Ibuku Inspirasiku

Oleh Christmastuti Nur 21 Oct 2013

The solution to adult problems tomorrow depends on large measure upon how our children grow up today.

–Margaret Mead

 

Sekali waktu, ayah bertutur pada kami anak-anaknya, bahwa ibu rajin makan sayur-sayuran, buah-buahan, telur ayam kampung, madu, dan minum susu ketika mengandung kami. Jauh sebelum blender populer seperti sekarang ini, Ibu selalu memarut sendiri wortel untuk diperas dan diminum sarinya. Makan tomat mentah sebagai ganti camilan pun Ibu lakukan setiap hari. Semua ibu lakukan di tengah rasa mual, karena ibu yakin anak-anaknya memerlukan vitamin dan nutrisi yang terbaik. Darinya, saya belajar artinya memberi yang terbaik.  

Ketika tiba saatnya melahirkan, tentulah Ibu merasakan sakit bersalin yang luar biasa. Apalagi kelahiran kami anak-anaknya tidak mudah. Kakak dilahirkan dengan proses caesar karena air ketuban hampir habis, sedangkan saya dilahirkan melalui proses normal yang memakan waktu cukup lama. Tapi ibu tetap menyambut kami tanpa keluh ke dunia. Darinya saya belajar artinya pengorbanan.

Waktu berlalu, kamipun anak-anaknya tumbuh dengan sehat. Ibu memilihkan kami sekolah dan lingkungan tempat tinggal yang baik, sehingga mendukung karakter kami dididik dengan baik pula. Dulu saya pernah bertanya pada Ibu, mengapa saya tidak disekolahkan di sekolah itu? Atau bertanya, mengapa kita harus tinggal di kampung seperti ini? Tapi pertanyaan saya itu pun terjawab seiring dengan cara ibu mengenalkan kami pada sekolah dan lingkungan yang plural supaya kami bisa bergaul dan bersosialisasi dengan siapa saja dari latar belakang apapun. Dari situ saya belajar artinya toleransi.

Sewaktu masih bersekolah, ibu teman saya heran mengapa saya selalu sempat sarapan sebelum berangkat sekolah. Sebabnya, ibu membiasakan kami anak-anaknya sedari kecil untuk sarapan dan minum susu setiap hari. Itu artinya saya harus bangun lebih pagi demi meluangkan waktu untuk mengunyah makanan dan meneguk segelas susu hangat. Dulu terasa berat sekali. Tapi kini saya mengerti, proses belajar tidak akan optimal, jika perut lapar atau tubuh sakit-sakitan. Kebiasaan yang ibu tanamkan mengajarkan saya kedisiplinan.

Hingga suatu ketika saya terbangun pukul 03.30 pagi. Terdengar suara pisau beradu dengan talenan kayu. Penasaran, saya tengok dapur kecil rumah kami. Rupanya ibu sudah bangun demi memasak sarapan untuk kami. Ah Ibu, selalu tidur paling larut tetapi bangun paling pagi. Di tengah kesibukannya bekerja sebagai guru yang juga harus berangkat pagi, ibu masih sempat menunjukkan kasihnya kepada kami. Darinya saya belajar artinya ketulusan.

Sepulang sekolah dan beraktivitas, Ibu selalu menanyai apa yang sudah kami lakukan seharian. Ibu selalu antusias dan tidak pernah bosan mendengarkan cerita-cerita kami yang kadang tidak terangkai sesuai alur dan muncul dengan berbagai ekspresi. Binar matanya selalu menatap mata kami dengan kesungguhan. Kadang Ibu menanggapi celotehan yang meluncur deras dari mulut kami dengan senyuman atau dengan pertanyaan yang membuat kami balik bertanya lagi dan lagi. “Apa itu, Bu? Mengapa begini, Ibu? Siapa seharusnya, Bu?” dan sederet pertanyaan lainnya. Darinya saya tidak hanya belajar menjadi kritis tapi juga menjadi pendengar yang baik.

Pernah suatu ketika saya malas berangkat les Bahasa Inggris dan memilih untuk mengarang cerita bualan khas anak-anak. Sekali membolos tentulah tidak apa-apa, pikir saya. Sayangnya, dengan mudah ibu mengetahui kebohongan saya. Ibu pun menegur dan memperingatkan, jika saya sekali berbohong maka saya harus berbohong lagi untuk menutupi kebohongan yang lain. Itulah sebabnya, jauh lebih mudah untuk berkata yang sebenarnya. Saya sungguh menyesal. Sejak saat itu saya berusaha jujur dalam hal apapun. Sisa uang membeli gula di warung selalu saya kembalikan. Uang yang ayah taruh di meja pun tidak pernah diam-diam saya ambil. Ketika dewasa, saya pun tidak kesulitan lagi bertindak jujur karena terbiasa. Saya tidak mau melanggar lampu merah walaupun tidak ada polisi yang mengawasi. Saya tidak menggunakan fasilitas kantor sesuka hati walaupun saya diberi kepercayaan. Saya berusaha jujur walaupun tidak ada orang yang melihatnya. Dari kejadian itulah saya belajar kejujuran dan mempertahankan integritas.

Sejak kelas 5 SD ibu melatih kami anak-anaknya untuk mencuci dan menyetrika baju sendiri, di samping tugas rumahan seperti mencuci piring, dan menyapu lantai serta halaman. Tak adanya asisten rumah tangga sejak kami kecil tidak hanya mencegah kami menjadi manja, tapi lebih terasa manfaatnya saat kami tinggal di kos atau berumah tangga sendiri kelak. Sebisa mungkin tidak merepotkan orang lain, apalagi untuk hal-hal yang bisa dikerjakan sendiri. Ibu telah mengajarkan kami artinya hidup mandiri.

Ibu tidak pernah melarang saya berkompetisi, sebab kompetisi melatih saya untuk percaya diri dengan kemampuan yang saya miliki. Pernah ikut lomba menulis tetapi kalah. Pernah ikut lomba menyanyi juga kalah. Pernah ikut lomba mewarnai dan menggambar masih kalah lagi. Berkali-kali kalah membuat saya menyerah. Tapi ibu selalu ada menjadi salah satu pendukung saya yang terbaik. Dilatihnya saya untuk tidak berhenti berlatih walau kadang saya merasa tidak ada gunanya. Anggapan ibu bahwa saya tidak pernah gagal itulah yang akhirnya mengantar saya menjadi juara pertama lomba menggambar tingkat daerah. Ibu telah mengajarkan saya artinya pantang menyerah.

Setiap naik kelas di sekolah, kami jarang dibelikan sepatu dan tas baru. Ibu selalu menyampaikan pada kami, untuk menjaga dengan baik milik kami supaya awet dan bisa dipakai lagi tahun berikutnya. Sebagai anak-anak, saya merasa sedih karena teman-teman di sekolah saja sering berganti tas, sepatu, bahkan alat tulis baru. Ibu pun mengerti kesedihan saya dan meminta saya untuk menabung uang saku pemberian nenek atau ayah supaya bisa membeli barang yang saya inginkan. Tak lupa ibu mengingatkan untuk membeli barang sesuai dengan kebutuhan. Jika kita terbiasa membeli sesuatu yang kita inginkan, maka suatu hari kita harus menjual sesuatu yang sangat kita butuhkan, begitu pesan ibu. Saya pun memilih membawa bekal ke sekolah, supaya menghemat uang jajan. Hingga akhirnya waktu kenaikan kelas 6 SD saya bisa membeli tas baru ganti tas yang sudah usang dengan uang tabungan sendiri. Dari hal itu saya belajar artinya fokus pada tujuan.

Walaupun sudah bekerja, ibu masih harus berjualan untuk menambah penghasilan. Apa saja, mulai dari kemeja, sepatu, jas hujan, payung, bahkan keripik pun pernah ibu jual ke teman arisan atau tetangga. Melihat ibu, saya pun tidak sanggup jika harus merengek dibelikan kendaraan baru sebagai hadiah masuk SMA favorit seperti teman yang lain. Saya berusaha tetap semangat naik sepeda ke sekolah seperti biasanya tanpa rasa minder. Ibu selalu menasihati saya, bagaimana dengan barang yang masih lama, kamu tetap bisa menunjukkan bahwa dirimu berprestasi. Prestasimu tidak ditentukan dari seberapa mahal barang milikmu, tapi dari seberapa gigih kerja kerasmu. Ibu telah mengajarkan saya artinya kesederhanaan.

Prinsip itu yang saya pegang sampai lulus dari bangku kuliah hingga sekarang. Saat teman-teman kuliah  sudah mengendarai mobil pribadi, saya bersyukur masih bisa ke kampus naik angkutan kota. Jika tidak ada uang, tak jarang pula berjalan kaki, hitung-hitung olahraga. Saat teman kuliah bisa ganti-ganti kos dengan fasilitas yang lengkap, saya bersyukur masih ada kos sewa tahunan yang harganya pasti lebih miring. Saat teman kuliah bisa jalan-jalan dan makan di mall, saya bersyukur masih bisa makan tiga kali sehari waktu itu. Warren Buffet saja pernah berkata, orang yang berbahagia bukanlah orang yang hebat dalam segala hal, tapi yang bisa menemukan hal sederhana dalam hidupnya dan mengucap syukur. Dari pengalaman hidup itu, saya betul-betul belajar artinya bersyukur dalam segala keadaan.

Meski program studi yang saya pilih ketika kuliah tidak semudah yang dibayangkan, saya berkomitmen untuk menyelesaikan pendidikan hingga akhir. Tinggal di kota lain dengan bahasa yang asing bagi saya, penelusuran ke sudut-sudut kota untuk mencari bahan kuliah, tuntutan tugas dari dosen yang begitu sulit, teman-teman kuliah yang begitu cerdas dan berbakat, merupakan hal-hal yang mewarnai perjuangan saya untuk berani mengambil resiko. Selesaikan apa yang sudah kamu mulai, kalimat ibu itulah yang sering terngiang di telinga saya. Dari pesan ibu, saya belajar artinya bertanggung jawab. Pengalaman demi pengalaman itulah yang membawa anak kampung seperti saya lulus dari perguruan tinggi negeri terbaik dengan predikat cumlaude.

Hal kecil sehari-hari yang telah ibu lakukan untuk kami anak-anaknya, merupakan teladan yang berbicara jauh lebih nyata dari sekedar kata-kata. Hidupnya telah menjadikan kami bukan hanya pemimpin-pemimpin bagi diri kami sendiri, tapi juga menginspirasi seluruh hidup saya. Kesempatan saya untuk mendidik mahasiswa saat ini, tidak mengurangi semangat saya untuk mendidik anak-anak kecil di lingkungan tempat kami tinggal. Saya sungguh terharu ketika beberapa di antara mereka—sekarang seusia remaja, yang terinspirasi dari apa yang telah saya lakukan untuk mereka di waktu mereka masih kecil. Saya percaya dengan sebutan bahwa seorang pendidik haruslah orang yang terdidik. Saya tidak bisa mendidik orang lain jika saya sendiri tidak dididik. Profesi pendidik adalah profesi yang menghasilkan lebih banyak profesi di dunia, bahkan menghasilkan pemimpin-pemimpin besar di masa mendatang. Setiap ibu di dunia ini adalah pendidik pertama bagi anak-anaknya. Seperti yang diungkapkan Margaret Mead di awal kisah ini, bagaimana kelak seseorang akan menjadi dewasa, tergantung dari bagaimana mereka tumbuh hari ini.