Tanya Ahli

Kirimkan pertanyaan Anda seputar gizi ibu dan anak, yang akan dijawab oleh Tanya Ahli SGM.

Tugas Ibunda bagi Sang Putri

Oleh w widjoraras 11 Oct 2013

“Widya mau jadi apa kalau sudah besar?”

“Jadi presiden, Ma.”

Itu jawaban putri tunggalku waktu berumur sekitar 5 tahun. Entah darimana dia mendapat ide ingin jadi presiden. Yang jelas aku sempat berpikir, kalau dia serius dengan cita-citanya, bagaimana caraku mendukung dan menyiapkannya? Kalau dia jadi presiden, dia harus jadi presiden yang luar biasa. Tidak boleh yang biasa-biasa saja. Apalagi anakku perempuan. Hmmm… aku jadi ingat Florentyna Kane, tokoh utama novel The Prodigal Daughter karya Jeffrey Archer. Florentyna menjadi presiden perempuan pertama AS. Pengasuh di masa kecilnya sungguh luar biasa. Tiap hari Florentyna membaca dan mendiskusikan berita koran dengan pengasuhnya, serta mendapatkan pelajaran sejarah dari ayahnya. Belum lagi seabrek kegiatan dan pelajaran lainnya. Mampukah aku menyiapkan anakku seperti itu?

Aku menjadi ibu sejak sekitar enam tahun lalu. Itu adalah anugerah luar biasa. Menjadi satu paket dengannya adalah tanggung jawab sangat besar, yaitu merawat, mengasuh, mendidik dan membesarkan putriku. Di negeri ini (dan di banyak negeri lain), perempuan masih sering dijadikan warga kelas dua dan menjadi korban ketidakadilan. Berbagai gerakan emansipasi, feminisme, dan adil gender, meskipun sudah dimulai sejak puluhan tahun lalu, belum membuat perubahan luar biasa. Lha, negara AS saja belum pernah berhasil memiliki presiden perempuan (kecuali presiden fiksi, misalnya Florentyna Kane yang kuceritakan tadi, atau Allen Mac Kenzie dalam film Commander in Chief).

Menurutku peran terpenting ibu bagi putrinya adalah menyiapkan mentalnya menghadapi dunia yang sering tak adil pada perempuan. Aku ingat sewaktu masih SD, aku menahan marah karena dicolek dan diganggu anak laki-laki di jalan. Aku ketakutan setengah mati saat pulang kesorean berjalan kaki, diikuti oleh seorang laki-laki. Aku tidak tahu bagaimana bersikap atau harus melakukan apa. Yang jelas, sejak saat itu perbendaharaan kataku bertambah dengan meneriakkan nama-nama binatang. Aku ingin anak perempuanku lebih baik, lebih kuat, dan lebih hebat dari aku. Itu saja. Ada tiga hal yang bisa dilakukan seorang ibu untuk menyiapkan mental putrinya, yaitu menjadi teladan, sahabat dan ensiklopedia andal.

Jadi Teladan Baginya

Banyak ibu, cepat atau lambat menyadari bahwa anaknya adalah copy cat nya, atau penirunya. Ini wajar, karena ibu adalah orang terdekat si anak untuk dijadikan contoh. Ingat, Ki Hajar Dewantara mengajarkan kita: ing ngarsa sung tuladha, atau di depan memberi teladan. Ini berarti, ibu diharapkan (atau dituntut?) memberi contoh (sebisa mungkin) yang baik bagi anaknya. Jika dibalik, perilaku anak-anak seringkali menunjukkan bagaimana ibunya (orangtuanya) memberi contoh. Seperti yang diibaratkan dalam peribahasa kita: buah jatuh tak jauh dari pohonnya.

Banyak yang ditiru anakku dariku. Seringkali suamiku tertawa geli melihatnya. Rupanya tak hanya kelakuan mamanya yang baik yang ditirunya, kelakuan buruk pun dicontohnya. Kata suamiku, kecenderungan protes, punya 1001 alasan untuk menghindar dari tugas, dan punya 1001 cara yang kadang berbelit untuk mendapatkan yang diinginkannya, jelas ditiru dengan sangat baik dariku. Aku tersenyum kecut, ketika (hanya di depanku) suamiku menjuluki putri kami si otak kriminal. Beberapa pilihan kata dan cara bicaraku juga ditiru anakku. Mendengarnya berbicara kadang menyadarkanku akan adanya beberapa nada sarkastik dan sok tau milikku di dalamnya. Biasanya langsung kularang dia (termasuk diriku sendiri!) untuk mengulanginya. Ya, bukan hal mudah bagiku untuk memperbaiki kelemahanku, tapi itu tetap harus kuperbaiki. Setidaknya aku berusaha secara sadar memilih kata-kata sebelum berbicara, supaya yang ditiru anakku bukan yang jelek ;-p.

Di luar itu, aku dengan senang hati ditirunya. Ia meniruku selalu bertanya “kenapa?” untuk memenuhi rasa ingin tahu yang tinggi terhadap banyak hal. Ia meniru kesukaanku akan binatang, dan kini ia belajar memelihara anjing kecil. Awalnya ia menjerit-jerit ketakutan didekati Milo, namun sekarang ia lebih berani. Ia meniru kegemaranku membaca, sehingga kami berdua betah berlama-lama di toko buku dan perpustakaan. Ia meniru antusiasku. Bisa kulihat, dia termasuk paling berani dan semangat di antara teman-teman perempuan ketika latihan berenang. Jiwa kompetitifku juga ditirunya. Ia suka menikmati  kemenangan dan prestasinya. Bahkan piala dipeluknya untuk teman tidurnya (catatan: aku tidak seperti ini waktu kecil lhooo…). Untuk urusan kompetitif ini, suamiku agak mengeremnya. Beberapa kali kulihat Widya harus belajar menerima kekalahan ketika bermain kartu (atau permainan yang lain) dengan bapaknya :D.

Sahabat Terbaik Sang Putri

“Kok kulit mama putih?” Anakku tiba-tiba mengomentari diriku pada suatu malam. Sebenarnya kulitku kuning cenderung coklat. Namun kulitku terlihat lebih terang dibandingkan putriku. Ia berkulit gelap, warna eksotis, meskipun tak sehitam kulit bapaknya. Mendengar pertanyaan anakku itu, sejenak kami berhenti belajar. Aku memberinya pengertian, bahwa warna kulit (hitam, coklat, kuning, atau putih) tidaklah penting. Yang penting justru kulit yang bersih dan terawat. Aku memberitahunya bahwa meskipun kulitku lebih terang tetapi cenderung mudah lecet dan luka. Kutunjukkan bekas-bekas luka yang masih kumiliki, dan kutunjukkan bahwa kulitnya jauh lebih mulus. Aku juga mengingatkannya bahwa yang penting bukan “bungkus” atau “sampul”, tetapi isinya, misalnya ia baik hati dan suka menolong. Anakku diam menyerap kata-kataku.

Bagiku, melahirkan anak perempuan berarti “mendapat anak” sekaligus “mendapatkan sahabat.” Aku bangga jadi sahabat pertama putriku. Artinya kami memiliki hubungan sangat dekat. Tak hanya bertanya dan mengeluh, anakku juga membagikan kebahagiaan dan kebanggaannya denganku. Usai mendapat piala pertamanya, berulang-ulang ia memberitahuku bahwa ia sangat senang dengan pialanya. Anakku juga amat perhatian kepadaku. Ia menepuk pundakku dan meyakinkanku bahwa aku akan segera sembuh, ketika suatu hari aku muntah hebat akibat keracunan makanan. Sebaliknya, aku juga membagikan kegembiraanku kepada anakku. Ketika laptopku berhasil diperbaiki, aku senang bukan main, dan berulang-ulang berkata “cihui” dengan wajah amat gembira. Anakku tertawa dan berkata bahwa sekitar seminggu dia pasti akan mendengar “cihui” berulang-ulang dari mamanya. Dia benar :D.

Kedekatanku dengan putriku membantuku memahaminya, sehingga aku bisa mendampinginya dengan lebih baik. Ia bercerita hal-hal kecil yang dialaminya. Dari ceritanya, aku merasa ada satu teman laki-laki cenderung melakukan bully ringan, dan beberapa teman yang lain kadang agak keterlaluan usilnya. Untuk itu aku mengajari anakku cara menyikapi ulah dan kenakalan teman laki-laki. Sekali pernah ia menangis karena tangannya ditusuk pinsil oleh temannya. Usai menenangkan tangisnya, aku melarangnya hanya diam dan menangis ketika dijadikan korban kenakalan temannya. Aku menyuruhnya konfrontasi dan memberi contoh kata-kata untuk menggertaknya.

“Jangan gitu dong! Sakit tahu? Kamu mau digitukan? Sini coba?!”

“Jangan pukul, sakit tahu! Mau kubalas pukul? Sini!”

“Aku ngga cemen. Lihat aku nomor satu tadi lomba bawa kelereng. Kamu yang cemen, beraninya ngganggu anak perempuan. Sana kalo berani ganggu anak laki-laki.”

Aku ingin anakku berani menggertak si pelaku kenakalan. Dengan begitu dia tak lagi dipandang sebagai kaum lemah yang cocok dijadikan korban. Aku ingin dia mulai belajar menjaga dirinya. Aku sudah mencari informasi kelas beladiri di kota ini. Jadwal mingguan anakku sebenarnya sudah penuh dengan nyanyi, nari, mewarnai, dan renang. Tetapi jika hasil belajar di sekolah semester ini bagus (yang artinya ia tidak terlalu kelelahan dengan seabrek kegiatannya), ia langsung kuikutkan latihan beladiri. Ia senang ketika kujelaskan bahwa beladiri itu seperti di film Kungfu Panda kesayangannya. Mampu membela diri sendiri dan membela orang lain dari yang jahat. “Haaacha!” Anakku menyambut gembira rencanaku dengan teriakan dan gaya tendangannya :D.

Jadi Ensiklopedia Andal

“Ma, cemen itu apa?” tanya anakku sepulang sekolah. Aku terbengong. Cemen artinya tidak bisa apa-apa, atau bukan pemberani. Dari mana anakku tahu istilah cemen? Rupanya seorang teman laki-laki menyebutnya cemen pada pelajaran olahraga.

Putriku bertanya kepadaku tentang banyak hal. Karena dekat denganku ia nyaman bertanya apa saja. Sering dia menanyakan banyak hal yang dia alami ketika tidak bersamaku, misalnya di kelas atau sedang bersama teman-temannya. Selalu kuingatkan, bahwa dia harus belajar berani langsung bertanya jika tidak mengerti. Namun lebih sering dia menunggu sampai bertemu denganku dan bertanya kepadaku. Aku selalu menjelaskan istilah baru secara sederhana supaya mudah dipahami anakku. Kusadari bahwa tak semua orang mampu melakukannya. Pengalaman jadi editor sangat membantuku.

TIngginya rasa ingin tahu seorang anak harus dipenuhi. Semakin banyak dia tahu, dia akan makin pede. Perbendaharaan kata, istilah, keterampilan, dan kemampuannya harus terus menerus ditambah. Dua hari sekali aku dan anakku bergantian membaca buku cerita sebagai pengantar tidurnya. Aku sebenarnya menjadwalkan berbahasa tertentu (bahasa Inggris, bahasa Jawa dan bahasa Indonesia) pada hari-hari tertentu. Sayangnya seringkali aku yang tidak tertib. Tetapi kini aku lebih sering berbahasa Jawa dengannya dibandingkan saat kami tinggal di Bali dulu. Aku juga rajin mencarikan lirik lagu dan mencetaknya, supaya ia mudah menyanyikan lagu-lagu baru. (Psst, ia masih menungguku mencetak lirik lagu I like to Ride my Bicycle nya Queen, Imagine nya John Lennon, dan Tak Perlu Keliling Dunia nya GIta Gutawa).

Menjadi ensiklopedia di zaman sekarang tidaklah sulit. Informasi tersebar di mana-mana. Kini ada banyak jenis buku yang ditulis orang. Koleksi buku perpustakaan daerah di kota ini cukup lengkap dan pengunjung bisa meminjam secara gratis. Toko buku online menjamur seiring dengan kemajuan teknologi infromasi. Membeli buku semakin mudah. Informasi di dunia maya juga bertaburan. Terutama, ada google yang bisa diandalkan untuk mencarinya :D

Kuakui, menggembleng mental anak perempuan perlu waktu dan tidak mudah. Bukan berarti tidak bisa dilakukan. Tentu saja ini bukan hanya tugas ibunya, kan? Perlu dukungan dari keluarga, sekolah, dan masyarakat luas. Dunia yang lebih manusiawi dan lebih adil terhadap perempuan bukan sebuah kemustahilan. Yang diperlukan adalah niat kolektif yang kuat disertai tindakan-tindakan untuk mewujudkannya. Aku telah memulainya dengan menggembleng putriku.

Jadi, apakah putriku serius ingin jadi presiden? Presiden? Ia sekarang ingin jadi dokter hewan. Cita-cita anakku telah berganti beberapa kali (dan naga-naganya masih akan berganti-ganti). Sepertinya ia tertarik dengan profesi yang lebih mudah dibayangkannya. Ia ngefans dengan dokter hewan yang merawat Milo, anjing kecil kesayangannya. Tak jadi masalah buatku. Asalkan ia mampu menghadapi dunia, sebagai perempuan mandiri dan tangguh. Apapun profesinya kelak, kuharap aku bisa memberinya cukup bekal dan mendampinginya. Itu gunanya  ibu dan sahabat, kan? :D (R)

(nyoman selem alias rarasati alias wrenges widjoraras)

#LombaBlogNUB