Anakku Presidenku

Oleh Yuyun Romaria Simanjuntak 09 Sep 2013

Wah, mungkin tidak ya? Rasanya sih mungkin. Dan saya menaruh harapan besar kalau anak saya akan menjadi presiden saya kelak. Kok bisa yakin begitu? Tentu karena asuhan yang tepat yang akan saya berikan untuknya sehingga menjadi modal baginya antara lain karakter yang baik, pikiran yang tajam, serta kemampuan analisis yang kuat. Kenapa tiga hal itu? jawabannya, ya lihat saja kondisi bangsa kita sekarang. Karakter para pemimpin sudah mulai kabur. Korupsi merajalela begitu saja. Bukan makin hilang tapi makin bertumbuh dan dilakukan terang-terangan pula. Pikiran yang tajam pun seakan tak dimiliki juga oleh pemimpin kita. Kebutuhan pokok rakyat sudah jelas di depan mata, tapi apa kebijakan yang diambil para pemimpin? Harga-harga semakin meroket, semakin tak terjangkau. Jangankan hanya untuk membeli beberapa ons daging sapi, membeli sebongkah tempe saja sudah sulit karena harga kedelai yang meroket. Padahal kedelai lokal ada. Harusnya itu yang diberdayakan. Harga kedelai naik tapi harkat hidup petani kedelai apakah otomatis naik juga? Ternyata tidak malah berbanding terbalik. Hidup mereka tetap pas-pasan. Bagaimana dengan kemampuan analisis para pemimpin kita saat ini? Rasanya sulit diandalkan. Wong analisisnya tidak dilakukan sendiri kok… melainkan dilakukan oleh para ahli. Mereka mengeluarkan hasil analisis, para pemimpin tinggal menggunakan, eh… toh tidak digunakan juga. Sayang sungguh sayang. Harapan berbanding terbalik dengan kenyataan.

Tapi saya punya harapan tersendiri. Saat ini saya tengah mengandung si buah hati. Anak inilah harapan saya di masa mendatang. Dia akan mampu membawa perubahan. Dia akan menjadi pemimpin yang sejati. Syaratnya? Tentu saja, dia harus dididik dengan baik. Siapa yang paling berperan dalam mendidiknya? Tentu saja saya sebagai ibunya.

Kenapa ibu berperan lebih penting? Tak dapat dipungkiri kalau seorang ibu atau seorang perempuan diberikan karunia khusus yang tak dapat dilakukan kaum lelaki. Seorang perempuan diberkahi dengan karunia untuk hamil dan melahirkan. Karunia untuk membawa si anak dalam kandungannya selama 9 bulan lebih hingga saat melahirkan. Selama proses kehamilan itu, ibu dan anaknya mempunyai ikatan hormonal yang kuat lewat sebuah organ unik bernama plasenta. Bahkan saat setelah lahir pun peran seorang ibu sangat besar, hanya seorang ibulah yang beroleh karunia untuk memberikan nutrisi terbaik bagi anaknya lewat proses menyusui.

Saat anak-anak bertumbuh, ibu memiliki peran yang unik dalam membimbing anak laki-laki dan perempuan membangun perkembangan psikologis yang sehat. Seperti riset yang dilaporkan dalam Journal of Genetic Psychology menjelaskan, mempunyai “sebuah ingatan tentang kehadiran seorang ibu yang selalu ada dan memberikan perhatian penuh, diperkirakan akan menurunkan angka rasa kesepian, mengurangi depresi, mengurangi kecemasan, menimbulkan rasa percaya diri lebih tinggi dan lebih tahan dalam berurusan dengan tantangan kehidupan”. Dengan kata lain, peran ibu itu penting untuk jangka panjang yang sering juga disebut oleh para ekonom sebagai long-term human capital formation (pembentukan formasi sumber daya manusia jangka panjang).

Lalu mungkinkah kelak dia akan menjadi seorang presiden? Kenapa tidak mungkin?

“Tuhan memberkati ibu saya, semua tentang saya atau apa yang pernah saya harapkan untuk menjadi, saya tetap berutang kepada ibu saya. “  -Abraham Lincoln-

Bagaimana keadaan keluarga yang telah menciptakan para presiden? Bagaimana pertumbuhan dan perkembangan yang mereka jalani membentuk masa depan mereka dan kita?

Ketika seseorang berpikir tentang kualitas kepemimpinan George Washington dan Theodore Roosevelt atau kecakapan intelektual John Adams dan Abraham Lincoln, atau bahkan berpikir tentang bagaimana Sukarno sebagai bapak bangsa ini membawa bangsanya menjadi merdeka, rasanya sangat sulit membayangkan mereka sebagai anak-anak. Membayangkan mereka dahulu sebagai seorang anak bahkan lebih sulit daripada membayangkan siapa sih orangtua mereka, terutama untuk para pemimpin terkenal di masa lalu. Mereka-mereka yang luar biasa kecerdasannya, dan sikap politiknya. Bagaimana membayangkan beberapa karakter tersebut sudah pernah tampak sebelumnya pada saat mereka masih di usia kanak-kanak?

Ternyata dalam perkembangan masa anak ada beberapa tugas yang harus dikerjakan. Adapun tugas-tugas perkembangan masa anak adalah sebagai berikut:

1. Mempelajari ketrampilan fisik

Masa anak adalah masa ketika potensi-potensi fisik sedang mengalami perkembangan pesat. Dalam pelaksanaan tugas perkembangan ini, dibutuhkan fasilitas lingkungan yang memadai untuk ruang gerak anak yang semakin meluas.

2. Membangun sikap yang sehat mengenai diri sendiri sebagai mahluk yang sedang tumbuh

Anak perlu dibantu untuk menyadari pentingnya melaksanakan tugas perkembangan ini, agar perkembangan fisik dan psikologisnya berlangsung optimal. Perlu diciptakan suasana yang kondusif agar anak memiliki semangat yang tinggi untuk melaksanakan tugas perkembangan tersebut, seperti suasana rumah yang bersih, rapi dan nyaman agar nafsu makan anak optimal, dan aktivitas anak tidak terganggu.

3. Belajar menyesuaikan diri dengan teman-teman seusianya

Anak adalah mahluk sosial yang membutuhkan teman bermain untuk mengasah kompetensi sosialnya. Oleh karenanya perlu diciptakan area bermain yang memadai, dalam arti cukup luas, aman, nyaman dan masih dalam pantauan orang dewasa.

4. Mulai mengembangkan peran sosial laki-laki atau perempuan secara tepat

Anak adalah mahluk Tuhan yang masih memiliki masa hidup panjang. Oleh karenanya mereka perlu belajar dan menguasai peran sosial yang sesuai dengan jenis kelaminnya. Misalnya sebagai anak lelaki, apa yang harus diperankan dimasyarakat. Sebagai anak perempuan, peran apa yang paling sesuai untuk dilaksanakan. Dalam hal ini mereka membutuhkan ”model” yang tepat dari orang-orang dewasa yang ada di sekitarnya.

5. Mengembangkan ketrampilan-ketrampilan dasar untuk membaca, menulis, dan berhitung

Ketrampilan membaca, menulis dan berhitung adalah keterampilan dasar yang secara umum potensinya telah dimiliki anak sejak dilahirkan. Untuk mengembangkannya anak membutuhkan pembimbing dan fasilitas yang memadai untuk melaksanakan tugas ini. Tugas perkembangan dapat dilaksanakan secara individual maupun kelompok.

6. Mengembangkan pengertian-pengertian yang diperlukan untuk kehidupan sehari-hari

Sebagai mahluk sosial, anak perlu memiliki pengertian dan pemahaman tentang kebiasaan dan nilai-nilai (moralitas) masyarakat setempat. Tugas perkembangan ini perlu diberikan sedini mungkin, terutama dalam mengantisipasi masuknya moralitas pendatang/ orang lain.

7. Mengembangkan hati nurani, pengertian moral, dan nilai

Tugas ini adalah kelanjutan dari tugas sebelumnya. Anak perlu mengoptimalkan fungsi hati nurani, dalam rangka memahami moralitas dan nilai-nilai di masyarakat yang kadang bersifat heterogen.

8. Mengembangkan sikap terhadap kelompok-kelompok sosial

Anak hidup di masyarakat. Oleh karenanya mereka perlu untuk belajar menyesuaikan diri dengan berbagai karakteristik kelompok sosial, agar mereka mampu berperan secara optimal di masyarakat yang lebih luas.

9. Mencapai kebebasan pribadi

Anak bukan miniatur orang dewasa, oleh karenanya anak membutuhkan kebebasan pribadi untuk mengaktualkan potensi-potensi yang dimilikinya secara optimal. Meski pun demikian, bukan berarti anak harus diberi kebebasan mutlak, mereka tetap membutuhkan bimbingan dari orang dewasa.

Nah, dalam melaksanakan tugas-tugas tadi perlu diperhatikan juga perkembangan emosi dari anak tersebut. Emosi adalah perasaan atau afeksi yang timbul ketika seseorang sedang berada pada suatu keadaan atau suatu interaksi yang dianggap penting olehnya, terutama well-being dirinya (Campos dan Saarni, dkk, dalam Santrock, 2008). Pola perkembangan emosi dipengaruhi oleh faktor herediter, lingkungan, dan kondisi kesehatan anak. Pola emosi masa anak menunjukkan kecenderungan untuk tetap bertahan hingga masa dewasa, kecuali anak mengalami perubahan situasi yang radikal, baik lingkungan (hubungan personal-sosial) maupun kesehatan fisik (Santrock, 2002, dan Thompson & Lagattuta, dalam McCartney & Phillips, 2008).

Untuk mencapai kematangan emosi perlu adanya pelatihan dan pembiasaan untuk menyeimbangkan dan mengendalikan emosi. Yang dimaksud dengan mengendalikan emosi adalah mengarahkan energi emosi ke dalam saluran ekspresi yang berguna dan dapat diterima secara sosial (Hurlock, 1991,1996; Soemantri, 2005; Santrock, 2008).

Kalau itu semua sudah dilakukan, tinggallah kita sebagai orang tua banyak-banyak berdoa agar semua yang telah kita jadikal bekal buat anak kita bisa membawanya menjadi seseorang yang berguna bagi keluarga, nusa bangsa dan agama. Jadi presiden? (Sambil elus-elus perut) Why not?

Bacaan:

Psikologi Perkembangan Anak, Prasetyaningrum, Juliani, Dra. Msi. Psi. Workshop Urban Neighbourhood and Children Spaces, Agustus, 2009.

2 Komentar

13 Sep 2013 09:52

Ikut vote menarik saja ya..sama share di twitter...Salam..

Nutrisi Bangsa

09 Sep 2013 21:24

Wow!! Suka sekali dengan quote dari Abraham Lincoln itu...