Tanya Ahli

Kirimkan pertanyaan Anda seputar gizi ibu dan anak, yang akan dijawab oleh Tanya Ahli SGM.

Kami Memberinya Nama "Pemimpin"

Oleh rima ria lestari 21 Oct 2013

Tanpa pernah berunding, saya dan dua kawan semasa kuliah memberikan nama Malik pada putra kami masing-masing. Bedanya, saya menempatkan Malik di depan nama anak sementara kawan-kawan saya menempatkannya di tengah dan di belakang nama anak mereka. Benar, kami semua memberi tiga kata pada nama anak kami masing-masing. Nama anak saya Malik Muhammad Faiz sedangkan nama anak kawan-kawan saya Baja Malik Syahid dan Karim Abdul Malik.

Malik berasal dari Bahasa Arab yang berarti Raja, Penguasa, Pemimpin, Pemilik atau Yang Memiliki. Banyak kata Malik dalam Al Quran. Salah satunya yang terkenal adalah “Malikinnaas” (QS Annas:2) yang artinya Raja Manusia dan “Maalikiyawmiddiin” (QS Al Fatihah:4) yang berarti Pemilik hari pembalasan.

Sepertinya, saya (dan dua kawan saya tersebut) menginginkan, mendoakan agar putra pertama kami menjadi pemimpin kelak. Pada dasarnya setiap manusia memang pemimpin bagi dirinya sendiri. Bahkan bagi kaum laki-laki, mereka adalah pemimpin bagi kaum perempuan (tertuis dalam QS Annisa:34). Ah, ya. Malik kami semuanya adalah anak pertama. Jangan-jangan karena itulah kami menamai anak sulung kami Malik. Hehehe.

Khusus untuk Malik anak saya, kami memanggil dia dengan nama akhirnya, Faiz yang berarti “Yang beruntung”. Dengan memanggilnya berulang-ulang, insya Allah menjadi doa agar ia menjadi orang yang beruntung di kehidupannya, baik di dunia dan di akhirat. Amin.

Faiz tak begitu saja hadir ke dunia ini. Tak seperti rangkaian hidup manusia pada umumnya yang langsung mengandung sesaat setelah menikah. Saya dan suami harus menunggunya sampai tiga tahun. Itupun dengan proses yang tak mudah. Saya dan suami mengupayakan terapi agar bisa memiliki keturunan. Caranya dengan mengubah pola makan dan bergaya hidup sehat. Kami, terutama saya yang hendak mengandung, harus mau memilah-milah makanan alias berpantang. Saya tidak diperkenankan mengonsumsi makanan sampah, makanan cepat saji, serta sambal botolan. Saya wajib memakan makanan rumahan yang segar.

Repot? Jelas. Tapi alhamdulillah saya mendapat dukungan dari keluarga. Eh, tapi saya juga tetap mendapatkan komentar sinis. “Hamil kok menderita begitu?” Hehehe barangkali ia melihat saya menderita karena harus memastikan apakah yang saya konsumsi sehat atau tidak. Terbukti, tiga bulan menjalani terapi, saya hamil. Selama kehamilan saya tetap melakukan pantangan. Saya menambahkan susu ibu hamil dan vitamin dari bidan. Buat saya bukanlah suatu hal yang merepotkan apalagi membuat saya tak bahagia. Saya menganggapnya sebagai upaya memilihkan nutrisi terbaik untuk anak, calon pemimpin masa depan. Jadi persiapannya sudah sejak sebelum hamil. Begitu dia lahir, saya sudah terbiasa memberikannya makanan yang sehat.

Saya memutuskan berhenti bekerja di tahun ke dua pernikahan. Saya berniat menjadi sekolah yang baik untuk anak-anak kami. Menurut pepatah ulama, ibu adalah madrasah (sekolah) pertama bagi anak-anaknya. Sejak sebelum hamil, saya rajin membaca-baca berbagai artikel parenting. Salah satu yang saya suka adalah menanamkan kecintaan membaca buku sejak dini. Saya membeli buku-buku cerita anak balita dengan berbagai tema. Saat hendak tidur siang dan malam, sering kali saya membacakan satu sampai lima cerita. Perlahan, anak saya hafal cerita yang disenanginya.

Satu hari Faiz mengambil buku cerita yang biasa dibacakan. Iapun “membaca” buku tersebut sesuai dengan ceritanya. Bahkan halaman yang dibukanya sesuai dengan teks cerita. Memang, saya tak mengubah apapun dalam bercerita. Saya hanya membacakannya. Tidak berkreasi menambah-nambahkannya dengan cerita atau tokoh lain. Pasalnya, pangeran kecil saya itu bisa minta dibacakan sampai lima cerita sekali baca. Sementara saya cenderung pelupa. Jadi, saya memilih jalan aman: membaca sesuai teks dengan intonasi yang sama. Ternyata hal itu membuat dia cepat hafal ceritanya. Apalagi bila cerita tersebut ia suka.

Selain “membacakan” cerita kepada saya, Faiz juga menceritakannya pada orang-orang di rumah. Saat kakak ipar saya merekam via ponsel, dengan sedikit malu-malu ia bercerita tentang mobil balap, salah satu cerita kesukaaannya.

Kebiasaan ini membuatnya berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Terkadang diksi yang ia pilih tak lazim digunakan anak seusianya (sekarang ia berusia 3 tahun 8 bulan). Misalnya ketika dia tiba-tiba bercerita tentang khayalannya. “Faiz terkulai di dekat teman Faiz. Teman Faiz marah deh! Dia melancarkan tubuh lalu tidur, terus bangun dengan ceria, terus main dengan Faiz, terus sampai di gedung tinggi. Terus Faiz melawan teman Faiz. Teman Faiz sedih deh. Dia berada di mata.”

Selain membacakan cerita, saya mulai melatihnya membuat cerita. Sering kali ia enggan dan saya tak memaksanya. Saya rasa ia berpotensi membuat cerita yang baik. Salah satunya sudah kami buat bersama di blog pribadi saya.

Jika menilik pada ajaran kepemimpinan Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia, maka ada tiga peran pemimpin. Pemimpin haruslah ing ngarso sung tulodo, ing madyo mbangun karso, tut wuri handayani. Artinya, pemimpin haruslah mampu menjadi suri teladan, menggugah semangat serta memunculkan inovasi, dan memotivasi, memberikan kepercayaan kepada mereka yang dipimpinnya.

Jadi, meskipun Malik kami sematkan di depan nama anak, tak lantas ia hanya boleh jadi suri teladan. Iapun harus mampu membangkitkan semangat, berinovasi, ikut berperan serta, memotivasi, dan percaya seperti ajaran kepemimpinan pendiri Taman Siswa tersebut.

Doa ibu selalu besertamu, Nak.