Sembilan Pilar untuk Menyiapkan Pemimpin Generasi Platinum

Oleh isnaini khomarudin 21 Oct 2013

Dalam sebuah forum kajian kecil yang saya ikuti, sang pembicara membuka ceramahnya dengan melempar pertanyaan kepada audiensi, “Sejak kapankah pendidikan anak seharusnya dimulai?”

Lalu satu dua orang dari audiensi mencoba menjawab, “Sejak anak lahir, Pak.” Pembicara menggeleng sambil tersenyum. Beberapa orang lainnya menyambut pertanyaan tersebut, “Sejak bayi dalam kandungan?” ujar mereka dengan suara tak yakin. Ternyata pembicara sekali lagi memberi tanda bahwa jawaban mereka belum tepat.

Audiensi pun segera senyap dalam keingintahuan. “Pendidikan anak seharusnya sudah dimulai ketika kita memilih pasangan.” Jawaban sang Pembicara segera disusul bisik-bisik setuju dari hadirin. Lalu pembicara melanjutkan presentasi tentang kisah Hirotada Ototake, seorang anak difabel dari Jepang yang dididik dan dibesarkan sebagai anak normal. Meskipun dilahirkan tanpa lengan dan kaki, Oto mampu mengenyam pendidikan di sekolah anak-anak normal dan akhirnya berhasil diterima di Universitas Waseda yang terkenal itu. Selain itu, Oto mahir bermain bola basket dan pandai memasak. Kini Oto didapuk sebagai guru olahraga dan kesehatan di SD Suginamiku, Tokyo. Kisah luar bisa inspiratif ini bisa disimak di berbagai blog ataupun laman dunia maya.

Rahasia keberhasilan anak ini adalah orangtuanya memutuskan bahwa Oto harus bisa “hidup normal” di mana mereka tidak memberikan perlakuan khusus baik di rumah maupun di sekolah. Maka kesuksesannya sebagai penulis dan tokoh inspiratif yang kerap diundang di berbagai seminar merupakan hasil dari optimisme dan pendidikan positif orangtuanya sejak kecil.

Tak heran bila kami (saya dan istri) sangat memperhatikan pendidikan anak selagi mereka sangat belia. Kami yakin kami telah melakukan proses seleksi yang ketat dalam menentukan pasangan hingga kami dipertemukan sebagai suami dan istri. Dengan demikian, tahap pertama sebagaimana diwejangkan oleh sang Pembicara di atas telah kami lalui.

Kini perjalanan sebenarnya baru saja dimulai. Dua putra kami, Rumi (3,5 tahun) dan Bumi (14 bulan) sedang berada dalam masa emas yang menentukan keberhasilannya di masa depan. Pada tahap inilah kami yakini berlangsung proses internalisasi nilai-nilai yang akan menjadi bekal kehidupannya kelak. Sebagai kakak, Rumi memang kami latih dan biasakan untuk menerima pelajaran-pelajaran penting agar dia siap menjadi pemimpin masa depan.

Dan istri saya sebagai ibu, dibantu saya sebagai ayah, merumuskan sembilan pilar utama untuk membentuk putra kami sebagai pemimpin kecil.

JUJUR

Kejujuran, bagi kami, adalah investasi terbesar dalam kehidupan manusia. Kejujuran merupakan modal utama yang tak bisa ditawar-tawar pada diri seorang manusia, apalagi calon pemimpin. Bila sejak kecil anak terbiasa tak jujur, maka sangat mungkin kebiasaan itu akan terbawa menjadi sistem buruk yang menuntun pada tindakan bejat seperti korupsi dan penyelewengan hal-hal yang tak menjadi haknya.

Kami menganggap krusial pelajaran kejujuran karena melihat kasus korupsi yang seolah mewabah di tanah air. Korupsi ibarat penyakit kronis yang sulit disembuhkan karena telah berakar sebagai elemen buruk seseorang. Dengan tertanamnya nilai kejujuran pada putra kami, diharapkan ia akan tampil sebagai pribadi yang apa adanya tanpa merugikan atau memangkas hak-hak orang.

Setahun terakhir kami merintis usaha makanan ringan yakni wingko. Setiap kali mengerjakan pesanan, Rumi selalu bersemangat menemani ibunya. Selagi istri saya memanggang wingko, saya bertindak sebagai asisten untuk menata wingko yang sudah matang di atas talam. Sedangkan Rumi dengan gembira mengipasi wingko agar dingin dan bisa segera dikemas.

Dalam kondisi hiruk pikuk demikian, Rumi biasanya meminta izin untuk menikmati wingko yang sudah matang. Dia baru mencomotnya begitu kami memberi izin. Maklum saja karena dia memang doyan segala jenis makanan. Karena saya sibuk hilir mudik dari dapur ke ruang tengah, maka kadang tak sadar Rumi melahap lempengan wingko yang lain. Saat kami tanya dia habis berapa potong, dia selalu menjawab jujur. Dua atau tiga potong, dia tak pernah menyembunyikan fakta. Setelah dihitung berdasarkan lubang pada loyang, ternyata jumlahnya selalu akurat. Di mata kami ini merupakan kebanggaan tersendiri karena Rumi menyatakan apa yang telah ia lakukan.

Begitu pula ketika adiknya menangis. Kami langsung menginterogasi kakaknya. Jika Rumi memang telah menjailinya, maka ia tak segan mengaku. Misalnya telah mencubit atau merebut mainan adiknya. Tak jarang kami memang cenderung menyalahkannya padahal ternyata adiknya sendiri yang sedang lebay dan menangis sendiri. Ini mungkin tindakan kejujuran yang sederhana, namun penting kami catat sebagai pilar yang akan membentuk jiwa kepemimpinannya.

TANGGUNG JAWAB

Tanggung jawab adalah kualitas lain yang ingin kami  tanamkan pada diri Rumi. Sesuai namanya, tanggung jawab berarti bersedia menanggung apa yang menjadi konsekuensi dari sebuah tindakan. Kami berikan pemahaman kepadanya bahwa kita harus sudi menerima akibat dari apa yang kita perbuat.

Sebagai contoh, kami tak bosan mengajarkan dan memberinya contoh tentang membuang sampah pada tempatnya. Menurut hemat kami, meletakkan sampah makanan atau minuman yang kita konsumsi pada tempat yang disediakan adalah bentuk tanggung jawab yang paling nyata dan gamblang. Setelah mengonsumi sesuatu dan menghasilkan sampah, maka adalah perbuatan yang tidak bertanggung jawab jika sampah dibuang sembarangan.

Tidak di mal, tidak di rumah atau di tempat umum lain, Rumi selalu menerapkan pelajaran ini. Tak jarang orang-orang di pusat keramaian melihatnya dengan pandangan aneh karena Rumi berjalan bergegas hanya demi melesakkan botol kemasan air atau kotak susu ke dalam tong sampah yang disediakan. Kami ingatkan dia bahwa tak apa kita berbeda dengan membuang sampah pada tempatnya. Itu adalah wujud tanggung jawab sebagai manusia terhadap lingkungan.

Suatu kali kami mendapati seorang anak bermain-main dengan aneka sampah kertas di halaman parkir sebuah pusat perbelanjaan. Istri saya lalu memungut satu keping sampah dan membuangnya di tong sampah. Ternyata si anak tersebut berhenti menendang-nendang gulungan kertas yang ada. Sebaliknya, ia mengambilnya dan memasukkannya ke dalam tong sampah walau dengan malu-malu. Ini juga pelajaran penting yang Rumi saksikan sebagai teladan konkret yang harus diikuti.

SEMANGAT BERBAGI

Negeri ini butuh banyak uluran tangan untuk mengangkat mereka yang kurang beruntung. Bangsa kita harus bergerak sinergis untuk mewujudkan kemakmuran yang merata. Dan itu bukan hanya tugas pemerintah. Kita sebagai elemen masyarakat harus pula mengambil bagian aktif dengan melakukan apa yang kita bisa. Nusantara tidak akan sejahtera hanya dengan saling menghujat atau menyalahkan. Yang kita butuhkan adalah aksi nyata dan tindakan konkret walaupun sederhana.

Dalam rangka itulah kami tak pernah bosan melibatkan Rumi dalam setiap kegiatan sosial yang kami ikuti. Semangat berbagi dan menumbuhkan simpati serta empati kami pandang sebagai nilai yang patut ia miliki. Mana mungkin calon pemimpin masa depan adalah pribadi yang mengabaikan kepentingan rakyatnya? Tentu saja pemimpin haruslah gemar menebar manfaat dan kebaikan demi perbaikan nasib rakyatnya. Sekurang-kurangnya mampu menggalang dan mengelola kegiatan yang bermanfaat.

Karena kami membantu sebuah yayasan yatim, maka sejauh ini kami sering mengajak Rumi dalam aneka kegiatan sosial yang mereka adakan. Makan bersama anak-anak yatim di mal dan pembagian uang santunan untuk anak yatim adalah dua acara yang ia ikuti dengan asyik. Selain itu, ia kami ajarkan tentang berbagi dengan melihat kami membagikan makanan atau uang kepada tukang sampah atau satpam kompleks. Maka ia pun tak segan mengirimkan makanan kepada tetangga atau temannya yang membutuhkan. Tentu saja atas prakarsa kami. Ini penting untuk menyiapkan dirinya sebagai pemimpin yang responsif dan penolong.

ETIKA DAN KESOPANAN

Tak jarang kami mendengar orang berpendapat bahwa anak-anak zaman sekarang kurang menunjukkan kesopanan atau kesantunan dalam berperilaku. Ini mungkin terdengar sepele, namun sebenarnya isu serius yang harus ditangani. Bila tidak dikelola dan diperhatikan, maka persoalan mengenai etika ini bisa memancing terjadinya perselisihan dan bahkan pertikaian dalam masyarakat.

Betapa sering kita mendengar kasus pertengkaran dua remaja atau dua kelompok yang saling tersinggung akibat omongan yang tak disengaja, atau mungkin yang disengaja. Pertikaian tersebut bahkan mengakibatkan korban nyawa. Ingatkah kita pada ekspresi umum yang ada di masyarakat yang berbunyi, senggol bacok? Ini adalah wujud tergerusnya nilai di mana orang modern sudah sedemikian kalap dalam menanggapi sesuatu yang sepele.

Oleh karena itu, menyiapkan anak agar beretika tentulah modal penting agar ia menjadi anggota masyarakat dan pemimpin yang terhormat. Orang yang ingin disegani harus terlebih dahulu menunjukkan penghargaan kepada orang lain. Kharisma tidak dibentuk dari kalimat perintah atau otoritas buta, melainkan dari sikap etis dan kesantunan yang mempesona. Tentu saja etika yang jujur dan tidak dibuat-buat demi mendapat pengakuan dan penghormatan semata.

Berkat arahan dan contoh ibunya, Rumi telah terbiasa mengucapkan “permisi” saat harus berjalan menyisir kerumunan. Kami sering bangga mendengarnya dipuji karena tak malu mengucapkan permisi. Ia pun tak sungkan untuk mengucapkan terima kasih setelah menerima sesuatu atau bantuan orang lain, bahkan dari kami sendiri. Ungkapan ‘tolong’ juga menjadi santapannya ketika harus memohon bantuan. Dan kalimat yang sekarang ia gemari adalah ‘maaf’. Ketika dimarahi karena diingatkan telah berbuat salah, Rumi tak jarang menangis. Lalu kalimat maaf pun terluncur dari bibirnya diiringi isakan tangis. Meminta maaf sama beratnya dengan memberi maaf. Maka persoalan maaf ini merupakan etika yang sangat unggul. Begitu juga dengan kata ‘silakan’ yang sudah refleks ia ucapkan.

SEMANGAT BELAJAR

Sebagai anak yang lahir pada tahun 2010, menurut pakar, Rumi termasuk ke dalam Generasi Platinum. Menurut psikolog Universitas Paramadina, Alzena Masykouri, Generasi Platinum lahir pada masa keterbukaan teknologi, keterbukaan cara berpikir, keterbukaan berperilaku, serta ketersediaan sarana pendidikan yang jauh lebih baik dibandingkan generasi-generasi sebelumnya. Anak-anak yang lahir pada tahun 2000 ke atas memiliki karakter yang unik yakni lebih ekspresif dan eksploratif selaras dengan arah perkembangan zaman. Lebih jauh lagi, Generasi Platinum merupakan golongan yang memiliki orientasi sekaligus kemampuan berkarya sehingga dapat berperan sebagai produsen, kreator, ataupun inisiator. 

Hal ini menuntu kami untuk merencanakan hal-hal positif yang bisa menunjang terwujudnya generasi hebat itu dengan betul-betul menjadi produsen dan penggagas yang kreatif. Oleh karena itulah kami senantiasa menegaskan perlunya belajar agar Rumi menjadi pribadi yang berhasil. Berhasil di sini tidak melulu mengandung kesuksesan materi melainkan keberhasilan sebagai elemen masyarakat yang tangguh dan adaptif terhadap perkembangan zaman yang kian mengglobal.

Agar ia siap bersaing dalam dunia yang menuntut persaingan ketat, maka adalah sebuah keharusan bahwa ia harus menyediakan diri untuk belajar dan belajar. Selain membelikan buku-buku yang cocok, istri saya atau ibu Rumi selalu gemar membaca dan menunjukkan bahwa kegiatan membaca buku (dan menulis) merupakan aktivitas yang bergengsi. Selain menambah wawasan dan kecakapan, buku juga menawarkan rekreasi unik yang murah meriah. Kami bisa berpetualang ke mana saja dengan menyusuri kalimat demi kalimat dalam buku.

Rumi tampaknya senang menikmati gambar-gambar dan aneka aktivitas yang terjadi pada halaman-halaman buku. Karena ia belum bisa membaca, maka ia biasanya mengambil buku sendiri lalu meminta ibunya menemani atau menjelaskan sembari ia membolak-balik halaman buku. Semangat belajar tidak hanya dari kegiatan membaca, tetapi juga menonton acara televisi yang mendidik. Ibunya telah menentukan jam nonton televisi dan memilihkan acara yang tepat untuk Rumi.

Selain itu, Rumi kerap kami bawa untuk mengikuti acara pelatihan atau pameran (baik buku, seminar maupun pameran pendidikan) untuk menambah wawasannya tentang dunia dan manfaat belajar. Ia selalu bersemangat mengikuti setiap kegiatan, apalagi kegiatan di luar rumah. Pernah kami ajak dia berkunjung di perpustakaan daerah dan dia takjub melihat deretan buku yang banyak. Ia pun lalu tenggelam dalam buku-buku cerita bersama ibunya.

KEMANDIRIAN

Beridiri di atas kaki sendiri selalu lebih mulia daripada bergantung pada orang lain. Itu yang selalu kami wejangkan kepada Rumi. Mampu melakukan hal-hal sendiri adalah pilar penting yang perlu kami pancangkan pada diri Rumi. Sebagai contoh, kini Rumi sudah mampu makan sendiri lalu membereskan alat-alat makan begitu ia selesai. Ia lalu meletakkan piring kotor di bak pencucian. Kami menilai ini penting karena masih banyak teman sepantaran atau bahkan lebih tua darinya yang belum bisa makan sendiri.

Serampung membaca buku atau bermain, ia langsung bergegas mengembalikan mainan atau buku ke tempatnya. Buku gambar, pensil, krayon, dan buku ia letakkan ke tempat semula. Sepeda pun ia kembalikan ke tempat asal begitu ia berganti mainan lain. Ketika bangun tidur, ia mampu merapikan bantal guling dengan menumpuknya. Walaupun terdengar sederhana, namun bagi kami ini pembiasaan penting untuk membangun kemandiriannya di saat anak-anak lain begitu mudah dilayani oleh asisten rumah tangga atau masih merepotkan ibunya.

SPIRITUALITAS

Aspek penting yang tidak lupa kami garap adalah dimensi spiritual. Kami terus berupaya mengembangkan dan menumbuhkan kedekatan kepada Tuhan sebagai perwujudan bahwa kami makhluk yang lemah dan hanya bisa bersandar pada-Nya. Kepandaian, rezeki, dan kelancaran urusan semata-mata berkat perkenan-Nya meskipun tentu didasari usaha kita.

Dengan dasar inilah kami tidak lupa membawa Rumi ke tempat ibadah untuk menunaikan ragam ibadah yang akan mengokohkan bangunan spiritualitas pada dirinya. Beramal dan bermunajat kepada Tuhan menjadi santapan segar bagi dirinya. Ia rajin mengikuti beragam aktvitas yang berkenaan dengan agama dan nilai-nilai spiritual. Tidak hanya rajin, namun selalu bersemangat. Tak jarang bahkan ia yang mengingatkan kami untuk segera menunaikan ibadah ketika waktunya tiba.

Pilar spiritualitas ini akan menjadi pemandunya ketika pilar-pilar lain seolah tercerabut dari akar budinya. Kami ingin agar ia selalu ingat bahwa manusia tidak bisa berbuat apa pun tanpa kekuatan Tuhan. Sehebat dan setinggi apa pun kecerdasan seseorang, ia tak mungkin berdaya tanpa izin Tuhan. Kami ingatkan bahwa kami hanya memiliki empat mata yang sangat terbatas untuk memantau perilakunya saat kami tak ada. Maka kepada Tuhanlah kami titipkan pengawasan seketat-ketatnya.

NUTRISI

Setelah gizi untuk batin terpenuhi, maka nutrisi untuk raga harus juga dijaga. Berbagai pilar di atas mungkin terancam bila kesehatan badan tidak diperhatikan. Kejujuran bisa goyah manakala perut didera kelaparan. Maka kami berusaha untuk menyediakan asupan makanan yang bergizi. Sayur-sayuran, susu, daging, telur, dan ikan adalah menu wajib bagi Rumi. Syukurlah Rumi termasuk anak yang menyukai segala makanan sehingga kami tidak susah memilihkan makanan yang bernutrisi untuknya. Ia tidak berpantang dan menggemari hampir semua jenis makanan, asalkan halal dan menyehatkan. Kami percaya bahwa tubuh yang bugar akan mempengaruhi kinerja elemen-elemen rohani yang sudah saya sebutkan di atas.

TELADAN

Dan akhirnya, semua pilar di atas tak akan berjalan bila kesemuanya hanya menjadi perintah dan instruksi belaka. Kami menyadari hal itu. Children see, children do, begitu ujar orang. Anak akan melakukan apa yang ia lihat pada diri orangtuanya. Ketika orangtua gemar membaca, maka anak mungkin akan menjadi kutu buku. Saat mendapati orangtuanya sebagai orang yang rajin menolong, maka anak akan ringan tangan dalam membantu temannya. Bila orangtua berusaha jujur dan beretika dalam berperilaku, maka sikap demikianlah yang akan ditiru sang anak.

Bila orangtua berlaku sebaliknya, mungkin anak akan mendemonstrasikan