Tanya Ahli

Kirimkan pertanyaan Anda seputar gizi ibu dan anak, yang akan dijawab oleh Tanya Ahli SGM.

Peran Ibu untuk si Pemimpin Kecil – Pentingnya ASUH-ASIH-ASAH yang tepat (Pengalaman, Kenyataan, dan Harapan)

Oleh Mervin Hadianto 19 Oct 2013

Seorang ibu tentunya ingin anaknya tumbuh sehat dan kelak anaknya menjadi seorang pemimpin dengan segala prestasi membanggakan dan keunikan tersendiri. Saya artikan pemimpin dalam arti luas, anak mampu mengorganisasi dan mengendalikan tingkah laku dirinya (memimpin dirinya sendiri) dan memimpin orang lain, dimulai dari hal yang kecil-kecil, misal memimpin permainan, menjadi ketua kelas, pemimpin/ketua OSIS, dll. Ibu adalah pemegang sentral proses tumbuh kembang anak, ia akan memastikan dukungan terbaik untuk menjadi pemimpin yang mempunyai kapasitas dan karakter berkualitas, sehingga nantinya akan mempengaruhi orang-orang sekitarnya menuju keberhasilan dengan menamankan nilai-nilai yang positif. Secara umum, pola asuh orang tua, terutama ibu, sangatlah menentukan peran anak, dan ada pengaruh pola asuh orangtuanya (kakek neneknya) juga.
Saya hidup dua bersaudara dengan kakak saya yang usianya 5,5 tahun lebih tua, ayah saya guru bahasa Inggris, PNS, diperbantukan mengajar di SMP swasta di Purbalingga, ibu saya ibu rumah tangga dan dagang barang kelontong di rumah (kini sudah almarhum). Saya dilahirkan tahun 1973, pada saat ibu berusia 44 tahun, terus terang saat itu saya tidak mendapat ASI eksklusif, karena ASI kurang, hanya minum susu SGM saat 5 bulan pertama, sebelum diberi MP ASI. Bagi saya hal ini bukan masalah, toh Tuhan telah menganugerahkan kesuksesan pada saya sekarang.
Walaupun pendidikan ibu saya hanya lulus SMP zaman itu, namun ternyata Tuhan menganugerahkan talenta kecerdasan yang hebat pada ibu saya, dan bersyukur saya pun mendapatkan warisan kecerdasan yang berharga dari ibu – persis sesuai penelitian bahwa kecerdasan anak ditentukan 60% dari ibunya. Dari SD sampai lulus dokter, saya ranking 1.
Di keluarga saya ada pembagian tugas antara ayah dan ibu saya, ayah sebagai pemimpin keluarga dan sebagai pencari nafkah utama, sedangkan ibuku sebagai ibu rumah tangga dan jualan barang-barang kelontong di rumah sehingga ibu tentu selalu standby di rumah mengawasi kami. Ayah saya bangun jam 3 pagi, memotong tembakau untuk dijual di toko, dan jam 5 pagi berangkat memancing ikan di sungai samping rumah saya (tiap memancing, pasti dapat ikan yang kami konsumsi bersama, walau sedikit repot karena durinya banyak). Ibuku juga bangun pagi-pagi menyiapkan sarapan dan membereskan dagangan (stok barang, dan rencana kulakan barang). Jam 5 pagi saya biasa bangun pagi secara alami tanpa disuruh karena saya melihat pola disiplin pada kedua orang tua saya. Kadang saya ikut ayah yang memancing di kali, namun bakat memancing tadi tidak menurun pada saya dan kakak saya. Olahraga pagi dilakukan jam 05.30 bersama ayah dan ibu, sering kali dengan jalan pagi. Jam 6.10 mandi pagi, makan pagi, dan berangkat ke sekolah.
Secara umum saya memandang figur ibu saya adalah pendiam, namun sangat sayang pada kami sebagai anak-anaknya, perasaannya halus, namun di balik kehalusannya terdapat ketegasan dan kedisiplinan. Kesan mendalam dekat dengan ibu adalah sampai tingkat SMP, karena saat SMA, saya harus ke Semarang, kos di sana. Kontak per telepon dilakukan seminggu sekali via interlokal karena saat itu belum ada ponsel. Dua bulan sekali saya pulang untuk berkumpul keluarga dan bercanda dan berdiskusi dengan ibu. Saat kecil, sesudah pulang sekolah ibuku selalu menyuruh mandi (siang), makan, dan mengerjakan PR, dan sore hari saya bebas bermain. Kejujuran selalu diutamakan dalam keluarga, walau kadang saya pun nakal pada pembantu dan teman-teman, hal ini bukan menjadi prioritasnya memarahi saya, namun jika ketahuan saya mencuri….habis…deh..pantatku ditabokin, namun sesudah itu saya ingat, saya kembali dinasihati dengan baik, dipeluk dan disayang. Ayah saya saat itu pun seperti “cuek” saat saya dimarahi ibu. Ternyata dengan kecuekan ayah saya kini menyadari bahwa kekompakan memarahi tadi justru berpengaruh baik. Bayangkan jika saat itu saya dimarahi ibu namun disayang ayah, tentu keluar stigma orang tua yang pilih kasih.
Sekarang saya sudah menjadi ayah dari dua anak, dengan istri juga seorang dokter. Tuhan begitu baik, dan hal ini sesuai dengan alkitab dan Mario Teguh: jodoh adalah orang yang sepadan, dan orang baik akan mendapat jodoh orang baik juga. Saya memang dari dulu menginginkan seorang istri yang cerdas dan berpendidikan tinggi, karena dari SMP saya selalu mendengar dari ayah saya bahwa kepintaran saya menurun dari ibu, dan ayah menginginkan istri saya berpendidikan tinggi dan cerdas; dan hal ini sudah terkabul. Saya sangat terkesan pengorbanan waktu, tenaga, kasih sayang istri saya semenjak hamil untuk memenuhi nutrisi terbaik bagi anak saya, dan terlihat saat periode ASI eksklusif pada ke-2 anakku, benar-benar luar biasa pengorbanan ibu untuk memberikan yang terbaik pada anak. Bersyukur kami hidup di NTT, dimana jarak tempuh dekat dan beban kerja tidak berat dan jam kerja pendek membuat ibu punya banyak waktu untuk anak-anak (istriku dokter umum, bekerja di RSUD Kefamenanu, sekaligus merangkap ibu rumah tangga – dan tidak praktik sore). Ibu dengan porsi waktu dominan di rumah memiliki peluang lebih besar menyiapkan putra-putri yang kelak menjadi pemimpin.
Selain itu saya juga sangat selektif memilih baby sitter yang pintar dan banyak omong untuk menstimulasi si kecil saat ibu bekerja di Rumah Sakit. Kami juga haus akan ilmu-ilmu parenting, psikologi anak, dsb. Semua usaha kami kerahkan untuk mengatasi problem pada anak-anak saya dan menjamin tumbuh kembangnya normal, menjadi anak bermartabat, bermoral, sekaligus punya jiwa kepemimpinan.
Kami berusaha keras memberikan semua kebutuhan anak, baik ASUH, ASIH, ASAH, dengan stimulasi tepat dan pendidikan kepemimpinan sejak dini. Berikut usaha-usaha yang kami lakukan dan akan terus diupayakan untuk memberi bekal cukup pada anak saya untuk menjadi pemimpin di masa depan:

ASUH
Kami bekerja keras memberikan semua kebutuhan ASUH anak kami, seperti pakaian, nutrisi, imunisasi, kebersihan badan dan lingkungan, pengobatan bila anak sakit, olahraga, rekreasi, dan bermain.
Nutrisi memegang peran terpenting untuk tumbuh kembang anak. Peran penting nutrisi diantaranya untuk pertumbuhan organ anak mulai dari pertumbuhan organ reproduksi, pertumbuhan fisik sampai pertumbuhan otak anak serta imunitas tubuh sehingga anak tidak mudah sakit yang tentunya dapat mengganggu proses tumbuh kembangnya. Masa emas otak anak berlangsung sejak dalam kandungan hingga mencapai usia 6 tahun, dimana otak telah tumbuh 95%. Puncak masa emas ini terjadi sebelum sampai usia 5 tahun (dulu dikatakan sampai 2 tahun), sehingga sangatlah penting untuk memenuhi nutrisi dan stimulasi yang optimal pada periode ini. Nutrisi yang diperlukan untuk tumbuh kembang otak diantaranya adalah karbohidrat sebagai sumber energi, lemak dan asam lemak untuk energi dan pertumbuhan sel-sel otak, dan protein untuk pertumbuhan sel dan fungsi otak serta perlindungan infeksi. Mikronutrien esensial (kolin, AA-DHA, zat besi, nukleotida, zinc dll) saya perhatikan mulai istri saya hamil, SGM Bunda membantu memenuhi mikronutrien esensial dalam menjalani kehamilan sehat dan otak anak yang cemerlang. Sesudah lahir anakku diberi ASI eksklusif, dilanjutkan sampai dengan 2 tahun dan susu formula SGM Presinutri untuk memenuhi kebutuhan nutrisi penting hariannya. MP ASI berkualitas diberikan kombinasi antara home-made dan MP ASI instan, dan tidak lupa ibu memberikan suplementasi besi sesuai rekomendasi IDAI sejak anakku berusia 4 bulan. Zat besi diperlukan untuk pembentukan selubung saraf (mielinisasi), pembentukan berbagai neurotransmitter di otak untuk komunikasi antar sel saraf, mencegah anemia kekurangan besi, dan imunitas dengan mengoptimalkan superoksida dismutase dari sel neutrofil untuk membunuh virus/bakteri.
Imunisasi lengkap sesuai jadwal rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia saya lakukan untuk anak-anakku, tidak hanya vaksin gratis di Posyandu saja (Polio, Hepatitis B, DTP, BCG, Campak), melainkan seluruh vaksin, termasuk HIB, PCV, Rotavirus, MMR, Varisela, Demam Tifoid, Hepatitis A. Semua itu dilakukan untuk menjamin anak bebas dari penyakit-penyakit berat yang mematikan, membuat kesakitan, dan bahkan cacat akibat radang otak. Biaya vaksin tadi memang tidak sedikit, namun itulah komitmen kami untuk menjaga imunitas anak-anak kami.

ASIH
Sejak hamil, ibu selalu menjaga emosinya agar stabil, tidak kecapaian sehingga ada waktu komunikasi dengan anakku sejak dalam kandungan. Senam hamil, teknik relaksasasi turut membantu menjaga kesehatan ibu. Sesudah lahir kami memberikan rasa aman dan nyaman, perlindungan, perhatian, mendorong, memberi contoh dan penghargaan secara tepat pada anak-anak saya.
Ibu (istri saya) memang rajin belajar seni parenting yang baik (sumbernya dari majalah, buku-buku, internet), dan menerapkan pola asuh moderat/demokratis yang efektif. Ia punya kemampuan menajemen waktu (bekerja sekaligus mengasuh anak), memahami cara berkomunikasi dengan anak yang efektif. Walaupun dulu istriku dididik sangat keras oleh orang tuanya, pola asuh otoriter dengan memarahi, membentak, memukul tidak dilakukannya. Ibu memposisikan dirinya sebagai mitra sejajar dengan anak dalam kegiatan ini sehingga anak percaya diri dan tidak akan merasa enggan/sungkan mengemukakan perasaan dan pendapat pada orang tuanya. Tentu saja hal ini dilakukan dalam konteks etika dan sopan santun. Kami menerapkan teknik parenting terbaik yang dipelajari dari buku karangan Daniel Goleman berjudul “Bagaimana mengajarkan kecerdasan emosional pada anak”. Kami tidak menerapkan pola asuh permisif (mengalah) yang akan membuat anak terus memaksakan kehendak dan sulit menerima penolakan/kritikan dari orang lain.
Keteladanan ibu menjadi hal utama, karena ada peribahasa “buah tidak jatuh jauh dari pohonnya”; yang berarti sikap dan perilaku anak adalah hasil dari “mencontoh” perilaku orang tuanya. Saat awal kehidupan, anak bak “kertas putih” yang akan ditulisi oleh orang tua dan lingkungannya, dengan ke-5 panca inderanya, anak-anak akan menyerap semua informasi, oleh karena itu kami menghindarkan bertengkar di depan anak-anak, selalu kompak antara ibu dan ayah, bersikap arif dan bijaksana, mengutamakan kasih sayang, kebersamaan, musyawarah, saling pengertian dan penuh keterbukaan agar seluruh potensi/talenta anak kami dapat dikembangkan secara optimal untuk menjadi pemimpin yang baik di masa depan.

ASAH (Stimulasi dan Pendidikan)
Selain kasih sayang dan nutrisi, hal yang tidak kalah pentingnya adalah menstimulasi perkembangan otak anak adalah melalui interaksi alamiah ibu dan anak sehari-hari yang dilakukan secara teratur setiap harinya. Stimulasi yang ibu lakukan mengikuti buku panduan terbitan Depkes mengenai “Pedoman Stimulasi, Deteksi Dini Tumbuh Kembang Balita”. Stimulasi tepat akan memberi kesempatan anak untuk belajar dan mengeksplorasi hal-hal baru di lingkungan sekitarnya, dan dilakukan melalui beberapa cara yakni dengan metoda seperti dengar, lihat dan tiru. Aspek-aspek stimulasi adalah motorik kasar, motorik halus, bicara dan bahasa serta kemandirian dan personal sosial, dilakukan dalam suasana senang, riang melalui permainan atau kegiatan yang disukai oleh anak. Siapa pun di rumah kami selalu menstimulasi anak-anak setiap harinya. Berbagai permainan edukasi, CD edukasi, dll, ibu sediakan untuk mengajari anak-anak kami, termasuk belajar dari program edukasi yang bisa didownload melalui komputer/tablet. Permainan tradisional tentu tidak kami lupakan, karena secara psikologis, permainan tradisional banyak mengajarkan stimulasi interpersonal dengan anak-anak lain, inilah keunggulannya dibandingkan edukasi melalui komputer/tablet.
Ibu yang baik menyadari perbedaan cara mendidik anak berdasarkan sifat-sifat anak, apakah melankolis, phlegmatis, sanguin, atau koleris. Anak saya kebetulan punya sifat-sifat koleris kuat, jadi tentunya ibu lebih sabar untuk mendidiknya menjadi lebih sabar dan toleran serta menekan sifat ngotot, mau menang sendiri.
Ibu selalu melatih anak untuk memecahkan masalah sesuai dengan kemampuan perkembangan menurut umurnya. Anakku diajarkan simulasi situasi-situasi sulit agar ia terbiasa mengatasi masalah secara realistis dan memunculkan alternatif solusi sebanyak mungkin; di sini logika anak dilatih dengan mendiskusikan baik dan buruknya tiap solusi tadi.
Ibu juga berperan untuk mengembangkan rasa percaya diri yang sehat, dengan menyediakan waktu khusus untuk memusatkan perhatian pada hal-hal yang disukai anak. Ajak anak untuk ikut berperan dalam mengambil keputusan dalam keluarga, ibu bisa mengajaknya dengan mendaftar hal-hal apa saja yang harus dilakukan, menetapkan beberapa sasaran yang masuk akal, misal dari hal perencanaan menu harian/mingguan, rencana liburan, dll. Mendidik anak bukan sekedar melatih IQ-nya agar setinggi langit, melainkan kesuksesannya adalah jika memiliki kecerdasan emosional dan sosial yang baik. Ibu berperan sebagai kunci kesuksesan anak.
Sekolah yang bermutu. Sesuai dengan anggaran keuangan rumah tangga, seorang ibu tentu ingin anak-anaknya mendapat pendidikan terbaik, anaknya diusahakan masuk sekolah unggulan favorit, menemaninya belajar, memberinya les tambahan untuk mengasah pengetahuan dan bakatnya. Guru-gurunya pun sedapat mungkin yang memahami psikologis perkembangan anak, bukan sekedar mengajar mata pelajaran. Secara naluri, ibu akan memahami cara belajar anak sesuai (misalnya visual/tipe membaca, tipe mendengar, dll) dan bakat anak yang tersembunyi, dan sebagai orang tua ia akan mengarahkan anaknya untuk menggapai cita-citanya sesuai dengan talenta/bakat alamiahnya. Seorang anak yang berbakat komputer, desain grafis, bakat seni yang tinggi, tentunya tidak senang jika dipaksa jadi dokter. Ibu terus mengeksplorasi bakat dan talentanya, mendukung anak-anak untuk mampu bersaing secara sehat, menjadi juara kelas dengan cara jujur, dan hal ini dilakukan selayaknya tanpa pemaksaan.
Sejak hamil 7 bulan, tiap hari, tanpa bosan, ibu menyetel musik klasik Mozart untuk diperdengarkan pada janin sejak dalam kandungan. Musik ini istimewa karena dari penelitian para ahli, mampu menstimulasi hampir semua bagian otak anak secara bersamaan. Otak yang terstimulasi tentunya akan merangsang pembentukan sinaps-sinaps (sinaptogenesis) yang membuat anak cerdas sejak dalam kandungan.

Mendidik anak menjadi pemimpin
Harapan anak saya adalah di masa depan ia menjadi pemimpin yang jujur, kompeten, berpandangan ke depan, menginspirasi, cerdas, adil, berwawasan luas, berani, lugas, dan imajinatif dengan sikap-sikap baik yang melekat (rendah hati, terbuka untuk dikritik, jujur dalam memegah amanah, punya komitmen, bersikap musyawarah, dan tetap berbakti pada Tuhan). Untuk mewujudkan hal itu, tentunya peran ibu sangat istimewa, karena interaksi terbanyak adalah dengan ibu dan ia bertanggung jawab penuh pada stimulasi dan pendidikan anak. Ki Hajar Dewantara memberi 3 langkah membentuk sifat seorang pemimpin yakni melalui slogan: Ing Ngarso Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani.

A. Ing Ngarso Sung Tulada (memberikan teladan)
Tumbuh kembang seorang anak memerlukan figur ibu sebagai pengasuh keluarga. Keteladanan ibu dimulai dari dalam kandungan, ibu hamil dengan emosi yang baik, menyusui dengan gembira, akan menumbuhkan kedekatan anak pada ibu yang akhirnya memposisikan ibu sebagai teladan. Ibu yang emosional, dengan penuh emosi negatif pun sangat berpengaruh pada keteladanan anak, termasuk keteladanan menjadi pemimpin. Anak yang takut orang, tidak berani bicara di depan umum, minder, tidak berani jujur adalah buah-buah keteladanan ibu. Orang tua yang merokok, apalagi seorang ibu yang merokok, pertengkaran hebat di hadapan anak-anak, membuat anak pun ikut mencontoh tingkah laku orang tuanya. Anak-anak adalah pembelajar yang baik karena pada saat itu mereka sangat penuh dengan rasa ingin tahu. Maka sebagai orang tua harus bisa memberi pengertian sekaligus meneladankan perilaku yang baik dan perkataan yang baik dan benar, jujur, menolong sesama, peduli lingkungan, disiplin, sopan santun, rajin membaca, olahraga teratur adalah contoh-contoh hal yang bisa ditiru anak-anak. Ia akan bisa tumbuh menjadi pribadi dewasa yang mengerti mana yang baik, mana yang salah.
Sedini mungkin ibu memberikan pengertian-pengertian yang baik tentang norma-norma baik pada anak-anak, dan ibu selalui mendahului memberikan materi ini sebelum diajarkan guru di PAUD, maupun di TK. Tentunya kami berdua berusaha keras menjalin keharmonisan suami istri di depan anak-anak. Ibu harus selektif memilih guru-guru di sekolah dini (PAUD, TK) karena jika guru-gurunya mudah marah dan hobi memukul, maka hal ini akan dicontoh jelek oleh anak-anak.
Buku-buku biografi menjadi sumber untuk materi dongeng sebelum tidur, keteladanan para tokoh pemimpin yang sukses baik tokoh dalam negeri maupun luar negeri saya percaya, mampu masuk ke alam bawah sadar anak saya (hipnoparenting) yang nantinya akan menjadi motivasi dan ditiru; visi, imajinasi dan kreativitas anak pun akan berkembang dengan alami.
Anak-anak saya diajari untuk berani mengemukakan pendapat dan mengambil keputusan yang baik. Jika anak mampu berhasil dalam tindakan memimpin, kami puji ia dengan tulus. Anak yang mampu mengambil keputusan sendiri untuk menentukan tujuan dan proses pencapaian tujuan, ia sebenarnya mulai mampu memimpin dirinya sendiri.
Walaupun kami sebenarnya sudah cukup dari segi materi, namun kami tetap mengajarkan hemat, dan bekerja keras. Ibu tidak pernah memanjakan anak-anak, membereskan mainan dan tempat tidur dilakukan oleh anak kami sendiri, bukan menyuruh pembantu. Anak-anak dikondisikan untuk “menderita dulu” sebelum menuai hasilnya. Tentunya ibu nantinya tetap mendukung anak untuk berlatih teknik-teknik leadership sesuai kemampuan umurnya.

B. Ing Madya Mangun Karsa (memberi semangat)
Kadang anak diberi tugas yang super berat di sekolah dan ia bisa jadi “jatuh stress” jika tidak mendapat bantuan. Peran ibu sangat penting dalam hal membangkitkan semangat, dan giat membantu anak untuk memberi motivasi di kala anak jatuh, nilai ulangan harian jelek, saat sedih habis di-bully temannya, dsb. Sejak dini ibu mengajarkan anak untuk berani dan tidak minder dalam melakukan tindakan kepemimpinan, misalnya jadi ketua regu/ketua kelas, mengatur barisan anak-anak lainnya, berani maju duluan untuk imunisasi Diphteri Tetanus (DT) saat SD tanpa menangis, dll, agar mereka mampu mempraktekkannya di rumah maupun di tempat lain. Empati dan emosi yang tepat dari ibu sangat mempengaruhi perilaku anak di masa depannya. Ia pun belajar memotivasi diri dan teman-temannya untuk sukses.

C.Tut Wuri Handayani (mendorong dari belakang)
Sifat pemimpin yang baik adalah mampu mendorong anak buahnya maju. Seorang ibu adalah pendorong anak agar berani untuk maju melakukan sesuatu yang baru. Cara paling mudah adalah ibu menghadiri penerimaan raport anak, menyaksikan anak tampil ke depan. Anak akan lebih percaya diri saat tampil, dan figur orang tua yang mendorong anaknya tampil percaya diri ini akan melekat selamanya dalam alam bawah sadar si kecil. Dorong terus, dan biarkan anak tampil ke depan untuk mengemukakan gagasan/pendapat. Ibu yang baik akan menghargai anak. Jika suatu ketika anak sedang ngambek, perubahan perilaku, biasanya karena mungkin ia sedang sakit.
Rasa takut adalah sesuatu yang sangat mengganggu psikologis anak untuk menjadi pemimpin. Seorang anak dilahirkan dengan tidak ada rasa takut. Rasa takut itu mulai muncul ketika lingkungan mulai memasukan stigma ketakutan dengan kata-kata “jangan, awas”. Ibu selalu diskusi tiap anak pulang sekolah mengenai apa yang dipelajarinya, terutama untuk menghilangkan stigma ketakutan yang didapat di sekolahnya dan akan mendorong dan memotivasi mereka untuk berani dan percaya diri. Pengalaman nak saya pernah ketakutan luar biasa terhadap cicak, hal ini ternyata karena pengaruh teman-teman perempuannya yang benar-benar ketakutan saat melihat cicak, ibu pelan-pelan mengubah rasa ketakutan anak itu. Di masa depan ibu selalu akan mendorong anak-anak untuk ikut lomba-lomba untuk mengasah keberanian dan kepercayaan dirinya, dan jika kalah teruslah dimotivasi untuk mencoba lagi dan berikan harapan terus menerus. Tentunya jika ia kalah karena ketidakjujuran juri atau peserta lain, perlu tetap diberi dorongan agar ia tetap konsisten mengikuti lomba dengan jujur.

Doa dan Bekal keimanan
Doa bersama dalam keluarga bersama anak-anak senantiasa kami lakukan, mengenalkan si kecil untuk pintar berdoa, membaca kitab suci, dan mengenal Tuhan “secara lebih dekat” membuat pondasi kuat untuknya mencapai cita-cita sebagai seorang pemimpin.

Simpulan
Bagi kami, rumah adalah lingkungan mikro yang merupakan sekolah pertama bagi anak-anak saya dengan sosok ibu sebagai pendidik utama. Untuk membentuk karakter pemimpin yang baik di masa depan, pasti terkait masalah hubungan ibu dan anak. Ibu (istriku) adalah pintu/garda terdepan dalam menyiapkan bekal kepemimpinan sejak dini. Anak diibaratkan kertas putih tak berwarna, kitalah (orang tua) yang memberi goresan dan lukisan sehingga tergambar sesuatu seperti yang kita harapkan. Potensi tersebut akan dorman jika tidak ditopang oleh peran orang tua, terutama ibu, yang membentuk karakter kepemimpinan seorang anak. Ibu tetap punya tanggung jawab dan selalu menjadi orang terdekat untuk anak-anakku; mendapatkan porsi paling besar dalam pembentukan karakter si pemimpin kecil. Pola asuh-asih-asah dan berkat Tuhan senantiasa, kami percaya mampu mewujudkan harapan kami terhadap cita-cita si kecil jadi pemimpin di masa depan.

#lombablogNUB
Twitter: @mervintrih
Facebook: https://www.facebook.com/MervinTH?ref=tn_tnmn (Mervin Tri Hadianto)
Link artikel di blog pribadi: http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=64526858799092397#editor/target=post;postID=2838887131893850629;onPublishedMenu=allposts;onClosedMenu=allposts;postNum=0;src=postname

1 Komentar

Maulana Muhammad Jibril

19 Oct 2013 11:33

keren gan :) mampir sini juga ya ~> http://nutrisiuntukbangsa.org/orang-tua-adalah-pencipta-jati-diri-anak-hati-hati-saat-ibu-mengidam-lombablognub/ Blogger yang baik selalu meninggalkan Jejak :D