Tanya Ahli

Kirimkan pertanyaan Anda seputar gizi ibu dan anak, yang akan dijawab oleh Tanya Ahli SGM.

Ibu, Kisah dan Kasihnya

Oleh Atika Widiastuti 21 Oct 2013

BLOG Writing Competition NUB

“Kalo kamu punya mimpi, ya kejar sampai dapat. Jangan karena masalah sepele, lalu hilang semangatnya untuk mengejar mimpi itu.”

Begitulah nasihat super Ibu yang selalu saya ingat sampai saat ini. Kata-kata itulah yang menjadi penyemangat saya ketika saya sedang down dan merasa lelah dalam menjalani rutinitas.

Sebelum memulai cerita tentang sosok inspiratif di atas, izinkanlah saya untuk memperkenalkan diri saya. Nama saya Atika Widiastuti, teman-teman biasa memanggil saya Tika. Umur saya saat ini 18 tahun. Saya adalah anak pertama dari dua bersaudara, saya mempunyai seorang adik perempuan yang sekarang sedang menikmati masa-masa adaptasi di lingkungan barunya, SMP.

Sejak kecil, ibu selalu memberikan nutrisi yang baik kepada saya, mulai dari pemberian ASI eksklusif sampai usia 2 tahun, memberikan susu formula dan berbagai macam vitamin untuk pertumbuhan saya. Saya berasal dari keluarga yang sederhana, tapi Alhamdulillah selalu merasa cukup. Sampai saat itu di tahun 1998, terjadi krisis moneter di Indonesia. Saya juga merasakan dampaknya, terbiasa dengan minum susu formula, lalu digantikan dengan teh, vitamin-vitamin yang biasa diberikan pun terhenti.

Ketika berusia 5 tahun, sayapun didaftarkan ke sebuah TK oleh ibu. Masuk TK saat itu merupakan hal yang jarang dilakukan orangtua, karena TK belum dianggap penting waktu itu. Anggapan waktu itu yang penting adalah anak mereka masuk SD sudah bisa membaca dan menulis dan hal itu bisa diajarkan di rumah. Namun ibu berbeda, ibu mengganggap masuk TK merupakan suatu proses yang juga dibutuhkan dalam proses perkembangan saya, karena selain belajar membaca dan menulis, di TK juga diajarkan bagaimana bersosialisasi dengan orang banyak sehingga ketika masuk SD, kita “tidak kaget” dengan lingkungan baru di sana.

Setahun kemudian saya masuk SD. Perjuangan ibu gigih sekali waktu itu, karena saya adalah anak pertama jadi ibu belum punya pengalaman dalam mendaftarkan anaknya ke sekolah. Dengan semangat ibu mencari informasi di sana-sini, bolak balik ke berbagai sekolah dan akhirnya saya diterima di sebuah SD. SD biasa yang bukan unggulan, namun disitu saya bisa mengembangkan potensi yang saya miliki. Alhamdulillah, sejak kelas 1 sampai kelas 6 rangking saya stabil di 3 besar, bahkan pernah dipercaya  untuk mewakili sekolah dalam bidang Olimpiade Sains tingkat Jakarta, saya adalah salah satu perwakilan dari Jakarta Selatan kala itu. Kembali ibu yang menjadi penyemangat, beliau rela duduk disamping saya hanya untuk menemani saya belajar. Ibu bukan sosok yang diberi kesempatan untuk bisa bersekolah tinggi, beliau hanya tamat SD, oleh karena itu, beliau menaruh harapan besar kepada anak-anaknya, termasuk saya. Satu pesan beliau yang selalu saya ingat, “walaupun ibunya cuma lulusan SD, tapi anaknya harus bisa sekolah tinggi dong.”

Lulus dari SD, saya masuk ke SMP yang bisa dibilang favorit di daerah saya. SMPN 131 Jakarta. Kembali ibu yang mencari-cari informasi tentang kapan pendaftaran, bagaimana mekanismenya dan lain-lain karena saat itu, informasi diberikan tidak semudah sekarang, internet belum begitu familiar, sehingga informasi hanya diberikan di SMP tersebut. Akhirnya saya masuk di sana, 3 tahun mengenyam pendidikan di bangku SMP, Alhamdulillah prestasi akademik stabil. Lulus dari sana dengan nilai UN yang memuaskan. Hasil sendiri dan bisa dibanggakan.

Saya masuk di sebuah SMA Negeri yang memiliki input dan output yang bagus, sekolahnya minimalis tapi selalu menghasilkan prestasi-prestasi yang besar. SMAN 49 Jakarta namanya. Kala itu, pemerintah mencanangkan Wajib Belajar 9 Tahun, artinya Pemerintah hanya mensubsidi siswa hanya sampai 9 tahun (6 tahun SD, 3 tahun SMP) sehingga saat SMA, biaya sekolah tidak digratiskan. Banyak desas-desus yang ditujukan pada ibu, ada yang bilang SMA Negeri itu mahal, banyak pengeluaran dadakan dan lain-lain, tapi satu pesan ibu kala itu, “tugas anak itu belajar aja gak usah mikirin biaya, itu urusan orangtua.”

 
Aku-Ibu-Adik
Foto Aku, Ibu dan adik saat lebaran tahun ini

  

Alhamdulillah, berkat perjuangan ibu, uang pangkal sekolah sebesar 5 juta rupiah untuk saya kala itu digratiskan. Rezeki dari Alloh memang gak bisa diduga kapan datangnya, waktu itu ada seorang guru yang sampai saat ini saya tidak mengetahui siapa beliau, mau menjadi orangtua asuh saya, beliau membayarkan iuran bulanan saya tiap bulannya. Terimakasih bu/pak, semoga Alloh menghitung kebaikan ibu/bapak sebagai pahala. Aamiin.

Prestasi saya saat SMA bisa dibilang tidak bisa ditebak, saat itu saya sempat mengalami masa kegoncangan, hal itu dikarenakan ada konflik antara ibu dan bapak. Peringkat kelas dari yang semula peringkat 3 turun drastis sampai ke tingkat 18. Saya tidak menyalahkan ibu dan bapak karena masalah ini, karena sebesar apapun masalah yang dihadapi sebenarnya balik ke diri kita sendiri, bisa atau tidak menghadapi masalah tersebut.

Di semester 5, saya mendapat sesuatu yang saya sendiri juga masih merasa terkejut, bahkan sampai sekarang. Saat itu, dari peringkat 18 di kelas pada semester sebelumnya, saya diumumkan menjadi peringkat 1 paralel, juara umum kelas IPA pada semester itu. Subhanallah, tidak henti-hentinya saya mengucap syukur saat itu. Ketika hari pertama masuk sekolah, ibu diundang datang dan mengikuti upacara, beliau berdiri di barisan orangtua yang anaknya mendapat juara umum. Subhanallah, bahagia rasanya, menyaksikan dengan jelas satu mimpi saya terwujud, yakni menyaksikan ibu berada di barisan orangtua murid berprestasi, ibu menangis terharu saat itu, ia memeluk saya, menciumi saya. Kado terindah yang pernah saya terima, pelukan dan ucapan selamat dari ibu.

Ibu dan saya :)

Tibalah detik-detik menjelang UN, Alhamdulillah dukungan ibu pada saat itu luar biasa. Saya terbiasa belajar pada dini hari, sekitar jam 3 sampai 5 pagi. Namun satu kebiasaan jelek saya, saya susah untuk bangun ketika sudah lelap tidur, saat itu Ibu selalu menjadi “alarm”, beliau selalu bangun hanya untuk membangunkan saya dan memastikan bahwa saya belajar.

Setelah pengumuman UN, tibalah saatnya pengumuman SNMPTN Undangan. Sebelumnya saya sempat ragu untuk melanjutkan kuliah atau tidak, mengingat biayanya yang sangat besar. Tapi Alhamdulillah, guru BK di sekolah memberitahu bahwa ada beasiswa dari pemerintah yang bisa digunakan, namanya bidikmisi. Langsung saya menyiapkan berkas-berkas yang dibutuhkan dan mengikuti serangkaian proses serta wawancara yang diadakan.

Atas izin Alloh, tahun ini saya masih diberi kesempatan untuk kembali menikmati ilmu pengetahun di tingkat yang lebih tinggi. Alhamdulillah, saat ini saya tercatat sebagai salah satu mahasiswa di universitas ternama di Indonesia, menjadi mahasiswa baru program studi Teknik Lingkungan di Universitas Indonesia melalui jalur SNMPTN Undangan itu dan yang juga saya syukuri saat ini adalah seluruh biaya kuliah saya dibiayai oleh beasiswa.

Sekarang, ibu dan bapak sudah resmi berpisah. Saya dan adik ikut tinggal dengan ibu. Kesehariannya, untuk menghidupi kami, ibu bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah salah satu tetangga. Dengan adanya beasiswa kuliah, maka beban ibu bisa berkurang.

Cita-cita saya ke depan masih panjang, saya tulis semua di dalam buku mimpi saya. Saya masih ingin belajar di tingkat yang lebih tinggi lagi, belajar di daerah yang kulturnya berbeda, saya ingin melanjutkan S2 di Jepang. Lalu kembali ke Indonesia dan menerapkan ilmu yang saya miliki untuk memajukan Indonesia dan membuka lapangan pekerjaan khususnya di bidang lingkungan. Saya juga ingin mempersembahkan seekor domba untuknya serta memberangkatkan ibu pergi haji. Mudah-mudahan Alloh memudahkan.

Bagiku ibu adalah sosok luar biasa, menjadi penyejuk di kala hatiku gundah, menjadi penyemangat dikala diriku lemah, menjadi sahabat dikala aku sendiri, menjadi sosok yang keberadaannya selalu kurindukan. Bagiku, ibu adalah segalanya.

Tulisan ini saya ikutsertakan dalam  #LombaBlogNUB  Semoga menginspirasi bagi yang membaca :)