Cerewet Cerdas dan Seorang Pemimpin

Oleh Lia Lathifaturrahmah 21 Oct 2013

Sering gak kita mendengar percakapan anak-anak sekolah dari mulai SD hingga SMA yang rasanya semakin kurang pantas dan kasar.
“Eh, elu tau kan si anu yang tadi main di lapangan?”
“Yang mana tuh?”
“Yang pake baju merah, beo?”
“Lah, emang gue gak tau yang mana orangnya, lol”.
“Ah, payah banget sih lu, beo.”

Aduuuh, galau deh. Bagaimana menurut anda? Kalau aku, arrrggh.. pengen rasanya meremas bibirnya dan melototi mereka, “heh, memangkan kamu berdua namanya beo dan lol? Ngerti gak sih artinya itu? Bicara itu saling sopan ya!”

Itulah rasa gemasku terhadap makin merosotnya sistem perkembangan dan pendidikan generasi bangsa. Kasar, saling benci, mengejek, dendam, sulit diatur, dan tidak sopan, sering kali ditemui akhir-akhir ini. Terlalu mengkhawatirkan, banyak generasi muda yang salah arah, tidak tahu tujuan, banyak mimpi menjadi orang terkenal melalui proses instan, dan kurangnya perhatian membuat fenomena yang mengerikan.

Banyaknya anak jalanan berkeliaran tanpa tujuan pasti. Kemana ibu bapaknya?. Jika pun ada, bagaimana orangtuanya? demikian jugakah cara bicaranya, bergaulnya, dan tingkah lakunya. Pantas saja, orang dewasa tanpa sadar selalu mencotohkan kebiasaan buruk. Syukurlah kalau banyak malaikat yang menolong mereka menuju jalan yang benar. Jika tidak? Semakin banyak lahirnya anak-anak yang buruk dan buruk. Bagaimana mereka menjalani hidup jika tanpa pembimbing yang baik? Berlindung aku ya Tuhan.

Kasih Sayang Ayah dan Ibu Sebagai Nutrisi Jiwa

Awal menikah aku dan suami mulai memperbaiki diri dan menyatukan visi misi keluarga kecil ini, mau seperti apa dan bagaimana. Saat kehamilan, bukan hanya nutrisi untuk tubuh ibu hamil (menjadi dua kali lipat dari ibu tidak hamil) namun nutrisi jiwa harus terpenuhi. Pengaruh hormon seringkali membuat jiwa menjadi labil, hawa nafsu sering kali merongrong. Diperlukan ketenangan jiwa. Perhatian ayah sangat diperlukan untuk memberikan semangat tambahan, saling bekerja sama, menjadi luar biasa.

Kami mulai mempersiapkan ilmu dan tekhnik menjadi orangtua yang baik. Mulai mengajari diri dan anak-anak untuk berzikir dan berdo’a semenjak dini, mengingat adanya kekuasan dan pertolongan Tuhan, Allah SWT, itulah nutrisi jiwa yang dapat menenangkan dan membuat hati menjadi sabar. Rajin beribadah dan saling menyayangi kepada siapapun termasuk hewan dan tumbuhan akan menciptakan bibit yang baik. Hal ini benar-benar akan mempengaruhi jiwa anak kita. Kami sering berkata seperti ini:
“Shidqi, tolong ambilkan bunda piring untuk adikmu!”
“Aduh, maaf yaa jika ayah bunda belum bisa memenuhi keinginan kamu.”
“Permisi yaa, ayah numpang lewat di depan kalian”. Tentu sambil sedikit merunduk.
“Terimakasih yaa sudah menolong ayah bunda.”
“Boleh, tapi mainnya hati-hati ya!“

Dan ucapan lain-lain yang sifatnya tidak arogan, tidak otoriter, terlalu menggurui, tidak berupaya menilai, tidak mendesak, dan yang sifatnya justru menenangkan dan memberi semangat.

Anak-anak akan selalu mengikuti gaya dan tingkah laku orangtua, termasuk ucapan dan perbuatan. Kata-kata ‘emas’ yang sering kami ucapkan membuat kedua anak kami pun berbuat demikian. Tanpa harus dipaksa, ternyata menjadi kebiasaan yang muncul dari hati dan bibir mereka. Enak sekali mendengar kata-kata manis yang tertutur dengan iringan binar wajah mereka yang lugu.
“Bunda, ini untuk Shidqi ya? Terimakasih”.
“Ma, totong (tolong) bikin susu adek, ayish (makasih) ya”.
“Permisi ya dek, kakak mau lewat”.
“Maaf dek, sudah adek jangan menangis lagi. Ayo main lagi!”

Atau perkataan Shidqi, anakku yang berusia 7 tahun kepada teman-temannya:
“Eh, sudah azan, aku pulang dulu ya, mau sholat. Abis itu kita main lagi.”
“Kamu jangan begitu mainnya, kan bikin orang sakit, minta maaf dong, ayo ucapin!”

Siapa yang tak terharu mendengar ucapan-ucapan itu? Ada bibit kebaikan dan jiwa kepemimpinan yang mulai tumbuh dalam diri mereka. Memimpin diri sendiri untuk berbuat benar.
Aku mau anak-anakku terus begitu, bertutur kata sopan, berkelakuan baik, dan mengetahui mana yang baik dan buruk. Hal itu tentu saja maka harus dimulai dari kami sebagai orangtua. Sangat penting peranan orangtua dalam menjadikan anaknya menjadi apa dan siapa. Jangan salahkan nasib jika kita sendiri yang tidak mengerti bagaimana tugas dan kewajiban menjadi orangtua. Jangan hanya doyan melahirkan, tetapi urusan tumbuh kembang tidak diperhatikan. Tidakkah kita takut akan pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT?

Cerewet Yang Cerdas

Setiap orang seringkali mengakui bahwa para ibu itu sangat cerewet, banyak bicara, sukanya marah-marah. Hei, hei, tapi tunggu dulu, cerewet bukan sembarang cerewet, itu untuk kebaikan bersama kan? Hehe.. Marilah ambil jalan tengah, cerewetlah yang cerdas. Maksudnya banyak bicara tapi tidak menggurui. Santai dan dalam keadaan senang, bermain, dan bersenda gurau, seringkali apa yang kita ucapkan justru akan mudah diserap oleh jiwa dan fikiran siapapun, termasuk anak-anak.

Jangan terlalu cerewet melarang ini-itu yang membuat anak jadi bimbang. Apalagi sambil teriak-teriak, iiih enggak banget deh!.. Banyak melarang tanpa menjelaskan akan membuat anak tidak tahu harus berbuat apa, dan yang paling menyedihkan mereka akan menarik diri dari bimbingan orangtua. Aku pun jarang membawa kemarahan apapun ke dalam rumah. Selalu marah dan kurang sabar menjadikan anak-anak goncang dan akhirnya memendam rasa bersalah, kesal, dan emosi. Jangan harap kebaikan kita terima, justru kenakalan-kenakalan akan terjadi. Demikian diriku, aku hanya memperingatkan jika mereka melakukan sesuatu, “hati-hati ya nak!”

Bercerita tentang kehidupan kepada kedua anakku pada usia “Golden Age”, masa-masa di mana beribu-beribu sel otak berkembang tumbuh pesat adalah waktu yang tepat. Sifat membela kebenaran, amanah, kecerdasan, dan pandai berbicara menyampaikan yang baik, itu kujadikan dasar dalam mendidik anak-anakku. Belajar bukan saja duduk manis di dalam ruangan, bahkan di luar sana banyak sekali pembelajaran yang dapat membentuk si kecil menjadi berani dan cerdas. Seperti bermain pasir, berenang, bersepeda, membiarkan memilih buku di toko buku, menanam sayuran sendiri, menjelajah hutan Bogor, bermain batu-batu di pinggir sungai Ciliwung, bahkan memelihara kucing. Memberikan kesempatan anak-anak berinteraksi dengan alam.

Disiplin sangat penting. Aku sangat tegas tetapi bukan marah. Intonasi nada suara kuperhatikan, tidak meninggikan suara tetapi merendah bahkan menenangkan. Sehingga aturan disiplin mudah diterapkan kepada anak-anak. Aturan sederhana yang harus dibiasakan, seperti membiasakan mereka bangun dan tidur pada waktunya, memberi penerapan jam berapa mereka boleh main, kapan belajar, kapan mereka makan, kapan membereskan mainan, kapan nonton teletivi, semua diatur sesuai kesepakatan bersama. Jika mereka pintar melaksanakan, hadiah pelukan dan pujian pun diberikan, bahkan ada hadiah kejutan. Terkadang semua itu dilakukan bersama-sama. Selalu ada ayah dan bunda.

Makanan Halal dan Baik Menjadi Nutrisi Diri

Apapun yang kita konsumsi tentulah dari sesuatu yang halal dan baik. Halal berarti diizinkan, bukan yang dilarang. Sesuatu yang diizinkan pasti baik, sehat dan memberikan dampak luar biasa positif untuk mendukung kehidupan kita selanjutnya.

Peran wanita sangat diperlukan. Sebagai Ibu yang mengontrol apapun yang dimakan dan diminum oleh keluarga. Dan juga sebagai Istri yang mampu mendukung suami dalam mencari nafkah yang baik lagi halal. Seorang wanita haruslah cerdas fikiran, jiwa, dan raga. Aku memperoleh itu dengan mengikuti seminar, membaca buku, menonton televisi, dan juga mencari segala informasi di dunia maya. Banyak hal yang dapat kupraktekkan di rumah.

Aku senang membuat aneka makanan dan minuman di rumah. Susu kujadikan sebagai bahan tambahan dalam berbagai masakan selain diminum. Susu yang mengandung zat-zat penting seperti Fosfor dan kalsium yang mendukung pertumbuhan tulang dan gigi, yodium mencegah gondok, zat besi sebagai penambah sel darah merah, asam linoleat, Vitamin A, dan lain-lain. Untuk itu kupilih Vitalac selain SGM. Pagi hari akulah yang membuatkan bekal makan siang untuk suami dan anakku. Seringkali membuat kue, es krim, es buah, pizza, donut, dan makanan lainnya agar mereka tidak gampang tergiur oleh jajanan di luar yang belum tentu murah. Membuat makanan dan minuman sendiri di rumah membuat uang belanja bisa diatur sedemikian rupa lho. Jadikan hidup hemat dan sehat.

Kami dan anak-anak juga suka sekali makan sayur dan buah. Sejak hamil aku membiasakan hal itu, tak heran saat kini pun anak-anak tidak pernah protes jika diberi menu tersebut. Padahal hanya dikukus dan diberi mayonnaise, atau membuat jus dan es buah. Sederhana namun bervariasi. Senangnya bukan main, karena sayur dan buah sangat diperlukan oleh tubuh selain protein, lemak dan karbohidrat. Zat vitamin dan mineral yang terkandung didalamnya sangat diperlukan untuk mendukung metabolisme organ-organ dalam tubuh yang vital, sehingga mencegah berbagai penyakit.

Keluarga yang sehat pasti akan memberikan penerus bangsa yang baik. Negara dan bangsa yang kuat dan sehat, memerlukan calon penerus yang mampu memimpin dirinya dan diri orang lain. Bukan hanya pintar, namun sehat jiwa dan raganya. “Men sana in corpora sano”. Siapapun akan mengharapkan hal ini, mari mulai dari rumah, mulai dari sekarang. Ayo para ibu, semangatlah!!

Tulisan ini dibuat untuk Lomba Penulisan Blog “Peran Ibu Untuk Si Pemimpin Kecil” Bersama http://nutrisiuntukbangsa.org/