Bintang Kecil, Bintang Besar

Oleh Aning.AdiNugroho 23 Sep 2013

“Cinta seorang Ibu bagaikan mentari yang tak berpihak dalam menyinari. Tulus dan suci.”

Ketika kita membaca ungkapan tersebut, mengingatkan kita akan apa ya?
Ya! Sebuah lirik lagu. Sebuah lirik lagu yang sangat sederhana namun sangat bermakna. Saya akan tuliskan syair lengkapnya untuk kita:
Kasih Ibu kepada beta tak terkira sepanjang masa
hanya memberi, tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia.”

Lirik lagu tersebut sangat dalam maknanya dan mengingatkan sebuah tanggung jawab besar seorang ibu kepada anaknya; tanggung jawab dalam memberikan kasih tak terhingga selama-lamanya kepada sang anak. Kasih seorang ibu tentunya termasuk dalam memberikan pondasi yang kuat untuk kesuksesan di masa depan sang anak nantinya. Kesuksesan yang tidak hanya dalam sisi materi, tapi yang terpenting adalah karakter. Pengetahuan dan keterampilan hanyalah alat, yang menentukan sukses adalah tabiat. Keluarga adalah inti utama bagi pembangunan karakter anak. Tolak ukur kesuksesan kita dalam membentuk dan menanamkan karakter pada anak adalah saat tidak ada seorang pun di sekeliling sang anak dan saat tak ada seorang pun yang melihat sang anak, ia tetap akan melakukan hal yang benar. Dan, membangun karakter anak adalah tugas utama seorang ibu. Mengapa?

Keluarga adalah sistem terkecil dalam kehidupan. Perhatikan sekeliling kita, semua yang besar dan berkembang di dunia ini dimulai dari keluarga. Tidak ada yang tahu-tahu muncul di dunia ini menjadi seorang anak, dibutuhkan seorang ayah dan seorang ibu sehingga muncul seorang anak. Dalam masa-masa awal perkembangannya, anak akan banyak mencontoh dan meniru. Dan, hal pertama yang anak tahu adalah siapa orang yang memelihara dan merawatnya itulah orang yang dicontohnya. Orang terdekat yang di sekelilingnyalah yang dicontoh oleh seorang anak. Banyak penelitian menunjukkan bahwa lima (5) tahun pertama adalah periode emas bagi pertumbuhan seorang anak dan lima belas (15) tahun pertama adalah periode emas bagi penanaman karakter pada anak. Inilah waktu-waktu utama untuk keluarga “bekerja” membentuk seorang anak agar kelak menjadi seorang yang sukses. Dan mengapa ibu yang mengemban tanggung jawab dalam membangun karakter anak? Saya yakin pertanyaan Anda di paragraf sebelumnya belum terjawab pada paragraf ini. Mari kita lanjutkan membaca paragraf selanjutnya…

Secara naluri alamiah, ibu adalah orang yang terdekat dengan anak karena yang ia mengandung dan melahirkan sang anak tersebut. Hal tersebut menjadikan sebuah ikatan batin yang sangat kuat. Dalam suatu keadaan normal yakni sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak; dalam hal ini sang ibu tidak meninggal atau pergi meninggalkan rumah, hubungan anak dengan ibu akan memiliki pengaruh abadi terhadap perilaku kepribadian dan harga diri seorang anak. Pepatah, telah lama, dapat menjelaskan hubungan sebab akibat tersebut. Pasti kita pernah mendengar ungkapan, buah tak jatuh jauh dari pohonnya. Jadi, singkatnya, ibu memiliki peranan penting dalam pertumbuhan anak dan pembentukan karakter anak.

Berikut saya akan bagikan beberapa tips membentuk “Generasi Sukses” yang saya dapatkan dari seminar-seminar maupun beberapa kelas pembinaan yang pernah saya ikuti:

1. Teladan dari ibu

Hal paling penting dan terutama dalam mendidik anak adalah memberinya teladan. Hal tersebut adalah hal paling efektif dan dapat langsung kita lihat dampaknya. Dan ingat, sikap yang buruk dari kita sebagai orang tua akan sangat mudah ditiru oleh anak dibandingkan sebuah teladan yang baik.

Teladan-teladan yang baik misalnya:

  • Dekat dengan Tuhan, mengajarinya bersyukur, dan memohon, serta berterima kasih kepada Tuhan.
  • Mengatakan segala sesuatu dengan lembut dan penuh kasih sayang; termasuk ketika kita memberitahunya bahwa dia telah melakukan sesuatu yang salah, sehingga anak juga belajar menghargai perbedaan dan tidak akan berteriak-teriak kepada kita ketika ada hal yang tidak disetujuinya. Di masa depan sang anak kelak, sabar, penguasaan diri, dan kerendahan hati adalah yang diperlukan dalam menyelesaikan setiap masalah.
  • Memberinya contoh untuk bertanggung jawab mulai dari hal-hal yang sederhana, misalnya dengan meletakkan baju kotor dan piring kotor di tempatnya, mengucapkan salam ketika masuk rumah, meletakkan tas pada tempatnya, dan sebagainya.
  • Jika ada sesuatu yang kita anggap tidak lazim dilakukan oleh sang anak, kita menanyakannya dahulu kepada sang anak dan mendengarkan maksud sang anak melakukan hal tersebut; tidak serta merta memarahinya. Hal ini akan mendidiknya menjadi seorang pendengar yang baik. 
  • Disiplin diri; yang merupakan kunci utama setiap kesuksesan!

Memang tidak mudah untuk selalu memberi sang anak teladan, mengingat kita; sebagai orang tua, adalah juga manusia biasa. Mengontrol emosi dan menjadi pendengar yang baik seringkali menjadi batu sandungan di tengah kesibukan dan penat kita melakukan pekerjaan kita sehari-hari. Namun, hal sederhana yang dapat kita lakukan adalah setiap kali kita akan melakukan hal yang buruk, selalu ingat bahwa anak kita akan mencontohnya, maka biasanya kita tidak akan jadi melakukannya. Namun jika kita sudah terlanjur melakukan hal yang buruk di depan anak kita, jelaskanlah pada sang anak bahwa hal yang baru saja kita lakukan itu salah, lalu minta maaflah padanya karena telah memperlihatkan hal yang buruk dan tidak patut dicontoh olehnya. Mungkin tidak akan mudah melakukan hal ini, namun percayalah hal ini akan sangat membekas di hati sang anak dan sekaligus mendidiknya memiliki sikap ksatria. Selanjutnya, berjanjilah pada diri sendiri bahwa kita tidak akan mengulanginya.

2. Pola asuh yang salah dari orang tua kita tidak diulang lagi di anak kita

Tidak dapat kita pungkiri bahwa orang tua tidak ada yang sempurna; begitupun orang tua kita yang dahulu telah mendidik kita. Saat ini setelah kita menjadi orang tua, kita mengetahui bahwa ada hal-hal yang salah dari cara-cara orang tua kita mendidik kita dahulu. Misalnya:

  • Ibu yang terlalu melindungi (over protective) sehingga kita tumbuh menjadi anak yang kurang percaya diri atau bahkan minder.
  • Ibu yang membanjiri dengan hadiah setiap kali melakukan sesuatu yang menyenangkan sang ibu sehingga kita tumbuh menjadi orang yang membutuhkan motivasi dari luar (hadiah/penghargaan/sesuatu lainnya) untuk melakukan sesuatu.
  • Ibu yang pemarah dan emosional sehingga kita tumbuh menjadi seorang anak yang emosional dan mudah marah.
  • Ibu yang terlalu sibuk dan tidak pernah ada di rumah sehingga tidak tahu perkembangan anaknya sehingga kita tumbuh tanpa kasih sayang ibu, menjadi anak yang kurang perhatian. Dampaknya, kita menjadi anak yang mencari perhatian di luar rumah; misalnya dengan mengenakan pakaian yang aneh-aneh, berbicara keras-keras agar menjadi pusat perhatian orang lain, nakal, dan hal-hal lainnya yang cenderung aneh dan tidak lazim dengan maksud untuk mendapatkan perhatian dari orang lain.
  • Ibu yang sibuk sendiri; secara fisik sang ibu ada di rumah namun sibuk melakukan segala sesuatu yang tidak terlalu penting sehingga tidak menghiraukan permintaan-permintaan sang anak. Dengan pola asuh dari ibu semacam ini, kita akan tumbuh menjadi anak yang tidak memahami skala prioritas, cenderung mengabaikan kebutuhan orang lain, dan tidak peka terhadap lingkungan.

Mari kita refleksikan bersama adakah salah satu dari beberapa tipe ibu tersebut adalah tipe ibu kita dalam mendidik kita dahulu? 

Beberapa contoh umum pola asuh yang salah dari seorang ibu terhadap anaknya tersebut telah kita ketahui bahwa tidak patut kita tiru. Kita harus segera menyadarinya bahwa hal tersebut salah dan kita tidak “menurunkannya” dalam mendidik anak kita. Cukup sampai kita saja pola asuh yang salah tersebut diterima. Biarlah anak kita dan generasi selanjutnya menjadi generasi yang luar biasa!

3. Hubungan yang baik antara ibu dan ayah

Hubungan yang baik; terutama dalam hal komunikasi dan pengertian, antara ibu dan ayah adalah sangat penting bagi pertumbuhan karakter anak. Keluarga dengan ayah dan ibu yang demikian adalah sebuah keluarga yang sehat. Ciri utama keluarga yang sehat adalah:

  • Suami yang penuh kasih kepada istri: memperhatikan kebutuhan sang istri, tidak mengeluarkan kata-kata kasar, dan tidak bersikap kasar.
  • Istri yang menghormati suami: menempatkan suami sebagai “Kapten” dalam biduk rumah tangga, menjadikan suami sebagai panutan bagi anak-anak, mengingatkan suami bila ada hal-hal yang kurang baik dilakukan oleh suami sehingga tidak dicontoh oleh anak-anak.

Anak yang tumbuh di lingkungan keluarga yang sehat akan menjadi anak yang memiliki tenggang rasa, hormat pada orang lain, dan tidak emosional. Kita dapat melihat sekeliling kita bahwa anak yang emosional biasanya keluarganya bermasalah.

Hal-hal utama tersebut adalah sangat penting kita tanamkan pada anak-anak kita agar mereka menjadi bintang yang bercahaya dimanapun mereka berada. Karena, yang diperlukan untuk menjadi seorang juara adalah keinginan, dedikasi, tekad yang kuat, konsentrasi, dan kemauan untuk menang.

Maka, sangatlah penting bahwa seorang ibu haruslah berpendidikan baik dan setinggi mungkin. Sekolah tidak selalu merupakan jawaban. Namun, berpendidikan baik berarti mendidik diri sendiri untuk selalu bersikap baik dan berhati baik. Ibu adalah pilar keluarga. Ibu adalah pilar bangsa. Sebuah negara akan maju jika generasi-generasi selanjutnya memiliki pendidikan yang terbaik. Pernahkah Anda menyadari perbedaan seorang anak yang dididik oleh ibu yang memiliki pendidikan yang baik dengan ibu yang tidak? Kualitas anak-anak yang dihasilkan akan jauh lebih baik anak-anak yang dididik oleh ibu yang memiliki pendidikan yang baik. Ibu memegang peranan penting di dalam mendidik anak-anak. 

Tuhan telah memberikan seorang anak kepada kita, Tuhan telah menitipkannya, selanjutnya adalah tanggung jawab kita untuk tidak menyia-nyiakannya. Ingatlah berapa banyak pasangan yang menginginkan dengan sungguh untuk kehadiran seorang anak, namun belum kunjung mendapatkannya. Betapa beruntungnya pasangan yang telah memiliki kehadiran seorang anak dalam kehidupannya!

#LombaBlogNUB