Belajar Menjadi Ibu yang Baik Bagi Calon Pemimpin Masa Depan

Oleh Muna Sungkar 30 Sep 2013

Inspite of six thousand manuals on child raising in the bookstores, child rising is still a dark continent and no one really knows anything. You just need a lot of love and luck, and of course courage. (Bill Cosby)

 

Semua pasangan suami istri pastilah mendambakan kehadiran buah hati dalam biduk rumah tangganya, tak terkecuali kami. Kehadiran janin dalam kandunganku diusia pernikahan kami yang baru menginjak bulan keempat serasa menambah jutaan kebahagiaan dalam hati kami. Kami begitu bersemangat mempersiapkan segala sesuatunya, belajar banyak hal mengenai cara pengasuhan anak yang baik. Sayangnya hingga saat ini belum ada sekolah yang khusus mengajarkan bagaimana caranya menjadi orang tua yang baik. Ratusan artikel dan buku tak akan pernah menjawab ataupun sepenuhnya membantu kita menjadi orang tua yang sempurna.

Seperti layaknya orang tua lainnya, kami tak punya banyak pengetahuan mengenai pengasuhan anak. Kalau orang Jawa bilang sih “Bonek” alias bondo nekad, hanya berbekal kenekadan sambil terus menjalani setiap tantangan yang ada dihadapan. Meskipun demikian sebagai ibu saya ingin terus meningkatkan kemampuan dan pengetahuan saya agar bisa mendidik anak yang telah Allah titipkan pada kami dengan baik. Memang saya bukan seorang pakar dibidang parenting dan pengasuhan anak, namun beberapa metode yang saya terapkan terbukti cukup membantu setidaknya bagi saya pribadi. Mengikuti apa yang telah orang tua ajarkan pada saya dan mengkombinasikannya dengan metode-metode terbaru, saya terus berharap agar kelak Nadia menjadi seorang pemimpin yang shalih, jujur, dan rendah hati.

 

Memberikan yang Terbaik

Sejak dalam kandungan saya sudah berusaha memberikan yang terbaik untuk janin dalam kandungan dengan makan makanan bergizi dan menstimulasi si janin dengan bacaan yang baik, mendengarkan murratal Al Quran dan music klasik. Setelah Nadia terlahir kedunia saya pun bertekad memberikan ASI secara sempurna. Alhamdhulilah meskipun cukup sulit karena disaat yang bersamaan saya sedang menyelesaikan studi S2 saya, target ASI eksklusif berhasil saya lampaui, bahkan ASI saya teruskan hingga usia Nadia mencapai 22 bulan. Untuk makanan pun saya berusaha memberikan menu empat sehat lima sempurna. Alhamdhulilah sejak hamil saya suka sekali makan sayur dan buah dan kebiasaan itu sepertinya menurun pada Nadia. Era golden age pada balita ingin saya manfaatkan semaksimal mungkin dengan memberikan asupan gizi yang baik sehingga sel-sel otaknya terbentuk dengan sempurna. Walaupun tak terlalu pandai memasak tapi saya tetap berusaha mencoba resep-resep baru agar Nadia bersemangat makan. ;)

 

Menanamkan Rasa Cinta pada Allah dan sesama

Sebagai seorang muslim tentunya pendidikan agama tak boleh lepas dari pengasuhan anak. Sejak dalam kandungan saya sudah membiasakan indera pendengaran Sejak kecil saya sudah mulai mengenalkan Nadia pada beberapa doa pendek, seperti doa sebelum dan sesudah makan, doa sebelum dan sesudah tidur, doa belajarm, doa untuk kedua orang tua, dll. Setiap harinya sehabis shalat magrib berjamaah, elain mengaji, Nadia saya ajak menghafal surat-surat pendek dan beberapa hadist yang telah diajarkan disekolah.

Pendidikan agama teramat penting bagi saya sehingga saya memilih sekolah berbasis Islam agar akhlaqul karimah dan kecintaan pada Allah terbentuk sejak dini. Memang dibutuhkan biaya yang cukup besar untuk memasukkan Nadia kedalam TKIT, namun saya anggap biaya ini sebagai investasi karena salah satu amalan yang tidak akan pernah putus bahkan setelah seseorang wafat adalah doa dari anak yang sholih. Semoga Nadia bisa meneladi sifat-sifat Rasulullah dan menjadi pribadi yang berakhlaq mulia, amiin.

Saya dan suamipun mengajarkan Nadia untuk menghormati dan menghargai orang lain, tak terkecuali mahluk hidup lainnya. Kami memutuskan memelihara seekor kucing dalam rangka menanamkan rasa cinta pada mahluk hidup dan mengajarkan bagaimana bertanggung jawab terhadap kehidupan mahluk lain. kelak saat dewasa nanti kami berharap Nadia akan tumbuh menjadi orang yang bertanggung jawab dan menghargai semua ciptaan Allah.

 

Cinta Buku dan Ilmu

Buku adalah jendela dunia bahkan anjuran membaca dan mencari ilmu pun ada dalam Al Quran, itulah yang mendasari saya mengenalkan buku sejak dini. Nadia sudah mengenyam bangku kuliah sejak masih dalam kandungan karena saat hamil saya masih menempuh kuliah S2. Saya niatkan kuliah sambil beribadah dan mengajak Nadia terus belajar disetiap kesempatan. Mainan pertama yang saya berikan pada Nadia adalah buku. Meskipun belum bisa membaca gambar dan warna pada buku anak-anak dipercaya meningkatkan kinerja orak mereka. Membacakan dongeng sebelum tidur menjadi kebiasaan kecil yang kami nikmati hingga saat ini. Sekarang Nadia sudah muali lancar membaca dan semangat membaca sendiri. Selain itu, toko buku menjadi tempat yang selalu kami kujungi setiap bulan.

Sejalan dengan pendidikan agama, pendidikan formal yang sesuai usia pun kami berikan pada Nadia. Beberapa waktu yang lalu saya dan suami sempat hidup berjauhan (long distance marriage) dan ternyata hal ini sangat mempengaruhi psikis Nadia. Nadia tumbuh menjadi anak yang penakut, cengeng, dan tertutup. Kenyataan ini membuat saya sangat prihatin dan akhirnya memutuskan untuk mengikuti suami ke Surabaya. Saya rela melepaskan karir sebagai dosen demi buah hati tercinta. Hampir setiap weekend kami berkeliling mencari sekolahan dan kegiatan yang sesuai untuk Nadia. Kami membawanya ketempat ramai seperti taman bermain untuk melatih keberaniannya. Saya bahkan tak sungkan mengajaknya berkenalan dari satu rumah kerumah lain agar Nadia punya banyak teman sebaya dan berani keluar dari cangkangnya yang nyaman. Alhamdhulilah kami mendapatkan sekolah yang sesuai. Dengan semangat yang tak lelah kami suntikkan padanya dan bantuan dari guru sekolah Nadia kini mulai berani tampil dipentas akhir tahun dengan percaya diri, Nadia sudah mulai menikmati asyiknya berteman. Ahh senang sekali rasanya mendengar celoteh Nadia tentang kesehariannya disekolah, rasanya semua pengorbanan yang saya lakukan terbayar lunas. J

 

Menanamkan Kedisipilnan Sejak Dini

Disiplin adalah salah satu kebiasaan yang saya terapkan pada Nadia sejak dini. Dari artikel yang saya baca, disiplin dalam kegiatan sehari-jhari membuat hidup seorang anak hidup teratur. Saat ini Nadia memang belum bisa membaca jam, namun Nadia sudah terbiasa dengan beberapa aturan yang telah kami sepakati bersama. Kapan saat belajar, bermain, nonton TV, bahkan jam tidur kami tetapkan bersama dan semaksimal mungkin dipatuhi. Sehabis bermain pun, Nadia sudah mulai disiplin untuk merapikan mainannya sendiri, meskipun kadang masih harus saya bantu, tapi usahanya sangat say apresiasi. ;) Tak hanya Nadia, saya pu jadi ikut belajar menjalani hidup yang teratur berkat jadwal yang kami buat. Memang tak mudah menerapkan ini, namun perlahan hasilnya mulai terlihat.

 

Menyatu Dengan Alam

Belajar bisa dilakukan dimana saja, tak terkecuali dialam bebas. Alam, bagi saya adalah guru terbaik karena didalamnya begitu banyak pelajaran dan hikmah yang dapat kita petik. Sejak kecil saya selalu kagum dengan keindahan alam dan hobby traveling, hobby itu tak berubah meski kini saya sudah menjadi seorang ibu. Saya sangat bersemangat mengajak Nadia menjelajahi bumi Indonesia yang indah. Petualangan pertama Nadia dimulai saat usianya masih 7 bulan saat kami pulang kekampung halaman papa Nadia di Banda Aceh. Sampai sekarang hampir setiap minggu kami traveling, tak harus ketempat yang jauh dan mahal, disekeliling kita pun banyak hal menarik yang seru untuk dieksplorasi. Mengenalkan dan mendekatkan anak pada alam sejak dini dapat mengasah kepekaan dan empati pada anak. Nadia belajar menghargai alam dan menjaga lingkungan sekitarnya karena tahu betapa pentingnya menjaga bumi yang dipijaknya. Saya sering membawanya berkeliling kegunung, pantai, sungai sambil menyelipkan pesan-pesan untuk selalu menjaga lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan agar saat dewasa nanti Dia masih bisa menikmati semua keindahan ini. Dalam perjalanan pun Nadia bisa menyaksikan sendiri bahwa ternyata masih banyak orang lain yang hidup dibawah kemiskinan dan sangat membutuhkan uluran tangan kita. Belajar untuk selalu melihat kebawah agar dapat lebih mensyukuri semua nikmat yang telah Allah berikan. Semoga cita-cita kami menjelajahi bumi Allah yang luas ini dapat terlaksana, amiinn.

Mendekatkan anak pada alam juga mampu membuka matanya bahwa tak semua keinginannya dapat terpenuhi dengan serta merta. Ada usaha yang harus dijalani demi meraih sesuatu, begitu pula saat traveling. Bersusah-susah dulu mendaki gunung, berjalan beberapa km demi menyaksikan keindahan yang sempurna. Tak hanya asyik jalan-jalan, sebelum keluar rumahpun Nadia harus belajar menata pakaiannya sendiri (packing). Meskipun masih saya bantu, saya bebaskan Nadia memilih dan menata tas dan bawaannya sendiri. Memang repot sih tapi bukankah ini adalah bagian dari mengenalkan sifat kemandirian? Siapa bilang kalau kegiatan traveling tak berguna dan hanya mengahabiskan uang? Saya sendiri telah membuktikan betapa alam telah menjadi “sekolah” yang menyenangkan bagi Nadia. “In every walk with nature, one receives far more than he seeks.” (Thomas Muir)

 

Memberi Contoh Bukan Memerintah

Dari semua metode yang saya terapkan, point ini merupakan point terpenting bagi saya. bagaimana mungkin mengharapkan anak tumbuh menjadi pribadi jujur, bertanggung jawab, cerdas, dan berakhlaqul karimah apabila orang tua tak pernah memberi contoh? Saya selalu mengingat nasehat ibu saya bahwa ibu adalah sekolah pertama bagi anaknya (al madrasatul ula). Belajar dan terus belajar menjadi prioritas saya agar dapat menjadi ibu yang baik bagi anak-anak saya. setiap hari saya berusaha menunaikan shalat lima waktu diawal waktu agar Nadia pun dapat mencontohnya, setiap hari saya membaca buku agar Nadia mencintai buku, saya berkata jujur dan selalu memegang janji dan perkataan saya padanya agar Nadia pun melakukan hal yang sama, saya membuang sampah pada tempatnya dan menghargai semua mahluk Allah agar Nadia pun terbiasa melakukannya. Anak adalah mesin fotokopi terbaik didunia, mereka meniru semua hal yang mereka lihat. Saya ingat betul perkataan seorang pakar pendidikan anak disebuah seminar parenting yang pernah saya hadiri, “bagaimana kita mau mengajarkan kejujuran kalau kita meminta mereka berbohong dengan mengatakan kita taka da dirumah saat seorang tetangga yang menjengkelkan datang berkunjung? Bagaimana mungkin kita ingin anak kita menjadi anak yang rajin belajar kalau mereka tak pernah melihat kita membaca bahkan malas-malasan dipagi hari sambil asyik nonton infotaintment? Berikan contoh agar anak meneladinya. Jadilah orang tua yang shalih baru kemudian berharap memiliki anak yang shalih.” Kata-kata itulah yang kini saya hayati dan terapkan dalam keseharian saya sebagai ibu. Memberikan contoh dan teladan yang baik bagi si peniru handal agar mereka maniru semua kebaikan yang kita lakukan.

 

Setiap anak lahir kedunia dalam keadaan suci dan bersih bagaikan kertas putih. Kitalah sebagai orang tua yang menentukan akan mewarnai kertas itu dengan warna hitam atau warna pelangi? Orang tualah yang menentukan karakter apa yang ingin kita tanamkan pada diri anak-anak mereka, maka saya akan terus belajar agar dapat menjadi teladan yang baik. Semoga kami bisa selalu menjadi teladan yang baik agar kelak Nadia tumbuh menjadi pribadi dan pemimpin yang jujur dan membumi.

 

 

Parenthood is not a job. It is an adventure!

 

 

3 Komentar

isnaini khomarudin

23 Oct 2013 09:13

karena merupakan sebuah adventure, berarti yg penting adalah proses atau perjalanan ya Mak....semoga menang

Uniek Kaswarganti

21 Oct 2013 16:56

yes, right, enjoy your adventure with love ya mak Muna. Semoga Nadia bisa menjadi yang terbaik.

Nurul Noe

21 Oct 2013 11:55

Suka kalimat penutupnya tuh,, "Parenthood is not a job. It is an adventure!"