Tanya Ahli

Kirimkan pertanyaan Anda seputar gizi ibu dan anak, yang akan dijawab oleh Tanya Ahli SGM.

Jogja Punya Rumah Pemulihan Gizi

Oleh rita noor rizqi agustina 31 Aug 2010

Kota Yogyakarta kini memiliki sebuah tempat untuk merawat anak-anak balita yang mengalami kekurangan gizi. Rumah Pemulihan Gizi yang digagas oleh Ibu Dyah Suminar, Ketua TP PKK Kota Yogyakarta menjadi satu-satunya dan pertama di Indonesia sebagai tempat perawatan antara bagi anak-anak bermasalah terhadap gizi. ‘Perawatan antara’ karena RPG mampu menjembatani anak gizi buruk yang telah usai menjalani perawatan di rumah sakit hingga benar-benar pulih dengan kondisi gizi yang baik.

Anak-anak yang dirawat di RPG juga terjaring dari hasil screening yang dilakukan oleh Posyandu di wilayah RW. Atas rekomendasi posyandu atau berdasarkan laporan dari masyarakat anak-anak tersebut dapat mengikuti perawatan secara gratis. Di RPG anak-anak gizi buruk tersebut dirawat dengan intensif disertai pemberian asupan gizi yang baik. Dengan pendampingan orangtua mereka setiap pagi datang ke RPG untuk mendapat perawatan hingga sore hari. Orangtua pendamping juga diajarkan bagaimana melakukan perawatan khusus serta diberi pelatihan tentang pola makan dan menu gizi yang baik bagi anak-anaknya. Mereka menjalani perawatan beberapa minggu hingga dari hasil pemeriksaan dinyatakan telah pulih.

RPG mulai beroperasi secara penuh sejak 22 Februari, mendapat perhatian khusus dari Menteri Kesehatan Endang Sedyaningsih dengan peresmian yang dilakukannya secara langsung pada 12 maret lalu. RPG adalah inovasi yang pertama ada dan satu-satunya di Indonesia, hingga Menkes akan menjadikannya sebagai percontohan bagi daerah lain di Indonesia. Terletak di Jalan Mayjen Sutoyo 32, RPG dilengkapi juga dengan Kelompok Bermain ‘Kirana’, sebuah kelompok bermain percontohan di Kota Yogyakarta.

Di Kota Yogyakarta indeks gizi buruk masih lebih baik dari target nasional 2014. Angka gizi buruk berkisar 0,98 persen. Pada Januari 2010 masih terdapat 12 anak di Kota Yogyakarta yang menderita gizi buruk, 61 anak dengan status gizi kurang dan 166 anak calon gizi buruk.

Menurut laporan pembangunan manusia Badan Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang dirilis Oktober 2009 lalu, Indonesia masih menempati peringkat 111 dunia dalam Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index). Peringkat tersebut masih menempatkan Indonesia sebagai kelompok negara berkembang. IPM sangat dipengaruhi oleh kualitas sumber daya manusia yang diukur dari perbandingan harapan hidup, melek huruf, pendidikan dan standar hidup.

Sedang rilis UNICEF belum lama ini, sekitar 37 persen anak balita mengalami masalah kurang gizi kronis. Akibatnya berat dan tinggi badan mereka dibawah normal. UNICEF juga meluncurkan Laporan Global tentang Kemajuan Gizi Ibu dan Anak. Dalam laporan tersebut, Indonesia berada di peringkat lima dunia untuk negara dengan jumlah anak yang terhambat pertumbuhannya paling besar, dengan perkiraan sebesar 7,7 juta anak balita. Sementara itu menurut Survey Riset Kesehatan Dasar yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan pada tahun 2007 Indonesia telah mencapai salah satu indikator Tujuan Pembangunan Milenium (Millennium Development Goal) yang pertama, yaitu mengurangi jumlah anak dengan kekurangan berat badan pada usia balita hingga 18,4 persen.

RPG menjadi jawaban yang tepat dan komitmen yang konkrit dari Pemkot Yogyakarta mewujudkan kota sehat. RPG disamping sebagai rumah perawatan bagi anak balita dengan gizi buruk/kurang, juga dikonsepkan sebagai pusat informasi gizi, dan tempat pendidikan dan pelatihan gizi bagi masyarakat. Memutus mata rantai kasus gizi buruk, penanganannya perlu dilakukan secara komprehensif dengan melibatkan berbagai pihak terkait. Karena masalah gizi bukan hanya masalah kesehatan masyarakat, tetapi menyangkut pembangunan bangsa. Dan kasus gizi buruk tidak semata-mata disebabkan faktor kemiskinan, namun juga terkait budaya dan perilaku orangtua yang tidak paham atau karena faktor penyakit bawaan.

Semoga kehadiran RPG mampu meningkatkan derajat kesehatan anak sebagai generasi penerus bangsa. Dengan begitu diharapkan akan meningkat pula kualitas sumber daya manusia yang berperan signifikan dalam menentukan indeks pembangunan manusia Indonesia. Dari Jogja untuk Indonesia !! …JAYA !!

3 Komentar

Luna Maria

01 Sep 2010 16:41

Bayi, balita dan anak2 yang dirawat di rumah ini mendapat menu makanan apa aja mbak? Yang anaknya masih dibawah usia 2 th apakah ibunya di encourage utk menyusui juga?

Vito Darmaji

01 Sep 2010 16:26

mestinya hal semacam ini bisa juga dilakukan di provinsi lain ya... bisa propose ke Menkes kali mbak?

Adeline

01 Sep 2010 15:53

Keren banget mbak!!! Saat ini siapa donatur utk keberlangsungan rumah gizi ini?