Tanya Ahli

Kirimkan pertanyaan Anda seputar gizi ibu dan anak, yang akan dijawab oleh Tanya Ahli SGM.

Making A Leader

Oleh b14nco 14 Oct 2013

 

Making A Leader

Ibu adalah Penolong Segala yang Buah Hati Inginkan

Ibu untuk buah hati adalah segala-galanya, tak terhingga, apapun yang diperlukan buah hati akan selalu dilakukan Ibu. Mulai dari buah hati lahir ke dunia Ibu harus siap lahir batin memberikan ASI. Yup lahir batin, karena tidak semua Ibu bisa dengan mudah langsung menyusui buah hatinya setelah melahirkan tanpa ada masalah.Rasa perih bahkan tak jarang menangis merupakan hal yang mungkin dialami seorang Ibu pada saat awal menyusui. Akan tetapi Ibu harus tetap memberikan ASI kepada sang buah hati karena ASI eksklusif adalah asupan utama yang sangat sempurna untuk bayi 0-6 bulan.

Mempertahankan pendirian Ibu untuk tetap memberikan ASI saja sampai 6 bulan juga bukan merupakan hal mudah, tidak jarang justru tantangan itu datang dari orang dekat keluarga, seperti Ayah, Kakek Nenek atau keluarga lainnya yang banyak menganjurkan pemberian susu formula.
 
Jika bukan karena Ibu mempertahankan untuk tetap memberikan ASI saja demi sang buah hati, misalkan ditengah perihnya puting karena luka atau dorongan Ayah yang tidak tega melihat Ibu meringis setiap menyusui, mungkin Ibu akan menyerah. Tapi demi buah hati, Ibu tetap mempertahankan prinsip itu.
 
Bergadang untuk menemani sang buah hati adalah hal wajib yang harus dilakukan Ibu karena bayi jam tidurnya belumlah jelas, masih sesuka hatinya kapan dia mau tidur, main dan makan.
 
Setelah masuk usia 7 bulan MPASI mulai Ibu berikan. Dalam usia buah hati saat ini Ibu akan semakin sibuk karena selain mengurus rumah & menyiapkan makanan untuk Ayah/keluarga, Ibu juga harus menyiapkan MPASI untuk sang buah hati karena masih berbeda menunya dari menu makanan sehari-hari keluarga.
 
Seiring berjalannya waktu, Ibu mulai mengajarkan buah hati duduk, merangkak, berjalan, berlari dan berbicara serta mengajarkan  buah hati bisa makan sendiri dengan baik dimeja makan, minum menggunakan gelas dan mengajarkan agar buah hati untuk membuang air ke kamar mandi.
 
Dengan bertambahnya usia Ibu juga berusaha mengajarkan buah hati mulai bernyanyi, berhitung dan membaca. Benar-benar tak terhingga yang Ibu berikan untuk buah hatinya. Meskipun hal itu dilakukan bersama dengan Ayah atau anggota keluarga lain, tetapi tetap saja penentu utamanya adalah Ibu.
 
Pembentukan Karakter
 
Setelah yang Ibu lakukan untuk buah hati dengan penuh lelah seperti hal-hal yang digambarkan diatas, ternyata ada hal utama yang harus Ibu lebih persiapkan untuk buah hatinya, yaitu pembentukan karakter.

Karakter buah hati tidak hanya dari gen yang diturunkan, akan tetapi lebih besar juga dari lingkungan yang biasa diterimanya dari yang selama ini diajarkan oleh Ibu dan Ayah, juga oleh anggota keluarga lainnya dan lingkungan berada.

Tanpa karakter yang ditanamkan kepada buah hati sejak lahir kedunia hingga bertambah usianya, semua kelelahan yang dilakukan diatas bisa menguap tanpa dihargai sang buah hati ketika besar nanti, mengapa? Karena karakter yang baik akan membuat buah hati lebih menjadi sosok pribadi yang lebih menghargai dirinya, menghargai orangtua dan keluarganya, serta menghargai orang lain siapapun itu.

Pembentukan karakter ini jauh lebih sulit daripada mengajarkan buah hati berjalan atau berbicara. Karakter perlu bertahun-tahun dibentuk, dan itu harus dimulai sejak buah hati lahir kedunia.

Ibu harus lebih sabar ketika mengajarkan buah hati menjadi orang yang lapang dada dengan mengajarkan buah hati bersedia meminjamkan mainannya kepada teman atau mau mengalah ketika sedang memperebutkan sesuatu dengan temannya. Ini bukan perkara mudah. Pengajaran tidak hanya diberikan ketika sedang terjadi perebutan mainan, akan tetapi terus-menerus diselipkan seperti ketika sedang mengobrol. Ibu harus menyelipkan nasihat bahwa menjadi orang yang mengalahkan itu bukan berarti kalah, bahwa memberikan mainannya kepada temannya tidak akan membuat buah hati kita rugi.

Ibu harus lebih sabar ketika memberikan pengertian bahwa memberi itu adalah hal yang mulia daripada membanggakan sesuatu yang dia punya kepada temannya. Sulit, tapi itu harus tetap Ibu ajarkan karena itu akan melatih jiwa buah hati yang lebih bersih sehingga kelak dewasa dia akan lebih bijak dalam mengambil keputusan, lebih bisa diandalkan teman-temannya dalam setiap keadaan.

Penanaman karakter tidak bisa dipaksakan, harus terus-menerus dengan kesabaran Ibu.Buah hati yang belum berani jangan malah dikatakan penakut, karena dengan terus dikatakan penakut, hal itu akan tertanam bahwa dia adalah orang yang penakut.

Memarahi buah hati dibawah usia 7 tahun jangan pernah dilakukan, karena marah yang Ibu ajarkan akan dilakukannya juga ketika dia merasa perlu mengeluarkan amarah tersebut. Jangan terprovokasi oleh anak yang sedang marah. Menjauh sejenak merupakan strategi yang bagus untuk menormalkan kondisi anak yang sedang marah. Selain menenangkan Ibu, buah hati akan belajar mengerti bahwa dengan penghindar sebentar berbarti Ibu tidak sepakat dengan yang buah hati lakukan.

Dan karakter yang paling pertama harus ditanamkan kepada sang buah hati adalah rasa cinta karena tanpa rasa cinta semua yang dilakukan untuk buah hati akan terasa semu. Dengan diiringi cinta terdalam yang Ibu berikan kepada buah hati akan terasa kepada buah hati disetiap sentuhan, tatapan, senyuman, tangisan Ibu yang penuh cinta, sehingga membuat sang buah hati menjadi orang yang penuh cinta dan penuh kasih tentunya.

 Waktu untuk Belajar

Belajar yang biasanya diawali dengan bernyanyi, berhitung dan membaca tidak boleh dipaksakan kepada buah hati. Tiap buah hati akan ada masa perkembangan dan masa yang tepat untuk belajar dengan konsentrasi adalah di usia 7 tahun.

 Bermain adalah belajar yang sebenarnya untuk buah hati yang masih berusia dibawah 7 tahun. Seberapa cepat pun usia buah hati yang Ibu ajarkan berhitung ataupun membaca tidak akan berbeda dengan buah hati lain yang mulai menghitung atau membaca diusia 7 tahun. Perbedaannya hanya terletak pada siapa yang lebih dulu. Bisa jadi sang buah hati akan kehilangan masa-masa yang seharusnya bermain bila ibu kurang mengetahui masa perkembangan buah hati. Rasa jenuh untuk belajar bisa menguap disaat justru buah hati memerlukan konsentrasi untuk belajar dan ini tentu merugikan buah hati.

Menyelipkan sesekali tidaklah  masalah, akan tetapi menekan harus sudah bisa setelah diajarkan sekian waktu tidaklah tepat. Buah hati yang lebih dulu bisa berhitung belum tentu lebih cerdas di kemudian hari daripada buah hati yang hanya bisa bernanyi ataupun menari. Seiring usianya akan sampai juga pada masanya buah hati ingin belajar dengan serius.

Ibu yang Bijak

Terakhir, Ibu yang bijak akan menjadikan buah hati lebih natural dalam bersikap, tidak berlebihan dan pada akhirnya akan menjadikan buah hati yang selalu menyejukkan hati Ibu, Ayah dan orang disekitarnya disetiap masa yang dilalui bersama. Akan penuh makna, lebih berkesan dan buah hati akan menjadi orang yang bisa menjadi pemimpin untuk dirinya dan orang lain.