Tanya Ahli

Kirimkan pertanyaan Anda seputar gizi ibu dan anak, yang akan dijawab oleh Tanya Ahli SGM.

Guru Terbaik untuk Pemimpin Kecil

Oleh sabrina hikmah 20 Oct 2013

Guru Terbaik untuk Pemimpin Kecil

Ketika  seorang ibu melahirkan seorang anak bukan berarti perjuangannya selesai sampai di sini karena akan muncul perjuangan-perjuangan baru yang harus dilakukannya, perjuangan itu adalah membimbing pemimpin kecilnya. Karena pada hakikatnya, setiap manusia pasti akan menjadi pemimpin, baik menjadi pemimpi di kantor, negara bahkan agamanya, tetapi yang pasti semua orang menjadi pemimpin untuk dirinya sendiri.

Seorang pemimpin yang baik adalah pemimpin yang dapat mengatur anggotanya dengan baik, untuk itu pemimpin untuk dirinya sendiri berarti dia harus bisa memimpin setiap anggota tubuhnya dari ujung kaki hingga rambut untuk melakukan hal-hal baik. Mustahil rasanya seseorang yang awalnya tidak tahu apa-apa tiba-tiba pintar tanpa seorang guru, maka dari itu seorang pemimpin yang terbaik membutuhkan guru yang dapat membimbingnya menjadi pemimpin yang baik. Menurut White (dalam Hurlock, 1981) bahwa usia dua tahun pertama dalam kehidupan adalah masa kritis bagi pembentukan pola penyesuaian personal dan sosial. Lalu siapakan yang cocok menjadi guru yang terbaik untuk seorang pemimpin kecil? Yang cocok untuk dapat membimbing seorang pemimpin kecil adalah ibu yang baik. Menjadi ibu yang baik bukan perkara mudah seperti pada kutipan lagu dari Iwan Fals berjudul ibu ini “Ribuan kilo jalan yang kau tempuh, Lewati rintang untuk anakmu, Ibuku sayang masih terus berjalan, Walau tapak  kaki penuh darah, penuh nanah

Saat seorang anak memiliki kekurangan yang tidak dapat diterima oleh orang lain, setiap ibu yang baik pasti akan selalu menerima kekurangan anaknya seburuk apapun itu agar dia merasa dirinya memiliki arti. Seorang ibu yang baik juga akan selalu membimbing buah hatinya mulai dari hal yang kecil hingga yang kompleks dengan penuh kesabaran hingga akhirnya anak tersebut menjadi pemimpin yang baik walaupun hanya untuk memimpin dirinya sendiri.  

Pemimpin yang baik tentulah memiliki sifat-sifat yang baik oleh karena itu ia butuh guru yang baik agar ia tetap berada pada jalan kebaikan dan kebenaran.  Hal itulah yang kurasakan sejak aku kecil, aku sungguh bersyukur dilahirkan dari seorang ibu yang terbaik (ini menurutku :D) karena ia selalu mengajarkanku tentang hal-hal baik. Aku terbiasa memanggilnya ibu bukan mamah umi bunda atau sebagainya. Cara pembentukan karakter yang dilakukan ibuku adalah selalu mengajakku untuk selalu dekat dengan Tuhan sehingga sejak umur 4 tahun aku sudah mengaji di salah satu TPA dekat rumahku. Setiap hari ia mengantarku, dan ketika aku jenuh mengaji dan beralasan untuk tidak mengaji ia selalu mendorong semangatku dengan kata-kata nasihatnya tanpa mengimingi imbalan agar aku mau mengaji karena menurutnya jika terbiasa untuk diimingi seperti itu nantinya ia takut aku tumbuh menjadi anak yang akan selalu mengharapkan imbalan, padahal ia ingin aku menjalani semua dengan ikhlas dan berasal dari hati nuraniku. Itulah yang segelintir pelajaran yang kudapatkan dari ibu yang selama ini membimbingku. Sekarang aku bisa merasakan manfaatnya karena terbiasa menyerahkan semuanya kepada Tuhan, hidup menjadi lebih tentram dan terarah.

Ketika seseorang sudah siap menjadi ibu berarti ia harus siap memenuhi kebutuhan dasar pemimpin kecilnya yaitu memberikan nutrisi dan gizi yang cukup untuk tumbuh kembangnya, memberikan bimbingan serta kasih sayang untuk anaknya. “Seorang ibu yang sangat perhatian (sering mengelus, menggendong, dan berbicara) terhadap anaknya saat anak itu berusia usia di bawah enam bulan akan mempengaruhi sikap bayinya sehingga menjadi anak yang gembira, antusias mengeksplorasi lingkungannya, dan menjadikannya anak yang kreatif” Menurut pakar pendidikan anak. Hal inilah yang disiapkan ibu untuk pemimpin kecilnya, agar kelak anaknya tumbuh menjadi pemimpin yang  baik. Karena anak adalah gambaran awal manusia menjadi manusia, yaitu masa di mana kebajikan berkembang secara perlahan tapi pasti (Erikson dalam Hurlock, 1981).

Kesalahan dalam mengasuh si pemimpin kecil di keluarga akan berakibat pada kegagalan dalam pembentukan karakter yang baik. Seperti potongan kutipan dari Dorothy Law Nollte, “Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, maka ia belajar berkelahi. Jika anak dibesarkan dengan kelembutan, maka ia belajar menghargai.” Maka dari itu peran ibu dalam membimbing si pemimpin kecil sangatlah dibutuhkan agar kelak ia dapat tumbuh menjadi pemimpin yang baik yang mungkin tidak hanya menjadi pemimpin untuk dirinya sendiri mungkin menjadi pemimpin suatu kelompok, kantor, negara ataupun agamanya.

Jika kelak menjadi ibu aku tidak akan pernah melewatkan masa-masa menjadi guru untuk si pemimpin kecilku nanti karena sibuk dengan dunia sendiri agar aku bisa menjadi seorang ibu yang baik, sama halnya dengan ibu terbaik yang kumiliki saat ini.