Sukses Mencetak Pemimpin Bangsa Dengan Qalbu

Oleh ira 15 Oct 2013

Sejatinya anak adalah anugerah dari Allah untuk dipelihara dan dijaga karena mereka adalah asset yang sangat berharga. Untuk itulah kesuksesan orang tua sebenarnya terletak pada kesuksesannya dalam menciptakan generasi generasi mumpuni dan rabbani. Yang akan sukses memajukan dirinya, keluarganya dan negaranya . Juga akan selalu lurus dalam setiap tindakannya sehingga jauh dari keinginan untuk berlaku tidak jujur dalam mengemban tugasnya setelah dewasa kelak sebagai khalifah dimuka bumi ini.Baik sebagai anak, orang tua maupun sebagai pemimpin negara.

Memang tak semudah membalikkan telapak tangan ataupun secara instant anak saya bisa begitu saja memiliki semua karakter baik yang saya inginkan. Namun saya yakin tak juga sulit asal ada kemauan diiringi cinta kasih kami sebagai orang tua. Mengingat anak adalah titipan dari Allah yang perlu kita pelihara dan didik dengan baik. Untuk itulah sejak dini kami sudah bertekad untuk menanamkan karakter yang baik pada anak kami seperti karakter teladan dan  junjungan kita Rasulullah saw. Meskipun tak sesempurna beliau tapi setidak-tidaknya tidak jauh-jauh dari sifat mulianya nabi Muhammad panutan umat yang sebenar-benarnya

Untuk itulah sebagai orang tua saya dan suami berusaha ikut andil mendidik anak kami terutama dirumah. Bahkan dalam porsi yang lebih besar. Adapun cara saya dan suami mempersiapkan ketiga buah hati kami menjadi pemimpin kelak yaitu dengan terlebih dulu mencintai anak-anak kami dengan hati. Sebagaimana yang dikatakan olek kak seto bahwa bahwa mendidik anak tidak perlu dengan kekerasan dan kekasaran. Mendidik itu dilakukan dengan hati/qolbu. Kalau anak diajari dengan kasar dan kekerasan, anak tidak akan tumbuh sebagai pembelajar sejati dalam hidupnya. Tentu saja sebagai orang tua terlebih dulu kami harus membersihkan hati lebih dulu dari bibit2 dosa yang mampu mengotori hati. Karena bagaimanapun fungsi hati akan lebih maksimal kerjanya bila sudah bersih. Sebagaimana telah Rasulullah sebutkan dalam hadistnya

“Ingatlah, dalam tubuh manusia ada segumpal daging. Bila segumpal daging itu baik, seluruh tubuh akan menjadi baik. Tetapi bila ia rusak, niscaya akan rusak pula seluruh tubuh. Segumpal daging itu bernama Qolbu. (HR Bukhari dan Muslim)
.
Suatu ketika saya terkejut ketika putri sulung saya mengatakan
“ Ma, kenapa setelah kakak rajin solat nilai-nilai ujiannya malah rendah. Kan Mama yang bilang kalo kita rajin solat dan berdoa pada Allah, pasti akan dikabulkan. Padahal kakak selalu berdoa agar mendapatkan nilai yang tinggi biar bisa jadi juara kelas,” ucapnya cemberut.

Deg! Bagai ditikam palu saya mendengar kalo anak saya ternyata selama ini juga terpengaruh bahwa belajar yang rajin hanya untuk mendapatkan nilai-nilai yang tinggi saja. Saya berusaha sebijak mungkin untuk menjawabnya
“Kakak, kan Mama pernah cerita ada seseorang yang berdoa minta kaya tapi dia malas bekerja. Apa mungkin dia bisa menjadi kaya seketika dengan hanya duduk diam? “
“Mana mungkin Ma,”jawabnya sambil tertawa.
“Nah, begitu juga bila kakak berdoa minta nilai tinggi tapi belajarnya kurang sungguh-sungguh. Lagi pula untuk apa kita mengejar nilai tinggi semata tapi kita tidak paham dengan ilmu yang kita pelajari? Dan perlu Kakak ketahui bahwa menuntut ilmu itu sama dengan berjihad di jalan Allah yang akan mendapatkan pahala surga. Jadi niat kakak yang utama haruslah belajar untuk mendapatkan keridhaan Allah, bukan untuk menjadi juara kelas saja. Apalagi orang yang menuntut ilmu akan di doakan oleh seluruh penduduk langit dan bumi. Jadi Kakak belajarlah yang sungguh-sungguh agar banyak yang mendoakan kelak.

Akhirnya putriku tak lagi cemberut dan mau mengerti bahwa selama ini niatnya salah dan harus diluruskan. Dia juga suka bercerita bahwa ada salah satu temannya yang suka mencontek saat ujian karena takut dimarahi orang tuanya bila tidak bisa rangking kelas apalagi mendapatkan nilai yang rendah. Tak segan-segan di depan orang banyak ibunya berkata kasar dan memarahinya. Benar-benar prihatin mendengarnya. Padahal sebenarnya pendidikan itu tak hanya bertujuan transfer ilmu saja. Tetapi juga untuk membentuk kepribadian peserta didik yang disebut juga penanaman akhlak. Sudahkah para orang tua menyadari hal penting ini? sebab gara-gara mengejar nilai akademik yang tinggi tak jarang banyak anak yang berlaku curang. Jika dibiarkan terus menerus, bukan tak mungkin setelah anak menjadi pemimpin kelak, sikap curangnya itu membuatnya tak lagi takut untuk korupsi. Sebagaimana yang kita dapati tingginya tingkat korupsi di Indonesia.

Tak salah bila Prof. Ahmad Tafsir, guru besar UIN Bandung mengatakan
“Sekarang misi pendidikan kadang-kadang telah menyempit menjadi sekedar ahli dagang, ahli menghitung, ahli membius, ahli membedah, ahli membuat obat, ahli mengoperasikan computer, bahkan hanya ahli ngelas. Keahlian-keahlian  itu harus diakui memang diperlukan. Tetapi mestinya yang paling utama ialah mendidik murid itu me njadi manusia lebih dahulu.” (Filsafat Pendidikan Islam,2008) Mungkin selama ini kita terlalu sibuk untuk memenuhi kebutuhan jasmani anak saja tapi  kita kurang memenuhi kebutuhan rohani anak yaitu kebutuhan untuk mengenal Allah, mengerti hakikat dan tujuan hidup yang sebenarnya, tentang takdir bahwa kita perlu berusaha dan bekerja keras tapi hasil akhirnya hanya Allah yang menentukan, juga tentang kehidupan setelah mati dan tentang adanya kebajikan.
Pentingnya mendidik dengan hati karena hati adalah dasar dari pemikiran. Bila baik hatinya maka baiklah pikirannya. Jadi salah besar bila kita lebih menjejali otak anak dengan nilai-nilai akademik yang tinggi semata sementara hatinya tetap kita biarkan kering dan gersang. Padahal ilmu pengetahuan sendiri berhasil membuktikan bahwa kualitas elektromagnetik jantung (hati) 5000 kali lebih kuat daripada otak. Lantas, mengapa kita hanya  berpikir untuk memaksimalkan potensi otaknya saja yang jauh lebih sedikit kualitasnya dari potensi/kekuatan hati? Tapi kebanyakan kurikulum pendidikan sekarang kurang menekankan pendidikan karakter seperti ini dan hanya menitikberatkan pada nilai akademik saja sehingga lahirlah generasi yang hanya cerdas intelegensi tapi kurang cerdas dalan emotional dan spiritualnya

Kecerdasan emotional atau “emotional intelligence “ sendiri merujuk pada kemampuan mengungkap dan mengenali perasaan kita sendiri juga perasaan orang lain. Juga kemampuan memotivasi diri sendiri dan kemampuan mengelola emosi diri sendiri dengan baik dan dalam hubungan dengan orang lain. Intinya anak diharapkan juga cerdas dalam emosinya sehingga dapat berempati pada dirinya sendiri dan orang lain. Anak lebih mengenali apa yang ia rasakan dan apa yang orang lain rasakan. Dengan begitu hubungannya dengan diri sendiri dan orang lain berjalan harmonis. Sehingga tak mudah depresi, stress dan putus asa karena anak mampu mengenali apa yang ia rasakan dan dapat mengelola emosinya dengan baik.

Adapun empati pada orang lain melahirkan sikap mudah bersosialisasi dan dapat diterima oleh banyak orang. Hal ini akan memperluas jaringan koneksi/teman bagi si anak. Bukankah agama islam sendiri mengajarkan untuk menjalin silaturahmi dengan baik sehingga bisa mendatangkan rejeki? Jadi bukan tanpa alasan karena sebenarnya sejak dahulu kala hal ini sudah dicontohkan langsung oleh Rasulullah saw.

Beliau begitu mengerti akan perasaan umatnya dan sahabat-sahabatnya sehingga sosoknya selalu dirindukan hingga sekarang. Beliau juga sukses mengelola emosinya dengan baik ditengah-tengah masa pahit hidup beliau yang penuh cobaan selama menjalankan tugasnya sebagai  Nabi utusan Allah yang terakhir. Bahkan ditengah hinaan dan cercaan dalam misinya mengajarkan agama islam yang penuh berkah, beliau pantang berputus asa dan sedikitpun tak menyimpan dendam terhadap orang yang menghinanya dan tak mendukung ajarannya. Beliau justru mendekati umatnya dengan penuh kesabaran dan cinta kasih. Terbukti bahwa rasa empati Rasulullah sangatlah besar pada umatnya dengan mencoba mengerti bahwa sebagian umatnya berbuat demikian karena belum mengetahui kebenarannya.

Setelah memiliki kecerdasan emotional selanjutnya anak dituntut untuk memiliki kecerdasan spiritual. Kita ketahui memiliki kecerdasan emotional saja tidaklah cukup karena kecerdasan emotional itu walaupun mendukung kesuksesan anak tapi hanya bersifat kebendaan saja. Sedangkan bila anak juga memiliki kecerdasan spiritual, berarti tujuan kesuksesan anak telah mengarah ke akhirat tak hanya mengejar urusan dunia. Dengan kata lain anak yang memiliki ESQ berarti memiliki iman atau akhlakul karimah.

Kecerdasan spiritual sendiri berlandaskan suara hati dimana anak diajak untuk mengikuti bisikan yang baik dari dasar hatinya. Sebagaimana yang disebutkan dalam Al-quran surat An nisaa’ ayat 135
“ Hai orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, sebagai saksi bagi Allah, sekalipun terhadap dirimu sendiri, atau orang tuamu, atau kerabatmu, baik ia kaya maupun ia miskin. Allah lebih mengetahui kemaslahatan masing-masing. Janganlah ikuti hawa nafsu, supaya jangan kamu menyimpang (dari kebenaran) Jika kamu memutar balik (kebenaran), atau menyimpang (dari kebenaran), sungguh  Allah tahu benar apa yang kamu lakukan.” Adapun suara hati yang lain terdapat dalam 99 asmaul husna.

Dengan begitu meskipun anak telah sukses dan berhasil menduduki jabatan tinggi yang dipercayakan kepadanya akibat kecerdasannya, dia akan selalu memegang kepercayaan itu dengan berlaku jujur  Bukankah telah banyak kita temui di negeri ini seseorang yang tadinya cerdas dan pintar hingga menjadi orang besar, tapi kering akan rasa iman sehingga tak lagi mau mendengarkan bisikan hati nuraninya yang bersih sampai berani bertindak korupsi dan berlaku kejam pada bawahannya.

Menjadi Pendidik yang bisa  mendidik dengan hati kita perlu tahu rahasianya yaitu:
* Meluruskan niat. Sebagaimana disebutkan dalam QS 29: 69 “ Dan orang-orang yang sungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan ) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang berbuat kebaikan. Sehingga bila meniatkan karena Allah maka kerja adalah
-    Ibadah
-    Memberi yang terbaik karena Allah
-    Aktualisasi potensi diri
-    Rahmat dan syukur
-    Ladang amal dan tiket ke surga
*. Melihat dan memaknai suatu persoalan dengan hati. Jadi seburuk apapun suatu kejadian, bila dilihat dengan hati yang positif dan pikiran yang positif maka hasilnya akan positif. Sebagaimana I Ching berkata  “ Peristiwanya tidaklah penting, tetapi respon terhadap peristiwa itu adalah segala-galanya.”

* Mendengar suara hati anak didik  yaitu anak ingin perasaan hatinya didengarkan, dikenali, diterima, dimengerti dan dihargai. Untuk itu perlu memantaskan diri sebagai pendidik. Yang memiliki 9 kepribadian yang diinginkan anak diantaranya
1. Berjiwa tulus dan ikhlas
2. Penuh kasih sayang pada anak
3. Memiliki sikap amanah dan tanggung jawab
4. Memiliki kesabaran dan rasa syukur
5. Berpikiran maju
6. Cerdas
7. Kreatif
8. Penuh Keteladanan
9. Dan mampu melayani anak dengan hati

*. Efektif merubah perilaku anak. Tentunya dimulai dari diri sendiri. Sebagaimana disebutkan dalam QS As-Shaff ayat 2 dan 3 “ Hai orang orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” Jadi kita haruslah bisa menjadi teladan bagi anak.
*. Mampu menyelesaikan persoalan hidup.
    Kita harus waspada dalam mengasuh anak, jangan sampai salah asuh.  Buckminster Fuller berpendapat Pada dasarnya semua bayi dilahirkan cerdas; 9.999 dari setiap 10.000 bayi itu dengan begitu cepat, dan sembrono dijadikan tidak cerdas bagi orang-orang dewasa. Terbukti kita dapati banyak anak-anak jenius dan berbakat yang tidak menjadi apa apa karena salah asuh oleh orang-orang dewasa, terutama oleh orang tua dan gurunya dikarenakan ketidak mengertian mereka. Tragis bukan? Dalam bukunya Hypno Heart Teaching Alpiyanti sendiri mengatakan bahwa peran pendidik diharapkan mampu menggali, mengenali, melatih, mendidik, dan mengembangkan potensi-potensi yang bersifat potensial tersebut menjadi kekuatan personal bagi peserta didik itu sendiri sehingga ia menjadi dirinya sendiri yang mandiri untuk orang lain dan kehidupannya.

    Dengan demikian perlu bagi kita sebagai pendidik untuk dapat mengembalikan ruh pendidikan ke rel yang sebenarnya.  Pastaslah Rheinal Kasali mengungkapkan kekhawatirannya “Benarkah cara-cara yang ditempuh disekolah sekarang akan melahirkan manusia-manusia hebat? Manusia hebat bukanlah manusia yang memperoleh nilai mata pelajaran yang tinggi-tinggi, melainkan manusia berkarakter kuat, dapat dipercaya, mudah diterima, memiliki growth mindset, berjiwa terbuka, dan pandai mengungkapkan isi pikirannya dengan baik. Kalau ini sudah jelas, buat apa membuang waktu sia-sia.?”

    Belum lagi kita jumpai di dunia sekarang para pendidik sering menggunakan kata-kata yang tidak patut yang cenderung membelenggu kreativitas anak. Seperti kata-kata “ bodoh, nakal, malas, ancaman “ kalau tidak belajar tidak naik kelas” atau tidak lulus dsb. Padahal kata-kata memiliki kekuatan yang dahsyat. Untuk itu betapa penting kata-kata yang positif karena bila diucapkan dengan tulus dan baik kepada anak akan membuat mereka merasa nyaman, bahagia, terinspirasi, menyembuhkan dan memberi semangat bahkan dapat mengubah kehidupan mereka menjadi lebih baik. Kita bisa melihat kisah Andy F Noya seorang pemandu acara TV yang sangat inspiratif dimana Kick Andy selama bertahun-tahun berusaha mencari keberadaan guru SD nya Ibu Ana. Rupanya sosok Ibu Ana begitu melekat di hatinya karena pernah menghiburnya dengan kekuatan kata-kata” Andy, kamu anak pandai, kamu tak perlu cemas dengan kepandaianmu mengarang, Bu Ana yakin kelak engkau akan menjadi seorang wartawan yang Handal! Ternyata setelah berpuluh-puluh tahun Andy benar berhasil menjadi wartawan handal. Ternyata menurut Andy kata-kata Bu Ana telah mampu membangkitkan kepercayaan dirinya.  Sehingga ketika Andy dapat bertemu kembali dengan gurunya itu, ia menangis sambil mengucapkan terima kasih. Luar biasa sekali. ...

Selain mendidik dengan qalbu, sebagai pendidik baik orang tua maupun guru, perlu mengetahui bahwa  setiap anak dilahirkan dengan beragam karakter dan potensi yang ada. Tugas kitalah sebagai orang tua untuk bisa mencetak anak agar bisa menjadi bibit unggul yang mampu memimpin di masa depan dengan mendidiknya untuk bersikap mandiri, percaya diri, rendah hati, jujur, kritis memiliki kecerdasan spiritual serta emosional dan memiliki karakter tangguh dan baik lainnya.
Diharapkan ketika anak menjabat sebagai pemimpin disetiap lembaga, anak mampu menjalankan tugasnya sesuai dengan anjuran agama dan tidak menyimpang misalnya korupsi, menjatuhkan sesama teman dsb. Sehingga bisa tercipta anak-anak karakter bangsa yang bersih, tangguh, optimis dan cerdas.

Bukankah baik dan suksesnya suatu negara tergantung dari baik dan suksesnya seorang anak sebagai generasi penerus bangsa? Tentunya dalam menanamkan karakter pada anak kita butuh karakter yang penuh teladan sebagai rujukan dan panutan yaitu dari mana lagi kalau bukan mencontoh sikap dan perilaku Rasulullah saw. Yang memang benar-benar sudah terbukti keunggulan dan kemuliaannya.