Tanya Ahli

Kirimkan pertanyaan Anda seputar gizi ibu dan anak, yang akan dijawab oleh Tanya Ahli SGM.

Menggali Potensi Si Pemimpin Kecil yang Lembut Hati

Oleh Rudi Haryanto 12 Oct 2013

Kejadian sore itu, beberapa tahun ke belakang, masih bisa saya ingat dengan benar. Isteri saya, dengan tergopoh-gopoh menghampiri saya yang baru pulang kerja. Dia lalu bercerita tentang pengalaman yang terjadi di hari itu. Lebih tepatnya, kejadian yang terjadi di hari pertama Reihana, putri pertama saya masuk TPA. Sungguh, meskipun hal itu tidak mengherankan, mendengar isteri yang begitu semangat bercerita, saya terharu mendengarnya.

“Bi, Reihana tiba-tiba mengangkat tangannya, saat ibu gurunya menanyakan siapa dari para murid yang sudah hafal doa untuk orang tua. Padahal, kan, dia belum hafal benar doa itu,” papar isteri saya waktu itu.

“Pas aku tanya itu pada Reihana, dengan santainya dia menjawab, “ah Umi, gak usah malu atau takut. Kalo aku salah, bu guru kan gak akan marah. Tadi dia langsung bimbing aku saat ucapin doa itu,”,” ucap isteri saya menambahkan.

Ya begitulah Reihana. Gadis kecil saya itu memang tak pernah malu untuk berbicara atau berbuat apa pun, di hadapan siapa pun. Keberaniannya bertutur, menjawab, dan bertindak tak bisa diatur-atur oleh orang lain. “Ngapain malu, aku kan gak salah.” Selalu begitu alasannya jika ditanya mengenai keberanian dia dalam mengungkapkan isi hatinya.

Si Ekstrovert dan Dominan

Kejadian mengangkat tangan di dalam kelas, di hari pertama sekolah TKA, padahal waktu itu Reihana baru berusia 3 tahun lebih beberapa bulan, cukup membuat mata saya dan isteri saya terbuka lebar. Reihana adalah anak yang pemberani. Kebiasaannya yang selalu mengekspresikan apa yang dirasa, didengar, dan diterima panca indranya membuat kami berkesimpulan, Reihana itu sangat ekstrovert. Karenanya, saya dan isteri tak pernah bingung dalam memperlakukannya. Sebab apa yang dimauinya selalu bisa terucapkan dengan jelas. Dan sifat ekstrovertnya ini juga bisa dilihat dari kemampuan dia masuk ke dalam lingkungan yang baru. Tanpa perlu waktu yang lama, tanpa banyak malu-malu, Reihana bisa bergaul dan akrab dengan teman-temannya.

Selain ekstrovert, Reihana juga sangat dominan. Semua orang di sekitar dia hampir selalu bisa menuruti apa yang dia inginkan. Saya, isteri saya, sepupu-sepupunya, kakek-neneknya, bahkan adiknya yang baru berusia beberapa bulan, seringkali diaturnya untuk ini dan itu. Tak hanya di dalam rumah, di luar rumah seperti di sekolah, dia pun begitu. Memang jika dilihat hal itu, Reihana terlihat bossy. Namun di balik itu, Reihana juga tak pernah segan untuk melakukan dan mencontohkan apa pun yang dia inginkan. Sungguh, sejak kecil, jiwa perfeksionisnya sudah begitu kentara. Dari sifatnya yang satu ini, saya dan isteri bisa merasakan bahwa Reihana mempunyai jiwa pemimpin yang tinggi. Dan kami yakin, Reihana suatu hari nanti bisa menjadi pemimpin. Pemimpin di sini tentu tidak harus selalu menjadi pejabat, kepala ini atau itu, menjadi ketua murid atau sekadar ketua kelompok di sekolahnya juga termasuk ke dalam kategori pemimpin.

Si Keras Kepala yang Berhati Lembut
Suatu kali, saat sedang menonton sebuah sinetron anak, tiba-tiba ekspresi marah dan gemas ke luar dari mulut Reihana mana kala sebuah adegan penculikan anak terjadi. dia berteriak-berteriak pada si tokoh utama yang begitu tidak berdaya ketika dibawa si penculik. Akhirnya, saking gemasnya, Reihana pun menangis. Tangis sesenggukannya saat itu cukup membuat kami terpana.

“Kenapa dia diem aja, Umi? Kenapa dia gak lari? Jadinya kan dia diculik!” ucapnya setelah menonton sinetron itu sambil berurai air mata.
“Itu cuma bohongan, sayang. Itu kan cuma sinetron. Reihana gak usah nangis,” tutur ibunya.
“Tapi jadinya kasian,” ucap Reihana lagi masih dengan air mata yang terus mengalir.

Kejadian itu adalah kali pertama kami disadarkan. Reihana ternyata juga mempunyai sisi sensitif. Dan sifatnya ini terlihat jika sisi kemanusiaannya tersentuh. Kejadian lain yang membuat kami berkesimpulan demikian adalah saat Reihana melihat seorang pengamen anak-anak. Ketika dijelaskan tentang pengamen itu yang harus bekerja untuk jajan dan sekolahnya, serta merta, Reihana mengeluarkan air matanya.

Kombinasi sifat Reihana yang keras kepala tetapi berhati lembut membuat kami mudah mengendalikannya. Jika sebelumnya sering pusing dengan sikap-sikap dominannya yang susah diubah, semenjak sisi sensitifnya muncul, kami bisa mengatur Reihana dengan cara persuasif yang menyentuh sisi kemanusiaan dia. Dan itu berhasil. Reihana menjadi si dominan yang sekaligus juga mudah dikendalikan.

 Menggali Semua Potensi

Jiwa pemimpin sudah nampak di dalam diri Reihana sejak kecil. Tapi agar bisa menjadi pemimpin yang baik, Reihana tentu harus mempunyai sifat yang jujur, karakter yang kuat, dan kompetensi yang cukup. Sebab di masa mendatang, Reihana akan mengalami berbagai macam tantangan yang sangat berat. Apalagi mengingat zaman sekarang yang semakin canggih saja. Jangankan untuk memimpin orang banyak, memimpin dirinya sendiri agar bisa mandiri dan mampu menyelesaikan masalahnya sendiri, Reihana harus siap dan cakap.

Reihana adalah anak kami yang pertama. Kami belum punya pengalaman dalam mengurus anak. Itu sebabnya, sebagai orang tua, saya terutama isteri saya yang lebih banyak mengurus anak di rumah, banyak-banyak mencari ilmu mengenai cara mengurus anak. Bertanya kepada orang tua dan teman-teman; membaca buku-buku parenting; hingga browsing di internet kerapkali isteri saya lakukan.

Ketertarikan Reihana, sejak awal itu ada pada hal-hal yang berbau seni. Musik, film, desain, hingga fotografi sangat digandrunginya. Tapi karena dia masih kecil dan kami tidak tahu apa sebenarnya bakat dan kemampuan dia yang sebenarnya, kami memutuskan untuk menstimulasi semua bakat yang mungkin ada di dalam diri Reihana.

Prinsip kecerdasan majemuk yang dicetuskan Howard Garner dan beberapa waktu lalu sempat booming di dalam sistem pendidikan Indonesia sangat menginspirasi isteri saya dalam mendidik Reihana. Ya, dari prinsip itu, dia mengajak saya untuk berusaha semaksimal mungkin dalam memunculkan bakat Reihana yang sebenarnya. Apakah dia itu cerdas linguistik (cerdas berbahasa), cerdas logis-matematis (cerdas secara nalar dan angka), cerdas kinestetik-jasmani (cerdas mengekspresikan ide dan perasaan dengan anggota tubuh), cerdas spasial (cerdas spasial-visual), cerdas musikal (cerdas terhadap musik), cerdas interpersonal (cerdas dalam mempersepsikan dan membedakan suasana hati, maksud, motivasi, serta perasaan orang lain), cerdas intrapersonal (cerdas dalam memahami diri sendiri dan bertindak berdasarkan pemahaman tersebut), atau cerdas naturalis (cerdas dalam mengenali alam sekitar).

Awalnya isteri saya bersikeras untuk mengarahkan Reihana untuk menjadi dokter. Persis seperti cita-citanya yang tidak kesampaian. Tetapi karena hal ini sangat obsesi ibunya sekali, dan memang Reihana tidak terlalu tertarik, program pengarahan itu tidak jadi kami lakukan. Pada akhirnya kami percaya, semua bakat positif anak itu baik. Dan apa pun bakat Reihana, dia pantas untuk didukung dan berhak untuk sukses atas bakat dan pilihannya tersebut.

Dalam penentuan dan penggalian jenis kecerdasan yang ada di dalam diri Reihana, isteri saya melakukan berbagai cara. Untuk mengetahui dan memaksimalkan kecerdasan linguistik, Reihana diikutkan pada les bahasa. Karena dia sangat antusias dengan bahasa Inggris, dia pun ikut les Bahasa Inggris. Sesekali, di rumah, Reihana dan saya berbicara dalam Bahasa Inggris. Tak mengapa jika di sana-sini masih banyak yang salah. Yang terpenting, Reihana percaya akan kemampuan berbahasanya. Untuk penentuan kecerdasan logis-matematis, menilai dari hasil yang dicapai Reihana untuk pelajaran Matematika rasanya cukup. Kemudian untuk mengetahui kecerdasan kinestetik-jasmani, Reihana banyak diajak untuk berolahraga. Dari mulai jogging bersama di pagi hari, senam aerobik bersama ibunya di rumah, hingga berenang setiap hari minggu sekeluarga. Untuk kecerdasan spasial, Reihana mempunyainya sejak kecil. Sekali pun tidak pandai menggambar, ketertarikannya dalam mengutak-atik gambar serta foto dengan program foto editor bisa dibilang lebih daripada anak seusianya. Kecerdasan musikal juga begitu. Sejak kecil, Reihana sangat gemar dengan musik. Berbagai jenis lagu dan musik dengan mudah dikuasainya dalam waktu yang relatif singkat. Bahkan kini, dia sedang getol-getolnya belajar gitar. Untuk kecerdasan interpersonal, mengajak Reihana nonton film cukup memberi gambaran. Reihana yang mudah tertawa saat menonton film komedi dan mudah menangis serta iba terhadap tokoh di film setidaknya mengonfirmasi adanya kecerdasan ini di dalam dirinya. Kecerdasan intrapersonal Reihana lebih mudah dilihat. Dia yang ekstrovert cukup membuat semua orang yang ada di dekatnya mengerti. Dan jelas, kecerdasan ini menjadi kelebihan Reihana. Dan terakhir, untuk menstimulasi kecerdasan naturalis, kami sering membawa jalan-jalan Reihana ke alam bebas. Dari sekolahannya juga. Bisa ke sawah, ke kebun teh, ke danau, ke situ, hingga ke tempat rekreasi alam. 

Dari penggalian kecerdasan majemuk itulah, kami akhirnya tahu dan sedikit yakin bahwa Reihana itu cerdas secara bahasa, visual-spasial, musikal, interpersonal, dan intrapersonal. Untuk kecerdasan yang lain, sepertinya dia tidak terlalu menonjol. Namun meskipun demikian, karena Reihana masih anak-anak, isteri saya masih tetap memberikan perangsangan terhadap kecerdasan-kecerdasan ini, sebab ternyata bakat dan kecerdasan itu bisa berubah serta dipengaruhi. Terutama oleh lingkungan, seperti teman-temannya, bacaannya, tontonannya, guru-gurunya serta kemampuan si anak dalam mengapresiasi positif orang lain.

Cara yang dilakukan untuk mengembangkan potensi kecerdasan yang dimilik Reihana banyak sekali. Ada kalanya kami bermain mainan tradisional, menonton film-film inspiratif, memainkan game interaktif, hingga mengunjungi tempat rekreasi edukatif. Dan sejauh ini Reihana sangat menyukainya. Lagi pula, jika Reihana tidak menyukainya atau misalnya bosan, lagi-lagi sifat ekstrovert dan kecerdasan intrapersonalnya langsung muncul. Dia akan mengatakannya secara jelas dan terang-terangan. Baginya, kenyamanan diri sendiri itu penting.

Faktor Lain yang Tak kalah Penting
Membesarkan pemimpin kecil agar kelak menjadi pemimpin yang berhasil dan sukses memang harus mengutamakan bakat dan kemampuan yang dimilikinya. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu diperlukan berbagai faktor yang juga tak kalah penting di dalamnya. Sebab dalam kenyataannya, jika faktor-faktor ini tidak menunjang, sekuat dan sebesar apa pun bakat dan kemampuan si anak, pada akhirnya akan hilang karena si anak tidak akan sanggup untuk mempertahankannya hingga di besar nanti. Faktor-faktor ini tak lain dan tak bukan adalah faktor nutrisi atau gizi dan juga faktor spiritual. Dua hal inilah yang kemudian bisa membantu si anak untuk bisa menjadi pemimpin di masa depan.

Nutrisi atau gizi merupakan faktor utama bagi kesehatan dan tumbuh kembang fisik serta otak anak. Tanpa nutrisi atau gizi yang baik, yang dulu disebut sebagai 4 sehat 5 sempurna dan kini disebut dengan gizi seimbang, mustahil fisik dan otak anak bisa berkembang secara optimal sesuai dengan tahapannya. Ya, agar si anak bisa menjadi pemimpin kecil yang bisa sukses di masa depan, kebutuhan nutrisi atau gizinya harus terpenuhi. Tidak mungkin seorang anak bisa menjadi orang sukses di masa depan jika di masa kecilnya, si anak kurang gizi. Bisa dipastikan, fisik dan otak anak tidak akan berkembang secara optimal.

Atas dasar hal tersebut, agar pertumbuhan dan perkembangan fisik serta otak Reihana bisa optimal, masalah gizi menjadi concern yang utama bagi istri saya, setelah bakat dan kemampuan Reihana diketahui. Sehingga untuk memenuhi gizi seimbang tubuhnya, berbagai makanan sehat selalu diusahakan masuk ke dalam tubuh Reihana. Dari mulai karbohidrat yang menjadi bahan bakarnya untuk beraktivitas setiap hari, protein (nabati dan hewani), lemak, vitamin, mineral (makro dan mikro), hingga air minumnya. Nasi, roti, lauk pauk, sayur-sayuran, dan buah-buahan merupakan santapan yang wajib setiap harinya. Dan sebagai pelengkap serta penyempurna, Reihana juga meminum susu. Ya, kami termasuk orang yang masih percaya bahwa susu adalah sumber gizi yang baik. Dan tak ada masalah. Reihana sangat menyukainya. Bahkan jika tidak dicegah, Reihana bisa minum susu bergelas-gelas dalam satu hari.

Isteri saya sangat selektif untuk urusan makanan ini. Dengan usaha keras, dia memberikan pemahaman kepada Reihana akan pentingnya makanan sehat. Setiap hari, sebelum pergi sekolah, Reihana selalu diingatkan untuk jajan makanan bersih dan aman. Dalam seminggu, hampir tiap hari Reihana membawa bekal makanan dari rumah. Isteri saya membuatnya sendiri. Terkadang, Reihana pun dilibatkan. Dari pemilihan bahan bakunya, pengolahannya, hingga penyajiannya. Dan biasanya, jika Reihana dilibatkan, Reihana akan memakan makanan itu dengan lahap. Sesekali, Reihana diperbolehkan jajan di luar, seperti junk food dengan syarat makanan itu harus bersih. 

Awalnya susah memberikan pengertian akan makanan yang bersih dan sehat, akan tetapi dengan pemberian contoh kasus pada teman-teman di sekitarnya yang mengalami berbagai keluhan akibat jajan sembarangan serta dari berita di televisi, lama-lama Reihana mengerti. Walau pun terkadang, Reihana juga masih ‘curi-curi’ untuk jajan makanan tertentu, seperti snack-snack gurih atau pun minuman aneka warna di belakang ibunya. Namun pun demikian, Alhamdulillah, sejauh ini, kesehatan Reihana baik-baik saja. Oh ya, isteri saya juga selalu memberikan pengertian, mungkin bisa dibilang mendoktrin Reihana agar berhati-hati pada makanan murah. Menurutnya, tak mungkin makanan murah itu mempunyai gizi yang baik. Yang ada justru bahan-bahan yang berbahaya. Seperti pemanis buatan, pewarna sintetis, pemutih, pengenyal, dan masih banyak lagi. Kenyataan yang terjadi pada para pedagang yang mementingkan untung daripada kesehatan pembelinya ini sungguh membuat isteri saya sangat paranoid terhadap Reihana.

Faktor lain yang diperlukan untuk membesarkan seorang pemimpin kecil adalah kekuatan spiritual alias agama. Ya, agama merupakan fondasi di dalam kehidupan. Apalagi untuk hidup di zaman seperti sekarang. Dengan berbagai kemudahan teknologi, apa pun menjadi mudah dalam memengaruhi kehidupan. Terlebih bagi anak-anak yang kelak akan menjadi pemimpin negara. Kenyataan yang terjadi dari banyaknya pemimpin yang tidak jujur, korup, serta hal-hal negatif lainnya, menjadikan agama sebagai kebutuhan spiritual yang paling utama.

Untuk hal pendidikan agama, isteri saya tergolong ‘rewel’. Jika pendidikan formal Reihana cukup moderat dengan memasukkannya ke sekolah negeri, maka untuk pendidikan agamanya, dia memiliki kriteria yang sangat kaku. Dan karena hal ini, beberapa kali Reihana keluar-masuk TPA (Taman Pendidikan Alquran) yang berbeda-beda. Dari mulai materinya yang tidak bagus, kemajuan Reihana yang tidak signifikan, hingga gurunya yang terlalu santai, menjadi alasannya. Untuk hal ini pula, isteri saya menerapkan berbagai aturan di rumah yang juga tak kalah kaku. Misalnya saja Reihana boleh bermain game jika sudah setor hafalan surat juz ama; Reihana boleh main dengan temannya jika sudah shalat; murajaah, gali dan lain-lain. Namun meskipun kaku, ketika Reihana berhasil, pujian dan reward kerapkali diberikan isteri saya kepada Reihana.

Semoga Saja…
Berbagai usaha yang maksimal rasanya sudah kami lakukan, terutama isteri saya dalam mendidik dan membesarkan Reihana. Sebagai orang tua tentu semua berharap bahwa segala usaha yang dilakukan itu bisa membuat anak-anaknya sukses di masa mendatang. Iringan doa pun selalu terucap untuk mereka. Dan jelas, sebisa mungkin, kami juga selalu berintrospeksi diri agar bisa menjadi contoh yang baik untuk anak-anak. Ya, semoga saja, usaha nyata, iringan doa, dan keteladanan tersebut bisa menjadikan anak-anak kami orang yang baik. Pemimpin yang baik. Yang mempunyai kemampuan, kompetensi, serta kejujuran yang tinggi itu. Dan pada akhirnya bukan mustahil, para pemimpin kecil ini menjadi pemimpin-pemimpin negeri yang bisa mengantarkan negara pada keadaaan yang lebih baik. Semoga saja. Aamiin….