Belajar Dari Seorang Pemimpin

Oleh eka fikry 20 Oct 2013

Mom & Me

Belajar Dari Seorang Pemimpin

Peran Ibu bagi hidup dan kehidupan manusia, sangat penting. Seorang ibu berperan membentuk karakter dan kepribadian anak. Apakah kelak anak yang diasuhnya itu akan menjadi pribadi atau pemimpin yang yang baik bagi dirinya sendiri atau sebaliknya.

Seorang ibu juga berpeluang sangat besar untuk memberikan ilmu, contoh dan nasehat yang baik untuk anaknya. Agar kelak sang anak mempunyai pribadi yang diinginkan oleh orang tuanya. Dan, anak yang baik akan mengikuti atau mencontoh apa yang telah diajarkan oleh ibunya, demi masa depan dan kehidupan yang lebih baik juga tentu.

Bukan berarti peran Bapak tidak terlalu besar dalam mendidik anak, tapi, kalau kita lihat secara tugas dan waktu, mungkin ibulah yang paling sering dirumah dibanding Bapak. Walau Ibu kita adalah seorang wanita karir, misalnya, tapi nurani seorang Ibu akan tetap menomorsatukan anak.

Dari bayipun, keterikatan dengan Ibu kandung sudah sangat lekat. Dari mengandung si jabang bayi, melahirkan dengan separuh nyawa, menyusui dengan kasihnya, hingga mengasuh sang buah hati sampai ia bisa mandiri.

Mandiri, dalam arti, ya dimulai dari yang sederhana saja ya. Misalnya,  menghantarkan anak sampai ia bisa berjalan setapak demi setapak. Lantas,  bertumbuh kembang dengan melihat dan beradaptasi oleh dan dengan apa yang ada disekelilingnya.

Bila salah dalam memimpin si buah hati, maka akan terbentuklah kepribadian yang “salah” pula. Dan itu akan menempel dalam kepribadian anak sampai ia dewasa.

Hingga saya mengguratkan tulisan ini, dampak dari arahan atau pengajaran dari ibu saya, masih saya rasakan.

Nah, berhubung saya belum punya anak, jadi, ya saya akan berbagi sedikit tentang apa yang saya alami bersama ibu dan bagaimana cara ibu menunjukkan kepimpinannya kepada saya dengan caranya sendiri. Mudah-mudahan apa yang telah beliau berikan kepada saya, akan saya turunkan juga untuk anak-anak saya kelak. Amiinn.

Dipangkuan Ibu ,(sekitar umur 1 tahun)

1. Ibu, Suruh Saya Mengaji Setiap Hari

Banyak orang tua yang sibuk mengkursuskan anaknya dibidang pendidikan dengan les fisika, matematika dan bahasa Inggris atau laiinnya.Ya, gak apa-apa sih, les pelajaran diluar sekolah itu baik. Tapi, ada sebagian dari para orang tua lupa dengan “mengkursuskan” anaknya untuk mengaji. Syukurlah, selain saya dibolehkan belajar/les diluar sekolah, ibu saya tetap mengimbanginya dengan menyisihkan uang setiap bulannya, agar saya bisa belajar mengaji di mesjid, yang dibimbing oleh seorang ustadz dan ustadza.

Alhamdullilah, saya bisa mengaji. Meski setiap hari sehabis pulang sekolah, sekitar jam 2 siang, saya harus jalan ke mesjid yang jaraknya lumayan jauh dari rumah saya, demi memperlancar bacaan saya. Walau, kala itu, rasanya malaaaaas sekali untuk tiap hari mesti ngaji.Yah, namanya juga anak-anak, heheh.

Serunya, setiap saya pulang dari ngaji, ibu selalu mengetes bacaan dan hafalan dari apa yang saya dapat di mesjid. Asyik loh, di tes sama ibu sendiri. Kayak evaluasi, gitu, ya. Hehehe. Dan, hasilnya, sudah bisa saya nikmati sekarang. Bahkan, waktu kuliah dulu, ada mata kuliah Workshop Al Islam, dan ada kelas mengaji, teman-teman banyak yang minta diajarin sama saya. Senang bisa mengarahkan mereka. Sayangnya, banyak teman-teman muslim saya yang sudah dewasa dan punya anak malah, tapi tak bisa mengaji. Bersyukur, saya kecil dulu sudah disuruh ngaji oleh ibu saya. Pembelajaran religi yang ditanamkan sejak dini, adalah bekal saya sebagai anak dan kelak menjadi orang anak tua, untuk mengajarkan anak saya agar tau agama dan hafal huruf-huruf Arab yang sangat penting itu, sebagai basic agama, selain sholat.

2. Ibu, Mandiri Sejak Remaja

Dari beliau remaja, ia sudah bersekolah dengan memakai uang sendiri. Karena orang tua ibu atau kakek nenek saya tak mampu menyekolahkan sampai kejenjang pendidikan yang lebih tinggi. Karena semangat ibu yang begitu kuatnya untuk melanjutkan sekolah, maka ia mencari uang sendiri dan akhirnya berhasil menyelesaikan sekolahnya dengan baik. Dan hasilnya, ia bisa bekerja ditempat yang sesuai dengan minatnya dengan memegang jabatan penting.

Selama saya menjadi anaknya, tak pernah melihat ibu merengek-rengek meminta tolong pada seseorang. Kemandiriannya itu, berhasil ia tularkan pada saya. Sampai usia saya yang lebih dari seperempat abad ini, saya berprinsip, selagi masih bisa dan mampu mengerjakan sesuatu hal, ya kerjakanlah. Jangan biasakan meminta bantuan pada orang lain, apalagi bergantung dengan orang lain, sebelum mencobanya sendiri.

Bentuk kemandirian itu, sudah saya terapkan sejak kecil. Misalnya, semenjak bisa mencuci baju sendiri, ya saya membiasakan diri untuk hal itu. Selagi ada waktu dan bisa melakukannya, saya usahakan agar baju yang saya pakai, harus bersih ditangan saya.

Karena kemandirian itu juga, Alhamdullilah sudah hampir 8 tahun inipun saya bisa “berdiri sendiri” meski harus bergelut dengan segala kekurangan. Kebetulan, saya seorang perantauan yang sudah 8 tahun menetap dan bekerja di Jakarta. Tinggal sendiri/ ngekos dan memenuhi kebutuhan saya sendiri tanpa bantuan keluarga. Apa yang bisa saya lakukan, akan saya jalani, walau itu pahit dan berat sekalipun. Bagi saya, hidup dengan segala ‘kekerasan” dan ‘perjuangan’ itu lebih baik daripada mesti merepotkan orang lain.

3. Ibu, Tak Biasakan Diri Berhutang

Kemandirian yang diterapkan oleh ibu saya, tak hanya soal perjuangan hidup saja, tapi juga termasuk dalam hal hutang piutang. Ibu, setau saya tak pernah kredit barang-barang yang gak penting. Baju, peralatan rumah tangga atau lainnya, ia beli semua dalam bentuk cash atau tunai. Kecuali kredit motor, hehehe. Itu mah beda, ya, karena harga motor yang lumayan mahal, dan memang bisanya ya di kredit, dengan memotong langsung dari gajinya perbulan sebagai pembayarannya. Namun, untuk urusan tetek bengek yang kecil-kecil, ibu saya kekeuh tak mau membelinya dengan cara berhutang/kredit. Kecuali dalam keadaan benar-benar membutuhkan.

Budaya hutang, sepertinya memang patut dihindari, kalau kita tak mau terjebak dalam kemelut lingkaran hutang yang telah kita tabur sendiri. Alhamdullilah, sayapun kini tak punya hutang pada siapapun. Ehm, kalau ditanya pernah gak sih saya hutang? Ya, pernah, karena saya terdesak sesuatu kala itu. Tapi, begitu saya bisa melunasi, maka tak perlu saya tunda untuk menyelesaikannya. Namun, selagi saya masih bisa menahannya untuk tidak berhutang, maka saya tak akan meminjam uang. Saya tak mau memanjakan diri sendiri, kalau ujung-ujungnya akan membuat saya sengsara.

Daripada berhutang, mending berhemat sehemat-hematnya. Kondisikanlah dengan keadaan kita. Ada ungkapan yang bilang : “Jika hidupmu sedang berada layaknya seperti ibu jari/jempol, maka hiduplah seperti jempol. Artinya, silahkan hidup sedikit bermewah-mewah. Namun, jika kondisi hidupmu layaknya seperti jari kelingking, maka hiduplah seperti kelingking, alias harus ngirit dan hemat. Ya, daripada mesti ngutang sana sini demi menutupi gaya hidup yang lebay, mending ditahan saja, apalagi hanya untuk membeli keperluan yang tak begitu kita butuhkan, misalnya.

Malu euy, kalau banyak hutang, meski berhutang dengan saudara kita sendiri sekalipun. Lagian, belum tentu kita bisa membayarnya, lo. Orang tempat kita berhutangpun, belum tentu iklash memberikan pinjaman uang pada kita. Yang ada kita malah mereporkan mereka. Betul, gak? Menahan diri tuk berhutang, ini juga salah satu cara untuk menempah mental kita agar tetap survive meski keadaan sedang tak seimbang.

4. Ibu, Rajin Menabung

Dari saya mulai bisa mengingat, ibu saya sudah mengajarkan untuk menabung. Beliau rajin sekali mengumpulkan uang logam pecahan seratus perak (jaman dulu, seratus perak itu berharga, bung), lantas dimasukkan kedalam celengan plastik berbentuk buah apel merah, hehehe. Malah, ibu juga menabung dikaleng bekas biskuit, lo. Ya, sisa dari ia pergi kepasar atau kembalian ongkos dari naik kendaraan umum, maka akan ia sisihkan untuk dicemplungkan kedalam celengan. Sampai penuh, lo tempatnya. Senang melihatnya.

Disekolahpun, ibu saya menyuruh saya tuk menabung dengan ibu walikelas, yang kebetulan waktu itu memang diharuskan murid-muridnya untuk menyishkan uang jajan.

Kini, sayapun mewarisi budaya rajin menabung itu. Meski ada tabungan tersendiri dalam rekening bank, namun tabungan dalam bentuk lain, alias nabung dicelengan masih saya lakukan. Saya sisihkan anggaran setiap bulan untuk dimasukkan kedalam dua celengan saya yang terbuat dari plastik lonjong, dan satunya lagi berbentuk strowbery merah yang terbuat dari tanah liat. Kalau ketika SD atau masa kuliah dulu saya menabung dalam bentuk recehan, kini Alhamdullilah saya bisa memasukkan uang kertas berwarna kedalam celengan, biar gede hasilnya ketika itu celengen di bongkar, hehehe ….

5. Ibu Berkata : “Harus Berani Tampil Didepan Umum !”

Karena pekerjaan ibu saya yang mengharuskan ia sering tampil didepan umum atau orang banyak, maka beliaupun sering memotivasi saya agar jangan malu untuk tampil didepan umum, harus punya keberanian, walau kita banyak kekurangan. Tak heran, ketika saya minta izin untuk ikut lomba ini-itu, beliau tak pernah melarang, bahkan mendukung, selagi itu positif. 

Ketika masih SD, saya pernah ikut lomba Olah raga, puisi dan menulis puisi. Disekolahpun saya sering ikut kegiatan-kegiatan seperti vokal grup, menari, volley ball dan sebagainya. Alhamdullilah, motivasi dari ibu saya, kini bekerja baik didalam hati ini. Saya, gak kagok lagi kalau harus tampil didepan umum. Beberapakali menjadi MC dan pembicara diacara-acara tertentupun, pernah saya lakoni. Bahkan, saat ini saya sedang menjadi trainer pada suatu kegiatan yang berhubungan langsung dengan pekerjaan saya. Makasih, ibu….

6. Ibu, Bolehkan Saya Bermain, asal…...

Ketika kecil dulu, ibu tidak pernah melarang saya bermain. Asal,.... maiinnya disekitar lingkungan rumah saja dan sebelum waktu Maghrib tiba, harus ada dirumah. Sayapun puas bermain, asal tak menganggu waktu sekolah. Jadi, bisa dikatakan saya puas menikmati masa kecil, hahahaha. Meski saya perempuan, tapi saya pernah mencicipi permainan yang biasa dilakukan laki-laki. Dari sepak bola, main kelereng, main kartu-kartuan/ kertas wayang dan sebagainya. Namun, seasyik-asyiknya saya bermain, asal….kalau cuaca sudah menunjukkan gejala mau turun air dari langit alias hujan, maka posisi saya harus ada dirumah. Kalau nggak, ibu saya akan marah besar. Bukan apa-apa, kalau sedang hujan namun kita tak berada dirumah, takutnya orang tua akan prihatin terhadap keadaan kita. Ini juga salah bentuk penerapan disiplin ala ibu saya.

So, masa-masa berinteraksi dan bersosialisasi dari kecil, sudah saya lakukan. Saya punya banyak teman, tak hanya yang umurnya sebaya dengan saya, tapi juga banyak yang lebih tua, bahkan. Ceritanya, gaul gitu ya, hehehe. Ya, bermain itu perlu bagi perkembangan anak-anak. Disanalah kita bisa mengembangkan kreativitas dan belajar bersosialisasi. Karena, masa anak-anak, ya masa bermain. Asal kita bisa menempatkan hal tersebut dengan baik dan dipantau oleh orang tua. 

7. Ibu, Rajin Belikan Saya Majalah/ Buku

Setiap kali beliau pulang dari bepergian, entah dari kerja atau dari kegiatan laiinnya, majalah anak-anak, seperti Bobo dan buku ringan, tak lupa ia belikan untuk anak kesayangannya. Bahkan, ia mengharuskan agar saya wajib membaca tuntas majalah/ buku tersebut, sebelum ia memberikan lagi edisi yang terbaru. Tentu tujuannya supaya saya bisa menyerap penuh apa yang disampaikan oleh isi buku tersebut. Aduh, jadi ingat paman gembul, Oki dan Nirmala, serta si Bona, gajah kecil berlalai panjang, teman akrabnya si Rongrong, hehehe… (hayooo yang pernah baca majalah Bobo, pasti tau ya tokoh kartun ini, hehehe..)

8. Ibu, Aktif di Kampung

Biasanya, setiap sebulan sekali, saya selalu “membuntuti” ibu untuk mengikuti kegiatan arisan di kampung kami. Kebetulan, ibu dipercaya menjadi bendahara arisan untuk ibu-ibu di satu wilayah RT tempat kami tinggal. So, karena memegang jabatan krusial, (ya, iyalah, wong yang megang duitnya ibu saya, hehehe ) otomatis, setiap ada arisan, ya ibu harus hadir. Gak cuma itu saja, pernah juga rumah kami dijadikan tempat untuk training salon/ kecantikan dari salah satu pihak kosmetik dengan mengundang ibu-ibu satu kampung. Nah, ketika para emak-emak asyik belajar tata rias wajah dan rambut, kami para anak-anak malah main bareng bersama. Seru! Rumah kami jadi rameh dan meriah, Ibu sayapun semakin dikenal para tetangga, dan sayapun akhirnya jadi akrab dengan anak-anak tetangga yang selama ini jarang main bareng.

Oh, ya, masih ingat dulu tenar banget sama yang namanya ngebrik.? Itu, lo biasanya kalau sudah ngomong sama alat komunikasi tersebut, orang akan bilang “roger….roger…dicopy…. ganti. Hehe. Masih ingat? Nah, ibu saya juga ikutan meramaikan kancah roger-rogeran ini, bahkan kalau gak salah beliau didapuk jadi penasehat di komunitas tersebut. Wuahaha, emak-emak yang gaul sekali ya.

Nah, karena sering melihat ibu saya yang rempong dengan kegiatan-kegiatan itu, sekarangpun saya paling suka dengan yang namanya mengikuti suatu acara/kegiatan. Dari acara seminar, kegatan lingkungan, kegiatan kantor, perkumpulan suatu komunitas dan sebagainya. Apalagi kalau ditunjuk jadi panitia. Wah, saya akan senang sekali. Kenapa? Karena, kalau kita jadi panitia, pasti sibuk dong, ya. Ngurusin ini-itu. Nah, kesibukan inilah yang membuat kita akhirnya jadi aktif dan berinteraksi dengan orang lain. Bukankah aktif, adalah salah satu modal untuk jadi pemimpin? 

 

9. Ibu, Aktif Sejak Remaja dan Dorong Saya Ikut Pramuka

Rupanya, aktifnya ibu, tak hanya ketika ia sudah berumah tangga saja. Sejak ia masih sekolah dan dewasapun, ibu sering ikut berbagai kegiatan. Salah satunya ikut karnaval dan acara-acara kartinian, juga kegiatan Pramuka. Saya tau hal ini , dari melihat beberapa foto-foto beliau didalam album yang masih tersimpan dengan baik di rumah kami. Walau foto tersebut masih berwarna hitam putih, tapi sudah cukup memberikan cerita tersendiri bagi anaknya.

Karena itu, saya sebagai anaknyapun sangat didorong oleh ibu untuk berkecimpung dalam kegiatan tersebut. Beliau sangat mensupport setiap kegiatan Pramuka yang saya ikuti. Dari berkemah, gerak jalan, nyebrang sungai, hiking, panjat tali, dan kegiatan-kegaitan ‘ektrim’ lainnya. Berkat hal tersebut, mental saya jadi tertempa, apalagi saya juga dipercaya menjadi ketua regu dalam kelompok saya. Pergaulanpun semakin banyak. Karena kegiatan pramuka yang biasanya saya ikuti, juga melibatkan sekolah-sekolah lain. Jadi, perkembangan interaksi pertemanan sayapun bertambah. Ibu memberi saya ruang untuk mengembangkan potensi dan aktivitas positif. Dan efek dari mengikuti kegiatan pramuka itu, masih saya rasakan sampai sekarang. Bagi saya, Pramuka itu mendidik mental seseorang menjadi pemberani dan kuat. Ini adalah modal baik untuk menjadi seorang pemimpin. 

10. Ibu, Serahkan Pilihan Minat/Bakat Kepada Saya

Ibu, tak pernah memaksa saya harus jadi ini dan itu. Ia, tak menuntut saya harus meraih nilai tinggi disekolah, atau menjadi nomor satu dikelas. Karena, pintar atau kecerdasan itu, tak harus dikaitkan dengan bidang akademik atau pelajaran saja. Pandai bermain musik dan memainkan nada-nada indah, itu juga pintar namanya. Jago berdiskusi dan berorasi, ini juga disebut pintar. Mahir menggambar dan membuat konsep, adalah salah satu bentuk kepintaran yang tak semua orang bisa melakukannya. 

Banyak orang yang bisa memberikan kejutan dalam heningnya aktifitas mereka. Tak sedikit pula yang sukses dalam diamnya. Sebaliknya, banyak juga yang menjadi pengangguran bertahun-tahun, meski nilai IPK-nya hampir mencapai angka 4. So, semua anak mempunyai bakat masing-masing, tak bisa harus disamakan satu sama lain. Tak perlu dipaksa untuk mengikuti keinginan orang tua. Biarkanlah anak memimpin dirinya sendiri untuk menemukan minatnya. Begitupun ibu saya, ia membiarkan saya tumbuh dengan mengembangkan diri dan menemukan bakat/minat saya, dengan cara saya sendiri, dengan kepimpinan naluri saya pada apa yang diinginkan.

Dan, kini saya sudah menemukannya. Yup, dunia broadcasting, hiburan, media dan menulis inilah bakat dan minat saya yang sudah saya endus sejak kecil. Dari pertama kali merasakan mencicipi gaji pertama, dari medialah saya mendapatkannya. Meski berkali-kali pindah kantor/perusahaan, tapi tetap industri medialah yang setia saya sambangi.Sampai sekarangpun, saya masih bekerja di industri yang asyik ini. Bahkan, banyak kompetisi yang saya ikuti saat ini, juga berkaitan dengan dunia broadcasting dan hiburan. Kini saya bisa mengikuti lomba blog tentang “Peran Ibu Untuk Si Pemimpin Kecil” pun, ini juga berkat bakat dan minat saya. Alhamdullilah saya bisa mengembangkannya.

11. Ibu, Selalu Jalin Silaturahmi Kepada Sanak Keluarga dan Teman-teman Lama.

Waktu kecil, saya sering diajak ibu main kerumah teman lamanya yang sudah lama tak bertemu. Atau bertandang kerumah sanak saudara, yang jarang punya waktu tuk bersua. Karena itu, saya jadi tau teman-teman masa sekolah ibu atau sanak keluarga yang selama ini saya belum kenal. Nah, gegara melihat hal ini, sayapun sering tiba-tiba mengunjungi teman/tetangga lama saya, yang bikin kaget mereka dengan kehadiran saya, tentu.

Saya pernah mengunjungi teman-teman masa kecil dulu. Kebetulan kita pernah dua kali pindah rumah. Nah, yang saya kunjungi adalah tetangga ketika dirumah pertama dulu, yang ketika tinggal disana umur saya masih 7 tahunan. Pas saya main-main kesana lagi, umur saya udah 17 tahun. Otomatis udah berubah dong wajah dan fisik saya. Dari yang masih kanak-kanak, kini sudah jadi remaja. Tentu, ini juga bikin kaget teman-temen masa kecil saya dulu. Emak-emaknya teman saya yang saya panggil tantepun, udah lupa sama saya. Walau ada juga yang mengingat wajah saya. Tapi, ya gila aja, kan saya ujug-ujug datengin mereka, setelah sekian lama tak bertemu. Tapi, bukankah dengan mendatangi sahabat lama, adalah salah bentuk menjalin komunikasi yang baik? Sekaligus mempererat silaturahmi, yang sangat perlu dilakukan oleh seorang pemimpin?

Kalau dalam dunia pekerjaan, saya umpakan hal ini, ibarat kita menemui klien-klien atau mitra bisnis yang sudah lama tak kita temui, untuk mempererat pertemanan, atau bahkan menambah jaringan bisnis baru. Gak rugikan?

12. Ibu, Tebarkan Jiwa Dermawan/Berbagi

Ibu, tak sungkan-sungkan menolong jika ada keluarga yang butuh pertolongan. Dengan memberikan uang atau barang yang bisa dijual lagi, emas misalnya, tuk bisa dipergunakan lagi dengan baik oleh keluarga kami yang membutuhkan. Bahkan, ada beberapa keponakan Ibu/ sepupu saya yang juga ikut dan tinggal sama ibu sampai ibu menikah. Ibu mempunyai jiwa seorang dermawan. Saya diam-diam memperhatikan dan meniru apa yang ia lakukan. Sungguh, tak ada ruginya membagikan sedikit rezeki kita kepada orang yang tak mampu, apalagi jika itu adalah keluarga kita sendiri. 

Bahkan, kalau sedang masak dalam porsi banyak/besar, ibu tak segan-segan membagi-bagikan masakan tersebut kepada tetangga kiri kanan. Dan sayalah kurirnya, hehehe… Senang, melihat tetangga sumringah menerima semangkuk sup ayam buatan ibu saya. Begitupun saya, yang senang melihat wajah ceria teman-teman atau keponakan yang saya berikan oleh-oleh atau sedikit jajanan kecil buat mereka. #indahnya berbagi.

13. Ibu, Telaten Memilah dan Menyimpan Arsip/ Dokumen Penting

 

Memisahkan kertas yang difoto copy dengan kertas/ dokumen asli, menyimpan dengan cermat semua klise foto dan foto-foto penuh kenangan dalam satu album ditempatnya masing-masing, tertata rapi disimpan ibu saya. Sehingga suatu ketika kita membutukan arsip tersebut, tak perlu repot mencari karena sudah dipilah-pilah mana yang dibutuhkan mana yang tidak. Karena telatennya ibu saya dalam hal menyimpan arsip atau sesutua yang penting ini, sayapun bisa melihat foto-foto pernikahan kedua orangtua, foto-foto saat saya masih kecil dan beragam kertas pengalaman dan kegiatan ibu saya yang menunjukkan aktifitasnya kala masa muda.

Tak hanya arsip penting saja yang disimpan cermat oleh beliau, dirumahpun, ibu memisahkan barang-barang yang tak terpakai, namun masih bisa dipakai lagi, dalam satu wadah khusus. Misalnya wadah bekas cairan pembasmi nyamuk yang sudah lama kosong atau kotak-kotak bekas wadah apa gitu. So, ketika kita butuh benda tersebut, maka tak perlu beli baru dan repot mengobarak-abrik rumah, karena benda yang dibutuhkan sudah tau dimana mesti mencarinya. Andaikan kita menyimpan barang-barang secara asal-asan saja, bisa dipastikan ketika kita butuh, maka kalangkabutlah mencari itu barang yang entah terselip disudut mana.

Sayapun begitu, selalu menaruh barang yang saya anggap penting suatu tempat. Agar memudahkan pencarian. Udah rapi saja, kadang penyakit lupa menghinggapi saya. Lah, apa kabarnya kalau  saya asal taruh saja barang-barang penting itu? 

Ini pembelajaran yang sangat penting yang perlu diasah sejak dini bagi anak-anak agar mereka tak kesulitan mencari barang-barang yang dibutuhkan untuk keperluan sekolah, misalnya. Jangan sampai, gara-gara mencari kaos kaki yang gak ketauan rimbanya dimana, jadi terlambat masuk sekolah dan kena hukuman. Duh! Pun, untuk karyawan/pimpinan juga harus rapi dan telaten menyimpan file-file penting perusahaan agar tak sembarangan saja, yang ujung-ujungnya bisa bikin bocor rahasia perusahaan, misalnya. So, telaten itu  menuntun kita untuk rapi dan teliti.

 14. Ibu, Berikan Nutrisi Yang Baik

Selain mendorong saya untuk menjadi pribadi yang berani tampil didepan umum, aktif dan mandiri, ibu juga memperhatikan asupan makanan saya. Yang namanya sayur-mayur, sudah bersahabat baik dengan saya sejak kecil. Ikan/daging yang lezat dan susu putih plus telur ayam yang nikmat, sudah ia kenalkan sejak dulu. Ibu, selalu memberikannya. Setiap mau pergi sekolah, ia mengharuskan saya untuk sarapan, lengkap dengan susu di meja makan, agar tubuh saya terjaga, bisa menahan lapar dan konsentrasi di sekolah. Nutrisi saya tercukupi. Walau, ada masa ketika perekonomian keluarga sedang ngedown, namun, ibu tetap berusaha memenuhi kebutuhan keluarga sebaik mungkin. Karena dengan asupan nutrisi yang baik, akan berpengaruh pada kesehatan dan aktifitas kita.

Syukurlah, sejak kecil saya sudah direcoki dengan sayur, ikan/daging dan susu. Karena, banyak lo teman saya yang dari kecil sampai sekarang gak suka mengkonsumsi sayuran, padahal itu penting sekali. Malah, ada yang langsung muntah kalau minum susu, karena tidak terbiasa dengan rasa dan baunya. Teman yang lain lagi, alergi dan gak mau menyantap ikan/daging. Dan saya..?? Alhamdullilah, saya tak ada masalah dengan makanan dan minuman lezat itu. So, membiasakan anak sejak dini untuk mengkonsumsi nutrisi yang tepat, tak bisa diremehkan. Jangan sampai terlambat…. Bukankah setiap pemimpin harus mempunyai jiwa dan raga yang sehat..? Nah, jiwa dan raga yang sehat itu berasal dari nutrisi yang baik.

15. Ibu, Hanya Sebentar Saja Berikan Saya Ilmu

Terima kasih ibu, sudah memberikan begitu banyak hal-hal baik dalam hidup ini. Sayang, saya hanya bisa mencicipi support dan bimbingan beliau, hanya sampai umur 13 tahun saja. Karena ibu saya yang tegar ini, harus mengalah dengan penyakit yang dideritanya. Andai beliau masih hidup sampai saat ini, mungkin lebih banyak lagi ilmu, pengalaman dan dorongan tuk jadi pemimpin yang baik yang bisa saya curi darinya.

Karena, beliau adalah seorang pemimpin bagi guru-guru yang mengajar disekolah tempat ia bekerja. Pemimpin bagi murid-murid yang menuntut ilmu di sekolah tersebut. Ya, Ibu adalah seorang Kepala Sekolah. Terima kasih, ya Alloh, rupanya selama 13 tahun itu, saya sudah belajar langsung dengan seorang pemimpin sesungguhnya. Pemimpin bagi saya dan juga pemimpin buat orang lain, meski hanya sebentar….

Ibu, (pakai jaket) bersama teman-teman gurunya, ketika disekolah

 

 Ah, senangnya bisa berbagi cerita tentang pengalaman saya bersama Ibu. 

Menjadi seorang pemimpin itu , rupanya sudah kita lakukan sejak kecil ya, tanpa kita sadari. Sayapun tentu merasakan buah dari kepimpinan ibu. Ya, hal yang baik yang saya dapat dari beliau, Insya Allah akan saya berikan pada anak-anak saya kelak. Amin..