Memonitor Anak dalam Penggunaan Medsos

Oleh Nutrisi Untuk Bangsa 12 Jun 2019

Sahabat NUB,

Harus diakui, kemajuan teknologi digital tak bisa lagi dibendung ya Bunda. Akses ke internet, terutama media sosial ibarat berada di ujung jari. Bagi mereka yang sudah cukup dewasa mungkin tak menjadi soal menggunakan beberapa bentuk media sosial dan memiliki profil di situs jejaring sosial.

Namun bagi anak dan remaja, media sosial bisa menjadi pedang bermata dua: Ada banyak hal baik namun sekaligus hal buruk, terutama jika tak bijak menyikapinya.

Sebagai orangtua Bunda mesti memonitor penggunaan media sosial buah hati. Anak-anak dan remaja kadang belum terlalu paham berbagai risiko yang harus mereka hadapi saat menggunakan sosial media dan situs jejaring sosial. Penting untuk mendiskusikan aturan main penggunaan media sosial secara bijak dengan anak

Media sosial tidak selalu negative. Jika digunakan secara bijak, wahana ini dapat membantu anak-anak tetap terhubung dengan teman dan keluarga, terlibat dalam kegiatan sosial (amal atau gerakan nirlaba), meningkatkan kreativitas mereka dengan berbagi ide, musik, dan seni juga bertemu dan berinteraksi dengan orang lain yang memiliki minat yang sama hingga menjadi sarana komunikasi dengan pendidik dan sesama siswa

Namun media juga memiliki sisi buruk, yaitu bisa menjadi sarana cyberbullying dan kegiatan yang tidak seharusnya dilakukan. Anak-anak dan remaja umumnya memposting foto diri atau menggunakan nama asli di profil mereka, mengungkapkan tanggal lahir dan minat, hingga memposting nama sekolah dan kota tempat tinggal di media sosial. Ini dapat menjadikan mereka sasaran empuk bagi predator daring dan pihak lain yang mungkin memiliki niat tidak baik.

Selain masalah seperti cyberbullying dan predator daring, anak-anak juga dapat menghadapi kemungkinan perjumpaan fisik dengan orang yang salah. Banyak aplikasi yang lebih baru secara otomatis mengungkapkan lokasi saat digunakan. Ini dapat memberi tahu siapa pun untuk menemukan orang yang menggunakan aplikasi tersebut.

Mengunggah foto yang tidak pantas dapat merusak reputasi dan menyebabkan masalah bertahun-tahun kemudian - seperti ketika dilakukan pemeriksaan latar belakang saat melamar kerja. Mengirim tulisan atau komentar yang kejam, bahkan sebagai lelucon, bisa sangat menyakitkan bagi orang lain dan bahkan dianggap sebagai ancaman.

Menghabiskan terlalu banyak waktu di media sosial juga bisa membuat anak-anak ini tertekan. Melihat berapa banyak “teman” yang dimiliki orang lain dan foto-foto mereka yang bersenang-senang dapat membuat anak-anak merasa memiliki citra yang buruk terhadap diri sendiri, atau dia bahkan merasa tidak “sepadan” dengan teman-temannya.

Media Sosial Tidak Tepat untuk Anak

Hal yang ditekankan oleh psikolog terkait media sosial adalah wahana online ini tidak dirancang untuk anak-anak dan remaja. Korteks frontal yang belum berkembang tidak dapat mengelola gangguan atau godaan yang datang dengan penggunaan media sosial.

Mengapa media sosial tidak tepat untuk konsumsi anak-anak? Berikut sejumlah alasannya:

Media sosial sekadar hiburan

Selain itu, media sosial adalah teknologi hiburan, yang tidak menjadikan anak lebih pintar atau lebih siap untuk kehidupan nyata atau pekerjaan di masa depan. Media sosial juga tidak berkontribusi terhadap pembangunan sosial yang sehat: Ini adalah hiburan murni yang melekat pada platform pemasaran yang ‘mengambil’ informasi dan preferensi anak saat mereka menggunakannya. Belum lagi berjam-jam waktu yang dihabiskan anak di sana.

Bikin ketagihan

Satu hal yang tak boleh dilupakan: Media sosial adalah bentuk hiburan layar yang membuat ketagihan. Dan, seperti kecanduan video game, penggunaan awal dapat menentukan pola dan kebiasaan kecanduan di masa depan. Media sosial menggantikan pembelajaran “kerja” sosial yang sulit untuk berhadapan langsung dengan teman sebaya, suatu keterampilan yang perlu mereka praktikkan agar berhasil dalam kehidupan nyata.

Anak bisa kehilangan koneksi dengan keluarga

Psikolog juga menyoroti bahwa media sosial dapat menyebabkan remaja kehilangan koneksi dengan keluarga dan sebaliknya memandang “teman” sebagai fondasi mereka. Karena otak kognitif masih terbentuk, kebutuhan anak remaja untuk melekat pada keluarga sama pentingnya seperti ketika mereka masih anak-anak.

Untuk itulah orangtua perlu memastikan keterikatan itu kuat. Remaja mungkin membina keterikatan pada teman sebaya, namun sejatinya mereka membutuhkan lebih banyak keterikatan dengan keluarga.

Yang Harus Disikapi Orangtua

Lantas apa yang bisa dilakukan orangtua menyikapi hal ini?

1.Tetap terlibat

Penting untuk mengetahui apa yang dilakukan anak saat online. Kuncinya adalah tetap terlibat dengan cara yang membuat anak-anak mengerti bahwa orangtua menghormati privasi mereka tetapi ingin memastikan mereka aman.

2. Berikan rambu-rambu yang jelas

Beri tahu anak-anak pentingnya bersikap baik di media sosial. Jelaskan bahwa ia perlu memperlakukan orang lain dengan hormat, dan tidak pernah mengirim pesan yang menyakitkan atau memalukan. Dan minta mereka untuk selalu memberi tahu Bunda tentang pesan pelecehan atau intimidasi yang diposkan orang lain. Ingatkan anak bahwa apa yang mereka unggah dapat digunakan untuk melawan mereka.

Memberitahukan rencana liburan dan mengunggah alamat rumah di media sosial akan memberi peluang pihak tidak bertanggung jawab, misalnya pencuri, mengambil keuntungan. Ingatkan anak untuk tidak mengunggah lokasi tertentu saat menghadiri acara, atau mencantumkan nomor telepon.

3. Gunakan pengaturan privasi

Pengaturan privasi ini penting. Lakukan bersama untuk memastikan anak-anak memahaminya. Jelaskan bahwa ada kata sandi untuk melindunginya terhadap hal-hal seperti pencurian identitas. Mereka tidak boleh membaginya dengan siapa pun, bahkan terhadap teman atau sahabat.

4. Minta anak tidak berteman dengan orang asing

Minta anak untuk tidak berteman dengan orang asing. “Jika tidak mengenalnya, jangan berteman dengan mereka.” Ini adalah aturan praktis yang sederhana dan aman.

5. Buat kesepakatan

Pertimbangkan untuk membuat “perjanjian media sosial” dengan anak-anak – kesepakatan nyata yang bisa mereka tandatangani. Isi kesepakatan antara lain anak setuju untuk melindungi privasi, mempertimbangkan reputasi mereka, dan tidak memberikan informasi pribadi ke pihak lain. Bunda dapat menjadi ‘teman’ di media sosial dan mengontrol unggahan anak.

6. Batasi penggunaan media sosial

Orangtua juga dapat membantu menjaga anak-anak tetap hidup di dunia nyata dengan membatasi penggunaan media sosial. Simpan komputer di tempat umum di rumah, hindari laptop dan telepon pintar di kamar tidur, dan tetapkan beberapa aturan tentang penggunaan teknologi (seperti tidak ada perangkat di meja makan).

Dan jangan lupa: Orangtua memberi contoh yang baik melalui perilaku virtual dapat membantu anak-anak menggunakan media sosial dengan aman.

7. Rencanakan waktu tatap muka

Bunda perlu mengatur waktu tatap muka dengan teman-teman anak di dunia maya. Ingatlah bahwa anak tidak membutuhkan ratusan teman. Faktanya empat hingga enam teman dekat sudah cukup untuk perkembangan sosial yang sehat. Bantu mereka belajar bagaimana merencanakan acara kumpul-kumpul sosial yang nyata, langsung, seperti permainan papan, memasak pizza, atau menjadi tuan rumah acara santai di akhir pekan.

Semoga berguna ya Bunda.

Referensi

https://kidshealth.org/en/parents/social-media-smarts.html

https://www.psychologytoday.com/us/blog/mental-wealth/201703/why-social-media-is-not-smart-middle-school-kids

https://www.verywellfamily.com/social-media-for-kids-how-to-keep-them-safe-621147