Tiga Metode untuk Pemimpin Kecilku

Oleh Aisyah Sariasih 21 Oct 2013

Apa kebahagiaan terbesar dalam hidup ini? Pertanyaan itu yang singgah dalam benak saya ketika usia sudah mulai menginjak kepala dua. Melalui beberapa referensi bacaan, kegemaran dalam dunia psikologi, serta menjalani pendidikan di fakultas Keperawatan, saya kemudian mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang telah lama berputar-putar dalam benak saya. Kebahagiaan terbesar dalam hidup saya adalah ketika saya sudah menjadi seorang ibu dari anak-anak saya kelak. Tidak hanya menjadi ibu yang melahirkan, tapi juga berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan mereka hingga menjadi seseorang yang membanggakan. Sejak saat itu, saya mulai mempersiapkan diri, mencari informasi baik melalui buku, kajian-kajian tentang parenting dan dunia anak, ataupun film-film tentang pendidikan anak, selain dari matakuliah tentang perkembangan anak yang saya dapatkan di bangku kuliah.

            Berbicara tentang pendidikan anak, sebenarnya tidak sulit untuk mendapatkan referensi untuk itu. Islam sebagai agama yang syumul, sudah memberikan contoh yang sangat komplek bagaimana mendidik anak sesuai dengan usia perkembangannya. Dari shirah, kita bisa mendapatkan bagaimana Rasulullah mendidik cucunya, atau bagaimana para shahabat seperti umar mendidik anak-anaknya. Selengkapnya kita bisa mempelajarinya dalam buku “Tarbiyatul aulad” karya Abdullah Nashih ‘Ulwan. Namun, kadang kita beranggapan terlalu teoritis, maka dari itu saya mencari pelengkap dari buku dan film-film umum tentang pendidikan anak. Dari berbagai hal yang saya pelajari, saya kemudian menyimpulkan ada tiga metode pendidikan untuk pemimpin kecil saya kelak, yaitu :

  1. Anak dan sastra

“Ajarkan sastra pada anakmu, maka anak yang penakut bisa menjadi berani” begitu kalimat bijak yang disampaikan Umar bin Khattab. Dari shirah, film yang saya tonton, dan buku-buku yang saya baca, membuktikan manfaat dari pelajaran sastra sejak dini pada anak.

Mukjizat terbesar Nabi Muhammad adalah Al Qur’an, dan Al Qur’an juga adalah karya sastra terhebat yang pernah ada di dunia. Memperkenalkan anak sejak dini dengan al qur’an membuktikan bahwa mereka lebih cerdas. Dari film-film korea, cina, dan jepang bertema sejarah yang saya tonton, pola pendidikannya adalah dengan memberikan mereka hafalan-hafalan syair sebelum yang lainnya. Dan, metode bercerita sebagai teman pengantar tidur terbukti memiliki andil besar dalam pembentukan karakter anak.

  1. Anak laki-laki dan kambing gembalaan.

Kisah para Nabi, tidak pernah lepas dari kisah para penggembala kambing. Sebelum para utusan Allah diangkat menjadi Nabi dan Rasul, mereka rata-rata “berprofesi” sebagai seorang penggembala. Sebut saja, Nabi, Isa, Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, dan tentu saja Nabi Muhammad. Umar bin Khattab ketika usia mudanya juga pernah menggembalakan kambing milik ayahnya.

Dan secara ilmu psikologi, mengembalakan kambing melatih anak dalam hal tanggung jawab dan melatih jiwa kepemimpinan seorang anak. Maka dari itu, saya memiliki impian, ketika kelak saya memiliki anak laki-laki, saya akan memberikan tanggung jawab hewan peliharaan berupa kambing. Tidak perlu banyak, cukup satu atau dua ekor untuk dia rawat. Cukup realistis mengingat kondisi lingkungan yang nantinya akan kami tinggali.

  1. Alam, menyediakan semua yang dibutuhkan

Lingkungan kita, adalah laboratorium terlengkap bagi proses pembelajaran anak-anak. Apapun dan bagaimanapun lingkungan tempat kita tinggal, tempat itu selalu menjadi laboratorium yang lengkap untuk kita jadikan tempat belajar bagi anak-anak kita. Mengajak mereka berinteraksi sejak usia dini dengan lingkungan atau alam tempat kita tinggal membantu memperbanyak informasi yang didapat oleh anak kita.

Bukankah pejalaran TK dan SD tingkat awal, bahkan mata pelajaran eksak dan sosial itu sumbernya dari lingkungan sekitar kita? Tinggal bagaimana kita menyediakan waktu untuk mengenalkannya dengan mereka.

Saya mendapatkan pelajaran ini secara langsung. Lahir dan besar di lingkungan pedesaan memberikan keuntungan besar bagi saya untuk belajar dengan alam secara langsung. Sungai, ladang, bukit adalah tempat bermain saya. Belajar mencari tumbuhan liar yang bisa dimakan, menangkap ikan, menangkap burung, adalah kegiatan masa kecil yang memiliki andil dalam perkembangan masa kecil saya hingga saya dewasa seperti sekarang.

Menggembala kambing, sastra, dan interaksi dengan alam adalah metode yang nantinya akan saya terapkan pada anak-anak saya kelak untuk bisa membentuk mereka menjadi pemimpin masa depan yang membanggakan. Jiwa, raga, dan intelektualitas bisa diasah melalui tiga aktivitas yang sudah dicontohkan para pendahulu islam. Tidak perlu mencari metode lain demi mendidik anak-anak menjadi seorang pemimpin masa depan yang hebat nantinya.

#LombaBlogNUB