Creating a Leader

Oleh Intan Rizqi Rahmawati 21 Oct 2013

 

Didedikasikan untuk Ibu 

Terimakasih karena membuatku merasa menjadi anak paling beruntung sedunia

Pemimpin merupakan tonggak berdiri tegaknya sebuah bangsa. Sejatinya pemimpin adalah nahkoda yang mengendalikan laju bahtera. Pemimpin ialah mereka yang berkata tidak pada kemungkaran demi kemaslahatan negara dan seisinya, mereka yang menjauhi segala sifat buruk dan tercela demi menjadi teladan bagi umatnya, pun mereka yang terus sibuk memperbaiki diri guna menyosong masa depannya.

Singkat kata, pemimpin tidak tercetak dalam semalam saja.

Sifat-sifat kepemimpinan itu dibangun, dibentuk, ditempa, dan dibiasakan sejak kecil. Ditanam dalam diri, agar akarnya kuat bercokol, siap untuk menghadapi badai godaan dan tantangan di masa mendatang.

Lalu siapakah sosok yang menanam benih – benih kepemimpinan itu? 

Ibunda. 

Beliau sosok kunci yang paling berpengaruh terhadap tumbuh kembang pribadi kepemimpinan sang anak. 

Melalui tangan-tangan Ibunda generasi penerus bangsa ini terdidik di masa keemasan mereka. Diantara peluk sayang, canda tawa, tegur peringatan Ibu itulah dapat kita temukan madrasah utama tempat bermulanya prinsip dan kebajikan kebajikan hidup tertanam. Begitupun sebaliknya, jika apa yang dicontohkan oleh seorang Ibu mengarah pada keburukan, maka akan buruk pula masa depan bangsa ini.

Untuk itu ada pelajaran hidup yang minimal harus diberikan dan dibiasakan kepada anak oleh Ibundanya. Apabila ditilik lebih dalam, pelajaran hidup itu sebenarnya banyak sekali. Tapi, saya mungkin hanya akan membeberkan beberapa (delapan) poin yang menurut saya merupakan prioritas krusial. 

Terinspirasi dari bagaimana saya dididik oleh Ibu hebat saya 

 

Peran Ibu untuk Si Pemimpin Kecil

~Creating a Leader~

 

#1 Menanamkan pemahaman yang baik mengenai Tuhan dan agama mereka. 

Manusia yang memahami dan mengenal baik Tuhannya akan tumbuh menjadi pribadi yang selalu percaya. Percaya bahwa tiap gerak langkah terawasi dengan seksama. Percaya akan adanya pahala untuk setiap kebaikan yang terlukis dan balasan setimpal bagi tiap keburukan yang terjadi. 

Kepercayaan inilah yang hakikatnya akan menjadi satu kontrol dalam diri tiap pemimpin. Bukankah di akhir nanti, para pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang mereka pimpin? 

Maka, seorang Ibu wajib menyiapkan anak-anak Beliau untuk menjadi hamba yang paham, penuh kepercayaan terhadap Tuhan dan agama mereka. Ibu dapat merealisasikannya dengan mengajarkan ibadah sejak kecil serta aktif menjadi teladan pada setiap proses ibadah itu sendiri, bercerita kisah-kisah nabi dan kehidupan luhur para pendahulu, menegaskan tentang adanya konsekuensi kebaikan berupa pahala dan balasan atas keburukan yang disebut dosa, beribadah dengan rajin, dsb

#2 Mengajari dan mengajak si kecil untuk menyayangi sesama

Apa jadinya pemimpin tanpa rasa welas asih? Pemimpin adalah mereka yang terdepan untuk mementingkan rakyat diatas kepentingan pribadi. Ibu dapat mengajarkan pada putra putrinya untuk menyayangi sesama dengan cara peduli terhadap lingkungan, seperti merawat dan membesarkan suatu tanaman/hewan. Selain itu dapat pula mengajak untuk selalu berempati kepada mereka yang lebih tidak beruntung dari sang anak. Hal ini dapat dipraktekan dengan pengiriman doa bagi mereka yang kurang beruntung.

Ilustrasi prakteknya dapat seperti ini : Di penghujung malam sebelum tidur, Ibu sebaiknya membiasakan diri bertanya tentang keseharian sang anak, bertanya tentang apa yang terjadi hari ini, siapa saja yang ditemui oleh mereka, dan apa doa mereka hari ini. 

Misalkan mereka berkata : Tadi pagi, aku melihat ada nenek buta yang kesusahan berjalan, Bu. Maka Ibu dapat mengajak sang anak untuk mendoakan nenek tersebut. “Kau lebih beruntung dari Nenek itu, apa yang sebaiknya kau lakukan untuk membantu nenek?” “Doakan nenek itu”. Kemudian sebagai penutup sebelum mata terpejam, ibu menuntun anaknya untuk mendoakan agar sang nenek diberi kesehatan lahir dan batin agar dapat ikhlas menjalani hari-hari Beliau yang berat.

#3 Menanamkan rasa ‘butuh’ untuk berbagi pada sesama.

Berbagi bukanlah beban melainkan kebutuhan. Apa yang kita bagi adalah apa yang sejatinya kita miliki. Pemimpin harus selalu berbagi. Agar kelak tidak ada rakyat yang harus mengemis dan meminta-minta karena ada jatah yang tidak sampai ke tangan mereka. 

Dapat direalisasikan dengan seperti ini : bila hari libur tiba, maka ajaklah anak-anak ke tempat keramaian di kota (misal pusat perbelanjaan, misalnya seperti Malioboro). 

Sesampainya disana, berilah anak sejumlah uang koin ke dalam tas/kantung baju mereka, beritahu bahwa hari ini mereka akan menjadi orang paling beruntung. Kemudian lanjutkan perjalanan dengan menyisir Malioboro dari ujung satu hingga ujung lainnya. 

Di sepanjang jalan menyusuri keramaian, pasti akan ditemukan banyak pengemis yang menengadahkan tangan untuk meminta. Saat itulah, ajak mereka untuk mengeluarkan uang koin yang sudah kita berikan. Minta mereka agar membagikan koin itu kepada para pengemis sembari menebar senyum untuk pengemis-pengemis itu. Terus lakukan hal tersebut hingga jalan setapak di teras-teras pertokoan Malioboro habis. Bila sudah selesai, maka puji mereka dan lakukan review singkat tentang apa yang baru saja mereka lakukan. Tekankan bahwa mereka sungguh beruntung tidak lahir dan tumbuh menjadi pengemis dan peminta.

#4 Mengajak hidup sederhana dan penuh syukur

Foya-foya bukan sifat pemimpin yang mulia. Tak sepantasnya seorang pemimpin kenyang dan makan tenang dalam jamuan mewah bila masih ada rakyat yang kelaparan. Tak elok bila pemimpin bergelimang harta sedangkan ada rakyat yang masih kesulitan mengenyam pendidikan. Maka hal paling sederhana yang bisa kita ajarkan kepada anak dalam usaha menyiapkan mereka sebagai pemimpin masa depan adalah dengan mengajari mereka agar selalu bersyukur dengan apa yang mereka miliki saat ini. 

Kalaupun memang rizki keluarga berlebih, jangan kemudian asal menuruti apa pun kemauan dan permintaan anak. Ibu bisa memberikan pengertian kepada anak mengenai hal-hal prioritas, mana yang paling penting. Mana yang harus didahulukan dan mana yang masih bisa menunggu atau dikompromikan. Bila itu urusan sekolah maka jaminkan bahwa anak akan mendapatkan yang terbaik, tapi bila itu urusan tersier seperti game ataupun mainan maka Ibu harus bersikap tegas dan dapat berkata tidak.

Penuh syukur bisa diwujudkan juga dalam kebiasaan sehari-hari seperti selalu mengingatkan mereka agar menghabiskan makanan yang sudah ada di dalam piring mereka. 

#5 Menegaskan pada mereka untuk selalu bertanggung jawab, memegang amanah, dan jujur,

Pemimpin yang mulia adalah mereka yang bertanggung jawab, memegang amanah dengan jujur dan bersih. Sedari kecil, sebaiknya anak dikenalkan pada tanggung jawab dengan mengambil bagian dalam membantu tugas sehari-hari urusan rumah tangga. 

Ketika sudah cukup usia, mulai percayakan mereka untuk mengemban amanah yang berhubungan dengan uang. Kenapa begitu? Supaya mereka terbiasa untuk ‘tidak hijau’ dengan uang. Cara ini dimaksudkan untuk memberi pengertian bahwa uang hanyalah sekedar alat, bukan segalanya. Anak harus paham bahwa diatas daya beli yang dimiliki uang, ada hal - hal yang lebih menjadi kebanggaan bagi Sang Ibu, contohnya seperti memegang amanah dan jujur. Perilaku ini juga termasuk pendidikan korupsi sejak dini.

#6 Membiasakan anak untuk terbuka, bermusyawarah dan berkomunikasi dengan baik

Untuk menjadi pemimpin yang dapat menatapkan keputusan terbaik dari banyaknya pilihan yang ada, maka seseorang harus dapat bermusyawarah dengan banyak pihak. Terbuka dengan beragam pendapat dan kemungkinan. Anak dapat dipancing kemampuan berkomunikasinya bila Ibu (dan Ayah) meluangkan waktu mendengarkan cerita keseharian mereka. Tunjukkan ketertarikan yang tinggi, dapat pula didukung oleh pertanyaan-pertanyaan untuk membantu kelancaran mereka berbicara. 

Selain itu, terbuka dan ajaklah mereka untuk berdiskusi mengenai setiap hal/kegiatan yang berkaitan dengan hidup mereka. Apabila timbul masalah, baik urusan rumah maupun sekolah, anak-anak sebaiknya dipandu serta diarahkan dalam pengambilan solusi terbaik. Harapannya dengan diskusi, anak terbiasa mengenal bermusyawarah dan jauh dari sifat mau menang sendiri dan memaksakan kehendak.

#7 Membantu anak untuk terus disiplin, menghargai waktu, dan bekerja keras

Ketiga hal ini bisa dibiasakan dengan penyusunan jadwal dalam keluarga secara menyeluruh. Ibu (bersama Ayah) dapat menuliskan kegiatan sehari-hari sang anak sejak fajar menyingsing hingga kelam malam menjemput. Susun jadwal tersebut sesuai kemampuan anak-anak (karena mereka sebagai pelaku)  dan minta agar mereka berjanji mematuhinya. 

Sifat ini dapat juga dilatih melalui bargaining perihal jatah waktu bermain setiap hari / setiap minggunya. Jika menurut kesepakatan mereka hanya mendapat jatah bersenang - senang 2 jam setiap weekend, maka Ibu harus tegas untuk segera menyudahi, beri pengertian agar mereka tidak mengambil jatah lebih dari rentang yang diperbolehkan. Kondisi ini berlaku juga dalam urusan belajar atau mengerjakan kewajiban lain. 

#8 Mencukupkan kebutuhan fisik yang baik dan mendukung

Tidak ada pemimpin yang hebat bila fisiknya lemah. Ibu sebaiknya membiasakan mereka untuk care terhadap kesehatan diri dan lingkungan sekitar. Olahraga yang cukup dan selalu menjaga kebersihan. Bekali juga kebutuhan gizi seimbang anak dengan terus memberikan makanan sehat, susu, nutrisi, sayur mayur dan multivitamin. Hanya saja, dengan catatan tanpa porsi yang berlebihan hingga taraf overprotective. Sebab perilaku overprotective secara tidak sadar akan membentuk kerangka mental anak menjadi paranoid dan pemilih. 

Tapi lebih dari itu semua, peran ibu yang paling utama adalah menjadi sosok teladan pemimpin hebat itu sendiri. Yang membersamai langkah – langkah kecil sang buah hati untuk menjadi pemimpin masa depan dengan contoh – contoh kebaikan hidup dari gerak laku Sang Ibunda. 

mari menjadi sosok Ibu hebat bagi generasi muda bangsa selanjutnya :) 

Intan Rizqi Rahmawati  untuk #LombaBlogNUB