu melahirkan harus dimotivasi untuk minum sesuai kebutuhan atau tingkat kehausannya. Jika asupan cairan Ibu tidak adekuat atau mengalami muntah, dia akan menjadi dehidrasi, terutama ketika melahirkan menjadikannya banyak berkeringat (Micklewirght & Champion, 2002 dalam Thorpe et al, 2009). Salah satu gejala dehidrasi adalah kelelahan dan itu dapat mengganggu kemajuan persalinan dan menyulitkan bagi Ibu untuk lebih termotivasi dan aktif selama persalinan. Jika Ibu dapat mengikuti kecenderungannya untuk minum, maka mereka tidak mungkin mengalami dehidrasi (McCormick, 2003 dalam Thorpe et al, 2009).

Pembatasan makan dan minum pada Ibu melahirkan memberikan rasa ketidaknyamanan pada Ibu. Selain itu, kondisi gizi buruk berpengaruh terhadap lama persalinan dan tingkat kesakitan yang diakibatkannya, dan puasa tidak menjamin perut kosong atau berkurang keasamannya. Lima penelitian yang melibatkan 3130 Ibu bersalin. Pertama penelitian membandingkan Ibu dengan pembatasan makan dan minum dengan Ibu yang diberi kebebasan makan dan minum. Kedua penelitian membandingkan antara Ibu yang hanya minum dengan Ibu yang makan dan minum tertentu. Dua penelitian lagi membandingkan Ibu yang hanya minum air mineral dengan minuman karbohidrat. Hasil penelitian menunjukkan tidak adanya kerugian atau dampak terhadap persalinan pada Ibu yang diberi kebebasan makan dan minum. Dengan demikian, Ibu melahirkan diberikan kebebasan untuk makan dan minum sesuai yang mereka kehendaki (Singata et al, 2009).

2.    Pengaruh Asupan Makan dan Minum Selama Persalinan
a.    Kebutuhan Energi Selama Persalinan
Tidak ada data pasti dari hasil penelitian yang menunjukkan kebutuhan energi pada Ibu yang bersalin. Namun 18 tahun yang lalu tim Investigator Walter Reed Army Medical Center mengamati kebutuhan metabolik Ibu bersalin sama dengan latihan aerobik selama terus-menerus. Sedangkan menurut American College of sport medicine menetapkan bahwa minuman karbohidrat dapat menghilangkan kelelahan pada yang latihan aerobik terus menerus, sehingga hal ini relevan pada Ibu hamil.

b.    Ketosis
Ibu hamil rentan terhadap ketosis karena tuntutan metabolism perkembangan janin dan perubahan hormon. Persalinan lama akan meningkatkan produksi keton, dan diperburuk dengan berpuasa. Scrutton et al (1999) melakukan penelitian secara acak untuk mengetahui efek dari diet rendah residu sebanyak 48 orang atau hanya minum air saja sebanyak 46 orang selama persalinan, terhadap kondisi metabolik, hasil persalinan, dan volume residu lambung. Akhir persalinan kelompok yang hanya minum air putih menunjukkan kejadian ketosis yang lebih besar serta menurunnya kadar glukosa dan insulin.

Kubli et al (2002), melakukan penelitian terhadap pengaruh minuman isotonik dibandingkan dengan yang hanya minum air mineral selama persalinan secara random, pada 60 Ibu di London. Pada akhir dari kala I persalinan, pada Ibu yang hanya minum air putih mengalami keadaan ketosis dan menurunkan kadar glukosa serum. Volume lambung, kejadian muntah dan volume muntah pada kedua kelompok sama. Tidak ada perbedaan antara kedua kelompok terhadap hasil persalinan. Namun minuman isotonik disarankan untuk menghindari terjadinya ketosis pada Ibu saat persalinan. Hal yang sama senada dengan penelitian yang dilakukan oleh Kulli, M. et al (2002) pada kelompok Ibu melahirkan yang minum cairan isotonik dan kelompok Ibu yang minum air mineral, menyatakan bahwa minuman isotonik diketahui dapat mengurangi ketosis pada Ibu dalam persalinan tanpa meningkatkan volume lambung

c.    Hiponatremia
Hiponatremia dapat menimbulakan komplikasi kehamilan pada Ibu hamil. Hiponatremia kondisi yang ditemukan pada Ibu bersalin yang terlalu banyak minum air. Penelitian Johanssen et al (2002) dalam Nancy (2010) ditemukan 4 neonatus dan Ibu melahirkan mengalami kejang dan gangguan sistem syaraf pusat yang berhubungan dengan asupan oral Ibu selama bersalin sebanyak 4 dan 10 liter air atau jus buah selama persalinan. Terjadi peningkatan cairan ekstraseluler pada Ibu hamil dan kemampuan kompensasi cairan akut pada Ibu hamil mengalami penurunan. Sehingga Ibu dan janin mengalami penurunan yang cepat kadar natrium dalam darah.

Penelitian terbaru di Swedia oleh Moen et al (2009) dalam Nancy (2010) bahwa hiponantremia ditemukan 16 dari 61 Ibu melahirkan yang minum lebih dari 2.500 ml selama persalinan. Hiponatremia dihubungkan dengan lama persalinan kala II, persalinan sesar, dan kegagalan kemajuan janin. Sehingga disarankan untuk membatasi asupan cairan tidak lebih dari 2.500 ml, dan tidak diberikan cairan hipotonik secara intravena pada Ibu bersalin. Sehingga makan dan minum dianjurkan namun tidak pula berlebihan.

d.    Stres Persalinan
Ternyata makan dan minum saat persalinan dapat mengurangi stress pada Ibu ketika bersalin. Penelitian Penny Simpkin (1986) dalam Nancy (2010) melaporkan dari 159 Ibu bersalin, 27% Ibu yang dibatasi asupan makanan mengalami stress dan 57% Ibu  bersalin mengalami stress dengan pembatasan asupan cairan. Penelitian senada dilakukan oleh Amstrong dan Johnson (2000), 149 Ibu bersalin di Scottish, 30 % diantaranya memilih untuk asupan makanan ketika bersalin dan 25% diantaranya menunjukkan kepuasan terhadap proses persalinannya berlangsung.

e.    Muntah
O’Reilly, Hoyer dan Walsh (1993) melakukan penelitian pada hubungan asupan oral terhadap kejadian muntah pada 106 Ibu bersalin. Ibu tersebut memilih sendiri jumlah dan jenis makanan yang ingin dikonsumsi. Penelitian ini diamati dari semua tahap persalinan. pada awal persalinan 103 Ibu memilih untuk asupan makanan dan menurun hingga 50 Ibu yang tetap asupan makanan pada fase mulai aktif mendorong/persalinan. Ibu yang makan dan minum selama persalinan, 20 orang mengalami muntah dan 8 orang muntah lebih dari sekali. Muntah dikaitkan dari jumlah asupan makanan yang lebih banyak dari minum. Tidak ada hubungan antara Ibu yang mengalami muntah dan tidak, terhadap lama persalinan, dan hasil persalinan yang buruk.

Scrutton et al (1999) melakukan penelitian secara acak untuk mengetahui efek dari diet rendah residu sebanyak 48 orang atau hanya minum air saja sebanyak 46 orang selama persalinan, terhadap kondisi metabolic, hasil persalinan, dan volume residu lambung. Pada kelompok Ibu yang makan semakin menurun pada fase persalinan lebih aktif. Akhir persalinan kelompok yang hanya minum air putih menunjukkan kejadian ketosis yang lebih besar serta menurunnya kadar glukosa dan insulin. Volume lambung 1 jam setelah lahir lebih besar pada kelompok Ibu yang makanan. Kelompok asupan makan memiliki kemungkinan 2 kali lebih besar untuk muntah dengan volume lebih signifikan dibandingkan dengan kelompok yang hanya minum.  Namun pada kelompok tersebut tidak ada perbedaan lama persalinan, penggunaan oksitosin, hasil persalinan dan jumlah AFGAR skor.

f.    Hasil Persalinan
Scheepers et al (2002) melakukan penelitian control placebo dan menerapkan double blind di Belanda pada 100 Ibu beresiko rendah. Partisipan menerima 200 ml cairan karbohidrat atau cairan sejenis yang mengandung aspartame. Ibu yang memerlukan cairan intravena mendapatkan cairan normal saline dan tidak diijinkan mengkonsumsi makanan lain secara oral. Tidak ada data perbedaan yang signifikan terhadap kualitas hasil persalinan, atau kelahiran. Secara khusus, keseimbangan asam-basa janin tidak berbeda antara 2 kelompok.

Tranmer et al (2005), melakukan uji klinis secara acak di Kanada apakah asupan karbohidrat oral dapat menurunkan kejadian distosia pada Ibu nulipara yang beresiko rendah. Ibu kelompok intervensi (N=163 orang), menerima pedoman tentang makan dan minum selama persalinan dan didorong untuk makan dan minum sesukanya selama persalinan. Mereka mengkonsumsi makanan dan minuman apa yang mereka sukai. Ibu di kelompok pebanding (N=165) tidak mendapatkan mendapatkan informasi asupan makan dan minum secara oral selama persalinan dan dibatasi asupan oral kecuali air mineral dan es batu. Kejadian distosia pada kedua kelompok tidak berbeda begitu pula dengan Ibu dan bayi tidak ada perbedaan. Penelitian terbaru O’Sullivan et al (2009), pada 2.426 Ibu nulipara non diabetes, dengan prospektif random kontrol. Tingkat kelahiran spontan pervaginam sama pada dua kelompok dan tidak ada perbedaan signifikan yang diamati dari lamanya persalinan, angka kelahiran sesar, kejadian muntah dan hasil neonatal.

Beberapa penelitian di atas, menjelaskan mengenai manfaat makan dan minum selama persalinan. Akan tetapi anjuran makan dan minum ini berada dalam batas ketentuan yang wajar. Karena terdapat pula dampak negatif yang tidak dapat dipungkiri dari makan dan minum selama proses persalinan ini. Seperti hiponatremia ketika Ibu mengkonsumsi air mineral lebih dari 2.500 ml selama proses persalinan. Atau keadaan muntah saat persalinan ketika Ibu berlebihan makan makanan selama persalinan. Meski demikian, dari keseluruhan penelitian yang meneliti makan dan minum selama persalinan tidak memiliki dampak negatif terhadap lama persalinan atau pun hasil persalinan yaitu bayi. Artikel ini, menganjurkan Ibu untuk tetap konsumsi makan dan minum selama persalinan, dengan makanan yang ringan rendah lemak seperti biskuit, roti, buah-buahan, yogurt, jus buah atau mengkonsumsi minuman istonik untuk menghindari kejadian ketosis pada Ibu selama persalinan dan memberi tambahan energi dan stamina selama persalinan.

 
2 Komentar

24 Aug 2013 21:50

Makasih tentang infonya....

Yadi Mulyadi

09 Apr 2012 13:19

BUAH PA JA YG DI MAKAN?