Buku Benteng dari Mak’e untuk si Pemimpin Kecil

Oleh Afifatul Mukaroh 28 Sep 2013

“Mak’e”, begitulah aku memanggilnya. Mak’e adalah sosok ibu yang rela melakukan apa saja untuk kebaikan anak-anaknya. Saat umurku lima tahun, Ayahku berpulang dan sejak itulah Mak’e seorang diri bekerja untuk keluarga. Sawah adalah ladang Mak’e mencari uang. Tak begitu banyak mungkin gaji yang didapat, tapi Mak’e telah membuktikan bahwa uang bukan patokan untuk bisa menciptakan si pemimpin kecilnya. 
 
Oh ya, akulah si pemimpin kecil itu. Namaku “Fifa”, umurku dua puluh tahun, dan kini aku sedang pertukaran pelajar di Korea Selatan. Bukan hal yang mudah memang, mengingat kami bukan berasal dari kalangan yang serba berkecukupan. Tapi nasihat Mak’e tentang uang yang bukan segala-galanya membuatku bertekad bahwa apa yang aku impikan tak boleh terhenti hanya karena uang. Dan yah, sampailah aku di sini. 
 
Sejak kecil Mak’e mengajariku tentang pentingnya belajar. Meski dalam keadaan sulit pun Mak’e selalu punya cara untuk membuatku belajar. Aku jadi teringat suatu kisah sewaktu aku kecil. Sebuah pengalaman yang lucu, tapi penuh haru. Tentang betapa berperannya Mak’e hingga akhirnya sekarang aku bisa seperti ini, Mak’e yang saat itu tidak bisa memenuhi permintaan anak kecilnya untuk masuk Taman Kanak-Kanak tapi bisa mendidik anaknya menjadi pemimpin kecil kebanggaan. 
 
“Mak! Sinok pengen masuk TK kayak anak-anak lain!” ucapku saat berumur empat tahun. Mungkin ini terdengar terlalu dewasa untuk anak sesusiaku saat itu. Tapi ku rasa tidak, karena sebenarnya alasanku saat itu hanya karena aku iri ketika melihat teman-teman sebayaku sepulang dari TK membawa karangan origami atau play-doh. Hanya itu, dan tak terlintas di benakku sedikitpun karena ingin belajar. 
 
“Nok, itu Mak’e bawain buku Benteng!”, dan Mak’e malah membelikanku buku tulis merk “Benteng” berharga dua ratus rupiah. Aku tak mengerti sama sekali untuk apa ini? Kenapa Mak’e membelikan ini? Dan apa yang bisa ku lakukan dengan ini? Pertanyaan-pertanyaan luguku muncul begitu saja hingga akhirnya buku ini malah menjadi mainan favoritku. Berawal dengan mencoret-coret buku Benteng ini dengan gambar-gambar benang ruwet kemudian berlanjut dengan huruf A, B, C, sampai Z. Akhirnya aku malah begitu nyilek dan lupa tentang keinginanku untuk masuk TK. 
 
Aku akui Mak’e bukan orang yang berpendidikan. SD pun beliau tidak tamat. Tapi Mak’e tahu sekali bagaimana harus mendidikku. Walaupun Mak’e tidak begitu mahir, beliau tetap berusaha mengajariku tentang apa itu alphabet, bagaimana membaca, dan bagaimana menulis, yang tentunya dengan buku Benteng yang Mak’e belikan itu. 
 
Aku tahu Mak’e sedang dalam masa-masa sulit saat itu dan tidak bisa membawaku ke sekolah TK karena tidak ada uang. Sakit ayahku juga sedang parah-parahnya saat itu sedangkan Mak’e harus menanggung hidupku, kakak, dan buyut. Tapi walau begitu Mak’e tetap mampu mendidik anaknya menjadi pemimpin kecil yang membanggakan dengan caranya yang unik itu. 
 
Dan terbukti. Ketika aku sudah masuk SD, walau sebelumnya aku tidak masuk TK, walau sebelumnya aku hanya belajar seadanya dengan Mak’e, walau sebelumnya aku hanya bermodal buku Benteng, tapi pertama kali pembagian raport kelas satu, aku langsung mendapat peringkat satu. Dan akhirnya ini pun menjadi motivasiku untuk terus mempertahankan prestasi. 
 
Sekian cerita pengalamanku. Yang jelas Mak’e berperan besar sekali di hidupku. Ma’e adalah motivasiku. Maturnuwun Mak’e. Maturnuwun juga untuk Nutrisi untuk Bangsa yang sudah memberi kesempatan untuk menulis ini. Tulisan ini dilombakan untuk :