Dari Mama Untuk Pemimpin Kecil

Oleh Leyla imtichanah 21 Oct 2013

“Setiap kamu adalah pemimpin, dan akan dimintai pertanggungjawaban mengenai kepemimpinanmu.” (Nabi Muhammad SAW- Hadist Bukhari dan Muslim)

Sidiq

Apakah seorang pemimpin itu adalah Presiden? Direktur? Jenderal? Bagaimana jika kelak anak kita “hanya” menjadi orang yang “biasa-biasa” saja? Apakah kita akan memperlihatkan wajah kecewa di hadapannya?

Ketika mengandung anak pertama, Ismail (6 tahun), suami saya pernah mengatakan keinginannya semoga kelak Ismail menjadi Presiden. Ah, orang tua mana sih yang tidak berharap begitu? Saya hanya mengaminkan saja, sambil berusaha mewujudkan cita-cita itu. Suami pun sangat mendukung pencapaian keinginannya. Dia selalu memberikan yang terbaik selama saya mengandung anak-anaknya. Kini, saya telah memiliki tiga orang anak laki-laki, Ismail (6 tahun), Sidiq (5 tahun), dan Salim (1 tahun).

Mendidik Calon Pemimpin Sejak dalam Kandungan

Ketika saya hamil, suami sangat memperhatikan nutrisi yang masuk ke dalam tubuh saya. Saya selalu mengalami mengidam yang cukup parah pada setiap kehamilan. Sewaktu hamil Ismail, saya tidak bisa memakan apa pun sampai usia kehamilan 5 bulan. Mual dan muntah selalu mengiringi. Dokter menyarankan agar saya makan sambil berbaring supaya rasa ingin muntahnya bisa ditahan. Saya pun mempraktekkannya, tetap saja saya muntah. Parahnya lagi, saya muntah di lantai kamar tidur. Alhamdulillah, suami berbaik hati membersihkan muntahan itu karena saya tidak punya tenaga membersihkannya.

Mendidik

Demi bisa memberikan nutrisi yang cukup untuk calon bayi kami, suami membelikan makanan yang enak-enak, apa saja yang saya mau. Cokelat, es krim, biskuit cokelat, es campur, pecel lele, dan lain-lain. Sayang, semua makanan itu menggeletak saja di samping tempat tidur. Sama sekali tidak ada keinginan untuk menyantapnya. Kalau tidak hamil sih, saya termasuk “rakus” dalam hal makanan.

Suami juga membelikan susu hamil. Saya sudah meminum susu hamil, dua minggu sebelum dinyatakan hamil. Alhamdulillah, dengan kondisi mengidam yang parah, insya Allah janin saya sudah punya “tabungan nutrisi.” Dan memang dasarnya saya ini suka minum susu, hanya susu hamil saja yang berhasil masuk ke pencernaan.

Itu dalam hal nutrisi. Dalam hal pendidikan anak, saya yakin bahwa pendidikan anak dimulai sejak masih dalam kandungan. Setidaknya saya berusaha menerapkan hal-hal berikut ini:

  1. Berkata dan bertingkah laku baik: konon katanya perbuatan ibu selama hamil bisa bisa menular ke janinnya. Saya berusaha berkata dan bertingkah laku baik, agar kelak anak saya juga begitu.
  2. Memperdengarkan ayat-ayat suci Al Quran: selain mengaji sendiri, saya juga memasang headphone yang berisikan murottal. Saya bisa merasakan janin di perut bereaksi terhadap lantunan ayat-ayat suci dengan bergerak-gerak secara lembut. Berbeda rasanya ketika saya tak sengaja mendengarkan lagu dangdut yang mengentak-entak di sebuah acara pernikahan, janin saya bergerak cepat dan seperti gelisah.
  3. Membaca buku-buku bermanfaat: konon bisa menstimulasi kecerdasan otak janin. Pada dasarnya, saya memang suka membaca buku, bahkan menulis. Saya menyeimbangkan kedua kegiatan itu bukan saja sebagai hobi, melainkan juga merangsang otak agar selalu berpikir.

Ibu adalah Pendidik Calon Pemimpin

Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Pada awal kehidupannya, anak-anak akan mencontoh perilaku ibunya dengan sejujur-jujurnya. Jadi, bagaimana ibu bersikap, akan mempengaruhi anak-anaknya. Sebagai Ibu, saya juga masih memiliki banyak kekurangan dalam mengasuh dan mendidik anak-anak, tetapi saya berusaha memperbaiki kekurangan itu. Selain membaca buku-buku dan situs-situs parenting, saya juga terus-menerus berdoa meminta diberi kemudahan oleh Allah Swt agar saya dapat menjadi ibu yang baik dan mendidik anak-anak dengan baik.

Menjadi ibu itu tidak mudah, apalagi saya tidak masuk sekolah “menjadi orang tua.” Ketiga anak saya memiliki kepribadian yang berbeda, yang sudah berlangsung sejak mereka masih berada di dalam kandungan. Lho? Bagaimana saya bisa mengetahuinya? Ya, karena saya ingat proses mengandung dan melahirkan mereka memiliki perbedaan.

Anak kedua, Sidiq, sejujurnya adalah anak yang lahir di luar rencana karena dia lahir hanya setahun setelah kakaknya lahir. Ketika hamil Sidiq, kakaknya baru berusia 3 bulan. Semula saya bingung, bagaimana kelak bila Sidiq sudah lahir? Sanggupkah saya mengasuh dua bayi dalam waktu bersamaan, sedangkan tak ada pembantu atau pengasuh yang membantu? Saya berusaha untuk berpikir positif, tetap menerima kehadiran Sidiq dengan bahagia, dan melakukan kewajiban sebagai ibu sebagaimana ketika mengandung Ismail.

Alhamdulillah, kemudahan sudah saya rasakan sejak mengandung Sidiq. Berbeda dengan kakaknya yang sudah mengidam mual muntah di usia kandungan 2 minggu sampai 5 bulan, saya hanya merasakan mengidam selama sebulan, pada usia kandungan 3 bulan, ketika hamil Sidiq. Lalu, saat melahirkan pun, saya hanya membutuhkan waktu setengah jam.

Setelah lahir, saya memberikan ASI penuh kepada Sidiq selama 6 bulan sebagai dukungan nutrisi, dilanjutkan dengan MPASI dan ASI. Sayangnya, Sidiq agak sulit memakan MPASI, jadi dia lebih banyak minum ASI. Syukurlah, berat badannya tetap bagus bahkan tulangnya kuat dan padat. Dia suka bergerak aktif, sampai beberapa kali terjatuh. Perkembangannya juga cepat. Dia cepat menangkap “pelajaran” baru. Kini dia sudah di TK A. Untuk kekuatan fisiknya, suami juga sering mengajak anak-anak berolahraga, baik itu bermain bola di lapangan depan rumah ataupun berenang. Setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah, saya membawa anak-anak berjalan-jalan keliling komplek, membeli sayur mayur sambil menjemur mereka di bawah sinar matahari pagi yang kaya Vitamin D.

Berenang

Setelah lepas dari ASI, saya memberikan tambahan susu sesuai dengan umur mereka. Sidiq sangat suka minum susu. Segala jenis susu pasti diminumnya, baik itu susu bubuk, susu UHT, susu sapi murni, maupun susu kedelai.

Sidiq

Ada beberapa kejadian yang membuat saya terkesan berkaitan dengan sikap kepemimpinan Sidiq:

Pemimpin Itu Berdiri di Depan

“Ayo, sekarang siapa yang mau jadi pemimpin barisan?” Ibu guru bertanya kepada anak-anak PAUD yang berbaris di hadapannya. Anak saya Sidiq, masih menjadi anak yang pemalu. Bukannya berbaris bersama teman-temannya, dia malah menggelendoti lengan saya. Saat itu, saya berdiri di samping depan barisan anak-anak PAUD.

“Ayo, Sidiq.. ikut baris dong….” Saya mendorong perlahan tubuh Sidiq, sampai dia terpisah dengan tubuh saya dan posisinya berada di depan barisan teman-temannya. Sidiq meliuk-liukkan tubuhnya, sebagai sebuah sikap malu-malu, tapi anehnya dia tidak memberontak ataupun melarikan diri. Dia bersedia berdiri di depan barisan teman-temannya dan menjadi pemimpin barisan!

Sidiq mengikuti intruksi Bu Gurunya selama memimpin barisan. Kejadian ini mungkin sepele buat ibu-ibu lain, tapi bagi saya sangat luar biasa. Itu pertama kalinya Sidiq mau berdiri di depan dan memimpin barisan. Biasanya, dia masih harus ditemani oleh saya dan tak mau mengeluarkan sepatah kata pun.

Pemimpin Itu Melayani

“Ma, tadi Dede ngeliat temen Dede buang sampah sembarangan, terus Dede ambil aja sampahnya dan buang ke tong sampah….”

Hari Jumat itu, sepulang sekolah, tiba-tiba saja Sidiq bercerita mengenai perbuatan baiknya membuangkan sampah temannya. Saya terkejut sekaligus terharu. Tak menyangka Sidiq menyerap ucapan selintas yang sering saya ucapkan bila anak-anak hendak membuang sampah sembarangan. Saya juga pernah membacakan buku cerita tentang anjuran untuk tidak membuang sampah sembarangan. Sidiq memang suka dibacakan buku cerita dan dia bisa menghapal isinya, lalu menceritakannya kembali seolah-olah dia sudah bisa membaca. Saya bahagia sekali mengetahui bahwa dia bukan hanya bisa menceritakan kembali, melainkan juga mempraktekkannya.

Rutin

Pemimpin Itu Dapat Bekerjasama

“Ayo, kalau sudah selesai mainnya, mainannya diberesin ya…” Saya mengingatkan Ismail dan Sidiq yang baru selesai bermain. Seisi rumah berantakan karena mereka mengeluarkan semua mainannya. Bahkan bantal-bantal kursi diturunkan ke lantai seolah-olah sedang bermain batu pijakan.

“Kakak yang beresin bantalnya, Dede yang beresin mainannya yaaa…” Ismail memberikan intruksi, dan dalam sekejap, kedua anak saya telah membereskan benda-benda yang berceceran di lantai. Mereka telah bekerjasama untuk membereskan mainannya. Ya, sebenarnya mereka tidak selalu patuh seperti itu, tergantung suasana hati. Setidaknya hari itu saya merekam kerjasama mereka dalam meringankan beban ibunya.

Pemimpin Itu Melindungi

Sidiq sangat perhatian terhadap adiknya, Salim. Di sekolah, ada seorang teman Sidiq yang sangat gemas dengan Salim, sampai pernah mencakar dan membuat bayi saya itu terjatuh (ketika saya sedang lengah). Sidiq akan melindungi adiknya dari temannya, berdiri di depan Salim untuk menghalangi temannya meraih Salim. Ketika jalan-jalan pun, tanpa saya sangka, Sidiq tetap memperhatikan Salim yang sedang senang jalan sendiri. Sidiq akan mengejar dan membimbing Salim untuk kembali kepada saya. Untuk ukuran anak usia 4,5 tahun, saya merasa sikap Sidiq itu sungguh menakjubkan.

Siap

Saya berharap kelak anak-anak saya menjadi pemimpim, walaupun bukan secara status dan jabatan, setidaknya mereka dapat memimpin diri sendiri menjadi orang yang berguna untuk diri sendiri dan orang lain. Dan ketika saya tanyakan kepada mereka, kelak ingin menjadi apa, mereka menjawab:

Sidiq: “Dede mau jadi Pemadam Kebakaran!”

Ismail: “Kakak mau jadi Ultraman!”

Sidiq

Saya tersenyum. Menjadi apa pun mereka kelak, insya Allah mereka tetap seorang pemimpin.