Tanya Ahli

Kirimkan pertanyaan Anda seputar gizi ibu dan anak, yang akan dijawab oleh Tanya Ahli SGM.

Untuk Siapa ? Hanya Untuk Pemimpin Kecilnya...

Oleh fienprasetyo 07 Oct 2013

#LombaBlogNUB

  Kalau ngomongin peran ibu untuk buah hatinya rasanya nggak bakal ada habisnya ya…banyak banget peran ibu sampai nggak bisa dihitung dengan jari. Bayangin aja, mulai dari mengandung, melahirkan, mengasuh dan membesarkan semua ibu lakukan dengan tanpa pamrih ! kayaknya nggak berlebihan deh kalo ada pepatah surga di telapak kaki ibu, kenyataannya memang segala ketulusan itu ada di diri ibu..bersamanya kita merasa aman, nyaman dan bahagia pastinya…

 Semua ibu menginginkan yang terbaik untuk buah hatinya..maka jangan heran jika kita melihat sosok ibu itu cerewet, suka mengomel dan banyak aturannya..itu semua ia lakukan tak lain untuk bisa melihat anak-anaknya berhasil. Percaya deh, dibalik cerewetnya, omelannya bahkan amarahnya ia bukanlah pendendam dan pembenci..sederhana saja..ia hanya ingin melihat anak-anaknya bisa menjadi lebih baik dari dirinya sendiri ! 

 

keluarga kecilku

 

 Kini aku juga telah menjadi seorang ibu dari tiga buah hati yang Alhamdulillah sehat, pintar dan aktif. Bangga rasanya bisa mengandung, melahirkan dan mendidik anak-anakku. Meski sibuk dan setiap hari harus berjibaku dengan waktu agar semua urusan rumah tangga bisa dikondisikan dengan baik Alhamdulillah kenikmatan itu akan selalu aku syukuri…bukan hanya itu saja, kini aku juga tahu kenapa dulu ibuku cerewet, suka marah dan mengomel…SubhanaAllah..itu semua karena ibuku ingin menjadikan aku hingga seperti sekarang ini..wanita yang bahagia dan berhasil !

 Sebagai manusia biasa, kadangkala ada rasa lelah dan penat menghampiri..namun setiap melihat senyuman dari buah hatiku semua rasa itu sirna berganti nikmat yang luar biasa..nggak ada yang bisa menggantikan itu semua

 Meski aku sangat mencintai mereka, namun aku sadar bahwa mereka adalah individu yang gak bisa aku miliki. Mereka mempunyai kehidupan sendiri dan harus menjadi diri mereka sendiri. Aku hanya bisa mendidik dan mengarahkan mereka tanpa memaksakan kehendakku.. 

aku dan si pemimpin kecil PASHA

 Pasha, buah hatiku yang kedua berusia 2 tahun. Kalau boleh aku bilang, anaknya cerdas dan aktif. Rasa ingin tahunya terhadap segala hal sangat besar. Beberapa orang mengatakan dia bandel, tapi aku bilang dia cerdas. Aku sangat menghindari “melabeli” anakku dengan label yang bersifat negatif seperti bandel, nakal, bodoh, dll karena itu akan membuat rasa percaya dirinya hilang. Memberi label seperti itu akan membuat anak merasa rendah diri dan tak berarti, padahal percaya diri itu adalah modal utama agar anak bisa menjadi seorang pemimpin yang baik…

 Satu hal lagi, ayah Pasha bekerja di dalam hutan sebagai asisten perkebunan sehingga kami tidak mungkin untuk ikut tinggal disana karena jauh dari pusat pendidikan anak disamping aku juga menunaikan tugas sebagai abdi negara. Anak-anak tinggal bersamaku di kota kabupaten. Pasha adalah anak laki-laki pertama sehingga nanti ia akan menggantikan “peran” ayahnya sebagai laki-laki dewasa yang mengayomi dan melindungi. Tak perlu menunggu dewasa, kini pun ia sudah menjadi pemimpin kecil yang hebat terutama bagi dirinya sendiri… 

 

Pasha lagi ngambek

 

Di usianya yang 2 tahun Pasha tengah berada dalam fase tantrum. Fase dimana ia mulai bisa marah, kesal, emosi, protes dan melawan jika sedang terancam. Sebagai ibu, aku harus peka dengan keadaan ini. Perlahan aku ajarkan tentang makna kesabaran padanya. Sederhana saja, ketika ia marah atau melawan maka aku balas dengan senyuman, pelukan serta bernegosiasi dengannya. Tentu saja bahasa yang kugunakan harus mudah diterimanya. Pada saat itu aku memposisikan diriku sebagai seorang sahabat baginya. Aku dengarkan keluh kesahnya, protesnya, marahnya..sengaja kubiarkan ia meluapkan itu semua karena aku menganggap memang harus diluapkan. Tapi juga harus sesuai dengan aturan. Jika masih di batas normal aku biarkan. Namun jika sudah melampaui batas (bahkan hingga anarkhis) maka aku harus bertindak tegas kepadanya termasuk salah satunya dengan membuat perjanjian untuk tidak mengulanginya lagi..secara tidak langsung Pasha belajar bagaimana bertanggungjawab dengan janjinya sendiri…selain itu contohkan pada pemimpin kecil kita untuk tak segan mengucapkan kata “maaf” sebab pemimpin yang baik bukan hanya dibutuhkan ketegasan tapi juga sifat rendah hati termasuk tak segan untuk meminta dan memberi maaf…

 

klik ya biar jelas

  Selain fase tantrum, Pasha juga tak jarang agak susah makan. Ini memaksaku untuk memutar otak agar bisa mengembalikan mood makannya. Bagaimanapun asupan nutrisi yang diperoleh dari makanan sangat berpengaruh dalam menciptakan anak-anak berjiwa pemimpin. Biasanya, aku berkreasi dengan menu makanan baru serta membeli wadah makanan yang lucu-lucu agar ia tertarik dan bernafsu makan kembali. Alhamdulillah sejauh ini caraku selalu bisa mengembalikan mood makannya termasuk minum susu. Menurutku sehat dan tak kurang gizi adalah nomor satu. Bagaimana ia akan menjadi seorang pemimpin jika ia tak sehat ?! apalagi jika asupan nutrisi yang kurang akan membawa dampak anak menjadi lemas dan tak bersemangat..karena itulah aku selalu paling sedih jika Pasha mulai gak selera makan…

 Sejak dini aku bertekad untuk mendidik anak-anakku menjadi individu yang berjiwa sosial, peka terhadap sekitarnya dan mandiri dalam segala hal. Sebagai seorang ibu yang juga bekerja kantoran, memang tak seluruh waktuku bisa bersama anak-anak..namun bagiku kualitas kebersamaan itu jauh lebih berharga ketimbang kuantitas semata..karena itulah aku selalu mengajarkan kemandirian sejak dini kepada mereka.

 

Pasha mencium adiknya dengan penuh kasih sayang

 Hal yang paling sederhana misalnya saat aku akan berangkat kerja..aku menghindari berbohong dan bermain kucing-kucingan agar Pasha gak menangis saat kutinggal. Kukatakan terus terang dengan bahasa yang mudah bahwa “ibu pergi untuk bekerja mencari uang untuk membeli mainan kamu, membeli susu kamu, membeli baju baru, beli makanan si meong..jadi kamu gak boleh nangis yaaa..karena ibu nanti akan kembali..” pada mulanya Pasha menangis dan minta ikut, tapi aku harus tegas dan mencoba memberinya tugas tanggungjawab seperti “Pasha, kamu nanti harus siram bunganya ya, jangan lupa kasi makan si meong..dan dengarkan kata mba Ranti (baby sitter) ya..i love you son..bunda yakin kamu pasti bisa !” daaann yippiii..usahaku berhasil..Pasha dengan bangga berkata “iya bundaaaa..meong mamam (baca:makan si meong)..unga siyam (baca:siram bunga)” lalu kami pun beradu tangan “TOSSSS” sebelum aku berlalu meninggalkan rumah..bahkan ia melambaikan tangannya “dadaaaa..ati-ati yaaa” begitu teriaknya padaku..

 Mengapa kulakukan itu ? karena aku gak mau membohongi Pasha..sepahit apapun kejujuran harus dikedepankan. Menerima kejujuran walau pahit merupakan prestasi tersendiri dan ciri pemimpin yang hebat daaaannn Pasha can do that !

 

proud of you Pasha

  Kita nggak pernah tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari..dan hidup tak selamanya sesuai dengan apa yang kita inginkan. Karena itulah penting bagiku mengajarkan jiwa yang kuat untuk anak-anakku. Jiwa yang kuat akan menjadikan individu menjadi manusia yang siap menerima tantangan apapun…disaat berada dalam situasi yang tidak menguntungkan maka ia dapat bersabar serta gak mudah putus asa dan disaat ia berada pada kondisi yang bagus maka ia menjadi individu yang rendah hati dan tidak sombong..Oleh karena itu penting sekali mengajarkan pendidikan agama sejak dini kepada anak..sebab dengan pondasi keimanan pada Tuhan YME insyaAllah anak akan terlindungi dan bisa memilah mana yang baik dan mana yang buruk..untuk memenuhi kebutuhan rohaninya aku mendorong Pasha untuk belajar mengaji di mushola dekat rumah. Walaupun masih banyak bermainnya dan ia pun senang dan bersemangat karena di mushola banyak teman-teman mengajinya, setidaknya ini sudah awal yang baik untuk mempersiapkannya menjadi calon pemimpin masa depan…

 

pemimpin sholeh

 Pernah suatu ketika Pasha kalah dalam sebuah perlombaan. Sedih ? pasti ! tapi hebatnya Pasha bisa menerima kekalahannya dengan berbesar hati dan sportif. Bahkan nggak pernah ia mogok nggak mau ikut lomba gara-gara pernah kalah. Bukankah itu juga salah satu ciri pemimpin sejati ?!

 

tropy Pasha

Begitu juga saat ada salah satu temannya jatuh di halaman rumah kami, lututnya sedikit tergores dan berdarah, tanpa kuduga Pasha menggandeng tangan temannya lalu menaikkannya ke atas sepeda baby-nya dan mengantarkan temannya pulang (kebetulan rumahnya hanya berjarak dua rumah) dengan mendorong sepedanya. Begitu sampai rumah kupeluk dia, kuseka keringatnya dan kubisikkan “kamu hebat !”

 Pada dasarnya peran ibu untuk si pemimpin cilik sangatlah besar. Namun perlu untuk digarisbawahi bahwa anak cenderung meniru dengan apa yang dilakukan orangtuanya terutama ibu. Maka penting menjadi seorang ibu yang cerdas dalam memerankan berbagai peran untuk membentuk karakter “pemimpin sejati” bagi sang anak. Berprestasi bukan melulu soal menang dalam perlombaan sebab hadiah, piala, dsb tak lain hanya “bonus” bagi kemenangan mereka..namun prestasi sejati justru saat mendapati anak-anak kita bisa berbuat kebaikan, dapat bersosialisasi dengan lingkungannya, sehat dan ceria ketika beraktifitas, mandiri dalam segala hal serta mampu menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri…

 

di klik ya biar jelas

  At last…ibu adalah wanita super yang ada untuk anak-anaknya..mampu berperan apa saja, sebagai ibu, sahabat, dokter, ahli gizi, guru dan masih banyak lagi..ibu juga selalu menyebut anaknya dalam setiap doanya, siap memeras keringat untuk memenuhi kebutuhan anaknya, sanggup melupakan kesenangannya demi bisa menemani anaknya…ibu hampir tak punya waktu untuk dirinya sendiri karena habis untuk memikirkan anaknya..dan semua itu ia lakukan tulus..untuk siapa ? hanya untuk Pemimpin Kecilnya !