Tanya Ahli

Kirimkan pertanyaan Anda seputar gizi ibu dan anak, yang akan dijawab oleh Tanya Ahli SGM.

Healthy Mom : a Balanced Mind, Body and Soul

Oleh navita.astuti 13 Mar 2012

Menjadi seorang ibu adalah pilihan luar biasa. Ketika mengandung, Ibu harus rela menghadapi perubahan yang terjadi secara hormonal, fisik, dan perasaan demi perkembangan janin yang dititipkan di dalam rahimnya. Seluruh hidup dan waktu Ibu, dicurahkan bagi anak-anak dan suami, dari pagi hingga malam. Seorang ibu adalah mitra suami dalam menggerakkan roda rumah tangga. Tanpa ibu, sebuah rumah terasa tak berjiwa.

Seorang ibu adalah manusia biasa yang dituntut menjadi luar biasa. Sehari-harinya, Ibu menghadapi serangkaian tugas yang berbeda, namun membutuhkan konsentrasi yang sama. Misalnya : memasak, mencuci, membereskan rumah dan mengurus anak. Semua itu dilakukan hampir setiap hari. Seringkali, para ibu bahkan tak sempat memperhatikan dirinya sendiri.

Bagaimana mungkin, seorang manusia biasa diharapkan menjadi luar biasa seperti itu? Bagaimana seorang ibu dapat bangun pagi dengan semangat yang sama setiap harinya, melayani seluruh anggota keluarganya dengan sabar dan penuh kasih sayang? Bagaimana seorang ibu dapat selalu menjaga kesehatan dirinya sendiri untuk tugas-tugas luar biasa itu?

Temukan Ketidakseimbangan dalam Hidup Bunda!

Mari sejenak menengok pengalaman seorang ibu. Sebutlah ia, Bunda Nita. Sebagai seorang ibu rumah tangga, ia paling takut berhadapan dengan penyakit. Ia tahu, apabila dirinya sakit, maka urusan rumah tangga akan terbengkalai. Anak-anak menjadi tak terurus. Suami pun tak ada yang memperhatikan. Oleh karena itu, ia selalu mengupayakan diri agar selalu sehat, dengan hidup sesuai aturan, tidak pernah telat makan, tidur cukup dan rajin mengonsumsi vitamin.

Namun, entah kenapa, Bunda Nita sering mengeluh kepalanya sakit dan tubuhnya tidak sebugar saat ia belum dikaruniai anak. Bunda Nita mengeluh bahwa hidupnya tak sama lagi dengan dahulu, ketika ia masih menjadi seorang mahasiswa yang aktif di organisasi bela diri sekaligus bintang olahraga bola volley di kampusnya! Apa yang salah dengan Bunda Nita?

Rupanya, kecemasan berlebihan justru menjadi faktor pencetus penyakit pada Bunda Nita. Cemas apabila terjadi apa-apa pada dirinya, cemas bahwa ia tidak bisa menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya, cemas ini .. dan cemas itu. Ditambah lagi dengan perasaan jenuh, terasing, menemukan bahwa dirinya bukan lagi seorang perempuan yang bebas melakukan apapun yang diinginkan. Ia ingin marah. Marah pada keadaan yang telah mengurungnya dalam sangkar besi ‘rumah tangga’.

Lain lagi kasus yang dialami oleh Bunda Rini. Bunda Rini adalah wanita karir yang sukses. Ia memiliki segenap sumber daya yang dapat digunakan untuk menopang kebutuhan dirinya, termasuk kesehatan. Tetapi, mengapa Bunda Rini sering jatuh sakit? Padahal, ia memiliki dokter ahli yang dapat dipanggil kapan saja dibutuhkan. Di rumahnya tersedia segala fasilitas kesehatan, mulai dari treadmill hingga juicer untuk membuat minuman buah yang menyehatkan. Lemari obatnya, penuh dengan segala macam vitamin maupun suplemen makanan.

Bunda Rini mengalami keterasingan. Ia merasa jauh dari anak-anak dan suaminya. Ia sering merasa bersalah karena meninggalkan anak-anak di bawah pengawasan pembantu. Ia ingin mengubah situasinya, tetapi ia juga tidak rela apabila harus melepas karir. Karirnya adalah sarana aktualisasi diri yang dapat membuatnya dikagumi banyak orang. Di sisi lain, seringkali hatinya sedih, karena anak-anaknya justru memilih tidur dikeloni pembantunya. Ia tidak tenang memikirkan apakah suaminya selingkuh atau tidak, saat ia harus melakukan perjalanan bisnis selama berhari-hari.

Illustrasi di atas sesungguhnya dialami pula oleh banyak ibu rumah tangga di luar sana. Tidak hanya ibu rumah tangga penuh waktu, tetapi juga ibu yang bekerja di luar rumah. Oleh karena itu, ketika Ibu ingin menjaga kesehatannya, sebaiknya temukan terlebih dahulu ketidakseimbangan dalam kehidupan Ibu!

Sehat yang sesungguhnya, bukan sekedar sehat secara fisik. World Health Organization di tahun 1948 telah mendefinisikan kesehatan sebagai : “Suatu kondisi yang mencakup mental, fisik, dan sosial. Bukan hanya ketiadaan penyakit.

Definisi di atas sesuai dengan slogan Men sana in corpore sano. Di dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang sehat. Jadi, selain menjaga kesehatan fisik yang terasa dan terlihat di permukaan, jiwa dan pikiran seorang ibu harus pula dijaga kesehatannya. Apa saja yang diperlukan untuk menyeimbangkan tiga dimensi tersebut?

Sadari Jati Diri

Mengaktifkan kesadaran akan jati diri Ibu sendiri, merupakan hal utama untuk mencapai keseimbangan jiwa, tubuh dan pikiran. Setiap manusia dianugerahi akal budi untuk memaknai kehadirannya di dunia ini. Seseorang yang mampu memaknai hidupnya akan menyadari potensi dirinya sendiri, termasuk mengetahui kelemahan dan kelebihan yang dimilikinya.

Satu perumpamaan yang paling saya sukai adalah tentang telur burung elang yang ditemukan oleh induk ayam dan dibawa ke kandang ayam untuk ditetaskan. Sesudah menetas, anak burung elang menganggap dirinya adalah seekor ayam. Anak burung elang itu berperilaku seperti ayam-ayam pada umumnya. Ia tidak terbang. Ia mengais-ngais di tanah untuk mencari makanan. Seluruh hidup elang tersebut dijalani sebagai seekor ayam.

Pada suatu hari, si burung elang itu terkesima melihat seekor burung elang lain yang terbang tinggi dengan gagahnya di angkasa. Ia memuji kehebatan burung elang yang mampu terbang tinggi, menukik dan mengepakkan sayap dengan perkasa. Namun, ia tidak menyadari, bahwa dirinya pun memiliki potensi untuk terbang tinggi, karena ia sesungguhnya adalah burung elang!

Mari meneladani perumpamaan di atas ke dalam hidup Ibu sendiri. Galilah seluruh potensi diri Ibu! Seorang ibu yang menyadari potensi dirinya, akan merasa percaya diri dalam mengasuh anak-anaknya. Ia akan mengetahui letak kekuatan dirinya di dalam mahligai rumah tangga dan akan mengambil posisi yang tepat sesuai kebutuhan rumah tangganya.

Kesadaran akan jati diri mengarahkan Ibu kepada terpenuhinya aktualisasi jiwa. Jiwa yang terpenuhi aktualisasinya mendukung kesehatan raga Ibu.

Buka Wawasan Seluas-luasnya

Menjadi seorang ibu, bukan berarti tidak perlu menimba ilmu. Justru dengan menjadi seorang ibu, dibutuhkan ilmu serta wawasan seluas-luasnya demi masa depan yang terbaik bagi anak-anak. Pengetahuan akan gizi yang memadai, tentu akan mendukung pemenuhan kebutuhan gizi yang sempurna bagi anak-anak Ibu. Pengetahuan akan pendidikan yang baik, tentu akan mendukung proses belajar dan pembinaan karakter yang positif bagi anak-anak Ibu.

Ilmu pengetahuan selalu berkembang. Selalu ada perkembangan baru berkaitan dunia kesehatan. Maka, tidak ada salahnya untuk selalu memperbarui wawasan Ibu tentang kesehatan dengan memperbanyak membaca. Dengan membaca, berbagai manfaat didapatkan. Selain bertambahnya wawasan, Ibu mengetahui tindakan apa yang perlu dilakukan dalam situasi-situasi khusus atau darurat. Rasa percaya diri dan ketenangan adalah bonus bagi ibu yang suka membaca.

Selalu bersyukur

Jiwa dan pikiran yang sehat dipenuhi oleh rasa syukur, dibandingkan ketidakpuasan atau kedengkian. Oleh karena itu, syukuri apapun yang Ibu miliki saat ini. Syukuri keadaan yang Ibu hadapi, meski itu menjenuhkan dan melelahkan. Ketika kita dapat mensyukuri segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita, maka hati menjadi lebih tenang. Ketenangan adalah kunci menuju rasa percaya diri dan kebahagiaan. Kebahagiaan adalah landasan utama bagi tubuh yang sehat.

Mungkin Ibu merasa kesal ketika berkali-kali nasehat yang Ibu berikan pada anak selalu dilanggar. Namun, syukurilah keadaan itu, karena dengan peristiwa itu, kesabaran Ibu dipanjangkan. Atau, mungkin Ibu merasa iri kepada istri tetangga yang berpenampilan lebih ‘wah’. Syukurilah keadaan Ibu sendiri, karena bisa jadi, penampilan yang ‘wah’ itu adalah kedok bagi ketidakbahagiaan yang terjadi di dalamnya.

Bersyukurlah senantiasa, karena apa yang Ibu dapatkan atau rasakan, belum tentu didapat oleh orang lain.

Berpikir positif

Tahukah Anda? Dari sebuah penelitian yang diselenggarakan di Inggris, ibu yang semasa hamilnya mengalami stress berlebihan dan berpikir negatif, akan melahirkan anak-anak yang rentan terhadap penyakit. Oleh karena itu, berpikir positif selama hamil adalah wajib hukumnya.

Pikiran negatif atau rasa cemas berlebihan dipicu oleh hormon-hormon kewanitaan yang ada pada tubuh perempuan. Kecemasan terutama terjadi apabila menyangkut anak-anak dan rumah. Ibu cemas apabila anak jadi jatuh sakit karena tidak mau makan. Ibu cemas karena anak tidak bertambah berat badannya semenjak beberapa bulan yang lalu. Ibu cemas karena harga-harga melonjak naik. Ibu cemas karena suami berubah sikap. Dan masih banyak lagi kecemasan lainnya.

Anjuran untuk berpikir positif, tentu terasa sulit jika rasa cemas itu begitu merajai. Ibu tidak perlu melawan rasa cemas itu. Kenali kecemasan itu dan tanamkan afirmasi positif bahwa segala pikiran negatif itu dapat dikendalikan. Pasrah dan tawakal kepada Tuhan yang Mahakuasa adalah salah satu langkah utama dalam menerapkan pikiran positif di dalam diri.

Tidak usah kecewa apabila anak sedang tidak mau makan, karena mungkin saja memang anak Ibu masih kenyang. Tidak usah kecil hati apabila anak tidak bertambah berat badannya selama beberapa bulan yang lalu. Tidak usah mencak-mencak apabila harga sembako naik. Tidak usah meratapi diri ketika suami berubah sikap. Dalam semua hal, jika Ibu berpikir positif, Ibu dapat mengambil tindakan dengan kepala dingin, tidak destruktif maupun emosional. Ibu dapat memecahkan masalah dengan baik, bukan menambah masalah menjadi lebih runyam.

Akhir kata, banyak jalan ke Roma, banyak cara untuk menjadi sehat. Namun demikian, kesehatan diri harus dilihat pula dari keseimbangan tubuh, jiwa dan pikiran kita. Jadi, meskipun Ibu dapat dengan mudah mengeluarkan isi dompet untuk obat-obatan canggih maupun asupan makanan bergizi tinggi, tetapi apabila kebutuhan jiwa dan pikiran tak terpenuhi, maka semua upaya untuk sehat menjadi sia-sia belaka. Mari kita seimbangkan tubuh, jiwa dan pikiran kita. Let us find the balance of our mind, body and soul!

Artikel ini dimuat di blog Kompasiana dengan link sebagai berikut : http://kesehatan.kompasiana.com/ibu-dan-anak/2012/03/13/healthy-mom-a-balanced-mind-body-and-soul/