Tanya Ahli

Kirimkan pertanyaan Anda seputar gizi ibu dan anak, yang akan dijawab oleh Tanya Ahli SGM.

Si Jago Kandang yang Kian Cemerlang

Oleh Nia K. Haryanto 19 Oct 2013

“Mi, waktu kecil cita-citanya apa sih?” tanya Radit sepulang sekolah, sewaktu dia masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak.
“Dokter,” jawab saya. “Eh, kok nanya cita-cita. Tadi ditanya ibu guru di sekolah?” saya balik bertanya.
“Iya,” jawab Radit pendek.
“Radit jawab apa?” tanya saya lagi.
“Enggak jawab apa-apa. Malu!” Radit terdiam.
“Kok malu?” saya terheran.
Radit cuma tersenyum.

Percakapan kami mengenai cita-cita Radit waktu itu, adalah kali yang pertama. Sebab sesudahnya, Radit menjadi sering bercerita kepada saya mengenai hal yang sama. Sebelum ditanya ibu gurunya tempo hari, Radit pernah mengutarakan ketertarikannya untuk menjadi seorang astronot. Keseruan saat bisa melihat bintang dan juga bulan secara langsung, konon menjadi alasan dia.

Begitu masuk kelas 1 SD, cita-cita Radit berubah lagi. Kekaguman dia akan sosok seorang pilot yang bisa menerbangkan pesawat terbang, membuat dia ingin menjadi orang yang serupa. Ya, seorang pilot. Menurutnya, sambil mengemudi alat yang hebat, dia bisa sekalian keliling dunia.

Hobi Radit dalam bermain game ternyata juga memengaruhi cita-citanya. Tanpa banyak berpikir, dalam sebuah percakapan, dia menyatakan perubahan cita-citanya itu. Lagi-lagi alasannya hampir sama. Membuat game akan sangat mengasyikkan. Dan katanya, dia akan membuat game-game impian yang selama ini sangat diinginkannya.

Cita-cita dan Mimpi, Sebuah Awal Stimulasi
Begitulah Radit, putera kedua saya. Anak ekspresif yang segala sesuatunya selalu dikomentari dan diceritakan dengan detail. Berikut alasan, tujuan, hingga cara-caranya. Seperti uraian di atas tadi. Saat menceritakan cita-citanya, dia menjelaskannya satu persatu. Dari alasan dia mengubah cita-citanya, tujuan dia mengubah cita-citanya, hingga ke cara-cara dia menggapai dan menjalani cita-cita yang dikehendakinya itu. Tak hanya soal cita-cita, kejadian sehari-hari bahkan mimpi yang dialaminya saat tidur selalu diceritakannya secara rinci.

Awalnya saya bosan dan capek dengan apa yang dilakukannya, tapi perlahan-lahan, saya menyadari bahwa kebiasaan Radit itu justru sebuah kelebihan yang belum tentu dimiliki anak-anak lain. Dan setelah itu, saya malah menjadi lebih sering menstimulasi dia untuk bercerita mengenai banyak hal. Aktivitas di sekolahnya, game yang dimainkannya, mimpi-mimpinya, keinginannya, hingga pandangan dia mengenai masa depan. Dan ternyata benar, Radit menyukainya dan semakin aktif dalam mengutarakan apa yang ada di dalam hati dan pikirannya.

Si Penyuka Sains yang Super-Aktif

Sejak kecil, Radit sudah menyukai hal-hal yang sifatnya Sains atau ilmu pengetahuan alam. Begitu masuk sekolah, ketertarikannya pada hal-hal berbau Sains semakin meningkat. Jika sebelumnya, pertanyaan yang terlontar dari mulutnya hanya seputar kenapa dia harus makan, kenapa dia bisa tumbuh besar, dan hal-hal yang dekat dengan kehidupannya, setelah sekolah, pertanyaannya ‘naik kelas’, menjadi apa sih galaksi itu, bagaimana cara kerja sebuah mobil, bagaimana internet itu bisa berfungsi, dan lain sebagainya. Tak heran, berbagai buku Sains yang ada di rumah menjadi bacaan favorit yang dilahapnya di kala waktu senggang.

Selain menyukai Sains, Radit juga cerdas secara fisik. Di sekolah, selain pelajaran Sains, dia sangat menggemari pelajaran olahraga. Dari mulai senam, lari, lompat, berenang, hingga olahraga permainan. Di rumah juga begitu. Jika kami lupa mengajaknya untuk berolahraga, dia tak segan-segan untuk memintanya. Meskipun itu cuma untuk sekadar berjalan-jalan pagi di hari minggu.

Tapi, Radit Itu Sangat ‘Jago Kandang’
Radit memang sangat aktif, ‘bawel’, dan suka Sains. Tapi, minat, bakat, dan kemampuannya ini hanya diketahui orang-orang rumah dan keluarga dekat saja. Saya, ayahnya, kakaknya, kakeknya, neneknya, sepupu, dan juga paman-bibinya. Selain kepada kami, Radit cenderung diam. Di sekolah, di lingkungan sekitar rumah, atau di mana pun selain di rumah, Radit banyak disebut sebagai anak yang pendiam. Karenanya, saya menyebut dia sebagai ‘Jago Kandang’.

Sifat Radit yang satu ini bisa disebut sebagai kelebihan sekaligus kekurangannya. Sebagai kelebihan, sifat ‘jago kandang’-nya ini membuat dia tak pernah membuat masalah di luar rumah. Ada pun sebagai kekurangan, sifat yang satu ini membuat bakat Radit tidak terlihat maksimal di depan orang-orang. Terlebih di sekolahnya. Dan karena hal ini pulalah, prestasi Radit di sekolah tak bisa maksimal. Memang masuk peringkat 10 besar. Tapi sebagai ibunya, saya tahu dengan benar bahwa Radit bahkan bisa jadi juara pertama. Sifat ‘jago kandang’ ini juga seringkali membuat Radit menahan emosi. Sebab apa pun yang dirasakannya di luar rumah selalu bisa dia tahan. Tapi saat di rumah, emosi itu seringkali menjadi hal yang ‘meledak-ledak’. Sungguh membuat dilemma.

Mengasah Si ‘Calon Berlian’
Dua sisi mata uang. Seperti itulah kehidupan semua manusia. Ada sisi positif tapi juga mempunyai bagian yang negatif. Pun demikian juga dengan Radit. Si super-aktif, penyuka Sains, tapi sangat jago kandang. Hal ini memang membuat sedikit sedih. Tapi lagi-lagi, sebagai ibunya, saya tidak boleh terlalu membesar-besarkan kekurangannya. Sebab sisi positifnya jauh lebih banyak dan bisa menjadi ‘harta’ yang cukup berharga sebagai bekal di kehidupan Radit selanjutnya.

Seiring bertambahnya waktu, sifat pendiam dan pemalu Radit di luar rumah ternyata semakin berkurang. Perlahan-lahan, dia sudah mulai berani mengungkapkan dan menunjukkan bakat-bakatnya di luar rumah. Sungguh, saya tak pernah menyangka, beberapa cara yang dilakukan saya dan orang-orang yang di dekatnya bisa membuat Radit berubah. Dan berbekal dari hal itu, kini saya dan keluarga mulai membuat ‘rancangan tidak tertulis’ yang bertujuan untuk memaksimalkan potensi dan kemampuan yang dimiliki Radit. Termasuk menghilangkan gelar ‘jago kandangnya’ itu.

Berikut ini beberapa cara yang saya dan keluarga lakukan dalam ‘program’ mengurangi sifat pemalu dan memunculkan rasa percaya diri Radit.

  • Selalu memberikan pujian dan penghargaan atas sekecil apa pun prestasinya. Dengan begitu, kepercayaan dirinya meningkat. Dan pada akhirnya, percaya diri untuk menunjukkan kemampuan dan prestasinya berkembang tidak hanya ketika bersama saya atau keluarga saja, tetapi juga ketika berada di luar rumah.
  • Menstimulasi bakat-bakat lain yang ada di dalam diri Radit, sehingga dia mempunyai banyak bakat yang bisa semakin menambah rasa percaya dirinya. Cara-cara menstimulasinya bermacam-macam. Dari mulai rekreasi ke tempat edukatif, bermain di alam, memasak bersama, bermain game interaktif, mengerjakan pekerjaan rumah bersama, bermain puzzle, bermain teka-teki, bermain peran, mendongeng, bernyanyi, menggambar, main tebak-tebakan, mengaji bersama, mengikuti lomba, memberikan tantangan, dan masih banyak lagi.
  • Berusaha sesering mungkin bermain di luar rumah agar Radit terbiasa, merasa nyaman, dan tidak canggung dengan lingkungan di luar rumah.
  • Mengenalkan dan mengajak teman-teman sebaya Radit untuk bermain bersama. Tak hanya teman sebaya di sekitar lingkungan rumah, terkadang, saya juga mengajak teman sekolahnya ke rumah. Hal ini dilakukan agar Radit bisa tahu seperti apa suka-dukanya mempunyai teman sebaya yang bisa diajak bermain selain keluarganya. Bergaul dengan teman sebaya pun akan membuat Radit terbiasa memecahkan masalahnya sendiri.
  • Membawakan Radit bekal makanan yang banyak ke sekolah. Sebab makanan ternyata cukup efektif bagi Radit sebagai stimulasi pembuka interaksi dengan teman-temannya. Ya, awalnya Radit menawarkan makanan bekalnya itu kepada teman-temannya. Dan ketika teman-temannya menerima, mereka jadi bisa berinteraksi lebih jauh.
  • Memberikan pengertian kepada Radit mengenai berbagai kelebihannya dibandingkan teman-temannya. Hal ini agar Radit tidak minder dengan teman-temannya. 
  • Menanamkan prinsip kesetaraan manusia. Ya, saya sering bercerita, biasanya melalui cerita dongeng, kepada Radit bahwa pada dasarnya, manusia itu sama. Manusia terlahir dalam keadaan yang sama, mempunyai kedudukan yang sama, serta posisi yang sama di hadapan Tuhan. Tak ada alasan bagi Radit untuk malu dan rendah diri.
  • Memberikan kesempatan kepada Radit untuk mengeluarkan emosinya di mana pun. Termasuk marah atau kesal kepada teman-temannya. Asalkan tidak berlebihan, seperti tantrum atau pun ‘bermain fisik’. Di sana saya berikan penjelasan bahwa marah itu adalah sifat yang manusiawi. Jika pun Radit takut kehilangan teman jika dia marah pada mereka, sebagai teman yang baik, mereka pasti akan memaafkan. Toh mereka juga pernah marah dan Radit mudah memaafkan mereka. Saya juga menanamkan nilai bahwa marah merupakan bentuk pembelaan terhadap diri sendiri dan ketidaksetujuan terhadap hal-hal yang dianggap salah atau tidak sejalan. 
  • Melakukan berbagai hal dengan cara yang persuasif. Dan cara yang paling efektif bagi Radit adalah dengan cara bercerita atau mendongeng hal-hal yang mirip dengan masalah yang sedang dihadapinya. Dari sana, Radit bisa menyimpulkan sendiri solusi di dalam mengatasi permasalahannya. Menyuruh Radit secara paksa atau terang-terangan, jelas-jelas sangat tidak disukai Radit. Bukannya menurut, dia malah bisa melakukan hal yang sebaliknya kita suruh.
  • Dream coaching atau mengarahkan mimpi dan cita-cita Radit. Ya, cara ini juga saya lakukan meskipun belum terarah layaknya dream coach profesional. Hal ini saya lakukan secara sering, sebab ternyata ketika saya bercerita mengenai berbagai hal tentang mimpi-mimpi, keinginan, dan juga cita-citanya, Radit terlihat sangat bersemangat sekali. Dan setelah itu, rasa percaya dirinya bisa naik berkali-kali lipat. Termasuk saat bersama teman-temannya. Tak jarang, semangat Radit untuk bercerita mengenai mimpi-mimpi serta cita-citanya ditunjukkan di depan teman-temannya. Dan teman-temannya pun melakukan hal yang sama. Jadinya, mereka menjadi saling sharing mengenai mimpi dan cita-cita mereka.

Ini dan Itu…
Radit sekarang sudah jauh berbeda dengan Radit yang dulu. Si Jago Kandang sudah berubah menjadi anak yang selalu siap bertandang. Meskipun belum sepenuhnya optimal dan maksimal, saya percaya, Radit pasti bisa.

Selain cara-cara yang saya lakukan tadi, beberapa hal yang tak kalah penting dalam mengasah Radit ‘si calon berlian’ juga tak lupa saya berikan. Hal-hal tersebut berupa kesiapan Radit secara fisik, mental, dan juga spritualnya.

Kesiapan Fisik. Tak ada gunanya semua yang saya lakukan jika fisik Radit tidak siap menghadapinya. Karenanya, agar fisik Radit siap, saya sebisa mungkin memberikan asupan gizi seimbang yang sangat dibutuhkannya. Tentu saja agar tumbuh-kembang tubuh Radit bisa optimal sesuai dengan tahapannya. Untuk kebutuhan karbohidratnya, saya memberikan Radit nasi, roti, jagung, ubi, atau sesekali mie dan pasta. Untuk kebutuhan lemak dan proteinnya, saya memberikan daging, ikan, tahu-tempe, dan kacang-kacangan. Untuk kebutuhan vitamin dan mineralnya, saya memberikan sayur dan buah. Air putih dan juga susu selalu menyertai Radit. Saya sangat beruntung, untuk urusan makanan, Radit tidak mempunyai masalah. Apa pun makanan yang saya berikan, dia suka dan selalu menyantapnya dengan lahap. Radit tidak suka jajan di luar. Sebuah kejadian, yaitu muntah-muntah setelah jajan di sekolah membuatnya takut hingga sekarang. Sejak saat itu, Radit selalu membawa bekal makanan ke sekolah.

Kesiapan Mental dan Spiritual. Seperti halnya fisik, mental dan spiritual Radit harus siap untuk menghadapi masa depan. Bahkan mungkin lebih penting. Sebab di masa yang akan datang, segala sesuatunya pasti akan lebih berat dari masa kini. Sekarang saja, anak-anak sudah banyak mengalami kondisi multiple attention disorder dari teknologi dan internet (terutama sosial media). Jika tak diberi pengertian dan bimbingan yang baik dari orangtua, mereka bisa terpengaruh lebih dalam dan kebablasan. Berangkat dari hal ini, kesiapan mental serta spiritual harus menjadi dasar yang kuat, dan agama menjadi pegangan yang harus dikedepankan. Agama jugalah yang akan membentuk anak menjadi pribadi yang jujur dan bisa dipercaya, syarat yang kini sangat urgent bagi seorang pemimpin. Ya, untuk itu, selain belajar agama di sekolah, Radit juga saya masukkan di TPA. Tentu saja agar pengetahuan agama Radit bisa luas. Tiga jam pelajaran saja di sekolah tidak akan cukup bagi anak-anak sekarang untuk membendung derasnya arus buruk modernisasi yang kini terjadi. Di rumah juga demikian. Saya dan suami sebisa mungkin menanamkan nilai-nilai keagamaan itu di dalam kehidupan sehari-hari. Shalat berjamaah, mengaji bersama, belajar surat-surat bersama, murajaah, dan berpuasa merupakan contoh-contoh kegiatan keagamaan yang biasa kami lakukan.

“When You Want Something, All The Universe Conspires in Helping You to Achieve It.”
Quote dari Paulo Coelho di atas sangat keren. Dan saya percaya akannya. Ya, asalkan dengan usaha yang serius dan juga doa yang tulus, maka semua halnya menjadi lancar. Dan bukan mustahil, Tuhan akan mengabulkannya. Demikian juga dengan harapan akan Radit. Si calon pemimpin kecil yang biasa saya sebut sebagai ‘calon berlian’ itu kelak pasti bisa bersinar. Sebab saya dan keluarga akan selalu mendukung, membimbing, dan berdoa untuknya. Ya… ya… ya… semoga kelak, Radit bisa sukses dengan pilihan dan juga kemampuannya. Anak menjadi pemimpin di masa depan? Mari dari sekarang kita rencanakan!

Tulisan ini diikutsertkan dalam #LombaBlogNUB

 
3 Komentar

27 Oct 2013 21:13

Bagus sekali tulisannya. Selamat sudah menang

25 Oct 2013 00:56

jadi orang tua emang harus mengerti c anak.. :)

mimiwibisono

24 Oct 2013 18:44

Bener-bener tulisan pemenang, congrats yah...