Merawat Calon Pribadi Unggul di Tengah Aktivitas Kuliah

Oleh iim Rohimah 12 Oct 2013

me and my baby

Me and My Baby

Betapa bahagia saat buah hati lahir. Tangisan pertamanya memberikan haru tiada tara. Saya telah menjadi seorang ibu. Kebahagiaan itu pun terasa sempurna saat melihat sang buah hati terlahir sehat dan tiada kurang satu apapun. Telapak tangan mungilnya merspon dengan cepat saat disentuh dan menggenggam telunjuk saya dengan erat. Siratan tatap bahagia saya sampaikan tanpa kata ke arah suami yang setia menemani perkembangan bayi kami, sejak dalam kandungan hingga ia terlahir ke dunia.

Wajah ibu bidan turut memancarkan kebahagiaan, lalu dengan senyum ramah nan keibuannya beliau bertanya, “Siapa kira-kira nama bayinya, Mba??”. Saya dan suami saling menatap sekilas, lalu menjawab nama yang telah kami persiapkan sejak si buah hati masih dalam kandungan, “Yazdan Aditya Galih, Bu”.

yazdan usia 1 bulan

Yazdan Saat Usia 1 Bulan

Di Tengah Kesibukan Aktivitas Kuliah

Sempat hawatir, jika merawat bayi dalam kesibukan aktivitas lain seperti kuliah, nanti tidak maksimal. Di tambah lagi, saya akan merawat bayi saya tanpa didampingi orang tua yang sudah berpengalaman. Kebetulan kampus tempat kuliah saya berada di luar kota tempat orang tua kami tinggal. Namun, naluri cinta keibuan membuat Yazdan menjadi hal utama buat saya. Apalagi saya tahu bahwa masa awal usianya sangat menentukan perkembangan anak.

Walaupun begitu, saya yakin pasti bisa memberikan yang terbaik untuk buah hati. Apalagi bayak orang sekitar yang turut serta merawatnya, terutama suami yang selau ada di samping saya dan teman-teman kampus. Orang tua kami pun turut berperan besar dalam perkembangan Yazdan, mereka selalu memberikan nasihat tentang hal-hal terbaik dalam merawat buah hati kami.

Waktu terasa begitu singkat. Kini Yazdan sudah berusia sepuluh bulan. Ia telah tumbuh menjadi bayi yang sehat, ceria, lucu, tangkas, dan pintar. Saya sangat bersyukur, melihat perkembangannya yang baik ini. Semua ini karena selalu memperhatikan asupan gizi dan pola asuh sebaik mungkin.

Selain itu, sejak lahir Yazdan selalu saya ajak bicara, bercanda, dan juga bernyanyi. Walaupun ia belum memahami apa yang saya sampaikan, namun ia nampak tenang, dan kelihatan gembira. Ia pun tumbuh menjadi bayi ideal di usia dua bulan. Ia merespon candaan dengan senyuman dan sahutannya yang lucu. Tangan dan kakinya aktif bergerak dan selalu nampak gembira.

Menyaksikan Perkembangannya yang Menakjubkan

Perkembangannya bertahap sebagaimana mestinya. Ia sudah bisa tengkurap di usia tiga bulanan, merespon dengan tawa dan antusias saat diajak bermain cilukba, dan mulai mengeluarkan kata “papa…mama…dan bapa” saat usia delapan bulan. Meskipun kata ‘papa’nya belum memiliki maksud memanggil ayahnya, dan ‘mama’ belum bermaksud memanggil ibunya, namun itu adalah huruf-huruf yang menjadi bekal untuk bahan berbicara nantinya. Kini di usia sepuluh bulan, Yazdan sudah bisa membunyikan hampir semua huruf abjad secara acak dari mulutnya yang mungil itu, kecuali huruf-huruf sulit seperti “s, q, f, z, r, l, k, v, w, x, dan z”. Saat ini ia sering berbicara dengan bahasa yang tidak saya pahami, misalnya “jujaaagggaaahh…”, ‘deddaaah”, dan lain-lain. Saya hanya menatapnya dengan gemas dan selalu mencoba menanggapi apa yang ia katakan. Ia juga kini sudah mulai belajar berdiri sendiri, dan berjalan sambi l merambat di kursi, meja, atau dipapah oleh saya atau suami saya.

yazdan berbicara pada Ayah

Belajar Bicara dengan Ayah

Meskipun perkembangan Yazdan berjalan sebagimana bayi pada umumnya, namun ada beberapa kelebihan yang sangat saya syukuri. Yazdan sudah nampak komunikatif, senang mengajak tersenyum, dan pandai meniru. Tak ayal ia pun begitu disukai siapa saja yang melihatnya, baik orang tua, maupun anak-anak yang bermain dengannya. Ia selalu mau digendong siapa saja, selalu antusias terhadap orang lain, terutama anak-anak usia 4 tahun ke bawah. Senang memanggil, memeluk, dan menunjukkan keberatan atau kadang menangis saat teman bermainnya pulang ke rumah masing-masing. Saya kira ini merupakan potensi untuk menjadi anak yang pandai bersosilalisasi, tidak minder, antusias dan peduli dengan orang-orang disekitarnya.

Kapandaiannya yang mudah meniru, merupakan potensinya yang lain. Saat dicontohi ‘dadah’ sambil melambaikan tangan,  ia mampu menirunya walau tidak terlalu mirip. Ia dengan cepat mengangkat dua tangannya dan berkata ‘daddaahhh’. Atau misalnya diajak ‘tos’ ia lagsung merespon. Saya memasang telapak tangan yang diarahkan padanya, ia pun segera menepuk tangan saya. Juga saat membunyikan tangan seperti orang yang hendak memberi makan pada seekor burung, ia juga bisa menggesekkan ibu jari dengan telunjuk dan jari tengahnya, walau tidak menghasilkan bunyi. 

Kepandaian itu menambah keyakinan saya bahwa yazdan punya potensi baik untuk unggul dan dapat menjadi calon pemimpin. Pemimpin yang tidak harus berupa kedudukan, atau pangkat. Namun kemampuan mengendalikan orang lain, dapat berkomunikasi dengan baik, senang membantu sesama, berbudi pekerti mulia, dan cerdas.  

Mimpi Selanjutnya  Bersama Yazdan

Kini, di usianya yang baru sepuluh bulan, saya bersiap untuk mengiringi pertumbuhannya selanjutnya. Saya tidak sabar menanti saat ia bisa berbicara, supaya dapat saya bacakan cerita ketika ia hendak tidur. Juga ketika ia belajar berjalan dan berlari, membayangkan ia membawa balon sambil berlari, dan dapat mengayuh sendiri sepeda roda tiganya.

Perjalanan dalam mendampingi perkembangannya tentu masih panjang. Saya harus menyiapkan mental dan banyak ilmu dalam menghadapi perkembangan anak yang mungkin nanti ada fase yang tidak menyenagkan. Juga membangun keluarga yang harmonis bersama suami, karena kondisi psikologis keluarga sangat berpengaruh pada anak. Saya tidak ingin Yazdan menjadi anak yang murung, nakal, atau kurang perhatian dari orang tua. Sebaliknya, saya usahakan mendampingi dan merawatnya agar  menjadi anak yang percaya diri, ceria, bertalenta, komnikatif, dan menjadi pemimpin. Banyak hal yang saya rencanakan untuk mewujudkanya. Mulai dari tempat tinggal, pendidikan, permainan, bahan belajar, pola asuh, dan sebaginya.

Semua itu akan saya lakukan demi buah hati, supaya menjadi calon pemimpin masa depan, dan siap menghadapi dunianya nanti. Semua karena cinta saya pada Yazdan, bayi saya yang lucu. Cinta yang semoga tidak hanya di hati, namun memiliki pengaruh besar dalam hidupnya kini dan nanti.

Berawal dari cinta seorang ibu, maka seorang anak nantinya akan menjadi sosok yang dicintai pula oleh sesama. Cinta yang akan menjadi investasi untuk kebahagiaan yang akan selalu mengiringi jalan hidupnya hingga ia dewasa dan melahirkan generasi selanjutnya. Itu menjadi visi dan mimpi saya untuk Yazdan, apapun dia, apapun yang ia miliki, apapun yang Tuhan berikan untuknya, hal yang selalu saya panjatkan, semoga ia memiliki kemuliaan jiwa, pribadi yang unggul, dan selalu bahagia selamanya.

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog peran ibu untuk calon pemimpin kecil di www.nutrisiuntukbangsa.org

#LombaBlogNUB

Peran Ibu Untuk Si Pemimpin Kecil
Lomba