Tanya Ahli

Kirimkan pertanyaan Anda seputar gizi ibu dan anak, yang akan dijawab oleh Tanya Ahli SGM.

Kesehatan Ibu, Siapa Peduli?

Oleh ikitita 09 Feb 2012

Belakangan saya banyak berpikir tentang kesehatan. Terutama kesehatan ibu.

Ibu muda, maupun ibu yang sudah tidak muda lagi. Ibu hamil, maupun yang tidak hamil. Bukan karena saya baru saja sedikit merasa enak dari sakit saya beberapa minggu belakangan ini.

Mmmmm… Nah! ini juga jadi topik. Kesehatan saya, yang juga ibu :) )

Suatu ketika saya teringat film-film atau cerita-cerita yang menggambarkan dilema ketika harus memilih ibu atau bayinya yang harus diselamatkan. Pasti ibu akan akan memilih “Selamatkan bayi saya, dokter. Tolong”. Lalu tiba-tiba ibunya tak sadarkan diri, dan seterusnya, berakhir dengan adegan di pemakaman yang memperlihatkan si ayah menggendong si bayi, termangu menatap nisan bertaburan bunga. Ah, dramatis!

Tetapi, terpikir juga oleh saya, beberapa detik setelah saya teringat cerita-cerita itu. Setiap ibu mungkin akan melakukan hal yang sama. Meminta agar anaknya diselamatkan, daripada dirinya sendiri.

Tetapi, lagi, di detik berikutnya, saya berpikir lagi, kenapa si ibu tidak berpikir supaya dia juga selamat dan sehat, agar dapat membesarkan, merawat dan mendidik anaknya?

Nah!! Jadi keselamatan dan kesehatan ibu itu penting. Bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk anaknya, atau anak-anaknya kalau dia sudah punya beberapa anak.

Lebih jauh lagi, kesehatan ibu sangat erat kaitannya dengan keberlangsungan generasi muda yang sehat dan cerdas. Bicara lebih jauh lagi, negara dan bangsa yang kuat :)

Entah ya… mungkin karena cara pandang patriarki yang begitu kuat di sini menyebabkan seolah-olah kesehatan ibu itu tidak penting, karena “memang sudah seharusnya begitu”. Yah, ini cuma pemikiran saya.

Contoh yang paling mudah; hamil dianggap sudah wajar, malah seringkali dianggap keharusan, bagi perempuan yang sudah menikah.

Padahal, selain untuk hamil itu butuh “kerja sama” dua orang, bapak dan ibu, sebelum seorang perempuan hamil, dia sudah harus siap lahir dan batin.

Lahir, apakah dia sehat, tidak kurang darah, tidak sedang sakit dan sebagainya. Batin, seperti apakah dia sudah siap dengan perubahan-perubahan hormonal pada tubuhnya, sehingga meminimalisir perasaan tertekan yang mungkin timbul akibat perubahan-perubahan itu.

Maksud saya, bahkan hamil pun seharusnya setelah melalui “persetujuan” perempuan yang sudah siap, bukan karena dianggap “memang sudah seharusnya”. Tapi siapa yang ingat bertanya pada perempuan, coba?. Yang sering terjadi justru pertanyaan “Eeeehh pengantin baru, kapan nih “isinya”?”

Padahal ibu yang sudah siap hamil, lahir dan batin, akan memperlakukan dirinya dan janinnya dengan baik dan sehat. Hal ini tentu saja akan berakibat positif bagi si jabang bayi, sudah merasa dicintai sejak awal. Mmmm…

Selama kehamilan, janin tumbuh dengan mengambil zat-zat gizi dari tubuh ibu, sehingga ibu harus menambah asupan gizinya untuk mencukupi kebutuhannya sendiri. Begitu juga selama masa menyusui.

Seringkali, ibu tidak merasa perlu, atau mungkin juga tidak tahu kalau dirinya butuh asupan gizi lebih, misalnya zat besi dan kalsium.

Lagi-lagi saya menyalahkan diskriminasi gender yang menyebabkan seorang ibu menjadi tidak memperhatikan kesehatannya sendiri. Apalagi kalau kebetulan ibu termasuk golongan ekonomi lemah.

Diskriminasi gender bukan hanya telah membuat keterbatasan akses pendidikan dan kesehatan bagi perempuan, akan tetapi juga telah membentuk cara pandang yang mengabaikan kesehatan perempuan.

Kebanyakan ibu, baik di perkotaan maupun di pedesaan, menjalankan peran ganda, bekerja untuk mendapatkan uang, bekerja mengurus rumah, mengurus anak dan sebagainya.

Kesibukannya itu, dan juga kurangnya perhatian dari lingkungan dan orang terdekat, menyebabkan ibu kurang memperhatikan kesehatan.

Sudah waktunya kita memberi perhatian lebih pada kesehatan ibu.

Mungkin saja dia tidak akan mengeluh kelelahan, akan tetapi kita yang berada di sekelilingnya mestinya bisa mengingatkannya untuk beristirahat. Kalau perlu mengambil alih beban kerjanya. Mengingatkannya untuk mengonsumsi makanan bergizi.

Semua orang harus mengingat bahwa ibu yang sehat, akan menghasilkan generasi yang sehat pula. Ibu yang sadar kesehatannya, akan menghasilkan anak-anak yang sadar kesehatan juga.