Tanya Ahli

Kirimkan pertanyaan Anda seputar gizi ibu dan anak, yang akan dijawab oleh Tanya Ahli SGM.

SEHAT CERDAS UNTUK PEMIMPIN KECILKU

Oleh Sugi Hartati 13 Oct 2013

SEHAT CERDAS UNTUK PEMIMPIN KECILKU

By Sugi Hartati

Setiap anak terlahir untuk menjadi seorang pemimpin. Baik pemimpin bagi dirinya sendiri, pemimpin kelompoknya, maupun pemimpin dalam cakupan yang lebih luas. Oleh karenanya anak disebut pula sebagai pemimpin kecil. Menghantarkan anak untuk menjadi pemimpin, “Peran Ibu Untuk Si Pemimpin Kecil” sangatlah dibutuhkan. Harapannya agar kelak ia menjadi anak yang mampu berbakti pada orangtua, sehat, cerdas, berguna bagi Agama, Masyarakat, dan Bangsa.

Mengupayakan anak agar tumbuh dan berkembang secara sehat dan cerdas, sama halnya mencetak generasi berpotensi dengan jiwa pemimpin. Kreatif, imajinatif, mandiri, dan percaya diri.

Demi meraih harapan di atas, sebagai seorang ibu saya selalu memperhatikan dua hal, yaitu menjaga kesehatan dan stimulasi.

Kesehatan diperolah dari pemenuhan gizi secara seimbang. Bagaimanapun juga syarat anak menjadi cerdas adalah harus sehat. Karena kondisi sehat akan menunjang aktivitas kreatifnya. Karena jika kebutuhan nutrisinya kurang, maka sel-sel di dalam tubuh anak akan mengalami hambatan. Tentu saja pertumbuhan dan perkembangan otaknyapun juga mengalami hambatan.

Kesehatan berpengaruh terhadap kecerdasan anak. Erat kaitannya dengan body defens. Yaitu, bahwa daya tahan tubuh yang kuat akan menjaga organ-organ tubuh dari serangan bakteri dan kuman penyebab sakit.  Dan nutrisi tidak hanya dibutuhkan sebagai pertumbuhan sel saraf otak, tetapi juga berperan dalam penyimpanan memori, berpikir, berbicara, dan rangsangan sensorik.

Demi memenuhi kebutuhan ini, selain menyiapkan makanan sehat saya selalu memberikan segelas susu pada pagi hari setelah sarapan, dan pada malam hari sebelum tidur. Karena di dalam susu terkandung sumber makanan pokok yang dibutuhkan pada masa perkembangan otak anak, yang meliputi makronutrien dan mikronutrien. Makronutrien dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah yang banyak, contohnya karbohidrat, protein serta lemak dan asam lemak. Sedangkan mikronutrien kelompok nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah yang lebih sedikit. Meliputi vitamin A, B, C, D, E dan K. Serta unsur-unsur mineral dalam bentuk kalsium, natrium, kalium, bikarbonat dan zinc.

Asumsi saya, susu sebagai pelengkap pemenuhan nutrisi yang dibutuhkan anak. Karena pada pagi hari, kadang-kadang sarapan anak-anak tidak terlalu banyak, sehingga harus dilengkapi dengan susu. Sementara pada malam hari, biasanya anak-anak tidurnya akan lebih tenang setelah minum segelas susu. Sehingga pertumbuhan dan perkembangan otaknya saat mereka terlelap bisa optimal.

Selain kesehatan, pemberian stimulasi tak kalah pentingnya bagi pertumbuhan dan perkembangan otak. Stimulasi mencakup segala sesuatu yang diterima anak secara psikologis. Meliputi pola asuh, kebiasaan-kebiasaan, serta segala kegiatan yang dilakukan dengan melibatkan anak.

Berkaitan dengan pola asuh, dan kebiasaan-kebiasaan, setiap orangtua memiliki cara berbeda-beda. Pola asuh maupun kebiasaan yang baik adalah anak akan merasa dihargai dalam setiap kemampuan yang diwujudkannya. Anak merasa nyaman dan bahagia di tengah-tengah keluarga. Anak tidak merasa tertekan akan tugas dan tanggung jawab yang diberikan orangtua. Anak juga memiliki kebebasan dalam mengekspresikan segala potensinya tanpa terhambat oleh tekanan orangtua.

Jadi stimulasi ditujukan sebagai penunjang pengembangan potensi yang dimiliki oleh anak. Biasanya stimulasi berkaitan dengan semangat dan kreativitas dari orangtua.

Melalui pola asuh dan stimulasi inilah, maka terbentuk karakter. Dimana seorang ibu akan merasa bangga suatu ketika saat melihat anaknya melakukan hal-hal yang mengarah pada prestasinya/ ekspresi dari kemampuannya.

Seperti yang pernah saya alami. Ketika itu, gurunya si sulung (kelas V SD) bercerita, “Bu, Mas Davesh hari ini hebat. Sangat semangat, berorasi di depan kelas tentang misi dan visinya jika terpilih menjadi ketua kelas”. Dan Alhandulillah, akhirnya iapun terpilih.

Sebelumnya saya tidak mengira bahwa anak saya berani mencalonkan diri untuk menjadi ketua kelas. Di sini ketua kelas ternyata tidak ditunjuk oleh guru, akan tetapi siswa diperbolehkan mencalonkan diri. Lalu para calon diminta menyusun program-program yang akan dijalankan jika mereka terpilih. Program tersebut mencakup misi dan visi dari para calon ketua kelas. Melihat kenyataan ini sedikit banyak saya merasa bangga. Bangga karena ia memiliki kepercayaan diri yang tinggi telah berani tampil di depan.

Besar kemungkinan, potensi tersebut berasal dari stimulasi-stimulasi yang saya berikan. Saya menginginkan anak-anak menjadi generasi yang percaya diri, mandiri, dan bertindak cerdas dalam mengambil keputusan. Kira-kira stimulasi apa yang saya lakukan?

Sejak kecil kebiasaan yang sering saya lakukan saat anak-anak ulang tahun adalah memberikan hadiah. Hadiah yang saya berikan tidak mahal. Biasanya hanya berupa mainan ataupun makanan kegemarannya yang harganya relatif murah. Mungkin orang lain akan bertanya, mengapa saya hanya memberikan sebatang coklat yang tidak terlalu besar sebagai kado di hari istimewanya? Mengapa bukan barang-barang yang spesial, mengingat moment tersebut hanya terjadi satu tahun sekali?

Saya memiliki alasan begini. Sebenarnya yang utama adalah bukan kadonya atau hadiahnya. Tapi suasana yang begitu hangat dan penuh kasih sayang yang ingin saya tonjolkan. Sehingga kelak yang teringat olehnya adalah begitu besarnya perhatian dan kasih sayang orangtua yang tercurah padanya. Bukan pada besarnya materi yang diberikan. Tetapi pada bentuk ungkapan sebuah cinta.

Kado yang bukan barang mahal, adalah sebagai simbol sebagai suatu kesederhanaan. Saya ingin memberikan contoh padanya bahwa meski dalam situasi dimana kita ingin dianggap spesial atau suatu hari yang memungkinkan buat kita untuk bisa menikmati segala kelebihan/ kemewahan, kita harus tetap hidup secara sederhana. Dalam arti tidak berlebihan. Sikap ini yang saya harapkan sebagai sarana untuk mengantisipasi, kelak jika mereka telah dewasa dan bertindak sebagai pemimpin, tidak akan goyah dengan segala peluang yang ada atau bentuk kemewahan yang ada. Namun seorang pemimpin yang sederhana. Karena jika dalam diri seseorang telah tertanam gaya hidup sederhana, maka orang tersebut tidak akan selalu menginginkan yang lebih dan lebih lagi. Ini untuk menghindari adanya tindakan pemimpin yang korupsi.

Saat memberikan hadiah, meski hanya coklat atau mainan yang tidak terlalu berharga, saya tetap ingin moment tersebut menimbulkan kesan baik terhadap anak-anak sekaligus sebagai sarana stimulasi perkembangan potensinya.

Caranya, saya membuat sebuah bentuk permainan atau game. Bentuk permainannya adalah, saya akan membuat suatu tugas ringan yang menantang. Tugas saya tulis dalam beberapa lembar kertas yang sebelumnya saya sembunyikan tanpa sepengetahuan anak. Lalu ia akan membaca dan mengikuti petunjuk seperti yang tertulis dalam kertas, dan mencari kertas yang tersembunyi. Anak harus bisa menemukan seluruh kertas yang telah saya sembunyikan tersebut. Dan dilembar kertas terakhir itulah sebagai petunjuk, bahwa hadiah tersimpan dimana. Saat menemukan hadiah tersebut, anak-anak biasanya akan bersorak dengan sangat senangnya karena berhasil menyelesaikan tantangan yang saya buat, sekaligus menemukan hadiah.

Proses menemukan hadiah itulah yang akan menimbulkan kesan mendalam. Sekaligus sebagai stimulasi mengasah potensi yang dimilikinya. Bagaimana ia harus memenejemen waktu karena dikertas tersebut saya tulis waktunya harus sekian menit. Sehingga harus dilakukan dalam waktu cepat. Adanya rasa bangga karena ia telah berhasil menyelesaikan sebuah persoalan yang tentunya akan melatihnya, bahwa dalam bertindak haruslah sabar, dan dengan pertimbangan atau perencanaan yang matang. Adanya rasa saling menyanyangi yang erat, karena dalam permainan tersebut saya membuatnya sedemikian rupa sehingga seluruh anggota keluarga terlibat, termasuk adiknya yang masih bayi. Contohnya (salah satu tugasnya): buatlah dengan caramu bagaimana agar adik tersenyum. Maka dengan segala aksinya ia akan berusaha membuat adik bayinya tersenyum. Dan anggota keluarga yang lain akan mensuportnya ketika ia belum berhasil membuatnya tersenyum. Sekaligus bersorak membanggakannya ketika adiknya berhasil tersenyum.

Dulu juga pernah ketika masih kelas I SD, gurunya memujinya. “Mas Davesh pandai bercerita Bunda. Tadi teman-temannya terlihat kagum melihat gaya berceritanya. Saya tidak mengira Mas Davesh melakukannya dengan baik, ketika saya menawarkan pada anak-anak untuk mengisi jam kosong dengan kreasinya di depan kelas. Ternyata hanya Mas Davesh yang berani mengisi waktu untuk maju ke depan kelas dengan bercerita”.

Rupanya kebiasaan saya mengajaknya bercerita menjelang tidur tertanam dalam dirinya. Bahwa bercerita itu tidak sekedar kita mengungkapkan apa yang ada dalam pikiran kita, akan tetapi bagaimana kita bisa mencari cara agar orang yang mendengarkan cerita kita bisa memahami.

Biasanya ketika akan tidur anak-anak saya berikan sebuah cerita. Cerita ini saya olah dengan kreasi saya agar pesan yang ingin saya sampaikan padanya tertangkap oleh anak-anak. Misalnya saya ingin menyampaikan bahwa kita harus rajin membaca, maka saya akan bercerita yang tokohnya rajin membaca dan menjadi seorang yang berprestasi berkat membacanya.

Bukan hanya itu. Dalam kesehariannya saya akan berusaha mempergunakan waktu untuk bersamanya menjadi sebuah pertemuan yang berkualitas. Tidak sekedar duduk bersama menonton televisi. Akan tetapi waktu bersamanya lebih sering saya jadikan ajang  berdiskusi. Diskusi tentang apa saja. Bisa tentang sekolah, pelajaran, teman, buku bacaan, maupun tentang sajian televisi yang telah ditontonnya.

Kebiasaan diskusi ini tujuan saya agar kelak sebagai pemimpin ia akan mampu bersikap lebih bijaksana. Jadi tidak memaksakan kehendak sendiri. Semua melalui proses musyawarah, demi terncapainya keputusan yang adil.

Sementara hari libur Sabtu atau Minggu, biasanya saya gunakan sebagai penyegaran dan pemulihan semangat. Biasanya saya mengajak anak-anak untuk belanja buku. Mereka akan saya berikan budget tertentu untuk memilih buku kesukaanya. Dari sini secara tidak langsung anak belajar logika matematika.

Selain toko buku, tak ketinggalan kami ajak berkunjung ke rumah sanak saudara. Tujuannya agar anak-anak mampu menjalin keakraban dan mempererat tali persaudaraan.

Itulah beberapa stimulasi yang saya terapkan pada anak-anak dalam mempersiapkannya menjadikan mereka seorang pemimpin yang adil, sabar, jujur, disiplin, sederhana dan penuh cinta. Semoga.

Info lomba:

http://nutrisiuntukbangsa.org/lomba-penulisan-blog-peran-ibu-untuk-si-pemimpin-kecil/

2 Komentar

Sugi Hartati

24 Oct 2013 10:46

Maaf Min, saya baru sadar, saat mendaftar kemarin saya memakai alamat email yang berbeda dengan blog saya. Ini alamat blognya: http://nutrisiuntukbangsa.org/sehat-cerdas-untuk-pemimpin-kecilku/

14 Oct 2013 02:20

Menjadi Ibu adalah pembelajaran tanpa henti

Sugi Hartati

18 Oct 2013 16:17

Iya Bunda, Memang betul. Ibu harus aktif menambah pengetahuan, harus kreatif mengembankan pengetahuan, dan imajinatif mengaplikasikan pengetahuan. Jempol buat para Bunda yang mau melakukan pembelajaran tanpa henti...