Jika Kau Bertanya, Semua ini Berkat Ibu

Oleh Marsha Dwizashista Sakinah 21 Oct 2013

Semua orang pasti ingin merasakan menjadi seorang pemimpin. Ya, pemimpin bukan dipimpin.

Menjadi pemimpin tidaklah mudah, sebelum kita menjadi pemimpin pasti ada orang yang menjadi penyemangat kita. Ibu salah satunya.

Semua orang memiliki latar belakang yang berbeda. Begitupula dalam kehidupannya. Tapi itu tidak menjadi penghalang untuk menjadikan seseorang menjadi pemimpin bahkan untuk memimpin dirinya sendiri.

Saya tahu tidak semua orang mendapatkan kehangatan dalam rumahnya, pasti ada saja masalah yang harus dihadapi bahkan broken home. Tapi, ibu tetaplah ibu. Setidakpeduli apapun ibu kalian terhadap kalian, pasti hati kecilnya peduli. Karena dari Rahim mereka lah kita bisa dilahirkan.

Mungkin banyak orang yang berfikir bahwa ibu yang kurang peduli terhadap anaknya adalah keinginan mereka dan pasti tidak sedikit yang berfikir bahwa mereka tidak bisa menjadi pemimpin jika ibunya saja tidak peduli. Tapi anda kurang tepat,  dibalik semua itu pasti ada hati kecil yang berbicara. Entah dari sisi ibu maupun anaknya.

Pernahkah kalian berfikir bahwa anak-anak yang kurang mendapatkan perhatian dari ibunya justru mereka lah yang lebih berpotensi untuk menjadi pemimpin. Karena mereka berfikir “Saya harus bisa menjadi pemimpin, agar ibu bangga dan ibu menganggap saya,” banyak sekali orang diluar sana yang berfikir keras untuk menjadi pemimpin untuk membahagiakan ibunya sekalipun pemimpin untuk dirinya sendiri.

Tapi ada juga ibu yang sepenuhnya selalu menyemangati anaknya.

Saya akan bercerita tentang pengalaman saya.

Ibu, satu kata yang tak bisa saya lupakan jasanya. Satu kata penuh makna. Karena ibu lah yang melahirkan saya, mendidik saya hingga sekarang.

Banyak yang telah saya lewati bersama ibu saya, terutama saat saya masih berumur 5tahun. Masa kanak-kanak yang sungguh bahagia ditambah lagi dengan kehadiran ibu yang selalu menemani hari-hari saya.

Ibu selalu menemani saya untuk lomba saat 17 Agustus , dan yang saya paling ingat ketika saya lomba nyanyi, dan saya nekat untuk mengambil 2 kategori (anak-anak dan dewasa) ya namanya masih kecil, jadi belum ngerti. Hehehe.

Saat nama saya dipanggil untuk menyanyi kategori anak-anak (kebetulan waktunya sore), saya dengan PD (Percaya Diri)nya menggunakan dress merah, dengan potongan rambut bob naik ke atas panggung dan saya membawakan lagu “Balon Ku” tapi sayangnya saya lupa untuk menaruh kata-kata “DOORR”nya dimana. 

Alhasil setiap satu kalimat lirik lagunya saya akhiri dengan door 

Balonku ada lima door,
Rupa-rupa warnanya door

Ya begitulah dan seterusnya. Tapi saat itu saya tidak malu bahkan tidak menangis karena lupa lirik karena ibu saya, menonton saya dan selalu mengancungkan jempolnya yang menandakan dia bangga terhadap saya dan saya jadi merasa lebih percaya diri.

Karena saya mengikuti kategori orang dewasa dan itu waktunya malam, alhasil saya tidak ikut. Tapi walaupun malam, ibu masih nanya “Kamu mau ikut nyanyi? Ini sudah malam, kalau kamu ngantuk kamu tidur aja,” itulah kata-kata yang terucap dari ibu saya.

Saat pengumuman pemenang, ternyata saya menjadi salah satu juara, kalau tidak salah juara 3. Semua ini berkat ancungan jempol dari ibu yang sedang menonton saya dipanggung.

Sayapun beranjak dewasa, semenjak SD saya sudah suka sekali dengan dunia desain grafis. Kebetulan, memang ibu saya bekerja disalah satu kantor swasta tempat pembuatan iklan maupun video clip. Asik bukan?

Saya setiap waktu luang selalu menyempatkan untuk selalu belajar mengedit entah itu foto, video maupun yang lainnya. Disinilah serunya, selagi saya mencoba , jika saya tidak mengerti saya selalu nanya ibu, tapi ibu selalu bilang “Dede pasti bisa, udah dede utak-atik aja sendiri.Dede harus yakin kalau dede bisa, kalau ga bisa juga berarti dede udah nemuin cara yang seharusnya tidak digunakan, berarti ilmu dede nambah,” kata ibu yang selalu membuat saya semangat mencoba.

Sekarang semua berbeda, saya semakin tumbuh menjadi dewasa dan ibu pun umurnya sudah mulai bertambah. Rasanya ingin sekali membahagiakan ibu, melihat ibu tersenyum bahagia. Sama saat ibu selalu menyemangati saya, selalu ada di sisi saya dan selalu mengukir senyum bahagia untuk saya.

Sungguh banyak hal-hal yang ibu perbuat untuk membuat anaknya lebih maju, untuk menjadi seorang pemimpin. Terutama untuk memimpin diri anaknya sendiri. Ibu hanya ingin anak nya mandiri dengan maksudan, agar anaknya bisa menjaga dirinya sendiri.

Terimakasih, sungguh besar jasamu, IBU  ;-)