Dalam Dua Kerajaan

Oleh Mugniar 23 Sep 2013

Tantangan terbesar berkeluarga dalam lingkungan rumahtangga orangtua sendiri adalah dalam pengasuhan anak. Ini saya alami sendiri. Dari 14 tahun pernikahan kami, 11 tahun terakhir ini kami tinggal dengan orangtua saya.

Di satu sisi saya bersyukur bisa mendampingi orangtua di masa tua mereka bertepatan dengan saat di mana dari 3 bersaudara hanya saya yang tinggal satu kota dengan orangtua. Namun di sisi lain hati saya sering sekali kebat-kebit karena seringnya mengalami perbedaan pandangan dengan Ibu. Perbedaan pandangan itu menyangkut hampir semua hal, mulai dari yang terkecil hingga yang terbesar. Sering kali menjebak saya dalam situasi serba tak enak, serba terjepit.

Antara

Sulung saya Affiq yang berwatak keras beberapa kali berkonflik dengan Ibu yang juga berwatak keras. Sejak saya kecil, Ibu selalu mendominasi kehidupan kami. Mungkin terbawa dari latar belakangnya sebagai anak bungsu, satu-satunya perempuan pula yang amat disayangi oleh ibundanya.

Ibu pernah panik tatkala Affiq berusia 2 tahunan. Ketika itu Affiq mencoba menaiki tangga kayu yang disandarkan di tembok luar rumah, mengikuti ayah saya yang lebih dulu naik. Teriakan Ibu membuat Affiq bertambah cepat menapaki anak tangga. Gerakan Affiq itu justru membuat Ibu semakin panik dan mencubit kakinya. Marah sekali Affiq, saya harus membujuknya sekuat tenaga untuk meredakan tangisnya. 

Affiq pernah menulis kata-kata tak sopan di atas secarik kertas dan meletakkannya di kamar Ibu pada saat usianya 6 tahun. Ibu marah besar, membuat jantug saya berdebar hebat. Affiq saya marahi karena sudah berulang kali saya beritahu tindakan seperti itu tak sopan dan tak akan ada orang yang menyukainya. Setelah saya marahi, saya peluk, saya belai, dan saya ucapkan kata-kata lembut untuk menenangkan hatinya.

Saya tanyakan alasannya melakukan itu. “Saya tidak suka sama Oma,” Affiq menceritakan alasannya. Saya katakan bahwa saya tak suka ada orang yang menyakiti ibu saya, Affiq pun pasti demikian bila ada yang menyakiti saya. Saya tunjukkan di mana kesalahannya. Saya buat ia mengakuinya.  Saya minta ia melakukan cara yang sopan bila hendak mengungkapkan isi hatinya kepada omanya. Ada cara lain yang bisa digunakan, jangan dengan cara yang tak sopan.

Alhamdulillah, bocah lelaki berwatak keras itu luluh juga. Ia bahkan tertegun melihat air mata saya mengalir. Saya katakan betapa saya menyayanginya dan tak ingin ia menjadi anak nakal.

Saya minta ia untuk meminta maaf pada Ibu. Permintaan itu ditolaknya. Wajahnya menunjukkan mimik keras. Saya bujuk-bujuk ia supaya mau menuliskannya di secarik kertas dan saya akan mengantarkan ia membawa kertas itu menghadap Ibu. Affiq kelihatan berpikir dan akhirnya bersedia juga melakukannya.

Terenyuh hati ini melihat Affiq mencoba merendahkan dirinya demi meminta maaf kepada Ibu yang masih terlihat keras. Syukurnya, Ibu menerima dan memberikan maaf setelah mengucapkan serangkaian nasihat kepadanya.

Peristiwa serupa terjadi lagi di saat usia Affiq 10 tahun. Kali ini ia sama sekali tak punya pembenaran. Apa yang dilakukan memang sudah kelewat batas. Saya memarahinya, menunjukkan kesalahannya. Lalu saya memintanya untuk segera meminta maaf. Alhamdulillah, tak pakai lama, Affiq segera melakukannya walau menggunakan adiknya – Athifah sebagai perantara. Saya tak menemaninya, membiarkannya mencoba memperbaiki kesalahannya seorang diri.

Belum lama ini Affiq (saat ini berusia 12 tahun) pulang menjelang maghrib usai kegiatan ekstra kurikulernya di sekolah. Saya tak ada di rumah ketika ia pulang. Saya tiba di rumah beberapa saat kemudian, saat shalat maghrib berjama’ah di masjid sebelah masih berlangsung. Saya langsung mencari Affiq tapi batang hidungnya tak kelihatan padahal sepatunya ada di dalam kamar.

Tak lama kemudian ada suara-sedu sedan dari bawah ranjang. Sedu-sedan itu berasal dari bibir Affiq. Saya terkejut dan berusaha menariknya keluar. Ia tak mau. Bujukan papanya juga tak mempan.

“Kenapa, Nak?” tanya saya.

Ia tak menjawab tapi isakannya masih terdengar.

Akhirnya suami saya berhasil mengeluarkannya. Tapi ia tetap tak mau menjawab mengapa ia tersedu-sedan sedemikian rupa.

“Dimarahi Oma ya?” saya menebak.

Affiq mengiyakan.

Duh ada apa lagi ini? Hati saya terasa tersayat.

“Kenapa dimarahi Oma, Nak?” tanya saya lagi.

“Oma bertanya sama Saya. Saya jawab tapi suaraku kecil, Oma langsung marah,” sedu-sedannya menguat lagi.

Walau tak mau mengakui, Ibu saya sering mengalami gangguan pendengaran. Bertanya kepada Affiq – yang dianggapnya sebagai bentuk perhatian, kemudian dijawab dengan suara lirih pasti membuatnya berpikir Affiq tidak tahu aturan. Begitu pun kalau dijawab dengan suara keras, itu pun berarti tidak tahu aturan. Serba salah.

“Istighfar, Affiq!” berbarengan saya dan suami menyeru kepadanya.

“Tidak mau!” ujar Affiq.

“Istighfar, Affiq. Jangan biarkan setan menang. Kalau seperti ini, Kamu dikuasai setan. Jangan biarkan!” ujar saya.

“Tidak mau!”

“Istighfar!”

Saya memeluknya erat-erat. Mencoba menenangkannya.

“Sabar ya Nak. Oma memang begitu, jangan dimasukkan di hati,” terenyuh sekali  hati saya. Saya terus mengucapkan kata-kata menghibur dan menenangkan. Saya berusaha membuatnya memaklumi kondisi omanya yang sudah sepuh. Kali ini, tentu saja saya tak menyalahkannya dan tak memintanya untuk meminta maaf karena ia tidak salah.

Affiq kemudian bercerita, “Saya capek sekali. Kakiku sakit. Tadi sudah mau pulang dari sekolah, Saya ingat belum shalat ashar jadi Saya kembali lagi ke sekolah, shalat di masjid sekolah. Terus waktu jalan kaki ke sini, dikejar ka’ anjing di lorong sebelah.”

Duh kasihan anakku. Terbayang perasaan dan kondisi badannya tadi. Ia pasti masih stres saat tiba di rumah makanya ia hanya bersuara lirih ketika ditanyai oleh Ibu. Andai saya yang membukakannya pintu, saya tentu bisa mengerti keadaannya.

Tak berapa lama kemudian, Affiq tenang. Ia mengganti baju sekolahnya dan mengambil air wudhu. Saat Ibu mengadukan perilaku Affiq yang dianggapnya keterlaluan, saya mencoba memberikan jawaban tentang keadaan  sebenarnya. Namun Ibu tetap tak mau menerimanya. Saya akhirnya memilih diam sambil terus istighfar dan berdo’a dalam hati.

Dalam usia yang hampir kepala 4 ini, saya paham sekali kondisi Ibu. Saya juga paham sekali kondisi Affiq. Saya harus menjaga perasaan Ibu dalam bakti saya padanya. Saya juga harus menjaga perasaan Affiq dalam menjalankan peran saya sebagai ibu. Saya berharap selalu diberi petunjuk oleh Allah untuk melakukan hal yang tepat dalam kondisi-kondisi seperti ini.

Untuk kebaikan semua pihak saya harus selalu melakukan langkah-langkah berikut untuk menghindari ataupun mengatasi konflik:

  • Tidak serta-merta menyalahkan Ibu di hadapan anak-anak karena bisa membuat mereka hilang hormat kepada omanya.
  • Sebaliknya, saya berusaha menekankan bahwa omanya, ibu saya, harus mereka hormati. Itu tak bisa ditawar-tawar. Dan di saat-saat yang tepat (misalnya saat Ibu memberikan sesuatu kepada mereka) saya katakan bahwa omanya sebenarnya menyayangi mereka.
  • Tidak serta-merta membela anak-anak di hadapan Ibu. Pembelaan yang frontal akan memancing reaksi yang frontal pula dari Ibu, Ibu akan makin defensif. Jika anak-anak benar dan saya sudah berusaha menunjukkan “kebenaran”-nya tetapi tetap tak diterima Ibu, saya memilih untuk diam. Toh Allah Maha Tahu siapa yang benar, siapa yang salah. Saya tak boleh gegabah dalam hal ini. Bisa-bisa malah saya yang berdosa. Biarlah ini menjadi penilaian Allah saja.
  • Berkomunikasi dengan suami agar bersama-sama menjaga perasaan Ibu walau kami harus “menelan ludah” berkali-kali. Apa boleh buat, bakti kepada orangtua adalah kemutlakan.
  • Tetap berusaha berbakti kepada Ibu, sesuai dengan tuntuan agama.
  • Tetap berusaha menjadi ibu yang baik bagi anak-anak, sesuai dengan tuntunan agama dan ilmu pengetahuan yang saya peroleh selama ini agar pembentukan karakter positif dalam diri mereka tetap terjadi.
  • Tetap istighfar dan berdo’a untuk kebaikan semua. Untuk kebaikan Affiq, Ibu, dan saya. Agar Yang Maha Kuasa senantiasa memberikan kejernihan hati dan pikiran. 

Sebagai manusia biasa, saya tak luput dari kekurangan. Saya punya banyak sekali kekurangan dan sering kebablasan malah. Tetapi saya berusaha untuk kembali kepada poin-poin di atas sesegera mungkin. Semoga Allah meridhai.

Makassar, 23 September 2013