Tanya Ahli

Kirimkan pertanyaan Anda seputar gizi ibu dan anak, yang akan dijawab oleh Tanya Ahli SGM.

Kasih Sayang, Nutrisi Terbaik untuk Pemimpin Masa Depan

Oleh Isti Toq'ah 15 Oct 2013

Oleh: Isti Toq’ah (isti.toq.ah@gmail.com)

 
 
Siapa yang tidak mengenal Presiden Republik Indonesia yang ketiga, Bapak BJ. Habibie. Beliau adalah salah satu anak bangsa yang di usia senja kepala tujuh masih menjadi pemimpin yang patut menjadi panutan. Saat belajar di negeri seberang, Jerman, tokoh masyarakat yang semakin bersemangat mengembangkan pesawat Indonesia berstandar internasional di Batam ini sering kali prihatin karena terbatasnya beasiswa yang didapatnya. Dalam sebuah wawancara bersama sebuah media nasional, Beliau pernah mengutarakan tips dan trik untuk menyiasati rasa lapar dan terhindar dari penyakit. Minum air putih sebanyak-banyaknyda dan berenang serta jalan kaki adalah cara terbaik untuk orang yang berkantong seadanya seperti mahasiswa berbeasiswa seperti Beliau kala itu. Jadilah walaupun hanya sekali sehari saja tidak menjadi masalah. Jika diniatkan dengan kemantapan tekad untuk menggapai impian dan cita-cita, maka siapapun pasti juga bisa mempraktekkan cara Pak Habibie ini. Awalnya mungkin akan lemas dengan keterbatasan nutrisi, namun lama-kelamaan tubuh akan beradaptasi dan imunitas pun terbentuk. Nah, yang sekarang perlu dipertanyakan adalah apa yang sebaiknya dikonsumsi jika memang hanya mampu mencukupi kebutuhan makan sekali dalam sehari? Lalu, bagaimanakah seorang Ibu menyiasati kondisi ini jika terjadi dalam keluarga, apalagi tengah membesarkan calon pemimpin masa depan yang tidak mustahil juga secemerlang Pak Habibie?
 
Berdasarkan studi dari Swiss pada 2012 ditemukan anak yang mengkonsumsi sarapan pagi memiliki keterampilan motorik lebih baik dan cenderung tidak obesitas dengan indeks masa tubuh yang lebih rendah. Jadi, jawaban untuk pertanyaan di atas adalah “sarapan.” Dengan keterbatasan ekonomi, pilihan makan sekali yang paling tepat yaitu sarapan. Jadi, orangtua, terutama seorang ibu sangat penting menyiapkan hidangan terbaik bagi sang pemimpin masa depan saat sarapan. Makna “terbaik” di sini tidak harus merupakan makanan yang mahal dan mewah. Banyak sekali makanan dengan harga terjangkau yang bisa dihidangkan untuk sarapan. Hal ini dikarenakan pada dasarnya sarapan yang dalam bahasa Inggris disebut “breakfast” secara harafiah juga berarti “berbuka puasa” setelah tidur malam.
 
Jadi, apakah makanan yang terbaik untuk sarapan? Jawaban sederhananya yaitu makanan yang mengandung empat sehat lima sempurna dan bukan hanya sekadar membuat sang anak kenyang. Disarankan untuk tidak memberikan sarapan hanya melulu karbohidrat karena itu hanya mengandung kalori berlebih yang bisa memicu kenaikan gula darah. Sudah banyak kita saksikan di sekitar kita orang-orang yang mengkonsumsi karbohidrat berlebih seperti nasi, mie, lontong, terigu, dan juga gula meningkatkan resiko diabetes. Bahkan aktor Hollywood terkenal seperti Tom Hanks pun sudah terpapar penyakit ini. Protein dan serat lebih disarankan untuk disajikan kepada sang buah hati dengan porsi yang tidak terlalu besar untuk perut upiknya. Protein seperti telor, ikan, dan tempe tahu mampu menekan rasa lapar sampai waktu makan siang. Sehingga, kalau pun ekonomi keluarga Bunda mampu memberikan makan siang pada anak, ia tak akan makan secara berlebihan. Kemudian serat seperti sayur dan buah bisa disajikan utuh atau dimodifikasi dalam sarapan. Jika serat sudah dimodifikasi sebagai lauk-pauk seperti diolah bersama lauk-pauk, bubur, atau sereal, buah dan sayuran utuh tidak perlu disajikan terpisah sebagai pelengkap. Membiasakan seorang anak mengkonsumsi serat sejak kecil sama dengan menjarkan “diet” (makan sehat). Fenomena perut buncit juga bisa dicegah dengan mengkonsumsi serat secara teratur. Buah dengan harga terjangkau yang disarankan baik untuk sarapan yaitu pisang dan pepaya karena memiliki kemampuan menahan rasa lapar cukup kuat.
 
Sayang sekali masyarakat Indonesia belum seperti orang-orang di negara maju seperti di Benua Eropa yang sangat sadar pentingnya sarapan. Ada banyak sekali alasan yang biasa menjadi pemakluman orang Indonesia untuk tidak sarapan seperti: bangun kesiangan, jalanan macet, dan menyiapkan sarapan memakan waktu atau tidak praktis. Karena banyaknya toksin dan polusi tersebar akibat kemajuan zaman modern sekarang, penyakit yang di masa dulu tak ada, kini bermunculan. Bahkan nasi yang sudah dikenal sebagai makanan utama rakyat Indonesia pun beresiko memicu diabetes. Sering kali juga walaupun mereka yang beralasan menyiapkan sarapan itu tidak praktis, mereka sebenarnya juga ingin sarapan namun belum tahu jika semuanya bisa diatur termasuk dalam tetap memilih nasi sebagai menu utama. Porsi nasi bisa dikurangi dan diganti dengan asupan serat dan protein. Jadilah tidak ada alasan lagi makanan praktis seperti burger dan sandwich tidak membuat kenyang. Khusus untuk si kecil yang masih dalam proses pendidikan untuk mengurus dirinya sendiri, peran orangtua terutama Ibu lagi-lagi sangat membantu. Ibu bisa membantu memastikan anak mendapatkan sarapannya dengan mengatur pola hidup anak mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Tentu ini menjadi tantangan tersendiri bagi keluarga pekerja yang ibunya berkarir.
 
Ibu perlu membiasakan anak bersama-sama bangun lebih pagi agar tidak terburu-buru menyiapkan untuk berkegiatan termasuk sarapan. Awalnya pasti akan berat, namun dengan penuh kasih sayang dan kedekatan hati antara Ibu dan anak, pasti fase sulit bisa dilewatkan. Kasih sayang menjadi kunci karena inilah yang mampu merekatkan hubungan keduanya sesibuk apapun sang Ibu yang harus membantu Ayah mencukupi kebutuhan keluarga dengan bekerja di kantor juga. Seletih apapun seorang Ibu, disarankan meluangkan “quality time” bersama si kecil setiap hari. Istilah “quality time” tidak berarti harus dilakukan berjam-jam. Beberapa menit saja cukup. Contoh termudah yaitu membacakan dongeng sebelum anak tidur. Selain mendekatkan hubungan Ibu dan anak, cerita-cerita dongeng juga mengandung unsur mendidik yang mengajarkan empati. Saat ini empati merupakan “value added” manusia yang perlu diwariskan kepada anak selain mencukupi kebutuhan dan pendidikan formalnya di tengah kompetisi global yang luar biasa. Indonesia perlu banyak belajar dari negara seperti Finlandia yang mempraktekkan kesetaran pendidikan. Kesetaraan di sini dimaksudkan agar semua anak menikmati proses pendidikan tanpa terpaksa. Prof. Pasi Sahlberg dari Centre for International Mobility (CIMO) sering mengingatkan bahwa seekor ikan tidak bisa dipaksa memanjat pohon seperti seekor monyet.
 
Menemani anak belajar selama sepuluh menit per hari juga bisa mendekatkan hubungan Ibu dan anak. Waktu sepuluh menit dirasa cukup bagi anak usia awal sekolah karena ia telah memeras keringatnya sekolah, les, dan mengerjakan pekerjaan rumah seharian. Peran Ayah juga bisa membantu sang pemimpin masa depan, apalagi kalau sang anak juga laki-laki. Ayah yang memiliki bahasa berbeda dengan Ibu bisa meningkatkan kecerdasan dan mengasah talenta anak dengan berbicara santai dengan anak sejak usia di bawah satu tahun. Saat usia ini, anak memiliki kecerdasan yang luar biasa dibandingkan orang dewasa. Selain itu, mendukung hobi anak yang menunjukkan talenta anak bisa menumbuhkan hubungan baik orangtua dan anak. Misalnya anak adalah perempuan, Ibu bisa membantu membimbingnya. Sedangkan Ayah bisa membimbing anak laki-laki. Namun juga tidak ditutup kemungkinan jika keduanya saling melengkapi. Yang perlu diingat adalah anak belajar dari mencontoh orangtuanya. Sebagai misal Ayah suka berkebun dan anak perempuan ingin belajar berkebun, sang Ayah bisa membantunya. Nah, kebiasaan bangun pagi, rutin sarapan, tidak tergesa-gesa, dan perangai penuh kasih sayang membuat nutrisi anak tercukupi bukan hanya secara fisik untuk kesehatannya, namun juga untuk psikologi dan mental sang anak. Bukankah badan yang sehat dengan nutrisi tubuh saja tidak cukup sebagai bekal seorang pemimpin masa depan tanpa mental yang kuat?
 
 
Semoga bermanfaat.
 
 
*Penulis yang dibesarkan oleh sang Nenek, mendidiknya dengan cara yang Penulis paparkan di sini. Orangtua Penulis juga banyak belajar dari kasih sayang Nenek yang dibarengi disiplin.
 
 
13 Komentar

Yadi Mulyadi

23 Oct 2013 14:02

Wah besok ya pengumumannya? Semangat ya. Semoga artikel2 yg lain bisa muncul lagi di sini walaupun sudah ga lomba lagi ya.

Yadi Mulyadi

23 Oct 2013 05:34

Inspiratif. Sukses utk besok pengumumannya tgl 24 ya... :)

Yadi Mulyadi

19 Oct 2013 22:36

Perihal air putih ini yang agak sulit diterapkan ke beberapa anak-anak yang lebih memilih minuman manis. Tapi kadang senang juga mereka ga tahu kalau jus yang mereka minum itu ada campuran sayurannya..

Yadi Mulyadi

19 Oct 2013 11:49

Terima kasih inspirasinya, Mb. Sukse ya lombanya.

Yadi Mulyadi

18 Oct 2013 11:52

Bukan masalah, Dek Isti belum menjadi seorang Ibu atau orang tua. Semua orang pasti akan menjadi orang tua. Ini merupakan langkah awal yang baik untuk dicontoh anak-anak muda zaman sekarang yang semestinya mempersiapkan generasi penerusnya. Anak-anak muda seperti kalian juga penerus kami-kami di masa depan. Salam sukse ya.

Yadi Mulyadi

17 Oct 2013 15:45

Terima kasih banyak sudah mengapresiasi dan mendukung artikel saya. Semoga bermanfaat. :) Jujur, saya ini juga belum menjadi seorang Ibu dan mohon doa untuk kelancaran skripsi saya. Saya tertarik menulis tentang segala tema termasuk tentang keluarga dan anak-anak karena saya sudah suka mengajar sejak SMP sampai sekarang.

Yadi Mulyadi

17 Oct 2013 15:41

Saya belum menjadi seorang ayah, namun saya bercita-cita mempraktekkan yang Mb tulis. Seringkali orangtua lupa bahwa bekerja saja untuk mencukupi kebutuhan materi anak tidak cukup. Itulah pengalaman saya bersama orangtua saya. Saat saya awal masuk sekolah merasa lebih nyaman dengan perawat saya. Setelah itu orangtua saya baru sadar. Semoga kelak anak saya tidak seperti itu.

Yadi Mulyadi

17 Oct 2013 15:34

Benar sekali, Bunda. Anak-anak mesti dibiasakan mengkonsumsi serat sejak dini. Apalagi anak perempuan. Jadi, serat bisa menjadi gaya hidup mereka. Kelak saat mereka dewasa dan mengenal program diet, mereka tidak akan kaget lagi. Terima kasih sudah menginspirasi, Bunda. Semoga menang. :)

Yadi Mulyadi

16 Oct 2013 17:16

Kebetulan nama saya mengandung unsur Avian yang padahal dalam bahasa biologi berarti unggas. Mungkin doa orang tua saya supaya bisa terbang seperti burung. Nah, PT Ragio Aviasi Industri (RAI) yang didirikan Pak BJ Habibie beserta anak Beliau, Ilham Habibie bukan hanya membawa nama besar Beliau, tapi juga untuk membuktikan pada dunia internasional bahwa Indonesia tidak kalah saing dengan negara-negara lain. Saya setuju sekali jika Beliau dijadikan contoh atau role model dalam tulisan ini. Sukses lomba blognya! Semangat!

Yadi Mulyadi

16 Oct 2013 17:07

Cocok sekali memilih Pak Habibie sebagai panutan bagi anak-anak kita. Beliau tidak pernah putus asa dalam mewujudkan cita-cita Beliau yang bukan hanya berguna utk pribadi dan keluarga Beliau, tapi juga untuk martabat bangsa Indonesia. Semoga anak-anak kita bisa menjadi pemimpin masa depan seperti Beliau. Aamiin. Aamiin. Aamiin.