Tanya Ahli

Kirimkan pertanyaan Anda seputar gizi ibu dan anak, yang akan dijawab oleh Tanya Ahli SGM.

Menyiapkan Mental Calon Pemimpin

Oleh Wylvera Windayana 09 Oct 2013

Saya dan anak-anak beberapa tahun lalu saat di Menado.
         Sejak menjadi seorang Ibu, saya mulai menyadari bahwa pengasuhan anak merupakan peran terpenting. Tanpa kasih sayang dan sentuhan Ibu, seorang anak akan merasakan kepincangan dalam proses pertumbuhannya (terutama mentalnya). Jadi, apa pun kondisinya, seorang Ibu janganlah sekali-kali berkata “lelah” atau “menyerah” dalam proses pengasuhan buah hatinya. Sebab, di tangan ibulah fundamen dasar mental seorang anak bertumbuh. Jika mental Ibu lemah maka bukan tidak mungkin anak akan mudah menyerah menghadapi tantangan hidupnya di masa yang akan datang. Ini yang selalu saya yakini.
            Saya teringat momen lucu dan sekaligus membuat saya berpikir jauh ke depan. Saat itu, saya dan anak-anak sedang makan bersama. Kami berbincang tentang pekerjaan bapak mereka. Lalu, sampailah pada obrolan tentang cita-cita.
            “Adek cita-citanya apa sih?” tanya saya kala itu.
            “Mau jadi presiden atau pemain sepak bola terkenal ya? Masih dipikirin,” jawabnya membuat saya tersenyum.
            “Kalau Kakak?” tanya saya pula ke yang sulung.
          “Jadi dokter presidan atau dokter pemain sepak bola yang terkenal itu saja,” jawabnya membuat saya tak lagi bisa menahan tawa.
      Itulah anak-anak saya. Terkadang obrolan kami membuat saya banyak belajar. Terutama belajar untuk mempersiapkan hari depan mereka.  Sebagai calon pemimpin di masa depan, tentunya saya harus mempersiapkan bekal untuk kedua anak-anak saya (Yasmin Amira Hanan/15 tahun dan Darryl Khalid Aulia/12 tahun).
Selain fisik, pertumbuhan mentalnya perlu saya arahkan agar tetap kuat dan tangguh menghadapi segala aral dan rintangan di kehidupan mereka kelak. Lalu, apa yang harus saya lakukan untuk menjalankan peran sebagai pendamping  pertumbuhan mental anak-anak saya? Tentunya, selain memberikan asupan makanan yang bergizi bagi jasmani mereka, saya juga tak boleh abai dengan asupan yang dibutuhkan oleh rohani mereka. Semua itu bertujuan untuk menopang serta menunjang impian dan cita-cita mereka di masa depan.
Mira dan Khalid saat ini, begitu cepat waktu bergulir.
Dari dua anak yang berjenis kelamin berbeda, lagi-lagi saya jadi banyak belajar. Yang terpenting bagi saya, mereka mampu menjadi pemimpin untuk dirinya sendiri terlebih dahulu. Jika fundamen itu sudah terbentuk secara kokoh, maka bukan tidak mungkin kelak mereka mampu menjadi pemimpin bagi sekelilingnya. Untuk itu saya harus membekali mereka dengan beberapa hal mendasar, seperti yang telah saya lakukan sejak mereka masih berada dalam kandungan hingga sekarang keduanya tumbuh remaja. Saya berharap bahwa proses untuk memperkuat fisik dan mental mereka ini akan terus berjalan hingga mereka memetik hasilnya kelak.
 
Pendidikan Agama.

 

Khalid di Summer Madrasah.
      Sebagai umat muslim, saya sangat meyakini bahwa pendidikan agama merupakan pondasi utama yang harus saya siapkan untuk kedua  buah hati saya. Karena menjadi pemimpin yang baik tentunya harus memiliki pondasi agama yang kuat. Saya tanamkan pendidikan agama kepada anak-anak saya sejak mereka masih berada di dalam kandungan, seperti memperdengarkan lantunan ayat-ayat Al Qur’an, menyimak kajian-kajian agama  yang saya harapkan dapat memberi efek positif pada pertumbuhannya di rahim saya. Setelah mereka lahir dan bertumbuh, saya (dibantu suami) juga mengenalkan mereka kepada Sang Penciptanya. Rasa takut akan dosa  selalu kami tanamkan  agar mereka paham pada apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.
 
Memberikan makanan dengan gizi seimbang.
Ragam menu untuk keluarga racikan saya yang bergantian hadir di meja makan.
           Sejatinya, sebagai seorang Ibu, saya selalu berharap agar makanan yang saya berikan kepada kedua buah hati saya akan memberikan mereka gizi yang cukup dan seimbang. Setiap pagi (sebelum berangkat ke sekolah) saya tak pernah lalai menyediakan sarapan di meja makan. Lauk pauk lengkap tersaji. Ada nasi, sayur, ikan, udang, tempe, tahu, daging sapi, telur atau ayam (ini bergantian saya sajikan). Dilengkapi dengan segelas susu untuk penyempurna sarapan pagi anak-anak saya. Bahkan buah-buahan pun tak pernah lupa saya suguhkan. 
Bekal makan siang di sekolah.
Tetapi, setiap proses tentunya tak selalu mulus seperti keingingan saya. Dalam praktiknya, saya sempat menemukan kegagalan. Putri sulung saya ternyata kurang menyukai asupan sayur dan buah. Dan, saya tidak bisa sedikit keras mengarahkannya untuk mengkonsumsi itu secara rutin. Kondisi ini akhirnya berdampak pada kesehatannya. Dari kegagalan itu saya mau tak mau harus mengubah pola pendekatan. Saya harus pelan-pelan memberikan pengertian bahwa dengan mengkonsumsi sayuran dan buah-buahan, kebutuhan serat di tubuhnya akan tercukupi dan penyakit yang sudah terlanjur mampir di tubuhnya diharapkan berangsur-angsur sembuh. Dan, saya bersyukur karena sejak itu pola makannya berubah drastis. Mira semakin menyadari kesalahannya. Dia tak ingin cita-citanya yang tinggi kandas hanya gara-gara tak suka makan sayur dan buah.
 
Pendidikan formal.
            Ketika anak-anak saya sudah memasuki usia sekolah, saya dan suami memilihkan sekolah berbasis Islam untuk mereka. Enam tahun pertama di masa kanak-kanaknya, kami mengharapkan pola pengajaran yang dekat dengan ajaran agama mereka, bisa tertanam dengan baik. Ketika memasuki jenjang SMP dan SMA, kami lebih membuka pilihan kepada keduanya. Dan, kedua anak saya memilih bersekolah di sekolah negeri dengan mutu sekolah serta pendidikan yang baik pula. Alhamdulillah, Mira sekarang sudah duduk di kelas 10 SMA Negeri 1 Bekasi. Sementara Khalid masih duduk di kelas 8 SMP Negeri 1 Bekasi.
Kiri: Mira (ketika SD) diwawacarai kru tivi di acara Indonesian Science Festival.
Kanan: Khalid (ketika SD) berpidato dalam Bahasa Inggris di depan tamu dari Qatar.
            Sampai saat ini saya sangat bersyukur karena keduanya telah banyak mencetak prestasi, baik di bidang akademis maupun non akademis. Semoga bibit yang saya tanam selalu berbuah manis.
 
Pendidikan non formal (seni dan olahraga).
            Di samping pendidikan formal, pendidikan non formal juga memegang peranan penting terhadap perkembangan otak anak. Justru itu, sejak kecil saya sudah mengenalkan kepada anak-anak tentang pentingnya seni. Saya juga suka mengikutkan mereka di kegiatan menggambar, menulis, menari, olahraga, bermusik,  serta bernyanyi. Hingga saat ini, keduanya masih terus menekuni dunia musik yang mereka gemari. Mira mengambil kursus biola serta sesekali berlatih vokal dan mencoba menguasai permainan keyboard. Sementara Khalid tekun mendalami seni bermain gitar di tempat kursusnya. Untuk kegiatan olahraga, Khalid bergabung di ekstrakurikuler pencak silat sekolahnya. Mira memilih ikut di tim voli sekolahnya. Untuk kegiatan olahraga, kami juga menyempatkan diri untuk berenang, maksimal sekali dalam seminggu.
Kegiatan Mira dan Khalid di luar jam sekolah
Dari semua kegitan yang berbau pendidikan non formal itu, ada satu hal yang membuat saya senang dan bangga pada mereka. Betapa tidak, profesi saya sebagai penulis buku-buku bacaan anak dan remaja, diikuti dan ditiru oleh kedua anak saya. Keduanya saat ini juga terjun sebagai penulis cilik yang telah menghasilkan beberapa karya dalam bentuk novel, komik dan antologi cerita pendek. Saya terharu, karena keduanya mampu menyatukan kegiatan seni, olahraga, menulis dan akademis dengan senang tanpa terpaksa dalam proses pembelajaran mereka.
 
Rasa peduli terhadap sesama.
            Saya dan suami suka mengajak kedua anak-anak kami mengunjungi panti asuhan. Ini kami lakukan hampir sebulan sekali. Di sana, saya sengaja meminta mereka berbaur dengan anak-anak panti. Saya berharap, dari sana kelak mereka bisa merasakan bahwa di luar kehidupan nyaman yang telah  kami berikan, ternyata masih banyak anak yang kekurangan sehingga mereka tak pelit untuk berbagi.
Saat berkunjung ke Darmais, Jakarta (RS untuk penderita kanker).
Tidak sampai di situ, saya juga pernah membawa mereka mengunjungi anak-anak penderita kanker di sebuah rumah sakit. Mereka saya ajak ikut berdialog dengan anak-anak itu.  Rasa empati mereka lambat laun  tumbuh dan menjadi tak lupa untuk tetap bersyukur bahwa mereka diberikan kehidupan yang lebih nyaman dari anak-anak seumurnya. Kepedulian ini yang ingin saya tanamkan sebagai bekal untuk kepekaan mereka terhadap sesama.
 
Budaya malu.
            Sejak kecil, saya juga tak lupa menanamkan tentang budaya malu kepada anak-anak saya. Zaman sekarang banyak orang yang sudah melupakan rasa malu. Karena itu, saya tak ingin anak-anak saya kehilangan rasa malunya agar mereka selalu ingat dan mengerti mana yang pantas dan mana yang tidak pantas untuk dilakukan.
 
Kepercayaan diri dan sikap mandiri.
            Rasa percaya diri dan sikap mandiri sangat diperlukan bagi pertumbuhan seorang anak. Bila anak mandiri, dia akan percaya diri kapan dan dimanapun dia berada. Namun, saya selalu menyadari bahwa kemandirian dan kepercayaan diri pada anak-anak saya tidaklah bisa tumbuh dengan instan. Perlu pendampingan dan proses dari waktu ke waktu. Maka, sejak Mira dan Khalid masih balita, saya tak bosan-bosan menanamkannya.
            Untuk menumbuhkan rasa percaya diri pada Mira dan Khalid, ada beberapa hal yang selalu saya praktikkan hingga saat ini. Pertama, saya berusaha untuk selalu meluangkan waktu memberikan perhatian pada hal-hal yang mereka ceritakan kepada saya. Saya menempatkan diri sebagai teman mereka, berbagi cerita dan keluh kesah. Kedua, saya tak pernah pelit untuk memuji, memeluk serta perlakuan yang menunjukkan kasih sayang kepada mereka. Namun, di sisi lain, saya juga tak pernah ragu untuk melakukan koreksi jika mereka melakukan kesalahan. Saya yakinkan bahwa saya mengoreksi perbuatan mereka yang salah, bukan diri mereka. Ketiga, saya selalu memberi kebebasan kepada mereka dalam pengambilan keputusan walau berisiko sekalipun. Tujuannya agar mereka terlatih untuk bijak dalam mengambil pilihannya. Keempat, saya tak lupa mencontohkan jika saya salah maka saya akan jujur mengakui di depan mereka. Hingga sekarang kedua anak saya juga terbiasa mengakui kesalahannya dan buru-buru memperbaikinya.
            Untuk kemandirian,  salah satu contoh yang pernah saya lakukan adalah memisahkan kamar tidur mereka sejak kecil. Apalagi karena keduanya berbeda jenis kelamin. Sejak dini saya sudah memperkenalkan kepada kedua anak saya bahwa mereka adalah perempuan dan laki-laki. Saya juga mengatakan bahwa dengan tidur di kamar yang terpisah akan membuat mereka belajar mandiri. Awalnya memang sulit (terutama buat Khalid), tapi lama-kelamaan mereka justru semakin merasa bebas mengeksplorasi kreativitasnya untuk menciptakan kenyamanan di kamar mereka masing-masing. 
Dari beberapa pengalaman ini, saya sudah merasakan efek positifnya. Mira dan Khalid tak pernah khawatir jika mereka ikut acara tur atau kamping di alam terbuka pada kegiatan pramuka sekolahnya. Bahkan Mira pernah diminta sebagai ketua regu di acara tersebut, serta banyak pengalaman lain yang merupakan imbas dari apa yang saya terapkan untuk mereka di rumah.
Sebenarnya masih banyak kebiasan positif lainnya yang pernah saya lakukan sebagai ibu mereka. Meskipun tak selalu mulus dan lancar, namun saya tak pernah patah semangat mengulang-ulangnya.
 
Menang dan kalah dalam lomba.
            Kalau untuk lomba, kedua anak saya tidak memiliki kegemaran dan keinginan yang sama. Khalid cenderung tak terlalu suka pada perlombaan. Namun, Mira suka memberi contoh kepada adiknya bahwa dengan mengikuti perlombaan, dia menjadi tahu cara mengukur dan mempersiapkan diri. Dari contoh itu, akhirnya Khalid sesekali mau mengikuti lomba, baik itu di bidang akademis maupun non akademis.
Lalu, saya mendampingi pemahaman mereka tentang kata “kalah” dan “menang”. Perlombaan sejatinya memang untuk mencari kemenangan, tetapi sebelum meraih kemenangan, saya meminta anak-anak saya tetap mempersiapkan diri menerima kekalahan. Awalnya memang sulit, tapi lama-kelamaan Mira dan Khalid paham pada konsep legowo dan menerima kekalahan itu. Satu hal yang selalu saya tanamkan dalam diri saya sebagai Ibu bahwa saya harus tetap menghargai perjuangan dan usaha anak-anak saya, sekalipun mereka kalah dalam perlombaan.
 
Mencintai seni dan budaya bangsa.
Mira dan Khalid tampil di acara UN Day sekolahnya (waktu masih di Amerika).
            Saya pernah merasa begitu bangga kepada kedua anak-anak saya. Meskipun kami pernah tinggal di Amerika, namun kecintaan mereka terhadap seni dan budaya bangsanya tak pernah luntur.  Mira selalu ingat pada lagu-lagu nasional yang suka saya lantunkan di rumah. Maka, pada saat berlatih untuk menyanyikannya bersama teman-temannya di sana, Mira tak menemukan kesulitan. Dia gembira melakukannya. Selain itu, Mira sangat bangga mengenakan kebaya nasionalnya. Sementara, Khalid begitu bersemangat dan gembira memakai kemeja batik, hasil seni bangsanya pada perayaan United Nation Day di sekolah mereka waktu itu. Semoga ini menjadi cikal bakal bagi perkembangan jiwa mereka. Dimanapun  nanti mereka berada dan menjadi pemimpin, mereka akan tetap menjunjung tinggi seni dan budaya bangsanya.
         Itulah beberapa hal mendasar yang sejak dini saya tanamkan kepada kedua buah hati saya. Di samping itu, saya dan suami (sebagai orangtua mereka) juga terus belajar menjadi role model yang baik bagi mereka. Sebab, apa pun yang kami (khususnya saya sebagai ibu mereka) dambakan jika kami sendiri tak pandai memberikan contoh yang baik, mustahil anak-anak kami tumbuh menjadi calon pemimpin yang tangguh.[Wylvera W.]
 

“Peran Ibu untuk Si Pemimpin Kecil” #LombaBlogNOB

1 Komentar

10 Oct 2013 23:31

pemimpin yg hebat berawal dari didikan ibunyg hebat pula :)

Wylvera Windayana

11 Oct 2013 08:26

Aamiin, In shaa Allah ya Kang. Terima kasih, komen ini adalah bagian dari doa untuk kami, terutama buat Mira dan Khalid. :)