Sebuah Kisah Tentang Rasa Penasaran

Oleh hannawilbur 29 Oct 2013

Pikiran bukan wadah untuk diisi, tapi api untuk dinyalakan. -Plutarch-

 kartun-passion-asli

Waktu SMA kelas 2, aku dan teman-teman pergi ke sebuah acara untuk mengikuti perlombaan. Sambil melewati waktu istirahat, kami berniat keluar untuk membeli makanan. Aku dan kedua temanku berjalan ke arah ‘jalan keluar’ dari kompleks; sebuah terowongan yang bundar dari sisi, seperti pipa besar. Waktu itu aku spontan bertanya pada diri sendiri, “Kenapa ya, bentuknya bulet? Kenapa gak kotak, gitu?”

Temanku langsung spontan menjawab, “Ngapain mikirin itu? Gak penting banget.” Dan mereka berdua mentertawakan pertanyaanku. Saat itu aku kaget karena tidak terfikirkan bahwa mempertanyakan hal-hal seperti bentuk terowongan akan masuk kategori ‘gak penting’.

Peristiwa itu begitu membekas di hati aku.

Sejak SD kelas 1 orangtuaku membelikan satu set buku-buku Childcraft dan satu set buku-buku Poldy. Bagi yang belum tau, Childcraft itu sebuah set buku-buku berisi pengetahuan macem-macem, ada sejarah, matematika, sains, hasta karya, dsb. Poldy adalah satu set buku untuk anak TK tentang hal-hal sederhana seperti warna, bentuk, dsb yang dikemas dalam sebuah cerita petualangan Poldy dan kawan-kawannya. Dari semenjak awal hingga selama SD aku begitu rajin membuka-buka buku tersebut dan mengerjakan aktivitasnya. Aku begitu terkesan dengan dunia hewan, tumbuhan, seni, kisah masa lalu, didukung dengan berbagai percobaan sederhana yang aku lakukan.

Yang sangat membantu mempertahankan minatku adalah orangtuaku. Orangtuaku mendukung aku mengerjakannya. Tidak Cuma buku set itu aja, mereka juga membelikanku buku-buku percobaan sains sederhana. Semua yang mampu aku lakukan aku coba. Ini mempengaruhi kemampuan aku di sekolah.  Ok, I wasn’t top of my class, but I didn’t care. Mungkin karena kebutuhan ‘fisik’ aku sudah terpenuhi dengan melakukan berbagai percobaan di rumah, aku sudah begitu terpesona oleh keajaiban alam sehingga tidak terlalu mementingkan mendapat nilai. Oke, nilai juga masih aku anggap penting, tapi nomor sekian heheh.

SD kelas 5 aku pernah mengajak teman-teman bikin ‘grup ilmuwan’ dimana bersama-sama kita melakukan percobaan-percobaan sederhana

—tidak ada yang tertarik ikut.

Lucunya, waktu SD aku ingin sekali cepet masuk surga, alasannya karena aku ingin banyak bertanya kepada Allah mengenai fenomena dunia—dan aku ingin punya kucing berwarna hitam.

Education is the passport to the future, for tomorrow belongs to those who prepare for it today -- malcolm x

Waktu SMP aku senang membaca melebihi buku-buku paket sekolah. Aku suka buka-buka buku paket kakak-kakakku dan mendiskusikannya dengan guru. Karena kebiasaan tersebut aku terpilih untuk mengikuti kelas akselerasi. Ada seorang teman yang bertanya, “Koq bisa sih kamu seneng ngerjain PR [pekerjaan sekolah]?” Aku bilang bahwa aku gak ngerasa itu sebagai beban, tapi aku merasa tertantang dan mengerjakan tugas-tugas sekolah adalah semacam permainan buat aku. Ya, aku sedang bermain!

Di SMA, dengan berjalannya waktu nilai sekolah menjadi semakin penting buat aku. Aku sudah terpengaruh teman-teman, ditambah padatnya standar kurikulum sekolah, dan stresnya hormon remaja. Waktu kelas tiga, aku semakin stres dan kesal. Kalau aku pikir sekarang, stres yang aku rasakan di SMA salah satunya juga karena aku tidak bisa menyalurkan keinginanku berdiskusi, berkreasi, dan ‘mengotak-atik’. Bukan karena tidak ada waktu, tapi karena tidak ada yang bisa menghargai dan memotivasi.

kartun-lucu-passion

Ketika pengumuman UN, aku menangis karena nilai matematikaku tidak sebagus yang aku harapkan. Aku beralasan bahwa ayahku dosen matematika, jadi aku ingin nilai matematikaku ‘bagus’ untuk bikin papa seneng. Untunglah Mama menenangkan dan bilang bahwa aku bukan Papah, dan Papah akan tetap sayang dengan aku.

Kini ketika aku sudah menjadi ibu dan melihat betapa menakjubkannya anakku berkreasi, dan betapa kreatifnya dia, aku pun menjadi tertantang untuk kembali ke rasa penasaranku yang dulu. Kalau ada sesuatu yang ia tanyakan aku berusaha menjawab, dan bila belum tau jawabannya, aku berjanji akan mencari tahu. Kami lalu mencari tahu dari berbagai sumber, salah satunya Mbah Google :P. Aku bersyukur di rumah banyak buku-buku referensi, dari mulai ilmu akhirat sampai ilmu dunia. Buku-buku childcraft aku buka-buka lagi dan bersama anakku, kami membuat kreasi-kreasi bersama. Perjalanan tiap pagi ke pasar bukan sekedar berbelanja, tapi berpetualang memahami ayat-ayat Allah. Alhamdulillah.

John Lennon Happy

Pengalaman masa kecilku menjadikan aku tidak malu bereksperimen juga dengan pekerjaan rumah tanggaku, seperti memasak tanpa bumbu instan, memakai bahan-bahan ramah lingkungan, dst. Aktivitasku membimbing anak belajar juga menyemangati aku melakukan hobiku yang lain, yaitu menulis. Saat ini aku sedang dalam proses menulis dua buku. Semoga segera selesai dan barakh. Aamiin.

Jadi, ada yang tahu, mengapa terowongan seringkali bulat? :D

 
*Tulisan ini pertama kali diposting di Kenapa Terowongan Bulat—Kisah Tentang Rasa Penasaran