Tanya Ahli

Kirimkan pertanyaan Anda seputar gizi ibu dan anak, yang akan dijawab oleh Tanya Ahli SGM.

Ibu...I love u

Oleh anita bunda raihan 20 Oct 2013

Segala sesuatu yang berhubungan dengan kata “Ibu” entah kenapa selalu membuat saya merinding. Bukan merinding karena takut lho, tapi lebih ke “menggetarkan hati”. Saya sayang Ibu saya (tentunya semua orang juga), namun sejak saya sendiri menjadi seorang Ibu, saya semakin sayang dengan Ibu saya. Karena beliaulah, saya menjadi seperti saya yang sekarang ini. Mungkin saya bukanlah siapa-siapa, saya bukanlah seorang pemimpin besar, tapi saya rasa Ibu saya bangga dengan saya yang setidaknya bisa menjadi pemimpin bagi diri saya sendiri.. :)

Saya dilahirkan dari keluarga yang sederhana, sewaktu saya kecil keluarga saya malah belum punya rumah, kami masih mengontrak. Namun, Ibu saya selalu membuat saya merasa “Kami orang kaya”. Kenapa seperti itu? karena kami masih bisa memberikan sesuatu untuk orang lain. Ibu saya selalu mengajari saya untuk berbagi kepada yang membutuhkan, pengemis ataupun tetangga yang membutuhkan. Setiap ada penggalangan dana di sekolah untuk bencana atau apapun, Ibu saya selalu memberikan sumbangan melalui saya (bukan sombong lho). Hal-hal seperti ini yang membuat saya yang saat itu masih kecil berfikir “Keluarga kami bukan orang susah”.

Pada waktu kecil, saya bersekolah di sebuah sekolah swasta Islam. Yang menurut cerita ibu saya -setelah kami semua dewasa-, biaya perbulan yang harus dikeluarkan lebih besar dari biaya sekolah di SD Negeri di daerah kami. Beliau mengatakan seperti ini ” Ibu tidak bisa ngaji, tidak punya dasar agama yang baik, tapi Ibu mau anak-anak Ibu lebih baik dari Ibu”. Saya sangat terharu saat mendengar cerita Ibu. Padahal kami keluarga sederhana, akan lebih hemat jika menyekolahkan saya di SD Negeri. Namun Ibu tidak melakukannya. Beliau sangat mengutamakan pendidikan kami, tidak perduli jika harus membayar biaya yang lebih mahal untuk itu.

Ketika saya mulai beranjak remaja, saya mengikuti kegiatan ekstra kulikuler di sekolah, yang beberapa kegiatannya mengharuskan saya untuk pergi dan menginap di suatu tempat. Misalkan saja seperti berkemah di kaki Gunung Gede. Banyak teman-teman saya saat itu yang kesulitan untuk mendapatkan ijin dari orang tuanya. Namun saya, saya selalu dengan mudah mendapatkan ijin dari Ibu. Dulu saya sempat berfikir “kok Ibu gampang banget ngasih ijin ya? apa ngga khawatir anaknya kenapa-kenapa?”. Tapi sekarang saya tahu, meskipun Ibu saya khawatir, namun dengan mengijinkan saya mengikuti kegiatan itu membuat saya lebih mandiri dan bertanggung jawab. Saya diberikan tanggung jawab untuk menjaga diri saya sendiri. Ibu memberikan kepercayaan kepada saya, dan saya selalu berusaha menjaga kepercayaan yang telah diberikan Ibu kepada saya. Dan tentu saja, kegiatan-kegiatan itu menambah pengalam hidup saya. Seandainya Ibu melarang saya, mungkin saya tidak punya pengalaman-pengalaman seru yang selalu terkenang sampai saat ini.

Begitu juga ketika suatu hari saya baru sampai rumah jam 11 malam (saat itu saya masih SMU). Dan dulu belum jamannya HP, pun di rumah saya tidak ada telfon rumah, sehingga saya tidak dapat memberitahu Ibu bahwa saya terlambat pulang. Ketika sampai rumah, ibu saya membuka pintu dan hanya mengatakan “Kok sampai malam?” tanpa marah-marah. Hanya itu, namun justru kalimat itu yang membuat saya berjanji pada diri saya sendiri, saya tidak akan membuat Ibu khawatir lagi. Saya tahu beliau khawatir, karena beliau biasa tidur cepat, namun karena saya belum pulang beliau tidak tidur. Mengingat hal itu saja saat ini membuat saya berkaca-kaca.

Ibu tidak pernah marah kepada saya apalagi memukul, hanya sekali seumur hidup saya dijewer oleh Ibu. Itu juga karena saya membuang-buang beras yang ada di rumah dengan sengaja karena saya sedang kesal. Hanya itu. Selebihnya tidak pernah.

Ketika saya sudah bekerja, Ibu tidak pernah sekalipun menanyakan berapa gaji yang saya terima. Ibu juga tidak pernah meminta uang gaji saya. Bahkan saat saya membelikan sesuatu untuk Ibu, beliau selalu mengatakan “Ngga ditabung aja uangmu, Ibu melihat kamu bekerja juga sudah senang”.

Ibu juga pernah meminta maaf pada saya, saat saya meminta pendapat Ibu mengenai seorang teman pria yang dulu dekat dengan saya. Ibu sebenarnya kurang suka, namun Ibu tidak mengatakannya, hanya diam saja dan setelah saya desak Ibu baru mengatakan pendapatnya. Itupun dengan permintaan maaf.

Dari Ibu saya belajar banyak hal, semua yang dilakukan oleh Ibu untuk saya menjadi bekal saya dalam mendidik anak saya. Saya ingin seperti Ibu saya, selalu mengajarkan pada anak saya rasa bersyukur, selalu mengajarkan rasa tanggung jawab, mandiri dan pentingnya arti sebuah kepercayaan. Saya tidak ingin menjadi Ibu yang otoriter, pun bukan Ibu yang memanjakan anaknya. Saya ingin anak saya mampu menjadi pemimpin, pertama bagi dirinya sendiri, bagi keluarganya dan apabila dikehendaki Allah menjadi pemimpin bagi banyak orang. Bukan hanya pemimpin biasa, namun pemimpin yang selalu dicintai. Aamiin

Ibu…I love u

Tulisan ini diikutsertakan dalam #LombaBlogNUB